SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Suami yang Manis


__ADS_3

...Part 37...


...🍁🍁🍁...


Ternyata inilah alasan suaminya meminta dirinya untuk memakai sepatu. Benar, agar kakinya lebih nyaman, karena seharian ini ternyata sang suami terus membawanya berkeliling-keliling, makan, jalan, makan lagi dan jalan lagi. Dan sekarang disinilah mereka berkahir, di Mall.


“Sayang, paprikanya yang merah ya”.


Zareen mengangguk dan mengambil paprika merah dan menaroknya di troli barang.


“Apa lagi Mas?”


“Bentar”. Zain mendorong kereta barang belanjaannya dan berhenti tepat di rak bagian jamur.


“Mau yang mana Mas?”


“Semuanya aja sayang”


“Semuanya?”


“Iya”. Ucap Zain mengangguk diiringi cengiran yang memperlihatkan gigi gingsulnya.


Jamur enoki, jamur tiram, jamur surai singa, dan banyak macam jamur lainnya yang ada di rak Zareen ambil satu-satu, tanpa melewatkan satu jenis saja. Seminggu kedepan ia hanya akan memasak ini, makanan kesukaan suaminya.


Setelah semuanya dipastikan masuk keranjang, Zain tersenyum.


“Sudah sayang?. Ada lagi yang belum?”


“Sudah Mas”


Zain menuju karsir dan membayar semua barang yang telah ia taroh di keranjang, yang cukup untuk masakan mereka selama seminggu kedepan.


Sesampainya di rumah Zareen bergegas menuju dapur. Membuka pintu kulkas hendak menyusun stok bahan masakan mereka tadi. Zain yang baru selesai menutup pintu menyusul dan menghentikannya.


“Za, sini biar Mas aja. Kamu mandi gih sana, udah gerah banget keliatannya”.


Zain yang langsung duduk dan mengambil alih kantong belanjaan. Zareen tersenyum dan mengiyakan.


“Baik Mas”.


Ia melangkah ke atas dengan senyum yang mengembang di wajahnya, dan sesaat Zareen menghentikan langkahnya untuk kembali melihat ke arah dapur, dimana disana terlihat suaminya yang tengah sibuk memilah-milah barang untuk di tempatkan di bagian-bagian yang sesuai dengannya. Zareen mengulas senyum, bantuan-bantuan kecil yang di berikan suaminya ini sangatlah berarti baginya. Ia sangat menyukai.


*


Selesai shalat, Zareen yang di bantu suaminya memasak untuk makan malam mereka hari ini. Karena tadi pulangnya sudah hampir magrib, jadi terpaksa makan malam mereka hari ini jadi sedikit terlambat.


“Mas aja yang iris bawangnya, kamu cuci jamurnya aja”.


“Emang Mas bisa?”. Tanya Zareen dengan raut muka seakan tidak percaya


“Eh Mas bilang ya, jangan remehkan cowok sayang, kami juga bisa masak lo”


“Serius nih?. Ini bawang lo Mas”.

__ADS_1


“Dah sini-sini, kasih ke Mas semuanya”. Zain mengambil alih pisau dari tangan istrinya, dan mulai mengiris bawang-bawang itu.


Satu siung selesai, dua siung, dan pada yang ketiga air matanya jatuh.


“Sayang tolong tisunya”. Zain menengadah dan memejamkan kedua matanya.


Zareen bergegas mengambilkan tisu dan berinjit menghapus air mata Zain.


“Ha ha sudah cukup pembuktiannya Mas, sini tak lanjutin”.


Dan pada akhirnya Zain menyerah, ia mengaku kalah dengan pedasnya aroma bawang yang menyengat ini, memang, sungguh seorang istri dan Ibu itu adalah pahlawan bagi keluarganya.


Sepasang suami istri itu memasak dua menu saja dengan bahan utama jamur yang tadi mereka beli, dengan suami yang dengan senang hati membantu sang istri, akhirnya tidak butuh waktu lama masakanpun jadi.


“Masyaallah, aromanya”. Gumam Zain sambil terus mengipas-ngipaskan uap sambal jamur saus padang kehidungnya.


“Mas, berhenti, nanti hidungnya bisa luka”.


"Astaghfirullah,,, Iya sayang, Mas lupa”. Zain berhenti dari aktifitas yang memang sering ia lakukan saat memasak dulu bersama Ibunya, dan yah, ia sering melupakan satu fakta ini. Padahal dulu Ibu juga sangat sering mengingatkannya, kebiasaan memang.


