SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Arah dan Kepastian Hati?


__ADS_3

...Part 32...


...🍁🍁🍁...


“Mengaji bareng ya”?. Tanya Zain setelahnya


Senyum mengembang di wajah Zareen. Zain berdiri menuju lemari kecil di sebelah tempat tidur, menarik laci paling bawah dan mengambil mushaf di dalamnya. Zain terpaku saat menyentuh mushaf yang sudah berdebu itu, ya bahkan ia tidak ingat sudah berapa lama laci ini tidak dibuka.


Mushaf indah dengan ukiran emas dikulitnya itu ia angkat. Zain kembali bersila dan meletakan mushaf tersebut di pahanya, ia melihat benang pembatas yang bewarna biru pekat. Zain membuka lembaran diantara pembatas itu, surah Ar-Rahman.


Lama Zain termenung, “Disini terakhir saya membacanya ya Allah”.


Hingga panggilan istri menyadarkannya.


“Mas”.


“Perhatikan bacaan Mas ya”. Ia tidak yakin apa ia masih mampu membacanya


Zareen mengangguk dan tersenyum, “Baik Mas”.


Zain memulai dengan membaca ta’awudz, kemudian disusul dengan basmalah. Ia mulai melantunkan surat cinta dari tuhannya itu dengan nafas yang ia atur tenang.


Terbata-bata hingga tajwid yang tidak lagi jelas, Zain menghela nafas dan menangkupkan tangan kewajahnya.


“Mas sudah gak bisa bacanya lagi Za, Mas kehilangannya, Allah sudah mengambil ilmu ini Za”.


Zareen menatap iba, gurat frustasi sangat jelas tertera di wajah sang suami. Ia mengambil kedua tangan yang menutup wajah itu.


Zain menatap mata Zareen, dan sangat jelas terlihat di mata itu rasa sesal yang dalam. Zareen dapat merasakannya.


“Gak papa Mas, kita coba ulangi lagi ya, barengan”.


Zareen menatap mata sang suami, mencoba meyakinkan.


Mata itu, Zain menatapnya. Keyakinan nan terpancar dari manik yang hitam pekat itu membuat ia kembali percaya diri.


Zain mengangguk dan dibalas senyum yang sangat indah dari sang istri.


Zareen mengambil satu bantal kemudian memindahkan mushaf ke bantal tersebut, dan meletakannya di depan mereka.


“Za baca dulu, habis itu Mas ikutin ya”.


Zareen mengulang membaca ta’awudz dan basmalah, kemudian melantunkan ayat-ayat itu dengan tenang.


“Suara yang kerap hadir dalam mimpi Mas saat itu Za”.


Zain menatap wajah wanita yang terbalut mukenah putih di sebelahnya. Wajah nan teduh itu menunduk terfokus pada lembaran di depannya, sangat mempesona.


“Mas”.


Seketika Zain tersadar, kembali memfokuskan pandangannya pada mushaf.


“Coba Mas ulangi lagi”.


“Maaf istriku”. Zain nyengir dan kembali mencoba mengulang membaca ayat satu surah itu.


Zareen dengan sabar memperhatian, dan meluruskan bacaan sang suami. Terus seperti itu hingga sampai pada ayat terakhir di halaman itu.


“Shadaqallahul’azdim”.


Zareen menutup Al-Qur’an dan menciumnya, hal yang sama dilakukan Zain.


“Kita taruh di sini ya”. Tutur Zareen sambil meletakan mushaf di atas lemari kecil itu, bukan lagi di lacinya.


Zain mengangguk dan tersenyum. Kemudian berdiri dan melipat sajadah ia dan sang istri.


Matanya menatap sayu pada Zareen yang masuk ke kamar mandi dengan membawa satu hijab bergo di tangannya.


Beberapa menit kemudian Zareen keluar dengan penutup kepala yang telah berganti dengan hijab bergo tadi.


“Za”.


“Iya Mas”.

__ADS_1


Zareen menoleh dan mendapati sang suami yang mendekat ke arahnya. Zareen terhenti.


Zain mengangkat tangannya dan memegang kepala sang istri, dan berucap lirih,


“Kenapa hijabnya gak dilepas aja”.


Lama terdiam, dengan mata yang saling bertaut.


“Apakah disini benar-benar sudah tidak ada Ilna lagi?”. Gumam Zareen dengan tangan yang ia letakan di dada bagian kiri sang suami.


Deg...


Zain menegang, matanya membulat, mulutnya tiba-tiba kelu.


Zareen tersenyum masam, melihat kebisuan suaminya saat ini. Apa? Apakah suaminya tidak tau harus menjawab apa?


