
...Part 44...
...🍁🍁🍁...
“Untuk sementara Ibuk harus mengurangi kegiatan dulu, dan perhatikan pola makannya ya Pak, Ibuk postif hamil”.
“Hamil dok?”.
“Betul Pak, baru memasuki usia tiga minggu, jadi ini sangat rentan sekali, masih sangat muda, jadi Ibuk gak boleh kecapean ya Pak, saya melihat kondisi tubuh Ibuk yang memang lemah”.
“Insyaallah dok, saya akan jaga istri dan calon anak kami dengan baik, terimakasih ya dok”.
“Sama-sama Bapak, Bu Zareen rutin kontrol ya Bu”.
“Baik Bu Dokter, terimasih banyak ya Bu”
Zain mengandeng tangan istrinya membimbingnya keluar, genggaman itu semakin erat. Sesampainya di luar ia langsung memeluk sang istri, membawanya ke dekapan.
“Alhamdulillah, Alhamdulillah ya Allah. Allah amanahkan ia kepada kita dek, makasih banget sayang, makasih”. Ucapnya dengan memberikan kecupan-kecupan di kepala sang istri.
“Iya Mas, Alhamdulillah, ini nikmat yang Allah amanahkan untuk kita, kita jaga bersama-sama ya Mas”.
“Iya sayang”. Zain melepas pelukan itu, dan beralih mengusap kepala Zareen, “Kita jaga bersama-sama”. Zain mengusap pipi sang istri, dengan senyum bahagia terurai di bibir keduanya.
Usai pemeriksaan, sepasang insan yang tengah berbahagia itu tidak langsung kembali ke rumah mereka, Zain membawa sang istri ke pusat perbelanjaan, dengan hati-hati Zain memilihkan buah-buahan yang aman dikosumsi istrinya saat ini, setelah itu mereka beralih pada rak yang penuh dengan berbagai merek dan varian rasa susu hamil.
“Yang mana dek, yang coklat atau vanilla?”
“Yang coklat Mas”.
“Udah sayang? Ada yang lain?”
“Udah ini aja Mas”.
Setelah memastikan semua barang belanjaan masuk ke bagasi, Zain melajukan kembali mobil sport hitam itu dengan pelan, menuju rumah. Selama diperjalanan senyum manis itu tak pernah luntur dari rahang kokohnya, dengan mata yang sesekali melirik pada istri yang duduk di sebelahnya, sangat bahagia, ia berkali-kali mengucap syukur dalam hati.
“Assalamualaikum Ibu...”
“Waalaikumsalam nak, masuk-masuk sayang”.
Ningsih bergegas membukakan pintu untuk kedua anaknya, setelah Zareen menyalim tangannya ia membawa menantunya itu ke pelukan.
“Sayang Ibu kangen”.
“Za juga kangen Bu”.
Zain hanya menghela nafas, menyaksikan Ibu dan istrinya yang memang selalu begitu, seketika ia langsung terlupakan.
“Udah Sayang, Ibuuu? Sudah boleh masuk gak nih?”
“Ish kamu ini, ganggu aja”. Ningsih melepas pelukannya pada Zareen dan membawa kedua anaknya tersebut masuk. Ningsih membawa menantunya duduk di sofa ruang tamu mereka dan melanjutkan kegiatan melepas rindu yang terhenti tadi.
“Minumnya sayang”. Zain meletakan gelas air putih di depan Zareen
“Makasih Mas”.
__ADS_1
Zain tersenyum dan mendudukan diri di depan Ningsih dan Zareen.
“Jadi gimana hasil pemeriksaannya nak?”
“Za hamil Bu”.
“Masyaallah,,, Selamat ya sayang, Ibu bakal jadi nenek”. Ningsih tak bisa menutupi kebahagiannya.
“Iya Bu, doakan semoga ia kuat ya Bu, di tubuh Ibunya yang lemah ini”
“Aamiin,,, Iya sayang, kita sama-sama berdoa kepada Allah semoga Allah menjaga Iza dan calon cucu Ibu ini. Sehat-sehat selalu, Za jangan capek-capek, gak boleh banyak pikiran, makannya harus ditambah ya nak”.
“Iya Bu”
“Zain Ibu titip menantu dan cucu Ibu, kamu kudu lebih perhatian ke Iza, jangan saham mulu, ingat itu”
“Iya Ibuuu, Zain bakal ingat”
Zain dan istrinya menghabiskan hari mereka di sini di rumah Ibunya, menunggu Gema pulang sekolah, dan banyak hal yang dilakukan keluarga kecil ini, hingga tak terasa sore menjelang. Zain mengandeng Zareen pulang setelah memastikan kekasih hatinya puas bermain dengan adiknya.
*
Zareen meletakan gawainya di nakas setelah beberapa menit ia bercanda ria dengan Ayah dan Ibunya di kampung, menceritakan banyak hal termasuk memberitahukan kabar bahagia ini. Kedua orang tua itu tentu mengucap syukur dan sangat bahagia atas nikmat yang Allah hadiahkan atas pernikahan putri mereka ini. Zain melangkah keluar, ia teringat pada suami yang sibuk di ruang kerja. Sebelum itu Zareen singgah dulu ke dapur, mengambil botol air putih dan satu cangkir.
