
...Part 35...
...🍁🍁🍁...
Lily Putih mengandung makna kesucian, kemurnian, ketulusan, kemuliaan, kehidupan baru dan persahabatan. Yah itulah makna yang ada pada bunga yang anggun dan menawan ini.
Zain terpesona pada keindahan di depan matanya. Dengan senyum yang terus mengembang di wajah bulatnya sang istri masih saja sibuk menciumi bunga itu. Sebegitu senangkah istrinya mendapatkan buket bunga ini. Zain melangkah mendekat, semakin mengikis jarak diantara mereka.
“Sayang...”.
Zareen mengangkat wajah saat kedua tangannya yang memegang buket bunga itu dilingkup oleh tangan kekar suaminya. Seketika pandangan mereka bertemu.
“Boleh Mas menciummu?”
Zareen terpaku, ia terjatuh pada tatapan suaminya yang dalam, menatapnya lembut nan membuai. Ia tau makna dari tatapan ini, dan maksud dibalik kata “boleh”. Ia sekarang adalah wanita dewasa yang telah menjadi istri, yang sedari dulu telah mempersiapkan diri untuk ini, baik persiapan dari segi mental, materi dan yang paling utama adalah persiapan ilmu. Ia teringat, dulu, ia pernah dengan segala kesiapan ini menanti suaminya, namun saat itu ia belumlah terlihat dimata sang suami, pilu saat itu membekas dihatinya. Namun saat ini, suaminya telah melihatnya, dan menatapnya sebagai istri, maka sudah semestinya ia menekan dan mengubur dalam segala kepiluan itu. Dengan detak jantung yang memburu, dan dengan senyum manis yang merekah ia mengangguk. Membalas menatap dalam mata sang suami.
Hal yang sama dilakukan Zain, ia tau istrinya grogi, dan iapun juga sama. Dengan debaran yang semakin kuat di dadanya, ia beralih memegang bahu sang istri, dan memajukan wajahnya ke depan.
Cup
Ia mencium kening kekasih hati lama, sangat lama melebihi biasanya. Kemudian turun ke pelipis sang istri. Genggaman Zareen pada buket Lily Putihnya menguat. Zain melihat pergerakan kecil itu, ia tersenyum simpul. Kemudian menarik diri dan mengusap pipi tembem istrinya yang terasa dingin.
“Shalat sunnah dulu ya”.
Zareen mengangguk, dan merekapun mengulang mengambil wudhu, untuk menghindarkan keragu-raguan. Zain mengimami sang istri dengan dua rakaat shalat sunnah. Dalam malam yang sangat tenang dengan semilir angin yang berhembus pelan Zain menggumamkan dzikir dan memimpin doa yang di aamiinkan istrinya. Memohon keberkahan untuk rumah tangga mereka, dan meminta agar Allah memanjangkan jodoh mereka hingga ke jannahnya nanti.
Zain berbalik dan mendekat pada istrinya, mengangkat tangan kanannya dan diletakan di kepala kekasih hati, kemudian dengan khusu’ ia membaca bait do’a,
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih
"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya."
dan meniup kepala sang istri. Seiring itu makmumnya Zareen mengamiinkan do’a yang dirapalkannya.
__ADS_1
Zain mengangkat wajah Zareen yang masih menunduk memejamkan mata,
“Buka matamu sayang”.
Zareen membuka matanya dan menatap lekat wajah sang imam yang tersenyum manis padanya, wajah itu sangat bercahaya.
“I Love You My Wife”.
Zain kembali mengikis jarak dan mencium kening sang istri, turun ke pelipisnya, pada hidungnya yang tinggi, kedua pipinya yang tembem, dan pada pesona yang terjaga hanya untuknya.
Malam yang mulai larut, dengan keheningan yang jauh dari hiruk pikuk kota, dengan kesejukan malam bersama hembusan angin, dan bersama kedamaian hati dan jiwa, Zain memetik keindahan bidadarinya.