Zareen berbalik dan naik ke tempat tidur, ia membuka selimut dan memejamkan matanya. Mengabaikan Zain yang masih terpaku ditempatnya, dengan keheningan.


Apakah ia egois? Atau apakah ia istri yang nusyuz? Entahlah, Zareen tau bahwa rambutnya tidaklah lagi menjadi haram untuk dilihat suaminya. Tersingkapnya hijab ini tidak lah lagi menjadi tabuh dihadapan sang suami.


Hanya saja, ia merasa tidak pantas untuk memperlihatkannya pada suaminya, seperti layaknya rasa malu ketika rambutnya terlihat oleh orang asing. Selagi di hati suaminya ada wanita lain, dan bukanlah dirinya, maka suaminya adalah orang asing baginya.


Ia hanya ingin memastikannya sekali lagi.


Suara gemuruh yang terdengar nyaring dari luar, menyadarkan Zain dari ketermenungannya. Ia berjalan ke jendela, sesaat melihat langit yang amat kelam, tidak satupun ada bintang disana. Suara gemuruh yang terus berulang, dan tidak lama setelah itu air yang tidak mampu awan bendung telah berjatuhan membasahi bumi.


Zain menutup rapat jendela, dan menarik tirainya. Kemudian ia bersalin baju untuk tidur dan ikut berbaring di atas ranjang, menghadap pada sang istri yang damai dalam lelapnya.


Dalam temaram malam, Zain menatap wajah nan teduh itu. Kembali terngiang pertanyaan Zareen beberapa menit yang lalu.


“Apakah disini benar-benar tidak ada Ilna lagi?”.


Hatinya menegang tatkala kata-kata itu terucap dari mulut istrinya. Dan masih sangat jelas di bayangan tatkala senyum yang miris itu hadir, dan tatapan kekecewaan sang istri yang kembali terluka, saat Zain terpaku dan tak mampu berucap memberikan jawaban atas apa yang Zareen minta.


Zain mengulur tangan, mengusap kepala Zareen lembut, ia tidak ingin sang empunya terusik hingga terbangun nantinya. “Kamu kecewa sayang, Mas membuatmu kecewa lagi ha?”.


Dengan dentuman halus jarum jam yang semakin larut, Zain mencoba memejamkan mata yang masih terjaga, kantuk yang tak kunjung jua hadir membuat Zain membuang nafas panjang. Ia kembali duduk dan turun dari ranjang.


Lama Zain terduduk dan menunduk, mencurahkannya dalam dzikir dan do’anya. Ditemani gemercik air hujan yang kian menderu, Zain menghabiskan malamnya dengan bersila di atas sajadahnya.


“Mas... Mas...”.


Zain megerjapkan mata saat merasakan tepukan pelan di wajahnya.


“Sayang”. Ucapnya dengan suara serak sambil bergegas duduk.


...udah jam berapa? Mas kesiangan ya?”


“Belum Mas, baru Adzan”.


“Alhamdulillah, Mas ambil wudhu dulu ya, kamu tunggu”.


Zareen mengangguk dan menggulung sajadah suami yang telah kusut dan menggantinya dengan sajadah baru yang ia ambil dari kopernya. Kemudian tidak lama setelah itu Zain keluar dari kamar mandi dengan rambut bagian depan yang menitikan sisa air wudhunya. Zareen menatap lama hingga suara Zain menyadarkannya.


“Jangan gitu natap Mas Za, Mas jadi grogi nih”. Tuturnya dengan kekehan


Zareen menundukan wajah karena malu, ia sangat malu, seperti maling yang tertangkap basah.


Zain tersenyum menyaksikan tingkah sang istri. Rona merah dipipinya dapat ia lihat. Ia gemas, ternyata sang istrilah yang terkena syndrome blushing, bukan dirinya.


Zain melangkah kedepan dan berdiri pada sajadahnya. Ia mulai mengangkat tangan dan menyerukan takbir.


Ia melapalkan bait demi bait dengan tenang, dengan sangat jelas dan bersih. Ia bersyukur ia masih dengan sangat jelas mengingat bacaan shalatnya, tidak hilang seperti kemampuannya membaca Al-Qur’an.


Hingga ia bisa mengimami sang istri, yang akan menjadi makmumnya seumur hidupnya. Insyaallah


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Beberapa adab penting yang perlu diperhatikan dalam membaca Al-Qur’an:


1- Hendaklah yang membaca Al-Qur’an berniat ikhlas, mengharapkan ridha Allah, bukan berniat ingin cari dunia atau cari pujian.

