SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Ilna


__ADS_3

...Part 7...


...🍁🍁🍁...


Ilna keluar dari boarding, menarik koper travel yang cantik dengan lukisan menara eifel, tidak lama netranya menangkap sosok tinggi nan tegap berdiri tak jauh darinya.


Zain lansung berlari dan tanpa berfikir panjang lansung membawa Ilna kedalam pelukan. “I miss you so much”.


Ilna membalas sejenak pelukan Zain dan membalas ungkapan hati sang pria.


“Miss you too”. Ia tersenyum yang sangat manis menatap wajah Zain.


Zain mengambil alih koper Ilna, dan tangan sebelahnya lagi mengenggam erat tangan sang kekasih. Nyata terlihat Zain sangat bahagia, bisa berjumpa lagi dengan orang yang amat ia sayangi.


Selama di perjalanan bahkan Zain tidak berniat melepaskan genggaman tangannya, dengan tangan yang satu terus mengendarai Buggati Veyron Hitam dengan kecepatan sedang menuju apartemen. Yah apartemen, Zain hanya ingin ke apartemen dengan Ilna saat ini, tanpa memikirkan seseorang yang justru amat sangat membutuhkannya saat ini.


Makan bersama, dan menghabiskan waktu dengan bertukar cerita dengan raut bahagia di wajah, melepaskan rasa rindu yang terhimpun selama ini, hingga langit mulai gelap.


“Kamu tidurlah, saya akan keluar sebentar”


“Kemana”? Apakah disinipun kau harus dipusingkan dengan urusan-urusan kantor itu”? Sindir Ilna


Zain kembali duduk, dan menangkup pipi Ilna. “Tidak sayang, saya harus ke rumah sakit sebentar, untuk melihat perkembangan Zareen”.


“Pergilah, bagaimana ku bisa menghentikan, dia kan istrimu, dan tanpaknya kau sangat mengkwatirkannya”. Ilna bersedekap dada dan membuang wajah.


“Saya hanya memastikan, apakah kondisiny sudah lebih baik, hanya itu. Saya hanya harus bertanggung jawab dengannya”.


Zain pergi setelah Ilna kembali memberikan senyum manisnya, petanda bahwa ia mengerti dengan keadaan ini. Zain merasa lega karena Ilna terlihat sudah mulai bisa memaklumni keadaan sekarang dan tidak marah lagi seperti sebelumnya, Zain merasa mendapat suport, dan tentunya ia sangat senang. Karena ia sudah tidak sendiri, ada Ilna yang akan menemaninya melalui semua kesusahan ini, dan inilah yang ia butuhkan. Memang hatinya sudah terpaut dengan gadis itu.


“Bagaiman Ell, apakah ada perkembangan”?


“Benar sir, bahkan tadi Zareen mulai menggerakan bibirnya, seperti dia mengeja kata Ibu dan Ayah”.


“Benarkah? Tanya Zain antusias


Baiklah, thanks Ell ”.


“You are welcome”


Ell membalas dengan senyum, kemudian beranjak meninggalkan ruangan inap Zareen.

__ADS_1


Zain bergegas mendekat ke bangkar Zreen.


“Benarkah kau memanggil Ibu dan Ayahmu? Apa kau merindukan mereka?”


“Kau sudah mau bangun”?


“Kau sudah lelah tidur”?


“Baguslah, kau harus terus berjuang sekuat tenagamu agar kau lekas siuman, segeralah. Karena saya benar-benar sudah bosan terus meninjaumu kesini”


Tanpa ia sadari, tangan kekarnya terangkat, hendak menyeka air mata yang hampir mengering di pelupuk mata Zareen.


“Tidak perlu menangis, hanya perlu sadar, maka kau tidak akan tersiksa lagi”


Setelahnya ia meninggalkan Zareen dan kembali ke apartemen. Memacu mobil dengan kecepatan sedang, seulas senyum muncul di dua garis bibirnya.


“Tuhan, segera bebeaskan saya, sadarkan dia”.


Hari kedua Ilna di Jerman, Zain dan Ilna kembali menghabiskan waktu berdua, saling bergandengan tangan, melepas canda dan tawa, seakan mencoba menebus waktu yang telah terbuang karena perselisihan mereka tempo hari. Berkeliling, mengunjungi banyak tempat yang dikenal dunia, setelahnya dilanjutkan dengan menikmati hidangan yang terbaik di restoran berbintang di negara tersebut. Zain benar-benar ingin melepas rindu bersama sang kekasih, dan ia sangat menikmati waktu ini.


