SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Cita Cinta Hamba


__ADS_3

...Part 25...


...🍁🍁🍁...


“Za, jangan berhenti, jangan menyembunyikan diri, berbaliklah, Mas mohon”.


Teruslah mengenggam tangan ini, terus temani Mas dalam pencarian ini, jangan pergi, Mas membutuhkan mu, Mas sadar bahwa Mas sangat membutuhkanmu, jangan pergi sayang”.


“Bukankah seharusnya Mas senang, sekarang Mas ada kesempatan untuk benar-benar mengakhiri pernikahan kita ini. Bukankah ini yang Mas rencanakan dari awal?


Perceraian ini yang selalu Mas janjikan untuk Ilna, benarkan Mas?”. Tanya Zareen tenang dengan air mata yang terus mengalir


Dan sekarang Allah sudah memberikan Mas kesempatan ini, Allah meridhoi perasaan Mas kepada Ilna”


“Dulu Za, itu dulu saat hati Mas masih membeku, saat amarah menguasai jiwa Mas. Kegelapan yang menyelimuti, dan Allah biarkan Mas tenggelam dalam kezoliman hati yang Mas buat sendiri. Hingga malam itu, dalam ketidaksadaran Allah tarik kembali jiwa Mas yang telah jauh tenggelam, dan Allah tuntun kembali ke jalan-Nya, Mas melihat cahaya-Nya. Mas tersadar, hati Mas bergetar, dan saat itu Mas kembali kepada-Nya”.


Bayanganmu, bayanganmu Za yang Mas lihat dalam tidur Mas. Mas mengingatmu di alam bawah sadar Mas, dengan lantunan-lantunan ayat suci-Nya yang sering kau gemakan, cahaya itu yang datang dan menuntun Mas keluar dari kegelisahan ini”.


Hati Mas telah terpaut padamu, tanpa Mas sadari, dan Mas tidak tau itu dimulai sejak kapan.” Suaranya semakin lirih, menatap sendu Zareen yang sama frustasinya dengan dirinya. Dengan kedua mata yang telah sembab dan air mata yang terus jatuh hingga membasahi khimarnya.


“Za, beri Mas kesempatan ya, untuk menebus semua dosa yang telah Mas lakukan padamu”. Lirih Zain mencoba mengenggam kedua tangan Zareen.


Zareen menepis, “Tanya hatimu Mas, hati yang paling dalam, apa betul yang ia inginkan, benar merajut asa yang telah putus, atau hanya skedar untuk pelipur lara hatimu yang tengah kusut”.


Kita sama-sama memohon kepada Allah ya Mas, apa yang terbaik untuk kita”.


Zareen menghapus air matanya, kemudian berdiri. Berjalan meninggalkan Zain yang terpaku menatap kepergiannya.


“Akan ku minta hatimu kembali kepada tuhanku istriku. Hati yang dari dulu sudah ku miliki, ku yakin itu”.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


“Aku mencintai suamiku ya rob, sejak mata ini terbuka untuk pertama kali setelah ketidaksadaran ku itu, sejak mata ini menatap maniknya untuk pertama kali saat itu, aku telah mencintai suamiku ya rob, aku mencintainya, hiks...”. Zareen terisak menagkup wajah dengan kedua tangannya yang tertutup mukenah, mukenah putih yang Zareen kenakan telah basah oleh air mata yang terus jatuh.


Zareen bangkit, hatinya menghendaki untuk menatap wajah sang suami saat ini juga. Setelah lama bermunajat dengan Allah, mencurahkan segela kegundahan yang bersemayam dalam hatinya, segala keraguan yang mencekam hati akhrinya menemukan keyakinan, ia menginginkan pernikahan ini bertahan, ia menginginkan cinta suaminya, karena ia telah mencintai suaminya, sedari dulu.


Zareen melirik jam yang menunjukan jam tiga dini hari, tidak peduli apa kehadirannya nanti akan membangunkan suaminya atau bagaimana, yang jelas saat ini ia ingin melihat wajah suaminya, menatap lama wajah yang sangat ia rindukan.


Zareen menutup pintu kamarnya pelan, kemudian berjalan menuju kamar Gema, dimana suaminya tidur. Zareen memutar knop pintu pelan,


“...Ya Allah, aku yang bodoh yang tidak mampu memahami ilmu-Mu, hingga ku abaikan kebaikan yang kau hadirkan dalam hidupku, ku lukai hatinya, ku tikam jantungnya bertubi-tubi dengan kedzolimanku, ku palingkan muka darinya, menatap pada apa yang kau haramkan untuk ku. Ku sungguh menyesal ya Allah, sungguh ku menyesal”.