Zain mengangkat teflonnya dan menyajikan jamur saus padang buatannya dan istri ke piring. Kemudian menatanya pada meja makan bundar mereka.


Zareen menyendokan nasi untuk Zain, dan sekaligus lauknya.


“Lagi sayang”.


Zareen mengangkat alisnya, dan tersenyum simpul melihat sang suami yang menyengir dengan tangan yang sudah siap dengan sendok dan garpunya.


“Udahhh...?”. Tanya Zareen memastikan, ia tau kalau suaminya ini sangat maniak dengan jamur.


Dan benar saja, akhirnya yang tersisa hanyalah saus saja, segala jamurnya telah habis.


“Alahamdulillah...”. Zain menyeka mulutnya dengan tisu.


“Terimakasih ya istrinya Mas”.


“Iya Mas, sama-sama. Kan Mas juga ikutan memasak tadi, makasih juga Mas, udah mau bantu”.


“Iya sayang, sama-sama”


“Hmmm Za...”


“Iya Mas”. Jawab Zareen yang sudah berada di wasthafel.


“Ada gak tempat yang ingin banget kamu kunjungin sayang?”


...atau apa yang ingin coba kamu lakukkan, tapi belum kesampaian?”


Zareen berbalik dan bersandar pada meja wasthafel, “Iza kepengen berjalan dibawah jejatuhan kelopak bunga sakura Mas”.


Zain menatap wajah sang istri yang terdapat senyum tipis di bibirnya tengah membayangkan.


“Bunga sakura ya. Habis itu sayang?”

__ADS_1


“Za malu Mas”. Jawabnya dengan kekehan


“Malu kenapa?. Apa Za, bilang aja, kan Mas suamimu, buat apa malu”


“He he, dari kecil, sejak Za nonton Film Putri Salju, sejak itu Za ingin merasakan dinginnya salju Mas, penasaran bagaimana rasanya mengenggam butiran putihnya”.


“He he begitu ya”.


“Iya Mas. Kalau Mas mau berkunjung kemana?”


“Kayaknya juga ke sana deh”.


“Kemana?”


“Ke tempat yang ada sakura sama saljunya”.


“Ha ha kok bisa gitu, itu kan mimpi aku. Ya masak bisa samaan gitu sama mimpi Mas”.


“Ha ha ya bisalah sayang”.


“Masnya gak kreatif”


“Kreatif sayang, buktinya Mas jatuh pada pilihan yang terbaik, itu tanda Mas kreatif ha ha”


Zareen mendengus dan tersenyum simpul, “Terserah Mas aja deh, Mas selalu bisa memenangkan perdebatan, aku mah ngalah aja”.


“Jangan ngalah dong sayang, kan jadinya gak seru ha ha”


Zareen kembali berbalik dan meneruskan mencuci piring. Ia memang harus mengiyakan saja, jika diteruskan ia sendiri yang akan kehabiskan kata-kata, suaminya itu sangat handal dalam perdebatan.


“Kamu tidur duluan ya, Mas mau cek email dulu”.


Zareen mengangguk, kemudian Zain beranjak keluar menuju ruang kerjanya. Zareen menutup jendela kamar mereka, karena lelah berkeliling-keliling hari begitu tubuhnya terhempas pada kasur yang empuk, ia langsung tertidur.


Zain mengecek segala surel yang belum sempat ia buka seharian ini, ia membukanya satu-per satu, membaca dan memahaminya dengan teliti. Hingga semua selesai ia baca, Zain melirik jam yang menunjukan jam 11.00, ternyata sudah sangat larut.


“Hoam..”.


Zain menutup laptopnya dan beranjak dari duduknya.


Ia membuka pintu kamar dan mendapati kekasih hatinya yang terlihat sangat lelap dalam tidurnya dengan lampu yang masih menyala. Zain mendekat dan mematikan lampu meninggalkan satu lampu tidur di atas nakas, kemudian ikut berbaring disebelah sang istri.


Zain mengambil selimut yang belum di bentangkan di bawah kaki Zareen, kemudian menyelimuti dirinya dan Zareen.


“Lelah banget kayaknya”.


Zareen yang merasakan pergerakan itu menggeliat dan memutar arah tidurnya yang kini menghadap sang suami. Zain tersenyum dan mengusap punggung Zareen agar kembali tenang dalam tidurnya.


“Mimpi yang indah sayang, satu persatu akan kita wujudkan mimpi indahmu itu, Insyaallah”.


Zain mengecup kening Zareen, dan kemudian ikut tenggelam dalam lautan mimpi menyusul kekasihnya itu.


TO BE CONTINUE

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2