
...Part 40...
...🍁🍁🍁...
Masih di tanah Matahari Terbit itu, Zareen menyibakan jendela kamar mereka, hingga cahaya keemasan yang baru saja terbit di ufuknya masuk menembus kaca bangunan tinggi itu. Pemandangan pagi yang diselimuti udara musim semi sungguh cantik, bunga-bunga sakura yang terlihat sangat kecil dari tempatnya berdiri masih menyuguhkan pesonanya, sungguh pemandangan ini sangat indah, yang akan menambah koleksi memorinya tentang negeri ini, tentang perjalanan mereka, dan tentang kebahagiaan ini.
“Sangat cantik”.
Ia terkejut tatkala kedua lengan kekar itu melingkar di perutnya, memeluknya erat dari belakang.
Zareen menolehkan kepala ke samping, hingga hidungnya menyentuh pipi sang suami.
“Memang sangat cantik Mas”.
Zain membalikan badan istrinya, namun pelukannya tidak lepas.
“Mas ingin menyimpan kecantikan ini sendiri untuk Mas”.
Alis Zareen terangkat, bingung dengan pernyataan ini.
Cup
Satu kecupan di hidungnya. Zain tersenyum, “Kecantikan ini yang ingin Mas jaga dan lindungi dari pandangan orang-orang, kecantikan milik Mas”.
Zareen tersenyum simpul, kemudian ia berjinjit dan merangkulkan kedua lengannya di leher suaminya yang telah membuat ia salah tingkah dengan ucapan manisnya barusan.
“Terimakasih ya Mas, untuk Jepang ini, untuk musim seminya, untuk sakuranya. Terimakasih untuk mimpi yang telah jadi nyata ini”.
“Kamu bahagia sayang?”
“Bahagia sekali Mas”. Zareen mengangguk dan tersenyum manis
Kemudian ia menyandarkan kepalanya di dada bidang itu.
“Terimakasih untuk segalanya Mas. Tidak pernah terbayangkan untuk hari seperti ini dalam hidup Za Mas, tidak pernah. Terimakasih Mas, tidak banyak yang bisa Za berikan sebagai balasannya untuk Mas”
“Cintamu sayang, dan hadirmu selalu di sisi Mas, itu yang Mas butuhkan”.
Zain mengusap lembut rambut hitam sang istri, hatinya benar-benar telah tertumpah untuk perempuan ini, perempuan yang dulu ia benci kehadirannya.
“Kita prepare ya”.
Zareen mengangguk dan mulai menyiapkan barang-barang ia dan suami. Mereka akan kembali ke Indonesia hari ini, setelah satu minggu lamanya menghabiskan waktu menyusuri hal-hal yang di mimpikan istrinya di negeri sakura itu.
Bandara Soekarno Hatta, Indonesia
Zain mengandeng tangan Zareen saat keluar dari bandara, mereka langsung menuju mobil yang telah menunggunya sedari tadi.
“Welcome back my boos”. Reza merentangkan tangan lebar-lebar hendak memeluk Reza, namun pria dingin yang ia sebut sahabat itu tidak menanggapi, malah ia semakin mempererat ganggamannya pada tangan sang istri.
“Hmm baiklah, aku tau kalau aku tidak akan pernah mendapat pelukan itu lagi”. Reza mendengus dan membuang muka, mempersilahkan Zain dan Zareen menaiki bangku penumpang.
Reza mengemudi dengan pelan, sesekali matanya melirik spion yang menampakan sepasang keasih di belakang sana.
__ADS_1
“Ehem aura orang yang habis honeymoon ini memang beda ya”.
“Apa bedanya?”. Tanya Zain
“Wajahnya bercahaya, berseri-seri, auranya positif banget”. Tutur Reza terkekeh
“Ha ha makanya buruan nikah, biar aura positifmu juga keluar”.
“Do’ain biar aku juga segera dipertemukan dengan tulang rusukku”.
“Do’a iya, usaha juga”.
“Atau memang iya usahaku yang kurang selama ini ya?”.
“Ha ha gasskan lah lagi, ingat umur”
Mereka bertiga melalui perjalanan dengan canda dan tawa, dengan Reza yang pada akhirnya menjadi korban buli oleh Zain, salahnya yang memancing boss yang dingin itu, dan Zareen hanya terkekeh melihat interaksi kedua sahabat itu.
Dan setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, akhirnya mereka sampai. Zain memilih untuk langsung kerumah Ibundanya dulu, ia dan sang istri teramat merindukan dua orang yang yang berada di rumah itu.
“Kakak...”. Gema yang tengah sibuk menonton langsung berlari tatkala sosok kakak yang sangat ia cintai itu tampak berjalan memasuki pintu.
