SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Orang Asing


__ADS_3

...Part 21...


...🍁🍁🍁...


“Assalamualaikum”


Zareen menoleh “Waalai – kumsalam”. Dengan suara yang terputus Zareen menjawab salam Zain. Zain tersenyum dari jauh melihat Zareen yang menatapnya terkejut.


“Hy, boleh saya masuk”?


Zareen tersadar dari keterkejutannya dan berjalan ke pagar kemudian membukanya untuk Zain. Tanpa kata yang terucap Zareen segera berbalik hendak kembali ke dalam rumah, “Mana senyummu istriku”?. Zain yang mengerti dengan keadaan ini hanya masuk dan mengikuti Zareen dari belakang.


“Silahkan duduk dulu Mas, aku panggil Ayah dan Ibuk dulu”


Zain kembali tersenyum dan mengangguk, ia menatap punggung Zareen yang berbalik meninggalkannya, “Saya tau kau pasti tidak nyaman bersikap dingin seperti itu kepada saya, kau terlihat canggung sekali memerankannya istriku”. Zain kembali tersenyum saat kata terakhir yang ia ucapkan tadi menyentuh hatinya, hatinya terasa bergetar setiap kata itu terucap, yeah ia tampak sangat menyukai kata itu sekarang.


“Apa kabar nak”?. Zain tersadar dari lamunannya karena sapaan mertuanya Fatma, Zain berdiri kemudian menyalami tangan Ibuk dan Ayah,


“Alhamdulillah Zain sehat buk, Ibuk sama Ayah apa juga sehat-sehat saja kan”?


“Baik nak, Alhamdulillah, hanya saja Ayah Zareen akhir-akhir ini penyakitnya sering kambuh”. Jawab Fatma sambil tersenyum


“Saya orang tua yang sudah ringkih, tubuh saya tidak sekuat dulu lagi, sudah banyak yang sakit, hingga saya tidak bisa melindungi putri saya seperti dulu lagi”. Jawab Ayah dengan mata yang terus menatap tepat ke bola mata Zain.


Fatma menggulir pandang ke Ayah dan mengenggam tangannya dengan gelengan kecil di kepalanya.


“Maafkan saya Ayah”. Hanya kata itu yang keluar dari mulut Zain, ia merunduk menatap lantai, wajah ini seolah tak memiliki keberanian lagi untuk menengadah, ia sungguh kehilangan kepercayaan diri yang selama ini selalu berhasil membuat tunduk lawan di meja bisnisnya.


“Sebagai seorang Ayah hati saya sangat hancur melihat apa yang terjadi pada Zareen. Dengan tetes peluh keringat saya membesarkannya, dengan segenap kemampuan saya, saya mencoba untuk memberikan segala yang terbaik untuk dia. Saya mendidik dia dan mengajarkannya tentang agama. Zareen bukanlah anak yang pembangkang, dia selalu menurut apa yang kami katakan dalam kebaikan, dan dia juga bukanlah seorang wanita manja, dia membantu kami dalam segala hal yang dia bisa, dan pengajaran apakah yang belum saya ajarkan hingga ia membuat suaminya murka?”


Suasana hening, dan Ayah melanjutkan


“Jikapun dia melakukan kesalahan, maka ajarkanlah dia dengan cara yang makruf, itu adalah tanggung jawab yang saya emban selama ini, dan sekarang tanggung jawab itu adalah milikmu”.


Zain terus meunduk mendengar segala kata-kata Ayah, ia tau bahwa saat ini Ayah sedang mengungkapkan segala kekecewaan yang ada di hatinya, dan Zain tidak memiliki kata yang akan ia ungkapkan sebagai pembenaran, dia yang sudah gegabah.


Zareen datang membawa nampan yang diatasnya terdapat dua cangkir kopi, ia meletakan satu di depan Ayah dan satu untuk Zain. Saat ia hendak kembali ke belakang Ayah menghentikannya dan menyuruh ia untuk duduk. Zareen berbalik dan mengambil tempat duduk di sebelah Zain, karena hanya tempat itu yang masih kosong.


