SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Pulang ke Indonesia


__ADS_3

...Part 11...


...🍁🍁🍁...


Hari ini adalah hari kepulangan Zain dan Zareen ke Indonesia, setelah dokter menyatakan bahwa keadaan Zareen sudah memungkinkan untuk menghentikan rawat inap, itu artinya Zareen masih harus terikat dengan rawat jalan.


“Saya sangat berterimakasih Ell", ucap Zareen lirih sambil memeluk Ell.


"Terimakasih karena sudah merawat saya selama disini”. Suara Zareen terdengar sendu. Benar, air matanya luruh.


Ell mengusap punggung Zareen dalam pelukannya “Sama-sama beuty melihat kamu sehat dan kembali seperti dulu lagi sudah sangat cukup bagi saya”, ya Ell tidak menggunakan panggilan Nyonya lagi, sejak hari itu Zareen menyuruhnya berhenti memanggilnya Nyonya, meskipun dengan ragu karena Ell tau bagaimana suami wanita yang kini menganggapnya sahabat ini.


Ell melepaskan pelukan Zareen, “Sudah hapus air matanya, berhentilah menangis, suatu hari jika ada waktu saya akan berkunjung ke Indonesia, ok”.


Zareen mengangguk dan tersenyum, “Aku menantikan waktu itu”


“Sudah sana jalan, tuan Zain sepertinya tidak memiliki kesabaran lagi untuk menunggu”. Ell melirik ke arah Zain, apa pria itu tidak mengerti cara perpisahan kaum hawa, kenapa kesal seperti itu.


“Thanks Ms. Ell”. Ucap Zain mengulurkan tangan menyalami Ell


“Sama-sama Sir, take care and save fly”.


Zain tersenyum mengiyakan, dan mobil merekapun meninggalkan rumah sakit yang hampir dua bulan ini menjadi lingkungan mereka.


...🍁🍁🍁...


Bandara Soekarno Hatta, Indonesia


Zareen hanya mengikuti langkah besar pria di depannya, dengan perlahan ia terus mencoba mengejar Zain agar tak tertinggal. Tubuh yang belum terlalu kuat, ia tetap saja jauh tertinggal di belakang Zain.


“Bisa kah kau lebih cepat?” Zain berbalik dan menatap nyalang Zareen


Sementara yang ditatap hanya menunduk dan terus mengayunkan kaki lemahnya. Sungguh ia tidak memiliki keberanian untuk menatap balik sang suami.


“Menyusahkan!” dengus Zain


Setelah meletakan semua barang-barang Zareen ia menutup kasar pintu mobil sehingga menghasilkan sedikit dentuman. Kemudian ia langsung jalan memutar dan duduk di kursi kemudi.


Setelah beberapa saat...


“Apa kau mau saya tinggalkan di sini?”


“Hahh...” Zain membuang kasar nafasnya


Melirik sekilas dan Zareen masih belum masuk


“Oh Tuhan, masuklah gadis bodoh!. Apa yang kau tunggu, apa kau menunggu saya yang akan membukakan pintu untukmu, ha?”.


“Maaf, tapi saya tidak tahu cara membuka pintunya”


Ilna tidak berani menatap sang lawan bicaranya saat ini, sungguh rasanya ia tidak memiliki keberanian untuk itu.

__ADS_1


“Oh Tuhannn,,,,” Zain menutup kedua matanya, mengatur nafas yang sudah naik turun sedari tadi, kali ini tak ada lagi yang ia katakan, Zain turun dan berjalan ke arah Ilna.


Ilna mengangkat sedikit kepalanya, dan benar saja, seharusnya ia tidak menatap pria itu, atmosfir yang ditimbulkan suaminya itu saat ini tidaklah baik, Zareen kembali menudukan kepalanya sampai Zain tiba di sampingnya dan ia mundur beberapa langkah secara spontan.


Zain mengulurkan tangan dan membuka pintu mobil, kemudian ia menatap Ilna , dan Ilna yang mengerti akan tatapan itu lansung melangkah masuk dan baru saja ia duduk pintu kembali dibanting oleh Zain.


Ia memang orang kampung, tapi bukanlah karena ia yang dungu, Zareen pernah beberapi kali menaiki mobil mewah temannya sewaktu bekerja dulu, tapi kali ini, entah karena perasaan terintimidasi yang ia rasakan sejak di pesawat tadi, membuat ia takut untuk segalanya di hadapan Zain. Bahkan untuk menggerakan satu jari saja ia takut salah.


“Biarkan aku saja yang mengemudi”. Akhirnya Reza yang lebih dulu masuk dan duduk di belakang angkat suara. Ya, sebelum take of tadi Zain sudah menghubungi Reza, dan meminta Reza menjemputnya ke Bandara.


“Tidak usah, kau duduk saja dengan manis di belakang, kapan lagi kau ku manjakan”


“Ya sudah, dengan senang hati, silahkan mengemudi dengan baik Bapak Zain Malik Fahad”. Reza terkekeh dan memilih memejamkan mata.