Zareen tersenyum sumringah kemudian duduk untuk menyambut pelukan Gema.
“Gimana kabarnya dek?”.
“Gema baik kak Alhamdulillah, cuma Gema rindu banget sama kakak”.
“Kakak juga rindu sayang, rinduuuuuu banget”. Zareen menguyel pipi Gema kemudian mencium kening sang adik.
“Sama abang Gema gak rindu?”. Zain menyela
“Rindu juga bang, tapi gak serindu sama kak Iza”
“Kenapa anak-anak harus sejujur ini ya”. Keluh Zain menghela nafas
“Hati gak bisa dibohongin Pak ha ha”. Canda Ningsih yang membuat semua ikut tertawa
Mereka semua masuk, dengan Gema yang terus menempel pada lengan sang kakak. Zain dan Ibu hanya tersenyum melihat itu, ia sudah cukup mengerti keharmonisan hubungan kakak adik yang satu ini, dan mereka memaklumi.
“Mas keatas dulu ya”. Zain mengusap kepala istrinya yang duduk menyadar di sofa bersama Gema. Zareen tersenyum dan mengangguk.
“Sayang, kamu capek banget ya? Kok pucat banget”. Zain yang hendak melangkah kembali berbalik dan menatap wajah sang istri.
“Sayang kamu sakit?”. Tanya Zain cemas dan langsung duduk di samping sang istri. Zain mengulur tangannya menyentuh kening sang istri, dan benar saja kening Zareen sangat panas, dengan bulir keringat yang mulai membasahi keningnya.
“Astaghfirullahaladzim Zaa”. Zain panik saat medapati hidung sang istri yang mengeluarkan darah, dan darah itu sangat banyak.
Zain mengambil tissue yang ada di atas meja dan mengelap darah itu, namun darah itu terus mengalir.
“Za tengadahkan kepala Iza sayang”.
“Pusing banget Mas”.
__ADS_1
“Gema, tolong panggilin Ibu kebelakang ya dek”.
“Baik bang”. Gema mengangguk dan langsung berlari ke dapur untuk memanggil Ningsih yang tadinya bilang ingin membuatkan minum untuk anak-anaknya.
Zain langsung mengendong Zareen dan membawanya ke kamar, sesampainya di kamar ia menurunkan sang istri pelan mendudukannya dengan menyanggah kepala sang istri dengan bantal.
“Iza kenapa nak?”. Tanya Ningsih dengan raut khawatir
“Ibu tolong telfonin Bima Bu”.
“Iya iya nak”. Ningsih berlari ke bawah dimana telepon rumah terletak, kemudian ia langsuh menghubungi kontak dokter keluarganya itu, Bima Adi Putra.
Setelah mendapat jawaban dari Bima, Ningsih kembali ke kamar putranya.
“Gimana Bu”.
“Dia sudah jalan nak”.
Zain mengangguk dan kembali menghadap pada sang istri yang kini benar-benar telah pucat.
“Sabar ya sayang, bentar lagi Dr.Bima datang”.
Ia terus mengusap kening Zareen yang basah karena keringatnya.
“Sayang liat Mas”.
Zareen membuka matanya, dan tatapan yang sayu dan lemah itu menusuk hati Zain, rasanya perih seakan ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Ia tau, bahwa tubuh sang istri telah lemah, sejak kejadian itu, dan ingatan tentang itu membuat hatinya sakit lebih dalam.
Beberapa menit kemudian tibalah Dr.Bima, ia menarok tasnya dan langsung memeriksa Zareen.
Selang beberapa waktu,
“Gimana Bim, istri saya kenapa?”
Bima membuang nafas dan tersenyum, “Tidak apa-apa, ia hanya kelelahan, demam biasa”
Zain mengerutkan kening.
“Benar hanya itu, tidak ada yang lain?”
“Iya benar, istrimu hanya kurang istirahat, ditambah karena perubahan udara yang terlalu berbeda, makanya tubuhnya lansung menunjukan rekasinya”. Terang Bima lugas, ia tau kalau sahabatnya ini baru pulang dari berliburnya bersama sang istri.
“Oh tuhan, syukurlah”. Zain menghela nafas lega, karena kenyataan ini tidak semenakutkan bayangan-bayangan yang memenuhi pikirannya beberapa menit lalu.
“Tidak apa-apa, ini obatnya, dan tolong kurangi aktifitasnya, karena tubuhnya memang lemah”.
Zain mengangguk paham, barulah tali kecemasan yang mencekik lehernya beberapa menit yang lalu hilang, ia menghela nafas dan kembali mengucap syukur, benar, ia akan menjaga boneka porselennya ini.
TO BE CONTINUE
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Like and votenya kaak 😙
__ADS_1