SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Sholat Bersama


__ADS_3

...Part 22...


...🍁🍁🍁...


“Iya, sudah saya kirim melalui email, pelajarilah dulu, jika ada pertanyaan hubungi saya segera, pastikan semuanya clear sebelum kau lanjutkan untuk presentasi”.


Setelah mendapat jawaban dari Reza, kemudian Zain memutus sambungan telefonnya. Suara gemeresik penggorengan di dapur terdengar nyaring, Zain berdiri kemudian berjalan ke arah dapur. Disana ia melihat Zareen yang sibuk dengan alat-alat masaknya. Zareen bolak balik antara kuali dengan piring kotor yang penuh di wastafel, yeah dia menyambil membersihkan piring saat memasak. Saat gorengan sudah waktunya di balik, Zareen berjalan ke kompor, meninggalkan sejenak piring yang sudah mau dibilas, saat hendak berbalik lagi ia terkejut karena Zain berada di belakangnya dengan tangan yang sudah basah karena sibuk membilas piring.


“Astaghfirullah...”, Seru Zareen sembari memegang dadanya.


“Kamu fokus menggoreng saja”. Tutur Zain sekilas melihat wajah Zareen kemudian kembali fokus ke piring-piringnya.


“Mas ngapain?”. Lah pertanyaan ini


“Mas lagi bilas piring, emang kamu gak liat”. Kekehan Zain dengan alis yang terangkat


“Untuk apa?”. Sanggah Zareen dengan alis yang bertaut


“Mas mau bantu kamu, gak ada salahnya Mas bantu kamu kan”.


“Tapi Mas...”


“Udah jangan banyak tanya lagi, nanti ikannya gosong istrikuuu”.


Zareen membulatkan mata terperangah, dan segara berbalik. Dapat Zain lihat wajah sang istri yang bersemu merah, sungguh pemalu sekali.


Dan akhirnya segala kesibukan di dapurpun selesai, dengan Zain yang terus menawarkan bantuan sana sini. Zareen menata masakan di meja makan, kemudian menutupnya dengan tudung saji.


Senja mulai menghampiri, langit jingga di kampung menawarkan keindahan yang memanjakan mata. Suasana jalan yang tenang yang ada hanya anak-anak yang pergi mengaji ke surau (Musala), selain tidak ada lagi kegiatan masyarakat saat magrib tiba.


Saat adzan magrib berkemundang, semua orang sudah siap di sajadah masing-masing.


“Yuk mulai yah”. Seru Fatma


“Kita tunggu Zain dulu”. Gumam Ayah saat melihat ke belakang, ia belum mendapati menantunya di sana.


Zareen gelagapan, ia bingung apa yang harus ia jawab, bagaimana cara ia memberikan penjelasan kepada Ayah dan Ibuknya, bahwa suaminya itu tidak sholat, selama ini ia tidak pernah melihat suaminya sekalipun mengerjakan kewajiban ini.


Namun sholat ini harus di mulai, Zareen harus mengatakannya, “Ayah, sebaiknya kita...”


“Maaf saya terlambat Yah”


Zain dengan kopiah dan sarung coklat tua yang melengkapi baju koko coksunya, berjalan bergegas kemudian langsung mengambil tempat di belakang Ayah. Zareen yang berdiri di belakang terkesima, tidak percaya dengan apa yang ia lihat, benarkan apa yang matanya lihat saat ini, suaminya berdiri di belakang Ayah sebagai makmum, sama seperti dirinya.


“Allahuakbar”


Takbiratul ihram yang Ayah lafadzkan menyadarkan Zareen dari keterkejutannya, kemudian ia memasang niat dan mengikuti sang imam.


Dengan bacaan Ayah yang sangat fasih dan juga suara Ayah yang masih bersih saat melantunkan ayat-ayat cinta dari sang khalik itu, membuat mereka melakukan sholat dengan tenang dan khusu’.


“Assalamualaikum warahmatullah”


“Assalamualaikum warahmatullah”

__ADS_1


Setelah itu Ayah memiringkan duduknya menghadap Zain dan meminta Zain untuk memimpin do’a. Zareen kembali terkejut mendengar perintah Ayah, matanya bergulir menatap Zain, lama tidak ada jawaban, “Ya Allah, bagaimana caranya memberi penjelasan kepada Ayah”, gumam lirih Zareen dalam hatinya.


