
...Part 51...
...🍁🍁🍁...
“Assalamualaikum...” Ningsih mendorong pintu putih itu dan mengenggam tangan Gema masuk kedalam.
“Waalaikumsalam Bu...” Zain berdiri dan memeluk Ibundanya.
“Selamat ya sayang, kamu sudah jadi Ayah sekarang.” Ningsih membalas erat pelukan putra semata wayangnya dan menepuk punggungnya.
“Iya Bu, Zain sudah jadi Ayah sekarang, gak nyangka.”
Ningsih melepaskan pelukan, “Jadi Ayah yang baik ya nak.”
Zain mengangguk, “Iya Bu.”
Ningsih mendekat dan mengusap pipi menantunya, “Putri Ibu adalah wanita kuat, lekas bangun sayang.”
Ia beralih pada keranjang bayi yang tidak jauh dari brankar Zareen, matanya berbinar saat melihat cucunya yang tertidur pulas dalam hangat bedongannya.
“Masyaallah cucu nenek...”
Ningsih mengambil bayi mungil itu dan menimangnya, ia mengayun-ayunkan membuai dan mengecupi pipi yang masih memerah itu. “Gema lihat sini nak.” Ningsih menunduk mensejajarkan diri memudahkan Gema untuk melihat. Gema dengan ragu menyentuhkan ujung telunjuknya ke pipi putra kakaknya itu. Ia tersenyum saat baby boy itu menyerngit dan sedikit menggeliat.
“Gantengkan Om ponakannya?”.
Ningsih dan Zain tertawa melihat ekspresi terkejut Gema saat dirinya dipanggil Om.
“Gema masih kecil masak di panggil Oom.”
”Ha ha iya Gema dipanggil Om, Oom kecil. Kan udah ada ponakannya”. Jelas Ningsih yang menjawab kebingungan Gema. Zain hanya tersenyum melihat wajah bingung adik iparnya yang tidak kalah tampan darinya ini. Lama Ningsih dan Gema disana, baby boy yang nyaman tidur dalam dekapan neneknya, dan Gema yang terus memainkan jari kakaknya, tidak beranjak dari brankar Zareen. Hingga malam semakin larut barulah keduanya pulang diantar kembali oleh Reza, mengingat besok Gema harus bersekolah. Tinggallah Zain seorang saja menjaga dua orang yang ia sayangi.
Di tengah malam yang larut, Zain terbangun. Ia meregangkan lehernya yang terasa kaku karena tidur sambil duduk disebelah brankar sang istri. Ia melirik jam dan beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu’, menggelar sajadah dan mengerjakan dua raka’at tahajjudnya. Usai mengucap salam ia berdzikir, mengulang-ulangnya hingga tiga puluh tiga kali, memuji Allah tuhannya atas segala kuasanya. Dengan khusu’ dan tenangnya malam Zain memejamkan mata seraya terus mengulang kalimat dzikrullah, hingga suara lirih sang istri pelan terdengar mengejutkannya. Zain menangkupkan tangan ke wajah dan berdiri bergegas menuju brankar Zareen.
__ADS_1
“Mas...”
“Iya sayang, ini Mas.”
Ia mengucap syukur dan menghujami wajah yang masih pucat itu dengan kecupan. “Alhamdulillah Iza sudah sadar sayang.” Dengan mata yang sayu Zareen tersenyum membalas suaminya. “Iza merasakan sakit, atau ada yang tidak nyaman sayang?”. Zain menekan tombol kecil yang ada disamping brankar Zareen, dan tidak lama Dokter Mira datang dengan perawat yang mengikutinya. “Alhamdulillah Mbak sudah sadar.” Dokter Mira memeriksa secara menyeluruh keadaan Zareen, “Mungkin setelah ini Mbak akan merasakan sedikit ketidaknyamanan karena anestesinya sudah habis, Mbak harus kuat ya. Kita akan kasih obat untuk pemulihannya dan itu akan membantu mengurangi rasa nyerinya”. Dokter Mira memberikan Zareen air mineral, dengan Zain yang membantu menopang punggung sang istri untuk memudahkannya minum.
Setelah dahaganya hilang, Zareen sedikit meringis, memutar pandang ke arah keranjang bayi yang ada disebelahnya, matanya berbinar saat samar ia melihat bayi laki-laki nan kecil berbaring disana. “Mas, anak kita Mas.”
“Iya sayang”. Zain beranjak dan mengangkat putranya yang lelap dalam tidurnya, dengan pelan ia mendekatkan putra mereka ke sang istri. Dengan mata yang mengembun Zareen menerima dan mendekap dengan hangat buah hatinya yang mulai terisak kecil terganggu karena pergerakannya.