Tidak terasa langit telah menampakan rona kemerahan, sang jingga senja telah menyelimuti bagian bumi disana.


Ilna juga sudah mengeluh lelah, Buggati Veyron hitam Zain melaju menuju apartemen dengan bagian kursi bagian belakang telah dipenuhi banyak jinjingan merek ternama. Tas LV keluaran terbaru, sweeter Guci dengan edisi terbatas, higt heels CC yang pernah di pakai Gigi Hadid dalam fashion weeks minggu ini. Apa saja yang diinginkan Ilna, apa saja yang dilirik Ilna saat singgah di salah satu rumah fashion terbaik di negara itu, tanpa meminta sudah di kemas Zain. Sungguh sangat pengertian.


“Mandilah dulu, kemudian lansung istirahat” . Zain hanya tersenyum melihat Ilna yang sudah tepar. Dia merasa bersalah karena terus mengajak Ilna berkeliling.


“Baiklah”.


Dengan piyama tidurnya Ilna menghampiri Zain yang sibuk menatap layar ponselnya, Ilna tau bahwa laki-lakinya sekarang sedang mengurusi bisnis yang membuat pria ini kaya.


“Sedang apa”?


“Membalas email dai Reza”. Zain tersenyum kemudian mengusap kepala Ilna yang disandarkan ke bahu lebarnya.


“Masih urusan bisnis, tidakkah kau lelah”?


Zain meletakan ponsel kemudian mengusap lembut pipi putih Ilna.


“Sayang, terimakasih sudah mau kembali”


Zain menatap dalam wajah Ilna, dengan senyum yang terukir di wajah tampannya.

__ADS_1


“Kamu tau, kalau aku sangat mencintaimu, hm?” Ilna mengenggam tangan Zain


dan, kamu juga begitukan?”


“Kamu tau jawabannya”. Zain mengusap kepala Ilna dan setelahnya membawa kekasih dalam dekapan.


...🍁🍁🍁...


“Buk, bolehkan sekarang kita menelfon kakak”? Tanya Gema seraya bergelayut manja di lengan Ningsih. Sepertinya Gema sudah merasa dekat dengan wanita yang masih ia panggil Ibuk itu.


“Gema rindu kakak”? Tanya balik Ninggih menanggapi


“Iya buk, Gema ingin tau gimana keadaan kakak sekarang, apa mungkin kakak udah bangun ya buk”?


“Kita telfon abang ya, mari kita tanyakan”. Ningsih tersenyum dan bergegas mencari kontak Zain, dan tidak menunggu lama panggilan tersambung.


“Iya buk”


“Zain, kamu lagi dimana?, Di rumah sakit kan?”


“Belum buk, Zain masih di apartemen, bentar lagi Zain kesana”


“Begitu, baiklah, Ibu hanya menanyakan keadaan Zareen, bagaimana keadaanya sekarang nak, apa sudah lebih baik”?


“Dia sudah lebih baik Bu, kemaren dia bahkan sudah mulai memberikan respon pada kita, sepertinya sebentar lagi akan sadar, dan semoga saja begitu”. Ungkap Zain lebih seperti penegasan.


“Masyaallah,,, Iya iya nak, Aamiin allahumma aamiin, semoga saja nak’. Jawab Ibu antusias


“Gema sayang, kamu dengar kan, abang bilang keadaan kakak semakin membaik, dan mungkin sebentar lagi kakak akan bangun”. Ningsih mencubit pipi bocah tampan yang tersenyum bahagia mendengar penuturannya.


“Baiklah nak, Ibu do’akan semoga apa yang kita harapkan segera terjadi. Dan kamu, jaga kesehatan ya nak disana”


“Iya buk, Zain akan makan teratur, dah bye buk, Assalamu’alaikum”


“Waalaikumsalam”. Ningsih tersenyum, rindu sepertinya sudah menggerogoti relung jiwa.


.... Sudah, sekarang Gema harus bobok lagi”


“Baik buk, makasih ya buk”. Gema dengan senyum manis meninggalkan Ningsih dan berlari menuju kamar tidurnya. Sekarang ia sudah bisa tidur dengan tenang, karena rasa penasaran yang menuntut jawaban sedari pagi telah terjawab, kakak baik-baik saja, dan yang lebih membahagiakan kemungkinannya, bahwa kakak akan lekas sadar, itu artinya tidak lama lagi aia bisa bertemu dan memeluk kakak lagi.


TO BE CONTINUE

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2