Fatma yang melihat raut kecemasan Zareen mengerti, kemudian ia meminta untuk saat ini Ayah sajalah dulu yang memimpin doa.


Mendengar perkataan Ibuk, Zain menghirup nafas dalam, “Ya Allah, bantulah aku, hilangkanlah kekeluan dari lidah ku”. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya dan memulai dengan kalimat-kalimat dzikrullah, dan merapalkan bait-bait doa kemudian menutupnya dengan Al-Fatihah.


“Aamiin aamiin ya robbal alaamiin”. Zain menangkupkan kedua tangan kewajahnya, ia mengucap syukur karena ia masih bisa merapalkan do’a-do’a itu.


Ayah berbalik dan Zain langsung mengulurkan tangannya untuk menyalim tangan Ayah, kemudian ia mundur dan merunduk menyalim tangan Ibu. Dan saat tangannya terulur tepat di hadapan Zareen, ia menghentikannya dan menarik kembali. Ia menatap wajah istrinya dan tersenyum, kemudian berdiri menyusul Ayah yang memanggilnya.


Zareen menatap punggung Zain yang bergegas menuju Ayah, dengan senyum tipis yang terbit menghiasi bibirnya.


Ayah meminta Zain untuk mengganti baju dan segera ke meja makan. Ibuk yang lebih dulu selesai berbenah menyiapkan piring dan menyendok nasi untuk Ayah, dan mengambilkan juga untuk Zain yang sudah datang dan duduk di sebelah Ayah.


“Duduk nak”. Titah Ibuk melihat Zareen yang baru datang


Zareen duduk berhadapan dengan Zain, melihat Zain yang terlihat kebingungan melihat lauk yang ada di atas meja, Zareen mengambil satu potong ikan bakar dan meletakannya di piring Zain, “Ini tidak pedas kok, tadi hanya menggunakan sedikit cabe, lebih banyak saus tomatnya”. Kemudian Zareen menuangkan satu sendok sup kentang dan sayur kol, “Ini hanya memakai dua buah irisan cabai merah”.


“Terimakasih”, Zain tersenyum kemudian mulai menyuap nasinya.


Ayah dan Ibuk saling tatap, seolah pertanyaan mereka sama, dan kemudian hanya tersenyum dan melanjutkan makannya.


Tidak ada lagi percakapan yang terdengar, mereka makan dengan tenang menikmati dan mensyukuri segala hidangan yang ada di hadapan mereka.


“Mas tidur di sini, kamarnya sudah aku bersihkan, ini kamar Gema jadi maaf kalau ranjangnya kecil”


“Gak apa-apa, Mas diberi tempat tidur saja Mas sudah sangat bersyukur”.


Zareen menganguk kemudian berjalan pergi.


Langkah kaki Zareen terhenti, ia tertegun dan spontan menoleh kembali ke belakang, mata mereka bertemu, hanya beberapa saat, Zareen dengan cepat kembali melanjutkan jalannya dengan tergesa, dengan tangan memegangi dadanya. Jantungnya berdetak tak karuan, “Ya Allah, kenapa seperti ini, apakah aku harus selemah ini”. Gerutu Zareen bergegas ke kamarnya dan menutup pintu.


Kembali, Zain melihat rona merah itu, yang bersemu di pipi istrinya, istrinya sangat pemalu, bahkan hanya dengan panggilan ini saja sudah membuatnya salah tingkah, Zain terkekeh dan juga menutup pintu kamarnya.


Malamnya Zareen terbangun, jarum jam yang berhenti pada angka 02.30 dini hari. Zareen turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu’. Ia akan melaksanakan sholat istikhorahnya malam ini.


Zareen melaksanakan dua rakaat sholat istikhoroh dengan sangat tenang, tidak tergesa-gesa, menghindarkan kesalahan dan kekeliruan dalam setiap pelafalannya. Setelah mengucap salam, Zareen mengambil tasbih yang sudah ia dekatkan dengan sajadahnya tadi , kemudian mengulang membaca kalimat takbir, tahmid dan tahlil sebanyak tiga puluh tiga kali. Selesai degan zikirnya barulah Zareen mengangkat kedua tangannya dan disanalah ia terisak memohon petunjuk Allah.


