SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Air Mata


__ADS_3

...Part 14...


...🍁🍁🍁...


Zareen melantunkan ayat-ayat cinta dari tuhanny dengan tenang dan khusu’, setelah itu ia mentadabburi terjemahan dari ayat-ayat tersebut. Setelah sampai di terjemahan ayat terakhir, Zareen menutup dengan lafadz “Shadaqallahul-‘adzim’ (Maha benar Allah yang Maha Agung)”, ia mencium kitab suciNya, kemudian atesinya beralih pada sosok yang berdiri tegap di sampingnya.


“Mas, sejak kapan di situ”?


Zain yang mendengar sapaan Zareen baru tersadar dan seketika ekspresinya kembali seperti biasanya.


“Apa kamu gak ngerti apa yang aku bilang, jangan dulu ketemu Ibu, jangan kesana, tapi apa, kamu malah minta Ibu untuk datang ke sini”


“Mas..” Zareen mencoba menjawab


“Ibu harus jauh-jauh naik taxi ke sini, apa kamu gak mikirin gimana lelahnya Ibu”


“Mas, aku gak ada minta Ibu untuk datang ke sini, Ibu sendiri yang mau datang”


“Halah, pasti kamu merengek dan bilang kalau kamu sangat rindu Gema, iya kan”?


“Dasar wanita manja, maunya di perhatiin mulu, sampai gak mikirin kesehatan Ibu”


“Kenapa kamu sangat marah seperti ini Mas, Ibu juga baik-baik aja, malahan dia sangat senang akhirnya bisa bertemu dan mengobrol lagi dengan aku.


Sanggah Zareen, kesalahpahaman harus dijelaskan.


Apa kamu sebenarnya takut kalau Ibu tau bahwa kamu sering membawa Ilna ke sini”? Tutur Zareen pada akhirnya


“Jangan pernah mengusik privasi saya” Zain mengacungkan telunjuk ke wajah Zareen.


Saya akan menjadi sangat marah jika kamu berani ikut campur urusan saya”.


“Kamu itu suami ku Mas”


“Suami hanya di kertas, dan kertas juga yang akan mengakhiri status ini”

__ADS_1


Zain berbalik dan menutup pintu dengan bantingan. Zareen meremas ujung mukenah yang belum ia lepas, dengan air mata yang sudah tidak terbendung, membasahi pipinya.


“Bagaimanapun kehidupan kamu di masala lalu Mas, sekarang akulah masa depanmu. Akupun tidak mudah menerima kenyataan ini Mas, aku berada di kegelapan dalam waktu yang lama, tiba-tiba saat aku terbangun aku telah menjadi seorang istri, makmum dari seorang laki-laki yang tidak aku kenal sama sekali, akupun dalam kebingungan Mas, tidak hanya kamu” Zareen menangkup wajahnya dan menangis terisak.


Zain melangkah dengan pelan, benar-benar meninggalkan kamar mereka ,setelah isak tangis itu terdengar seamakin memilukan hati.


Setelah membersihkan diri, Zain merebahkan tubuh di single sofa yang ada di ruang kerjanya, satu tangan yang ia letakan di kening, tatapannya jauh ke langit-langit. Ia kembali memikirkan apa yang ia dengar barusan, keluh kesah gadis itu, dan isak tangisnya. Ia mulai sadar, bahwa tak seharusnya ia menyalahkan Zareen, apa yang ia lakukan selama ini salah, melampiaskan segala amarah di dada kepada Zareen, gadis yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama dengannya. Tanpa ia meminta, ketika ia bangun dari koma yang menyiksanya dengan rasa sakit yang teramat, ia telah menyandang status istri orang, tanpa ia memiliki kesempatan untuk mengatakan iya atau tidak. Gadis itupun merasakan hal yang sama. Namun kemarahan ini, ia tidak tau harus mengatakannya kepada siapa, takdir yang mempermainkannya, atau tuhan yang mampu berbuat sekehendak hatinya.


