
...Part 42...
...🍁🍁🍁...
Setelah Zareen sembuh dari demam tingginya hingga tiga hari kemaren, Zain kembali membawa istrinya pulang ke rumah mereka.
“Mas harus banget ke kantor sekarang ya?”
“Iya sayang”
“Gak usah aja ya Mas, Mas di sini aja, minta Reza aja yang handle”.
“Gak bisa sayang, nanti ada rapat pemegang saham, dan itu harus Mas sendiri yang pimpin”.
Tidak ada jawaban, Zain memutar tubuh kepada sang istri yang berbaring di atas kasur dengan selimut tebal yang ia balutkan hingga ke lehernya. Zain tersenyum, iapun tidak tau kenapa kekasih hatinya ini masih nyaman dalam selimutnya, yang biasanya setelah shalat subuh ia sudah mulai sibuk dengan aktifitasnya, termasuk menyiapkan keperluan ke kantornya tentunya.
Ia berjalan mendekat, dan mendudukan diri di sebalah sang istri yang kini membelakanginya. Zain mengusap kepala Zareen, suhunya normal, istrinya tidak kembali panas.
“Sayang...”
“Hmmm...”
“Liat Mas donk”.
Menunggu beberapa detik, tidak lama Zareen membalikan tubuhnya menghadap sang suami. Rambut yang acak-acakan, pipi yang semakin terlihat penuh, dan yah keningnya sedikit mengerut. Zain mengulur tangan dan mengusap kening kekasih hatinya tersebut.
“Setelah rapatnya selesai, Mas janji Mas akan langsung pulang yah”.
Lama tidak ada jawaban, Zain beralih mengusap pipi Zareen.
“Kamu mau apa? Mas beliin pas pulang nanti”.
Zareen mengangkat mata, dan Zain tersenyum tatkala melihat pemandangan ini, mata yang bulat itu menatapnya. Ia tidak tau pasti, namun yang dapat ia lihat mood istrinya sedang tidak baik, dan ia tidak tau mengapa.
“Aku gak mau apa-apa, aku cuma mau Mas”.
Zain membulatkan mata, ia kaget mendengar jawaban istrinya.
“Hehh are you ok honey?”. Tanya Zain tidak percaya
“Kenapa sih Mas, apa salahnya Za ingin dekat dengan suami Za”.
“Oh ha ha gak gak sayang, gak salah, justru emang semestinya gitu kan”. Zain menghentikan tawanya karena nyatanya sang istri tidak merubah exspresinya.
“Ya udah, doakan saja jalan tidak macet ya, biar Mas bisa cepat jalan pulangnya, Mas janji langsung pulang, gak kemana-mana dulu”.
Zareen mengangguk, Zain tersenyum dan mencium kening sang istri. Dan seperti biasanya, Zareen mengambil tangan suaminya dan menciumnya, ini memang ia tidak akan lupa.
“Hati-hati di rumah ya”.
__ADS_1
Zain berangkat setelah memastikan semua pintu dikunci, dan dengan kebingungan meninggalkan rumah mereka. Zain mengemudi lebih cepat dari biasanya, ia melirik jam yang yang telah lewat karena membujuk sang istri barusan.
Sesampainya di kantor ia langsung disambut Reza, dan merekapun bergegas menuju ruang rapat yang telah dipenuhi oleh peserta rapat yang lainnya. Setelah memberi salam Zain langsung memimpin rapat, ia tidak akan berlama-lama, ia akan usahakan agar pekerjaannya ini cepat selesai.
Dan akhirnya rapatpun selesai, Zain mengambil ponselnya, ia memiliki kebiasaan menonaktifkan ponselnya ketika rapat, ketika layar gawainya hidup Zain kembali terkejut, lima belas panggilan tak terjawab pada log panggilannya, dan dua belas diantaranya dari nomor sang istri. Tanpa pikir panjang Zain langsung menghubungi balik, sungguh ia khawatir.
Setelah beberapa saat menunggu, panggilan terhubung.
“Halo sayang, kamu kenapa? Sakit lagi?”
“Gak kok Mas. Mas kapan pulang?”
Zain menghela nafas, dan menyandarkan kepala ke sandaran kursi.
“Rapatnya udah selesai, alhamdulillah. Nih Mas tadi mau langsung pulang”.
“Serius Mas?”
“Iya sayang, Mas jalan ya”.