“Pintar ya, langsung nangis begitu dekat dengan Bundanya, dari tadi padahal adem-adem aja.”
Dokter Mira tertawa mengejek maghluk yang belum tau apa-apa ini, ia menguyel pipi lembut itu, “Ya sudah, sekarang mimiklah sepuas-puasnya.” Ia tersenyum dan keluar membiarkan Zareen memberikan kasih sayang kepada putranya.
Zareen seakan lupa dengan rasa sakitnya beberapa jam yang lalu, saat melihat makhluk kecil yang ada di dekapannya saat ini. Kebahagian mereka yang telah lahir.
“Sayang Bunda.”
Zain tersenyum saat melihat interaksi istri dengan anaknya itu, ia mengusap kepala Zareen, “Arfan Alamsyah Malik Fahad, Laki-laki yang gagah dan berwibawa, yang memiliki kekuatan dan tekad untuk selalu menjaga diri dengan keberaniannya seumpama Harimau agar selalu berada dijalan yang benar, yang diridhoi tuhannya”.
Keesokannya Ningsih kembali datang, “Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam Ibu...”
Kedua anak minantunya itu serentak menjawab, Zain beranjak dan membiarkan Ibundanya dan Gema duduk lebih dekat untuk melihat menantu dan kakaknya.
“Sayang...”. Ningsih memeluk Zareen yang sudah bisa duduk dibantu Zain. Keduanya melepas kerinduan dengan kebahagiaan. Ningsih mengusap pipi menantunya itu dengan sayang, “Selamat ya sayang, Iza udah jadi Ibu.”
“Iya Bu, bimbing Iza ya Bu, agar bisa menjadi Ibu yang luar biasa seperti Ibu.”
“He he siap sayang”.
Ningsih mengusap kepala Zareen, dan ia beralih pada cucunya yang terlelap di keranjang bayi.
__ADS_1
“Masyaallah gantengnya cucu nenek, ish gemes bangeh sih.”
Arfan yang tertidur hanya menggeliat ringan saat ia berpindah ke tangan keriput neneknya. “Hey kok gak bangun sih, gak mau liat nenek sama Om Gema ini?”.
“Om sini liat ponakannya.”
Gema yang duduk disebelah kakaknya mengangguk dan beralri mendekat kepada Ningsih, Ningsih menunduk untuk mensejajarkan tingginya dengan Gema, memudahkan paman muda itu untuk melihat ponakan pertamanya.
“Ganteng ya kamu.” Gema menguyel pipi Arfan, mungkin karena uyelannya sedikit kuat membuat Arfan terbangun dan menangis.
“Kakak, aku gak apa-apain lo.” Gema langsung mundur begitu Arfan nangis dengan teriakan melengkingnya.
“Hayooo Gema apain anak abang?”
Semuanya kembali tertawa saat Gema menampakan wajah paniknya, “Gak apa-apa kok Om, ponakan Om cuma haus tu.” Zareen menenangkan adeknya dan segera memberikan asi untuk Arfan.
Lama Ningish dan Gema disana, berbincang segala hal dengan penuh suka cita atas kehadiran Arfan, hingga malam kembali tiba Ningsih dan Gema pamit untuk pulang.
Zain memindahkan Arfan yang tertidur lelap ke keranjang bayi. Kemudian ia beralih ke Zareen, “Ayah sama Ibuk berangkat jam berapa Mas.?
“Beok pagi jam delapan sayang.”
Zareen menghela nafas, dan Zain dapat memahami perasaan kekasih hatinya itu saat ini, yang begitu menginginkan untuk hadirnya Ayah dan Ibundanya di saat ia berjuang melahirkan putranya tadi. “Ini hal yang berada di luar kendali kita kan sayang, Arfan lahir satu minggu lebih cepat dari perkiraan.”
“Iya Mas...”
“Tapi percayalah Iza kalau do’a Ayah dan Ibuk sampai ke Allah hingga semuanya Allah beri kemudahan, Iza dan Arfan sehat semuanya.”
“Iya Mas, do’a tidak membutuhkan ruang yang sama ya Mas, dari Padangpun do’a Ayah dan Ibuk tujuannya tetap satu, yaitu mengetuk arsy Allah.”
“Nah iya begitu dek, yang sabar ya, besok kita akan bertemu dengan Ayah dan Ibu.”
Zain mengusap kepala istrinya yang tersenyum mengiyakan, ia mengambil nampan makanan dan menyuapi Ibu dari putranya Arfan itu dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
TO BE CONTINUE
🌹