Malam itu, di ruang yang berbeda, dua insan tenggelam dalam pikiran masing-masing, mencoba mencari jawaban atas segala kegundahan dan kegelisahan.


...🍁🍁🍁...


Sudah tiga bulan terhitung sejak Zareen pulang ke Indonesia, itu artinya masa penyembuhan yang ia lalui sudah sangat cukup, sehingga sekarang keadaan Zareen benar-benar dapat dikatakan sangat baik, namun, bagaimanapun itu adalah kecelakaan yang sangat besar, yang membuat ia harus menjalani serangkaian operasi, tetap akan menyisakan rasa sakit, ia tidak akan pernah bisa pulih seperti sedia kala. Tidak banyak yang berubah dalam rumah tangga mereka, hari-hari ia lalui dengan menjalankan sebaik baktinya sebagai seorang istri, entah apa ia bisa disebut seorang istri, entahlah. Zareen sudah mulai bersahabat dengan keadaan, hatinya sudah dapat menerima kenyataan, menerima takdir, ketetapanNya atas dirinya. Suaminya? Sepertinya Zain masih belum semampu dirinya dalam menerima takdir, ia masih bersama Ilna, dan masih berjuang utuk terus meyakinkan gadis itu untuk bisa bersabar sebentar lagi menantinya. Entahlah, biarkan saja mereka memperjuangkan cinta mereka, cinta memang harus diperjuangkan bukan?. Dia? Tidak masalah, ia hanya akan menjalani saja kesempatan kedua yang telah Allah berikan untuknya, dengan sebaik-baiknya hidup.


Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah, Zareen mengambil satu kertas kecil yang bewarna kuning dan satu pulpen, setelah memastikan tulisannya jelas dan benar-benar bisa dibaca, kertas itu di tempelkan di kulkas. Dan ia bergegas keluar setelah ia menerima notif dari driver ojol yang ia pesan beberapa menit yang lalu bahwa diver telah sampai. Zareen hari ini akan pergi lagi, ke tempat yang sudah hampir dua bulan ini rutin ia kungjungi.


Sore hari


Zain membuka pintu, dan tempat yang pertama kali akan ia tuju ialah dapur, dan benar saja, catatan kecil kuning itu menempel di sana.


Zain mengambil kertas itu dan menyimpannya di laci, disana terdapat banyak kertas yang sama, dengan tulisan yang berbeda-beda setiap harinya. Ya, tidak banyak yang berubah dari rumah tangga mereka, ia masih saja tetap dingin kepada istrinya. Zareen yang pada mulanya mau berbicara dengannya, lambat laun, karena sering tidak mendapat tanggapan darinya, menarik diri, dan berkahir dengan kertas-kertas ini, yang menjadi perantara ia berkomunikasi dengan dirinya.


Zain POV


Ku lihat jam menujukan jam 14.00, ku buka tudung saji, kemudian mengambil piring dan memakan masakan yang ada. Rasanya tetap sama, entah dorongan dari mana, sejak hari itu, hari pertama Zareen menyiapkan sarapan untukku, nasi goreng, yang membawa ku terus pulang untuk sekedar makan siang. Ya, aku akui, kalau aku sangat menikamati masakan dari tangan wanita yang sering ku anggap tidak ada ini.


Hari sudah menujukan jam 20.50, Zain melirik jendela, namun apa yang ingin ia lihat tidak kunjung jua tampak. Halaman yang tampak hijau dan di penuhi mawar warna-warni itu terlihat hampa. Ya, sekarang ia bersama Zareen tinggal di sebuah rumah yang cukup sederhana, satu bulan yang lalu ia memutuskan untuk membeli sebuah rumah yang tidak jauh dari kantornya dan membawa pindah Zareen untuk tinggal disana. Ia tidak mau kejadian yang sama teruang lagi, pernah ia hampir tertangkap basah oleh Ibu saat ia sedang bersama Ilna di apatemennya. Ia tidak mau kejadian itu terulang lagi, ia sangat menyayangi sang Ibu, tidak mau Ibu terluka. Sehingga ia terus meyakinkan Ibu bahwa ia dan Zareen baik-baik saja, dan untuk hubungannya dengan Ilna, ia akan menunggu waktu yang benar-benar tepat, sehingga ia bisa mengatakan semuanya pada Ibu, dan mengakhiri segalanya.