“Jadi sekarang apa maksud kedatanganmu?” Ayah melanjutkan


Zain mengangkat kepalanya dan dengan suara yang tenang dia mengatakan “Saya ingin menjemput Zareen yah”


Hening seketika, dan Zain melanjutkan “Saya ingin membawa istri saya kembali pulang, ke Jakarta”


Zain mengatakan semua itu dengan tatapannya yang dalam menatap sang istri yang tertunduk dengan tangan yang saling bertautan, “Berikan saya kesempatan kedua yah, saya akan memperbaiki semuanya, saya ingin memulai semuanya dari awal bersama Zareen, saya ingin mempertahankan pernikahan ini”.


Zareen mengangkat wajahnya dan saat itu tatapan mereka bertemu, dimata istrinya yang berkaca-kaca Zain dapat melihat keterkejutan Zareen, seolah ia tidak percaya dan meragukan segala yang ia katakan tadi, Zain menjawab segala keraguan Zareen itu dengan tersenyum.


Ayah dan Ibuk saling bertatapan, kemudian Ayah berkata “Semuanya kami serahkan kepada Zareen.


Semuanya kembali hening, dengan hati yang tak menentu Zain terus melihat istrinya, menantikan jawaban apa yang akan Zareen berikan, “Berbaliklah istriku, berikan maafmu untukku”.


“Za akan memberi jawaban besok Ayah, Za istikharah dulu”.


“Baiklah nak, lakukanlah, mintalah petunjuk kepada Allah yang sebaik-sebaiknya tempat kita mengadu”


Ayah mengangguk kemudian mengalihkan pandangnya ke Zain, “Seperti yang kamu dengar, Zareen belum bisa memberikan jawabannya sekarang, ia akan beristikharah dulu, apa kamu bersedia menunggunya?”


“Saya akan memberikan waktu untuk Zareen berfikir yah, saya akan menunggunya”. Tutur Zain tegas dengan mata yang mendatap dalam istrinya.


“Ya tuhan, beginikah rasanya menunggu jawaban, dulu ku menikahinya saat ia tak sadarkan diri, tak mampu mendengar dan melihat, tak memiliki kesempatan untuk mengiyakan atau menolak. Saat ini Zareen dengan kesadarannya mampu melihatku, lelaki yang sudah mengecewakannya, oh tuhan,,, jawaban apa yang akan Zareen berikan, bantu hamba untuk meyakinkan hatinya tuhan. Ternyata beginilah rasanya meminang seseorang, dengan hati yang harap-harap cemas menunggu jawabannya”

__ADS_1


Zareen berjanji akan memberikan jawabannya dalam tiga hari kedepan, dan selama menunggu jawaban itu Ayah meminta Zain untuk tetap di rumah ini saja, karena idah talak satu yang Zain berikan belum habis, maka mereka bukanlah orang asing yang menjadi haram untuk bernaung dalam satu rumah.


Setelah pembicaraan tadi sudah selesai dan jelas, Ayah kembali ke kebun yang tidak jauh berada di belakang rumah, dengan di temani Fatma Ayah menyelesaikan menanam singkong yang tadi masih terbengkalai.


Sedangkan Zareen kembali ke dapaur meninggalkan Zain tanpa ada kata di ruang tamu, Zain yang yang mengerti tidak mencoba mengikuti Zareen, ia berjalan menyusuri rumah yang tidak terlalu luas itu, rumah sederhana dengan perabotan secukupnya, tidak banyak hiasan sana sini yang ada hanya beberapa figura kaligrafi yang terpajang di dinding.


Zain terus melihat-lihat, sampai atensinya terhenti saat ia melihat tiga buah album foto yang terletak di urutan paling belakang dari deretan buku-buku yang tersusun rapi. Zain kemudian mengambil tiga album itu dan membawanya ke sofa, dan melihatnya satu persatu. Zain mengambil album yang covernya sudah memudar, mungkin ini album yang paling tua dari ketiga album ini.


