SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Menggenggam Erat


__ADS_3

...Part 48...


...🍁🍁🍁...


“Sayang sekalian aja kita USG yah, ya sayang yah.” Ujar Zain terus membujuk Zareen agar kali ini mau diajak untuk melihat jenis kelamin sang anak. Sungguh ia penasaran.


“Enggak mau Mas...”


Zain menghela nafas mengangguk, ia kembali gagal mematahkan prinsip sang istri yang kekeh tidak mau melihat jenis kelamin anak mereka. Katanya nanti gak suprise lagi pas dedek lahir. Namun ia sungguh mati karena rasa penasaran ini, ia sudah tidak sabar untuk mengetahui bakal anak apakah laki-laki atau perempuan. Huh terpaksa ia mengalah, bagaimanapun tu baby ada di perut bundanya, bukan dia.


Mereka melanjutkan perjalanan, Zain menyetir dengan pelan. Hingga beberapa menit kemudian mereka sampai, “Hati-hati sayang.” Zain membimbing Zareen untuk turun. Zareen sangat berhati-hati karena perutnya yang sudah sangat besar, pemeriksaan terakhirnya mengatakan kalau si dedek tumbuh dengan sangat sehat.


“Okey, mari baby kita ketemu Bu Dokter lagi.”


“Zain.”


Langkah sepasang kekasih itu terhenti, menoleh ke belakang bersama. Zareen mengeratkan genggaman pada tangan sang suami yang mematung melihat perempuan yang berbadan dua sama seperti dirinya itu berjalan mendekat.


“Hai...”


“Yah...” Zain menanggapi dengan senyum.


“Apa kabar?.”


“Alhamdulillah baik, sangat baik.”


“Syukurlah, oh iya kalian mau ngapain?.”


“Zareen mau periksa.”


“Owh mau periksa juga ya. Sama saya juga, kalau gitu kita sama-ama aja ya. Kebetulan aku sendiri aja, jadi ada teman. Boleh ya?.” Tanya perempuan yang mengenakan midi dress baby pink selutut itu.


Zain mengangguk kemudian berbalik memegang pinggang sang istri menuntunya berjalan ke ruang yang biasa mereka kunjungi. Mendahului perempuan yang teramat ia kenal itu, yang menyusul langkah mereka.


Sesampainya di ruangan Dokter Mira, Zain langsung membawa Zareen masuk, membuat wanita yang menyusul langkah mereka dibelakang harus menghentikan langkahnya karena Zain menutup pintu. Zain menyerngitkan alis, “entah apa yang dipikirkan wanita itu”. Ilna duduk menunggu gilirannya di bangku yang ada di depan ruangan. Tidak lama setelah itu pintu kembali terbuka. Kembali perilaku yang manis itu tampak, Zain memegang tangan Zareen menuntunya untuk duduk.

__ADS_1


“Giliran kamu.”


“Zain bisa tolong temenin aku masuk ke dalam gak?. Aku suka mual mencium aroma obat-obatan di dalam. Seandainya nanti aku pusing lagi jadi gak ngerepotin Bu Dokternya lagi, tolong yah. Please...”


Hening, “Zareen boleh yah?”. Ilna beralih pada Zareen dan mengenggam tangannya. Zareen yang terpaku mengangguk. Ia menatap Zain yang mengerutkan keningnya.


“Okey makasih ya Zareen. Zain yuk.”


“Sayang ...”


“Aku nunggu sebentar gak apa-apa Mas. Sana temenin Mas, nanti kalau Mbak Ilna beneran pinsan gimana, kasihan suaminya gak nemenin.” Zareen menghalau suaminya menyususl Ilna yang menunggunya di pintu.


“Eh Mbak Ilna kok bisa sama Mas Zain?”. Tanya Dokter Mira bingung.


“Ini Masnya aku Buk.” Jawab Ilna tersenyum manis sambil melirik ke pria yang berdiri jauh darinya.


Zain membulatkan mata terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ilna. Sedangkan Dokter Mira yang bertanya menyudahi keingin tahuannya. Ia menimpali dengan senyuman kemudian memulai pemeriksaan. Setelah pengecekan keseluruhan untuk bayi dan ibunya, sekarang Dokter Mira mengoleskan gel ke perut Ilna, kemudian mengarahkan alat yang tersambung ke layar monitor itu, beberapa detik setelahnya sosok kecil yang bergerak-gerak aktif tanpak di layar tiga dimensi itu. “Perempuan.” Zain memutar mengarahkan pandang pada Ilna yang terlihat bahagia mengetahui jenis kelaminan anaknya yang tanpak jelas di layar monitor. “Pasti bakal cantik banget kayak Ibunya.” lanjut Doketr Mira. Zain menarik nafas memutar badan saat Ilna tersenyum kepadanya.