__ADS_1


2- Disunnahkan membaca Al-Qur’an dalam keadaan mulut yang bersih. Bau mulut tersebut bisa dibersihkan dengan siwak atau bahan semisalnya.


3- Disunnahkan membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci. Namun jika membacanya dalam keadaan berhadats dibolehkan berdasarkan kesepatakan para ulama.


Catatan: Ini berkaitan dengan masalah membaca, namun untuk menyentuh Al-Qur’an dipersyaratkan harus suci. Dalil yang mendukung hal ini adalah:


عَنْ أَبِى بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ كِتَابًا فَكَانَ فِيهِ لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ


Dari Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menulis surat untuk penduduk Yaman yang isinya, “Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an melainkan orang yang suci”. (HR. Daruquthni no. 449. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 122).


4- Mengambil tempat yang bersih untuk membaca Al-Qur’an. Oleh karena itu, para ulama sangat anjurkan membaca Al-Qur’an di masjid. Di samping masjid adalah tempat yang bersih dan dimuliakan, juga ketika itu dapat meraih fadhilah i’tikaf.


Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Hendaklah setiap orang yang duduk di masjid berniat i’tikaf baik untuk waktu yang lama atau hanya sesaat. Bahkan sudah sepatutnya sejak masuk masjid tersebut sudah berniat untuk i’tikaf. Adab seperti ini sudah sepatutnya diperhatikan dan disebarkan, apalagi pada anak-anak dan orang awam (yang belum paham). Karena mengamalkan seperti itu sudah semakin langka.” (At-Tibyan, hlm. 83).


5- Menghadap kiblat ketika membaca Al-Qur’an. Duduk ketika itu dalam keadaan sakinah dan penuh ketenangan.


6- Memulai membaca Al-Qur’an dengan membaca ta’awudz. Bacaan ta’awudz menurut jumhur (mayoritas ulama) adalah “a’udzu billahi minasy syaithonir rajiim”. Membaca ta’awudz ini dihukumi sunnah, bukan wajib.


Perintah untuk membaca ta’awudz di sini disebutkan dalam ayat,


فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ


“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)


7- Membaca “bismillahir rahmanir rahim” di setiap awal surat selain surat Bara’ah (surat At-Taubah).


Catatan: Memulai pertengahan surat cukup dengan ta’awudz tanpa bismillahir rahmanir rahim.


8- Hendaknya ketika membaca Al-Qur’an dalam keadaan khusyu’ dan berusaha untuk mentadabbur (merenungkan) setiap ayat yang dibaca.


Perintah untuk mentadabburi Al-Qur’an disebutkan dalam ayat,


أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا


“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)


كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ


“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)


Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Hadits yang membicarakan tentang perintah untuk tadabbur banyak sekali. Perkataan ulama salaf pun amat banyak tentang anjuran tersebut. Ada cerita bahwa sekelompok ulama teladan (ulama salaf) yang hanya membaca satu ayat yang terus diulang-ulang dan direnungkan di waktu malam hingga datang Shubuh.


Bahkan ada yang membaca Al-Qur’an karena saking mentadabburinya hingga pingsan. Lebih dari itu, ada di antara ulama yang sampai meninggal dunia ketika mentadabburi Al-Qur’an.” (At-Tibyan, hlm. 86)


Diceritakan oleh Imam Nawawi, dari Bahz bin Hakim, bahwasanya Zararah bin Aufa, seorang ulama terkemuka di kalangan tabi’in, ia pernah menjadi imam untuk mereka ketika shalat Shubuh. Zararah membaca surat hingga sampai pada ayat,


فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ (8) فَذَلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ (9)


“Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit.” (QS. Al-Mudattsir: 8-9). Ketika itu Zararah tersungkur lantas meninggal dunia. Bahz menyatakan bahwa ia menjadi di antara orang yang memikul jenazahnya. (At-Tibyan, hlm. 87)


Ingat nasihat Ibrahim Al-Khawwash bahwa tombo ati (obat hati) ada lima:


1.Membaca Al-Qur’an disertai tadabbur (perenungan)


2.Perut kosong (rajin puasa)


3.Rajin qiyamul lail (shalat malam)


4.Merendahkan diri di waktu sahur


5.Duduk dengan orang-orang shalih.


 


Referensi:


At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an. Cetakan pertama, tahun 1426 H. Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi. Tahqiq: Abu ‘Abdillah Ahmad bin Ibrahim Abul ‘Ainain. Penerbit Maktabah Ibnu ‘Abbas.



Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


Artikel Rumaysho.Com

__ADS_1


__ADS_2