Membukanya dan pada lembaran awal terlihat foto dua insan yang duduk bersanding dei pelaminan dengan pengantin perempuan yang memakai hiasan besar yang bercorak emas “Sun-ting”, Zain mengejanya, ia tau apa yang Ibuk pakai, ya itu adalah foto pernikahan dan resepsi Ayah dan Ibuk. Ayah yang sangat terlihat gagah dan berwibawa mengenakan baju beludru merah hati dengan keris yang di sisipkan di lipatan kain songket yang melilit dipinggang Ayah, dan Ibuk yang berdiri tepat di sebelah Ayah memegang lengan Ayah dengan tersenyum. Dari Ibuk lah rupanya Zareen mendapatkan wajah yang ayu dan tatapan yang lembut itu, Zareen benar-benar mirip dengan Ibunya.


Zain terus membalik lembara demi lembaran album memoriam Ayah dan Ibuk itu hingga akhir. Kemudian Zain beralih pada album kedua dengan cover yang lebih bewarna, dengan lukisan bunga mawar putih di depannya, Zain membuk alembaran awal, dan disana ia melihat potret seorang bayi yang masih di bedong dengan mata yang terpejam, Zain terkesiap kemudian tersenyum sumringah, “Ya Allah, imut sekali kamu istriku”. Gumam Zain sambil tertawa


“Apa yang Mas lakukan”? Tanya Zareen langsung mengambil album yang ada di tangan Zain


“Eh kok di ambil, Mas kan belum selesai melihatnya”


Spontan Zareen menatap Zain, ia terkesiap mendengar apa yang barusan Zain ucapkan. Zain menyebut dirinya “Mas”, ini untuk pertama kalinya kata itu terlontar dari mulut sang suami, yang selama ini suaminya itu selalu dengan dinginnya mengatakan “saya”.


Zain yang tidak mengerti melanjutkan “Kenapa, Mas kan cuma mau melihat-lihat foto itu saja”


“Mas gak boleh melihatnya”. Sungut Zareen segera setelah ia tersadar dari keterkejutannya.


“Emang kenapa?”. Tanya Zain yang masih kekeh


“Ya gak boleh, Mas main ambil-ambil aja, seharusnya Mas itu minta izin dulu, siapa tau ada privasi orang yang tidak seharusnya Mas lihat”


Zain termangu, hatinya terasa perih mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Zareen, kemudian ia bergumam lirih, “Apakah kamu sedang menganggap Mas orang asing sekarang Zareen?”


Zareen yang hendak menutup pintu lemari karena baru selesai meletakan kembali album-album itu terhenti, hening, ia tidak memberikan tanggapan apapun kemudian pergi kembali ke dapur.


“Sekarang aku seperti orang asing dimatamu, aku tidak suka ini. Tapi ini semua salahku, mengabaikan kau yang dulu dengan sepenuh hati menatap dan memujaku sebagai seorang suami”. Zain tersenyum masam merutuki kebodohannya sendiri.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sholat istikharah adalah amalan yang dianjurkan bagi seseorang yang dalam kegundahan dan kebingungan saat dihadapkan pada sebuah pilihan.


“Dari sahabat Jabir ia berkata; Rasulullah SAW mengajari kita istikharah dalam menentukan perkara-perkara, sebagaimana beliau mengajarkan kita surah dari Al-Qur’an. Jika kalian hendak melakukan perkara/urusan, maka rukuklah (shalatlah) dua rakaat dari selain fardhu. Kemudian berdoa; “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kuasaMu (untuk mengatasi masalah) dengan kekuasanMu.


Adapun tata cara sholat istikharah adalah sama dengan sholat wajib, yaitu memenuhi rukun:




Niat


(Usholli sunnatan istikhoroti rak’ataini lillahi ta’ala)




Takbiratul Ihram, kemudian diikuti dengan doa




Qiyam (berdiri tegak jika seseorang memiliki kemampuan untuk melakukannya)


__ADS_1



Membaca Al-Fatihah




Membaca surat-surat dari Al-Qur’an




Rukuk dengan tuma’ninah




I’tidal atau bangkit dari rukuk




Sujud




Duduk diantara dua sujud




Tasyahud awal




Tasyahud akhir




Salam




Tuma'ninah



__ADS_1


__ADS_2