Saat hendak menutup kembali tirai jendela, Ku melihat mobil sport hitam yang berhenti di depan, tidak lama setelah itu. Ku melihat Zareen yang keluar dengan seorang laki-laki yang kira-kira sebaya dengannya dari kursi kemudi.


Zareen menyatukan dua tangannya sambil mengucapkan ucapan terimakasih yang dapat ku lihat dari gerakan bibirnya.


Namun, apa ini? Kenapa lelaki itu tersenyum seperti itu?”


Aku menarik keras tirai hingga semuanya tertutup sempurna, bagus!

__ADS_1


“Assalamualaikum Mas”


Zareen masuk, ia tau aku sudah berada di rumah, karena mobilku telah terparkir di depan.


“Apa harus pulangnya selarut ini”? Sarkas ku yang membuat ia langsung menatapku, entah apa suaraku terlalu keras, rasanya aku telah menekan suara ini agar tidak menggelegar.


“Iya Mas, acaranya baru selesai ba’da isya”


Mas udah makan”?


Kamu itu seorang muslimah, seorang istri, apa pantas kamu bersikap seperti ini?” Ku lihat gerakan tanganya terhenti dari menggulung lengan bajunya yang hendak mencuci piring.


Ia berbalik


“Mas, aku sudah meninggalkan pesan bukan kalau aku hari ini akan pulang larut dari biasanya, dan kamu juga tau aku pergi kemana”


“Dan apakah aku mengizinkan kamu untuk pergi”?


Zareen tampak bingung mendengar pertanyaan ku


“Mas aku sudah meninggalkan pesan seperti biasanya”


“Kamu tidak pernah minta izin, kamu hanya meninggalkan catatan saja seperti itu”


“Biasanya juga seperti itu Mas, dan kamu juga tidak pernah mempermasalahkan cara ku itu selama ini, lagian bagaimana caranya aku meminta izin, jika kamu saja tidak pernah mau mengangkat atas sekedar membalas pesan dari ku”, Jawab Zareen dengan suaranya lembut


Ku berbalik dan meninggalkan Zareen, ku masuk ke ruang kerjaku dan menutup pintu dengan sedikit bantingan. Biar dia tau kalau aku sedang kesal.


Zain POV End


“Ada apa dengannya? Kenapa sekarang jadi mempermasalahkan rutinitasku pergi ke panti”?


Ya, sejak beberapa bulan yang lalu, sudah menjadi rutinitas Zareen mengunjungi panti Aisyah, ia akan berkunjung kesana tiga atau empat kali dalam seminggu. Ia sangat bersyukur karena Zain mengizinkan ia untuk melakukan bakti sosial ini, karena sejak menjadi istrinya Zareen benar-benar merasa kebebasannya telah hilang, Zain secara sengaja merenggut kebebasannya, ia seperti burung di dalam sangkar, tidak boleh keluar meski hanya untuk sekedar membeli bahan masakan, tidak boleh ke rumah Ibu, dan yang lebih mengejutkannya, tanpa sepengetahuan dari Zareen Zain membuat permohonan resign ke perusahaan tempat Zareen bekerja sejak beberapa bulan yang lalu. Dan yah, satu-satunya alasan yang membuat Zareen boleh keluar hanyalah untuk berkunjung ke panti Aisyah, itupun setelah melalui perdebatan antara suminya itu dengan mertua. Entah kenapa suaminya bersikap seperti ini, hanya satu kemungkinan yang ada di benak Zareen, mungkin suaminya tidak mau orang lain mengetahui tentang dirinya, atau status mereka.


TO BE CONTINUE

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2