“Ya Allah ya Tuhanku, yang maha kuasa atas segala-galanya, kuasa atas diriku, dan kuasa atas dirinya, suamiku. Segalanya telah engkau tetapkan atas diri kami ya Allah, jodoh, rezeki, dan maut, segalanya telah engkau tulis di lauhul mahfudz jauh sebelum kami engkau ciptakan. Dengan kuasaMu kami bertemu, dan dengan izinMu kami mengikat ikatan suci ini. Aku memohon petunjukMu ya Allah, gerakanlah hatiku kepada apa yang baik untuk ku, jalan mana yang mesti hamba tempuh, yang baik untuk agama ku, dunia ku dan juga akhiratku. Arahkan hatiku kepada keputusan yang terbaik untuk kami ya Allah”.


Pinta yang sama yang Zain mohonkan kepada Allah, dalam do’anya ia terus menggumankan kata maaf dan pengharapan agar Allah bersedia memberikannya satu kesempatan lagi, dengan isak tangis Zain menengadahkan kedua tangannya.


Dua insan yang larut dalam penghambaannya, dengan penuh pengharapan setiap bait-bait doa yang mereka rapalkan di Aamiinkan penduduk langit dan mampu mengetuk Arsy Allah.


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Rasulullah SAW telah mencontohkan kepada umatnya bagaimana Adab Makan dan Minum yang betul :


Adab Sebelum Makan Dan Minum


__ADS_1


Mencuci tangan.


Mencuci mulut atau berkumur.


Membaca Bismillah ketika hendak makan dan mengakhirinya dengan mengucapakan Alhamdulillah, hadith yang menjelaskan tentang membaca Bismillah sebelum makan dan minum adalah : “Dari Aisyah ra, ia berkata : “Rasulullah SAW telah bersabda,“Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah menyebut asma Allah Ta’ala. Dan apabila lupa menyebut asma Allah Ta’ala pada awalnya, hendaklah ia mengucapkan Bismillahi awwalahu wa akhirahu.” (HR Abu Dawud).


Membaca doa, salah satu doa yang dibaca sebelum makan dan minum adalah : “Ya Allah, jadikanlah rezeki yang telah Engkau limpahkan kepada kami rezeki yang berkah, serta jauhkan kami dari siska api neraka.”



Adab Ketika Makan dan Minum



Makan dan minum harus dengan duduk.


Ketika makan tidak boleh berbicara.


Makan dengan tangan kanan.


Ketika makan harus tenang, tidak boleh tergesa-gesa, makan tidak boleh dibazirkan


Tidak boleh makan sambil berjalan.


Makan secukupnya jangan berlebihan, makan berlebihan disebut israf, dan israf itu dilarang dalam Islam, maka ambillah secukupnya.



Firman Allah SWT : “Makan dan minumlah, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”


Sabda Nabi Muhammad SAW : “Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap sahaja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Kalau dia harus mengisinya, maka sepertga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Muslim)



Tidak bercakap perkara yang tidak baik ketika makan.


Mengambil makanan atau hidangan yang dekat dan tidak meraih makanan di tempat yang jauh, sebagai pertanda qanaah.


Apabila makan bersama, ddilarang mengambil lagi makanan, kecuali bila sudah mendapat izin.


Mulailah untuk mengambil makanan dari pinggir dan dilarang dari tengah.


Tidak boleh mencela makanan tetapi sunat untuk memujinya.



Adab Selepas Makan dan Minum



Setelah makan dan minum hendaklah membaca doa : “Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum dan telah menjadikan kami sebagai orang Muslim.”


Mencuci tangan, Nabi Muhammad SAW bersabda : “Barangsiapa tertidur sedang di kedua tangannya terdapat bekas gajih, lalu ketika bangun pagi dia menderita suaty penyakit, maka dia tidak mencela melainkan dirinya sendiri.” (Riwayat Nasa’i dari Aisyah ra).

__ADS_1


Membersihkan dan mencuci peralatan yang dipakai untuk makan.



__ADS_2