“Udah Mas?”. Zain bergegas menghampiri sang istri yang berdiri hendak menysulnya. Ia mengangguk tersenyum, kemudian menganggam tangan Zareen menuntunnya berjalan menuju bacement. Namun langkah mereka kembali terhenti saat Ilna cepat memanggil dan menahan mereka. “Bisa beri aku tumpangan?.”


“Enggak, jadi tolong beri aku tumpangan ya. Aku takut nanti aku susah lagi dapat taxi.”


Zareen tersenyum, “Ya udah ayok Mbak.”


Zareen merangkulkan tangannya pada tangan sang suami, “Ayok Mas.”


Mobil hitam itu melaju pelan di tengah kota yang sibuk dan bising. Fokusnya pecah, ia terus melirik pada Zareen yang duduk tenang di sebelahnya.


“Zareen apa kalian sudah menyiapkan nama untuk anak kalian nanti?.” Tanya Ilna yang menyadarkan keduanya dari pikiran mereka masing-masing.


“Udah Mbak.”


“Oh udah ya. Duh aku belum nih, kira-kira apa ya yang bagus. Mas menurut kamu nama apa yang cocok, kan kamu udah liat tadi tu wajahnya.”


Ciiittt...

__ADS_1


Zain menekan tuas rem hingga mobil berlogo kuda itu mengeluarkan bunyi yang nyaring saat bannya dipaksa berhenti mendadak. “Ilna please berhenti, diam!. Tolong hargai istri saya. Dia duduk di depanmu, apa kamu tidak melihatnya?.”


Ilna membulatkan mata, dadanya naik turun, nafasnya sesak.


“Kalau kamu mau saya antarkan sampai rumah, tolong diam. Kalau tidak silahkan turun disini.”


“Mas...”. Zareen memegang tangan suaminya. Zain memejamkan mata menstabilkan nafasnya.


“Tolong duduk diam disana.”


Ia menekan pedal gas dan lajut menjalankan mobil. Dengan satu tangan yang terus mengenggam tangan sang istri. Sementara Ilna yang duduk di belakang masih tak mampu menstabilkan nafasnya yang sesak, nafasnya terdengar kasar. Ia memilin tali tas yang ada di pangkuannya.


Setelah Ilna turun mobil hitam itu langsung pergi. Tanpa berniat melihat pagar rumah nan megah itu.


Zareen menatap wajah yang masih mengeras. Ia terus mengusap punggung tangan yang mengenggamnya. Mereka sampai, Zareen membuka pintu. Ia terkejut begitu tubuhnya di rengkuh erat dari belakang. Hening, lama, ia mengusap lengan yang bertengger di perutnya.


“Maafkan Mas sayang, tidak seharusnya Mas mengiyakan semua permintaanya. Tidak seharusnya Mas mengiyakan perkataanya. Maafkan Mas dek, maaf.”


“Ngapain Mas minta maaf, Mas gak salah. Kan Iza yang awalnya ngizinin dia buat ikut sama kita. Mas gak salah apa-apa hm.”


“Mas sayang kamu dek, sayang kamu. Gak ada yang lain, perasaan Mas sama dia udah lama hilang, udah habis semuanya, tergantikan sama kamu. Sekarang semuanya hanya kamu dek, alasan Mas berjuang. Kamu percaya ya sama Mas, Mas mohon jangan mikir macam-macam dek sama Mas. Jangan pernah kepikiran ninggalin Mas.”


“Ish Mas ngomong apa sih kok ngelantur gitu.” Zareen berbalik dan mengusap pipi Zain, “Iza percya sama Mas, kami percaya sama Mas.”


“Kalian adalah hidup Mas, tolong maafkan kesalahan Mas di masa lalu sayang, kezaliman-kezaliman yang Mas lakukan. Adek maafkan Ayah, yang sering bikin Bunda nangis dulunya, Adek jangan marah yah sama Ayah. Tapi nanti kalau Adek mau menghukum Ayah juga gak apa-apa, Ayah ridho. Karena Ayah pantas mendapatkannya.”


“Adek gak akan menghukum Ayah, Adek gak akan marah sama Ayah, karena Adek mau jadi anak soleh. Yang gak akan ngebentak Ayah dan Bunda, yang gak akan bikin Ayah dan Bunda nangis.”


Zain membawa Zareen kepelukan, ia sungguh menyayangi. Sungguh ia akan menjaga surganya ini, ia pastikan kebahagian ini tidak akan lekang. Air matanya luruh hingga membasahi jilbab sang istri. Zareen mengulur tangan menyeka air mata yang membasahi pipi suaminya, “Dah dah jangan sedih-sedih lagi Mas, nanti Adeknya jadi anak yang suka beriba hati juga loh, suka sedih juga. Sekarang Mas senyum supaya Adeknya didalam juga jadi happy hm.”


Zain mengangguk dan membalas ucapan sang istri dengan senyuman. Yah alasan dia tersenyum, yang akan selalu ia jaga.


TO BE CONTINUE


🌹

__ADS_1


Hadirnya Ilna, dikehidupan Zain dan sang istri yang mulai bahagia😯


__ADS_2