Berilah aku kesempatan yang kedua ya Allah, ku tidak ingin mengakhiri pernikahan kami ini, ku ingin memperbaiki semuanya, ku ingin menjalani sisa hidupku dengannya, dengan istriku yang kan mampu mengenggam tanganku, ku membutuhkannya ya Allah untuk membersemai langkahku tuk kembali ke jalanMu, aku bersyukur akan hadir dirinya. Apakah semuanya benar-benar telah terlambat ya Allah?”


Aku yang bodoh ya rob, hiks..”


“Mas...”


“Zareen...”


“Mas, Allah telah menuntun hatiku, aku menginginkanmu Mas, menginginkan pernikahan ini”. Ucap Zareen lirih sambil mencium tangan Zain.


Zain tersentak saat kata Zareen selesai ia ucapkan, kemudian ia mengangkat bahu Zareen untuk duduk dan menangkup kedua pipi sang istri.


“Apa yang kamu katakan sayang, apa Mas tidak salah dengar?”


“Aku mencintaimu Mas, suamiku”


“Allah”, Zain memeluk Zareen.


“Terimakasih Sayang”. Gumam Zain di bahu istrinya. Zain memeluk Zareen erat, sangat erat. Hati yang perih dalam kerinduan ini menemukan belahan jiwanya, menjadikannya penawar.


Lama, akhirnya barulah Zain melepaskan pelukannya dan kembali melihat wajah Zareen, memantikan kedua manik mereka. Mengusap air mata yang terus mengalir dari mata indah yang ia suka itu.

__ADS_1


“Allah yang tau bagaimana hati ini hampa saat mata ini tidak melihatmu, jiwa yang meronta untuk dapat bertemu denganmu, seperti bunga layuh yang memuja air, Mas merindukanmu’. Tutur Zain lirih


Hari itu, saat Mas kehilangan tender yang Mas impikan, dan Ilna pergi meninggalkan Mas, hati Mas benar-benar hancur, Mas kesal, benci dan sangat kecewa.


Mas kehilangan segalanya, namun, hati ini teramat gelisah, saat Mas tidak lagi dapat melihatmu di rumah.


Mas bingung, benarkah apa yang Mas rasakan ini, tidakkah ini karena kehilangan tender itu, atau perih karena ditinggalkan Ilna?. Hingga malam itu, saat Allah bukakan tabirnya, dan disanalah Mas menyadari, bahwa hati yang kosong ini, karena kamu yang telah membawanya pergi bersamamu”.


“Hati Mas telah terpaut padamu Za, dan sejak kapankah itu?, Maspun tidak tau.


Apa sejak kamu pergi meninggalkan Mas, atau apa sejak kamu memasakan nasi goreng untuk Mas, apa sejak kamu diantar pulang oleh temanmu malam itu, atau bahkan lebih awal dari itu, sejak Mas melihatmu terbaring lemah dengan darah yang membasahi khimarmu malam itu. Mas tidak tau”


Yang pati, saat ini Mas telah jatuh cinta padamu istriku”


Zain menarik Zareen dan menyatukan kening mereka,


“Terimakasih sayang, sudah mau membuka hati untuk Mas, untuk lelaki bodoh yang dipenuhi keangkuhan ini, sungguh Mas membutuhkanmu dan Mas tidak mau kehilanganmu lagi”


Zareen memegang tangan Zain yang menangkup pipinya,


“Kamu adalah suamiku, sudah sepatutnya aku membuka hati dan memberikan rasa cinta ini padamu Mas”


Zareen memberi jarak diantara mereka, dan tangannya lah sekrang yang terangkat, mengusap air mata yang juga membasahi wajah suami.


“Mari kita titi jembatan pernikahan ini dengan iman Mas, iringi cinta ini dengan cinta-Nya, membersemai perjuangan ini dengan semata mengharapkan ridho-Nya, agar kelak rumah tangga kita ini mendapatkan hak untuk bersemayam di jannah-Nya.


Karena aku tidak hanya ingin bersamamu di dunia ini saja sayang, aku juga ingin bersamamu di surga-Nya kelak, suamiku”.


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2