SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Lily Putih


__ADS_3

...Part 33...


...🍁🍁🍁...


Keesokan harinya Zain dan Zareen berpamitan kepada Ibu dan Gema untuk kembali kerumah mereka. Pagi sekali mereka berangkat.


“Hati-hati nak nyetirnya”


Ningsih melambaikan tangan mengiring mobil hitam itu melaju meninggalkan perkarangan rumah.


Zain menyetir dengan pelan. Sesekali ia melirik Zareen yang membuat gadisnya itu mengernyitkan keningnya.


“Kenapa Mas?”


“Gak ada”.


Zain tersenyum dan kembali memfokuskan pandangannya kedepan, mengabaikan Zareen yang menatapnya bingung.


Setengah jam kemudian mereka sampai, Zain memarkirkan mobilnya dan bergegas turun kemudian membukakan pintu untuk Zareen. “Silahkan sayang”.


Zareen tersenyum simpul dan memegang sebelah tangan suaminya yang terulur.


”Jangan membiasakan aku dengan hal-hal ginian Mas”.


“Mulai sekarang Mas akan melakukan ini, Mas ingin”.


Zareen mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa”?


“Karena kamu wanitanya Mas”.


“Apa dulu kamu juga melakukan ini untuk Ilna”


“Tidak”.


“Masak?”. Sanggah Zareen tidak percaya


“Beneran Za,,, Karena dia saat itu pacar Mas, sementara kamu adalah istri Mas. Ini dua hal yang sangat berbeda sayang”.


Zareen memalingkan wajahnya dengan sebelah tangan yang menutup mulutnya. Tak kuasa menyembunyikan senyum yang teramat merekah dibibirnya. Zain menatap punggung sang istri yang berjalan terlebih dahulu meninggalkannya.


“Hey sayang, kok Mas ditinggal gitu aja”.


Zain mengejar Zareen hingga sampai di pintu utama barulah Zareen berhenti.


“Udah ah Mas, buruan masuk”.


Zain terkekeh melihat pipi merona sang istri, istrinya salah tingkah.


Zain menyusul Zareen masuk dan menutup pintu.


“Mas langsung ganti baju gih, aku masakin nasi goreng dulu”.

__ADS_1


Zain mengangguk mengiyakan titah istrinya yang langsung menuju dapur. Ia bergeggas ke kamar untuk berganti pakaian formal untuk ke kantor. Ya hari ini Zain akan kembali ke kantor, setelah sekian lama ia tinggalkan.


MF International Group Building


“Pagi Pak”


“Selamat datang Pak”


“Pagi Pak”


Zain berjalan dengan tegap dan tersenyum membalas sapaan karyawan-karyawan yang berpapasan dengannya.


“Tunggu saya di ruangan”. Zain menutup ponselnya setelah Reza mengiyakan di seberang sana.


“Selamat datang kembali Direktur Malik Fahad yang terhormat”.


“Tidak usah berlebihan seperti itu”. Dengus Zain seraya memberikan tatapan tajamnya yang membuat Reza bergidik ngeri.


“Aku hanya rindu padamu Bos hihi”.


“Apa semuanya lancar?”


“Yah tidak banyak terjadi selama kau ke Padang. Semuanya bisa ku handle”


hanya saja...”


“Apa?”


Reza berhenti sebentar, dan melihat ekspresi Zain, Zain hanya diam. Kemudian ia melanjutkan,” Media cetak menggoreng berita ini, dan...”


“Kapan?”


Reza terkesiap, Kapan?. Apakah selama ini Zain benar-benar belum mengtahui berita ini.


“Pernikahan itu”. Ulang Zain


“Jauh sebelum kau pergi ke Padang”


“Owhhh”.


Reza termangu, hanya itu?


“Apa kau baik-baik saja?”


“Apa maksudmu?”


“Pernikahan ini”


“Tidak ada hubungannya denganku”


“Ah ya benar, tidak ada hubungannya denganmu, benar”. Reza berucap dengan senyum yang mengembang dibibirnya. Benar, ini jelas sudah tidak ada lagi hubungannya dengan sahabatnya ini.

__ADS_1


“Namun ada satu hal yang sangat penting saat ini”.


“Apa”?


“Ketidakhadiranmu di perusahaan selama satu bulan sebelumnya, rupanya telah terendus media masa, dan telah di terbitkan di surat kabar oleh beberapa media cetak. Maafkan aku yang tidak mengabarimu selama ini”.


“Tidak apa”.