*
Zain mengerjapkan matanya, dengan pelan ia menggerakan tubuh miring pada kekasih hati yang tertidur damai berbantalkan sebelah tangannya. Hembusan nafas yang ringan itu menerpa dada Zain yang berbaju kaos tipis, hingga hangatnya hembusan nafas yang teratur itu ia rasakan. Zain meyampirkan helaian rambut yang menutupi sebagian pipi wanitanya ke telinganya. Menyentuh bulu mata yang terpejam, menelusuri batang hidung nan mancung, membelai pipi nan penuh, dan mengusap bibir yang terkatup itu. Ia sungguh telah jatuh pada pesona wanita berkulit sawo matang yang sederhana ini. Ia sangat mencinta.
Zain melirik jam, masih jam 03.10. Ia menarik selimut menutupi kembali tubuh Zareen yang meringkuk, menarik perlahan tangannya dan menggantinya dengan bantal. Membiarkan wanitanya melanjutkan tidurnya sebentar lagi. Kemudian ia turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk mensucikan diri secara menyeluruh dan sempurna, dimana semalam sebelum tidur ia dan istri telah bersuci dengan air wudhu terlebih dahulu.
Selesai dengan mandinya, Zain kembali menghampiri Zareen yang masih dalam posisi yang sama. Sungguh ia tidak tega untuk membangunkannya, tapi ia harus, karena tidak lama lagi sudah mau subuh.
“Sayang...”
Zain menepuk pelan wajah istrinya, memang sedikit sulit ketimbang biasanya, dimana Zareen sangat mudah untuk dibangunkan, malahan sang istrilah yang sering bangun duluan dari dirinya.
“Sayang bangun yuk”.
“Engghh”
Zareen membuka kedua matanya dengan lambat. Zain tertawa melihat ini, ia merasa kasihan, terlihat sekali sang istri masih sangat mengantuk.
“Sayang”
“Hmmm”. Gumam Zareen setengah sadar
“Ini siapa?”. Ucap Zain sambil menunjuk dirinya
__ADS_1
“Mas Zain”. Jawab Zareen dengan mata yang masih berkedip-kedip. Ia sungguh berusaha sekuat tenaganya untuk menjernihkan penglihatan ini.
“Masnya siapa?”
“Masnya aku”.
“Ha ha sudah sepenuhnya kembali rohnya ternyata”.
Canda Zain sambil memegang hidung berminyak istrinya.
“Bangun yuk, udah masu subuh sayang”.
Zareen tersenyum dan menyampirkan selimut tebal yang membuat ia yang mengenakan piyama berlengan pendek itu langsung meremang kedingingan. Ia hendak duduk, namun tubuhnya langsung melayang, dengan terkejut ia melingkarkan tangan di leher sang suami.
Zain mengangkatnya hingga ke kamar mandi, setelah itu ia keluar dan tidak lama kembali lagi dengan handuk dan pakaian Zareen yang lengkap di tangannya.
“Gak usah buru-buru mandinya sayang, masih cukup waktu kok. Hati-hati ya, jangan sampe kepleset”. Zain mengusap surai panjang Zareen yang berantakan, kemudian setelah Zareen mengangguk ia berbalik dan menutup pintu dengan pelan.
Dibalik itu, Zareen tersenyum dengan rona merah di pipinya. Memanglah hati wanita ini sangat mudah tersentuh, jadi bukanlah hal yang sulit untuk membahagian makhluk yang bernama wanita ini bukan?!
Tidak lama kemudian Zareen keluar dari kamar mandi, dan bergegas mengambil mukenah karena suaminya sudah berdiri di atas sajadahnya.
“Sudah siap?”
“Sudah Mas”.
Zain memastikan bahwa makmumnya telah siap, dan setelah mendengar jawaban dari istrinya Zain mengangkat tangan dan memulai shalat mereka.
Setelah itu mereka melanjutkan dengan membaca Al-Qur’an berdua. Dengan sang istri yang kembali menunjuk ajarinya. Ia sungguh sangat-sangat menyukai apa yang ia lakukan ini. Zain teringat, dulu ia juga pernah sangat menyukai hal yang sama, rutinitas yang ia kerjakan bersama Ibu dan mendiang Ayahnya.
TO BE CONTINUE
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Udah bahagia ya mereka he he
__ADS_1
❤😘