
...Part 17...
...🍁🍁🍁...
Jendela yang dibiarkan terbuka sepanjang malam, menghendaki angin masuk menyelimuti hati yang ringkih dengan kesesakan. Zain membuka matanya yang terasa perih karena silau cahaya yang masuk menembus tirai, ia turun dari ranjang kemudian berjalan ke kamar mandi,
“Gleng...Gleng... Gleng”
Zain melihat kebawah, botol-botol yang berserakan itu berguling dan menyisakan bunyi yang nyaring. Zain mengabaikan dan terus melangkah ke kamar mandi, di bawah guyuran air Zain memejamkan matanya, rasa nyeri di kepalanya semakin berdenyut tatkala air dingin menyentuh ubun-ubunnya.
Dilirik jam yang ada di atas lemari, jarum panjang tepat di angka 10, Zain mengencangkan dasinya dan beranjak pergi.
Karyawan yang melihat kedatangan Zain termangu, memberikan hormat dengan sapa salam yang sopan, mereka menatap tidak percaya,
“Ada apa dengan Direktur?, Ini beneran jam sepuluh leawt kan?”
“Iya bener, apa bapak sakit ya?”
“Atau bapak gak bisa tidur semalam karena masalah tender kemaren?”
“Bisa gawat kita hari ini”. Gerutu salah satu staf yang melihat ngeri ke lift yang sedang naik.
“Zain, kamu gak papa kan?”
“Jangan tanyakan hal yang tidak penting, bawakan saya semua laporan kerja sama kita selama satu tahun kebelakang”
Reza melongo, “Buat apa Zain”?
“Bawa saja kemari!!!”
Reza keluar dan tidak lama setelah itu ia datang dengan beberapa staf dengan bundel tebal ditangannya.
“Ini arsip kita tahun kemaren”
Reza meletakan semua berkas-berkas itu di atas meja di ruang tamu dan kemudian langsung keluar karena tidak ada sahutan dari Zain. Menutup pintu dengan sangat pelan kemudian Reza menghela nafas.
“Arghhh...!!!”
Reza yang mendengar suara teriakan Zain langsung berlari ke ruangan sang direktur.
__ADS_1
“Prak...”.
Seluruh bundel laporan itu berserakan di lantai. Reza menghela nafas melihat Zain yang mondar mandir dengan satu tangan di pinggangnya, dan satu lagi di kepala.
“Sekarang apa kau sudah puas, apa kau sudah menemukan apa yang kau cari pada laporan-laporan itu?”
“Dasar manusia-manusia bodoh, percuma saya menggaji mereka tinggi kalau satu proyek saja mereka tidak bisa dapatkan!!!”
“Berhenti menyiksa dirimu Zain, tenanglah. Ikhlaskan”.
“Ikhlas kata mu? Setelah dia merenggut segala kabahagian saya? Saya gak bisa menerima semua ini!”
“Dia siapa?, siapa dia yang kau maksud? Tuhanmu? Iya?!!”. Sarkas Reza dengan suara yang telah meninggi
Cepatlah berbalik Zain, sebelum hatimu semakin membeku dengan keangkuhanmu, ingat kita adalah hamba, yang membutuhkan tuhan, bukan tuhan yang membutuhkan kita”. Reza berbalik dan keluar dari ruangan meninggalkan Zain yang terduduk dengan tatapan kosongnya.
...🍁🍁🍁...
Waktu terus bergulir, detik ke menit, menit ke jam, jam menjadi hari, dan hari menggenapi minggu. Siang berlalu menyisakan senja dengan rona kemerahan di ufuknya, dengan keadaan hati dan pikiran yang sama kacaunya dengan ruangannya saat ini, Zain mengambil tasnya dan berjalan gontai keluar, meninggalkan serakan kertas yang menjadi bukti keberhasilan usaha-usaha dan kerja kerasnya selama ini.
Keadaan jalan yang macet dengan kebisingannya membuat Zain meraung, hatinya sesak, kemarahan dan kekecewaan yang memenuhi hatinya yang meradang. Sakit seakan diremas dengan sangat kuatnya kemudian ditusuk dengan ribuan jarum.
...🍁🍁🍁...