Zain lansung menjalankan mobilnya, dengan sangat pelan, karena ia tau Ilna masih lemah, dan keadaan ini benar-benar membuat ia menumpuk kesabaran,


Dengan perlahan mobil itu berjalan, tidak ada satu katapun yang terucap selama perjalanan, hanya keheningan.


Ilna menatap lurus dengan jari-jari yang meremas ujung khimarnya. Ia tidak bisa mencairkan suasana yang dingin hingga mencekam ini.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai. Ilna menatap bangunan tinggi yang berada didepan. Bangunan megah nan tinggi mencakar langit, Ilna tahu kalau tempat ini adalah tempat bernaung bagi kalangan elit di atas rata-rata.


Zain turun terlebih dahulu dan kembali membukakan pintu untuk Ilna, ia hanya diam, dan setelah itu Zain lansung berjalan mendahului Ilna setelah mengeluarkan barang-barang yang tadi ia simpan di bagasi.


Ilna kembali hanya mengikuti Zain dari belakang, tanpa berani bertanya. Apa yang harus ia tanyakan?, kalau lelaki itu saja selalu membuang muka sesaat ketika pandangan mereka bertemu. Apakah kesalahannya sampai suaminya itu sangat enggan untuk sekedar tersenyum ramah padanya.


“Ini kamar saya, untuk semntara waktu kau tidurlah disini”


Zain meletakan tas Ilna di atas king size miliknya


Akhirnya Zareen berani membuka suara


“Tidak ada yang boleh membantah saya”. Zain menatap tajam Zareen, kemudian ia berlalu meninggalkan Zareen dalam kebingungan.


Ia cukup tau, dengan apa yang sedang terjadi diantara mereka. Suami, kata yang pernah terucap oleh Ell yang mengurusnya di rumah sakit Jerman waktu itu. Yang ia tau, bahwa ia adalah istri dari lelaki yang baru saja melangkah pergi dengan kemarahan diwajahnya, kendatipun ia tidak memiliki kesempatan untuk menanyakan perihal kebenaran pernikahan ini kepada lelaki yang harus ia hormati sebagai suami.


*


“Assalamualaikum Bu...”


“Waalaikumsalam sayang...”


Ibu Ningsih lansung memeluk putra semata wayangnya, melepas segala rindu yang memenuhi relung dada setelah beberapa bulan tidak bertemu.


“Ibu sehat?”


“Alhamdulillah Ibu sehat” Ningsih mengusap pipi sang putra


“Zareen mana nak?”


“Dia di apartemen”

__ADS_1


“Kok di apartemen, kenapa gak dibawa ke sini”?


“Besok-besok Zain bawa ke sini bu”


“Loh kok gitu, kalian gak tinggal disini nak”


“Masih belum Zain putuskan bu, cuma untuk sekarang biar kami di sana dulu ya bu. Udah bu, Zain mau makan, Zain kangen sekali dengan masakan Ibu, Ibu ada masak kan”?


“Ada, Ibu masak banyak untuk kalian” Ningsih memaksa senyum, senyum itu terlihat getir, ia tahu bahwa pada kenyataannya Zain masih belum bisa menerima semua ini.


“Maafkan Zain bu”.


Zain merangkul pundak sang Ibu, dan berjalan menuju meja makan.


“Assalamualaikum Ibuk...”


“Waalaikumsalam wr wb...”


Bocah tampan itu menyusul ke meja makan, kemudian mengulurkan tangan dan mencium tangan Ningsih. Setelah itu, tatapannya beralih menatap Zain yang dengan acuhnya mengabaikan kehadiran Gema.


“Gema, kak Zain nak”


Gema tersenyum merekah, kemudian hendak menyalim tangan Zain


“Tangan saya sedang memegang garpu” Dia mengangkat tangan kananannya yang memegang garpu dengan daging di ujungnya.


Gema mundur, cukup tau dengan sikap yang seperti ini, orang yang baru dikenal yang tidak menunjukan sikap yang hangat. Lupakan saja, yang penting sekarang ialah kak Zareen, dimana kakak?”


“Bang, dimana kakak”?


“Dia sedang istirahat, di apartemen saya”


“Apartemen”?. Tanya Gema bingung


Zain tidak menanggapi, ia hanya melanjutkan makan.


Ningsih mengusap kepala Gema kemudian menjawab dan menjelaskan segala kebingungan Gema.


“Terus kapan kakak kesini Bu”?


“Nanti, kalau keadaan kakak benar-benar pulih baru kakak ke sini. Tapi kalau Gemanya mau melihat kakak sekarang, kita bisa kesana mengunjungi kakak”


“Boleh Bu”?


“Iya boleh”


“Alhamdulillah,,, Baik Bu, nanti kita susul kakak ya Bu”


“Iya,, nanti kita ke tempat kakak bareng abang Zain”


Gema mengangguk paham, sedangkan Zain membuang nafas jengah, ia tidak pernah menyangka kalau di dalam hidupnya akan dipertemukan dengan dua orang asing yang mengubah jalan hidup yang telah ia susun rapi selama ini.

__ADS_1


TO BE CONTINUE


🌹


__ADS_2