Zain tau, Reza menyembunyikan berita yang sangat penting seperti ini darinya selama ini, tak lain karena ia tidak mau menambah beban pikirannya, yang saat itu ia benar-benar dalam keadaan kacau, dan Reza memilih untuk menyelesaikan dan menghadapinya sendiri. Ia tau, bahwa Reza menganggap dirinya bukanlah sebatas teman sepermaianan baginya saja, tapi sudah seperti keluarga. Dan iapun begitu.


“Untuk investor yang menjadikan berita ini sebagai senjata untukku, maka lepaskanlah mereka”.


“A-apa yang..”


“Mereka telah tidak sabar untuk bergabung dengan Fery sejak ia memenangkan tender yang besar itu. Dan masalah pribadiku mereka jadikan sebagai lecutan saja, agar memiliki alasan untuk meninggalkan aku dengan dalih CEO yang stress karena putus cinta dan kehilangan citra baiknya, kemudian mereka berlari pada Fery”.


...perusahan ku tidak membutuhkan orang-orang seperti mereka. Yang menari seperti cacing kepanasan dan memihak sana-sini untuk memenuhi ketamakan mereka”.


“Proyek kita banyak yang masih setengah jalan Zain. Kita akan kesusahan untuk pendanaanya”. Selah Reza yang dengan kekhawatirannya


“Tenang saja, bukankah saya sudah disini sekarang. Apa yang kau cemaskan”.


“Ah benar, kau sudah kembali. Apa yang aku cemaskan, tidak ada. Kursi CEO ini aku kembalikan padamu”. Celoteh Reza dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Ah kehidupannya yang bebas dari rapat panas dan wajah-wajah yang bermuka dua itu akan kembali. Ia mengucap syukur.


Zain menyatukan kedua tanganya dengan pandangan yang jatuh pada jam pasir yang terletak disebelah kiri mejanya. Butiran-butiran halus yang jatuh menemani Zain yang jauh tenggelam dalam pikirannya. Ia tau semua ini akan terjadi, dalam bisnis sangat kecil kemungkinan untuk menemukan rekan dengan “ketulusan” bersamanya. Yang ada hanya “kebutuhan” yang menghendaki kesempurnaan agar terjaminnya tujuan yang hendak mereka capai itu. Ia sudah siap untuk ini dari awal. Keadaannya yang kacau selama satu bulan yang lalu menjadi celah untuk dirinya. Dan ia juga tidak menyalahkan mereka yang berbalik meninggalkannya. Ini adalah hal yang sudah biasa. Ia telah lama berkecimpung dalam dunia ini, dan sekarang ia legowo saja.


“Hufhhh...”. Zain menghela nafas


“Sayang, Mas merindukanmu”.


Zain melirik jam yang melingkar ditangannya, tepat jam 16.30 Zain mengambil kunci mobilnya dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke bacement. Zain menuju mobilnya yang terparkir di tempat khusus. Pintu Buggati Veyron itu dibuka dan masuk kemudian duduk di kemudi. Zain mengendarai mobil dengan pelan, hingga sampai di bangunan putih yang dipenuhi berbagai macam jenis bunga yang penuh warna. Zain berkeliling sebentar hingga ia menemukan apa yang ia cari, bunga Lily Putih atau Casablanca Lily.


“Buk, tolong buatkan satu buket bunga yang ini ya”.


Pemilik kedai bunga itu mengangguk kemudian tidak butuh lama buket bunga itupun jadi. “Ini nak”.


Zain mengambil bunga itu dan membayar untuk satu buket yang cukup besar itu, “Terimakasih ya Buk”.


“Sama-sama nak, semoga pacarnya suka ya”.


“Semoga Buk”. Zain tersenyum dan kembali ke mobilnya.


Zain kembali mengendarai mobil dengan pelan, sesekali matanya melirik Lily Putih yang ia letakan di bangku sebelahnya. Ia tak sabar untuk melihat reaksi wanitanya, kekasih hatinya, gadis yang ia rindu.


Tak sengaja matanya melihat wanita yang tak asing baginya, yah wanita itu. Ditemani sang mama ia berjalan keluar dari pusat perbelanjaan salah satu merek ternama dunia dengan kedua tangan yang penuh dengan paper bag. Tawa keduanya menghiasi wajah-wajah nan cantik itu. “Kau sangat bahagia ya, dan juga mamamu, yang seakan kembali muda dengan pakaian dan fashion yang branded itu”


...Sayang, Mas merindukanmu”.


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Terimakasih untuk dukungannya sejauh ini ya manteman, untuk karaya pertama aku yang tentunya masih sangat amatir ini 😊🙏🏻


__ADS_2