Ningsih Pov
Air mata ini jatuh, tidak kuasa melihat keadaan putra semata wayangku seperti ini, keterpurukan dan kahancuran. Satu bulan, Zain menarik diri dari segala kebisingan dunia, mengurung diri di rumah dengan botol-botol barang haram yang semakin menghilangkan akalnya, jika lapar maka ia hanya akan menunggu di pintu driver yang akan mengantarkan delivery pesannya, setelah itu ia kembali mengunci rapat pintu. Keinginan dan harapan yang dulu sangat menggebu-gebu untuk perusahaan raksasa yang ia impikan, kini tak lagi menjadi ambisinya. Memenjarakan diri dalam kegelapan.
“Zain,,, buka pintunya nak”
“Ting tong ting tong...”. Ningsih terus menekan bel yang ada di pintu putih rumah Zain.
“Sayang, Ibu bawakan sup jamur kesukaan kamu ini, buka pintunya nak”
Untuk yang ke tujuh kalinya bel Ningsih tekan, namun pintu tak jua terbuka. Jika kunci rumah ini masih sama, mungkin Ningsih akan menerobos langsung dan tidak perlu berdiri dengan kerisauan seperti ini. Ya, anak itu mengganti kunci rumahnya sejak beberapa hari yang lalu.
Kaki yang mulai goyah ini tidak lagi kuat untuk berdiri lama, ku memutuskan untuk berbalik dan akan kembali lagi besok. Allah yang maha mengetahui, betama cemasnya hatiku saat ini, saat hendak berbalik terdengar suara pintu yang dibuka, Ya tuhan ku, apa yang telah terjadi dengan anak ku?. Ku langkahkan kaki menyusulnya ke dalam, dengan langkah yang gontai ia langsung duduk di meja makan.
“Ibu bawain aku apa”?
__ADS_1
“Ah ini nak, sup jamur, Ibu masak saat mau ke sini tadi, ni masih hangat”.
Dengan senyuman ku ambilkan piring kemudian sugukan sup yang masih menyisakan sedikit kepulan asap ke hadapan putra ku. Tanpa menunggu ia memakan sup itu dengan tenang, sangat lahap.
“Gimana rasanya nak, jamurnya kenyal gak?”
Ku lihat Zain mengangkat tangannya dan menyeka sedikit kuah yang menempel di mulutnya.
“Zain rindu Bu”.
Zain merentengkan tangannya dan seketika lengan kekar anak ku itu melingkar di tubuh ku, ku tidak terkejut dengan apa yang ia lakukan ini, karena dari dulu Zain sering melakukan ini, entah itu saat sedih maupun bahagia. Dulu, sebelum ia menjadi direktur sukses seperti sekarang.
“Hiks...”
Ku dengar isakan kecil yang keluar dari mulutnya, ku pegang bahunya dan memberi jarak diantara kami.
“Kamu rindu siapa nak”? Tanya ku menghapus air mata di pipinya, anak ku benar-benar tampan rupanya.
Ia hanya dia, dan menuduk, namun sebelum itu dimatanya dapat ku lihat, duka teramat dalam. Perih
“Kamu gak lupa cara sholat kan nak?”
Zain mengangkat kepalanya dan ia menggeleng
“Sekarang kamu sholat, sholat yang bener, temui Allah dalam sujudmu, kembalikan diri dan jiwa ini kedekapanNya. Curahkan segalanya nak, lepaskan segala belenggu yang kamu buat sendiri ini”. Ku menunjuk hatinya
Rayu Allah nak”. Ku tersenyum dan merapikan ujuang rambutnya yang hampir mencapai matanya, ku lihat Zain yang terus menatapku, kemudian ia memelukku kembali.
“Maafkan Zain Bu, maafkan Zain, Zain bener-bener minta maaf Bu, wallahi Bu, Zain tidak bermaksud untuk menyakiti hati Ibu, tapi secara tidak sengaja Zain telah melakukannya. Zain sangat sayang sama Ibu, sama Ayah, Zain bener-bener gak bisa tanpa kalian, Zain gak bisa Bu”
“Rasa sayang di hati kita Allah hadirkan sebagai rahmat nak, agar kita hidup di dunia ini dengan kedamaian dan ketenangan. Jangan sampai apa yang baik Allah hadirkan malah kita jauhkan dari qodratnya. Rasa sayang Zain kepada Ayah, sampaikan melalui do’a-do’a yang Zain kirimkan, dan wujudkan dengan kehidupan Zain yang lebih baik kedepannya”.
Ku mengusap surai anak ku, dan pundak ku yang terasa semakin basah karena air matanya.
“Sayang, kamu adalah anugrah terindah yang Allah titipkan kepada kami, syurga dan nerakanya kami”
TO BE CONTINUE
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1