“Iya Mas, hati-hati ya”.
“Iya dek, dah Mas tutup ya, Assalamualaikum..”.
Zain tersenyum, benar-benar ia tidak habis pikir dengan tingkah istrinya sekarang, apakah emang sebegitu rindunya istrinya hingga baru berpisah tiga jam saja sudah begini, ah jika benar, maka ia bahagia, ia menyukai sikap istrinya yang terbuka seperti ini, dan iapun juga sama rindunya. Zain mengambil tas, ia ingin segera sampai di rumah.
“Boss...”
“Hmmm...”
“Atur janji dulu, saya mau pulang”.
“Tidak bisa boss, memang mendadak karena ini penting kata mereka”.
“Oh tuhannn”. Zain menghela nafas dan kembali meletakan tasnya, tampaknya ia akan gagal unyuk pulang cepat.
“Suruh dia masuk”.
Dah yah, akhirnya pertemuan mendadak ini memakan waktu yang lama, karena pembicaraan dua perusahaan ini memang perihal yang genting. Jam 12.00, Zain segera bangkit dari duduknya dan berlari ke bacement, semoga saja keadaan jalan mendukungnya. Ternyata tidak, kesabarannya di uji, jam istirahat kantor tentu membuat jalanan ramai, banyak orang yang keluar untuk mencari apa yang bisa mereka makan untuk siang ini.
Zain menghela nafas dan berulang kali mengucap dzikir, untuk menenangkan hatinya yang mulai risau membayangkan sang istri, pasalnya tidak biasanya Zareen bertingkah seperti ini, seakan tidak rela berpisah darinya, dan itu membuat hatinya tidak tenang.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menghabiskan waktu, sesampainya di rumah Zain langsung memarkirkan mobil dan benar saja, sang istri tidak menyambutnya. Zain mengambil kunci cadangan, dan begitu pintu terbuka ia langsung berlari menuju kamar mereka.
“Assalamualaikum sayang...”
Tidak ada balasan, yang terdengar hanya
“Hiks...”.
__ADS_1
“Sayang kamu kenapa?”. Panik Zain dan membalikan tubuh sang istri yang meringkuk dalam selimutnya, persis seperti posisi ia tinggal pagi tadi.
“Mas udah lupa sama aku. Hiks...”
Zain terperangah mendengar pernyataan istrinya. Mata yang memerah dan mulai sembab, apa istrinya sudah menangis dalam waktu yang lama?
“Lupa gimana sayang, gak mungkin Mas lupaian istri Mas?”
Dan seketika Zain paham, kemana arah perkataan istrinya barusan. Ia tersenyum dan mendudukan Zareen.
“Sayang,,, Mas ingat sama kamu, Mas ingat permintaan kamu pagi tadi, tapi qadarullah ada halangan untuk Mas pulang cepat tadi sayang, dan Mas benar-benar gak bisa cancel itu, Mas minta maaf yah”. Urainya sembari mengusap pipi sang istri yang basah karena air mata.
“Sepenting apa?”
“Penting sayang, untuk masa depan kita”.
“Mas gak berniat neglupaian aku?”
“Gak sayang, gak akan ada niat itu sama sekali, gak akan terbesit di hati dan pikiran Mas buat lupain kamu”
“Mas serius?”
“Iya sayang, Mas serius, karena Mas udah janji sama Ayah dan Ibuk kan, dan sama Allah”.
Zareen mengangguk.
“Maafin Mas yah”.
“Iya Mas, gak papa”.
Zain tersenyum dan membawa Zareen dalam pelukannya, jujur ia bertanya-tanya, kenapa istrinya bersikap seperti ini, tidak biasanya. Tapi ia tidak marah, sifat manja dan ingin diperhatikan bukankah ini sifat alamiah wanita, jadi wajar jika istrinya bersikap seperti ini, mungkin saja karena selama ini ia tidak menunjukannya.
“Kamu udah makan belum?”
“Belum Mas”
“Sarapannya pagi tadi apa?”
Zareen menggelang
“Gak sarapan juga?”
“Gak Mas”
“Allah, kamu kenapa sayang,,, kenapa gak bikin sarapan tadi, dan ini juga udah siang dek, gak makan apa-apa sama sekali”.
“Za males ke dapur Mas”
TO BE CONTINUE
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Zareen kenapa ya?, kok sikapnya berubah 180° gitu 🤔