“Mas..”
“Iya sayang, eh kok belum tidur?”
“Belum ngantuk Mas, Za disini aja nemenin Mas”. Zareen menukar cangkir yang ada di atas meja suaminya dan mneukarnya dengan cangkir yang baru.
Zareen tersenyum dan mendudukan diri di sebelah sang suami.
“Proyek baru Mas?”
“Iya dek, proyek pembangunan Mall baru Adiaksa Group”.
“Wahhh anggaran segini mau sebesar apa mallnya?”. Zareen berdecak kagum sambil terus memperhatikan layar yang menunjukan desain lengkap dengan anggaran dana tersebut.
“Ha ha banyak lagi yang lebih besar dari ini dek”
“Cape banget pasti divisi keuangannya, otak atik lagi, revisi lagi, anggarkan lagi, hufh”.
“Emang gitu ya, kok tau dek?”
“Ya tau lah Mas, kan dulu aku pernah berada di posisi itu”
“Za pernah di bagian divisi ini? Berapa lama?”
“Lama Mas, sekitar tiga tahun”.
“Lama juga ya, emang bosnya giaman, kok bisa betah lama gitu?”
“Alhamdulillah bosnya baik banget Mas, mengayomi banget, gak pernah marah”
“Masak iya gak pernah marah?”
__ADS_1
“Bener Mas, gak pernah Marah, ada sih marah, cuma marahnya kayak negur aja gitu baik-baik, ngomong baik-baik, gak seperti bos-bos besar kebanyakan he he, pokoknya orangnya tu baik banget deh Mas”
“Ya wajarlah kalau sudah tua kalem, ya harus begitu”
“Dia masih muda Mas, mungkin seumuran juga sama Mas”
Zain menghentikan kegiatannya dan beralih menghadap wajah Zareen.
“Owhhh... jadi dari tadi kamu ngebanding-bandingin Mas sama mantan bos kamu itu?”
“Eh enggak Mas, Za gak ngebandingin, kan Za cuma...”
“Cuma apa?”
“Kan kitanya lagi sharing, Mas nanya, Za jaw...”
Perkataan Zareen terhenti, karena tangan suami menangkup pipinya.
“Sayang,,, kamu banyak muji-muji dia, di depan Mas, mantan bosmu, di depan suamimu, gak boleh, gak boleh, Mas gak suka. Udah stop ya, lain kali gak perlu cerita-ceritain tentang dia lagi sama Mas, Mas juga gak kenal dia, buat apa, Mas gak suka pokoknya, oke”
Zareen melongo, apakah benar ia melakukan kesalahan? Dimana letak salahnya, bukankah tadi konteksnya mereka sedang berbagi cerita saja.
“Dah yuk bobok”. Zareen tersadar setelah mendapat cubitan di hidungnya
“Mas sakit tau”
“Masak sakit? Perasaan Mas tadi cuma toel dikit aja deh, kayak gini”. Zain kembali mencubit hidung mancung Zareen.
“Beneran lo Mas”. Jawab Zareen dengan sudut mata yang mulai berair.
“Sayang sayang jangan nangis, Maskan cuma bercanda, kok nangis sih, aduh sayang Mas minta maaf, Mas minta maaf”. Panik Zain membawa Zareen ke pelukannya.
Dan yah air mata itu akhirnya jatuh, membasahi bajunya.
Zain terus mengusap kepala sang istri. “Sayang please berhenti nangisnya, Mas kan cuma bercanda, masak iya Mas mau nyakitin kamu, maafin Mas yaa”.
“Sayang udah ya nangisnya”.
Isakan itu masih terdengar, sekarang giliran dirinya yang bertanya-tanya, “Apakah ia melakukan kesalahan? Dimana letak kesalahannya?, ia hanya melakukan kegiatan yang memang sudah menjadi kebiasaannya selama ini, salahkah dia?”
Lama tidak ada jawaban.
Pada akhirnya ia membopong tubuh istrinya ke kamar mereka, merebahkan dan memberi selimut pada kekasih hati yang tak mau lagi menatapnya, namun ia tetap berusaha membawa sang istri ke dekapan, mengusap-ngusap punggungnya memberikan ketenangan.
Kenapa istrinya jadi sensitif begini, berhiba hati, mudah sekali menangis, apa ini juga salah satu perubahan karena ia sedang hamil”, mungkin saja begitu. Yah betul, dia mengaku salah, dialah yang bersalah di sini. Zain terus mengusap punggung sang istri sembari terus merutuki diri, hingga iapun ikut terlelap menyusul Zareen ke alam mimpinya.
TO BE CONTINUE
🌹
Ternyata ini ya guys alasan perilaku Zareen yang berbeda, ternyata ia sedang di landa mabuk hamil muda 😄
Kita kasih semangat untuk paksu yang stok sabarnya kudu lebih banyak untuk mendampingi bumil ini he he
Vote dan comentnya kakak 😙
__ADS_1