
...Part 7...
...🍁🍁🍁...
Zain hanya duduk di sana, di single sofa navy itu. Ia tak melakukan banyak hal, hanya duduk, minum, dan mengecek email yang dikirimkan Reza terkait perusahaan, kemudian pulang ke apartemen ketika ia telah merasa cukup memantau Zareen, ya memantau, sudah cukupkan penjagaan yang ia lakukan terhadap Zareen melalui pemantauan ini? Yah kegiatan yang telah biasa ia lakukan selama dua minggu terakhir ini.
Zain menghela nafas lelah, ia terus mendengus kesal, terperangkap dengan tanggung jawab yang tidak dapat ia hindari.
Menyandarkan kepalanya, dan hendak memejamkan mata, namun seketika netra hitam pekat itu menangkap pergerakan kecil pada jari Zareen. Tidak banyak, hanya dua kali gerakan. Zain mengerutkan dahi, dan melangkah mendekat.
“Kau mau sadar”?
“Hey!, kau sudah mau bangun”? Tanya Zain antusias
Zain sangat senang melihat ini, dan ia seperti orang kehilangan akal karena mendesak Zareen untuk segera membuka matanya.
“Bukalah matamu, segeralah bangun”
“Hey kau mendengarkanku?”
“Gadis sialan apa kau mendengarkan ku?. Gerakan lagi jarimu!”
Namun tidak ada lagi gerakan yang Zareen tunjukan.
Tangannya mengepal, dan menyentak tepi bangkar Zareen.
“Seharusnya kau sekarang sudah bisa sadar, saya telah memberikan pengobatan yang terbaik, membawamu jauh-jauh ke sini, meninggalkan segala kepentingan saya, dan membuang segala waktu saya untuk menebus tanggung jawab ini. Dan sekarang sudah semestinya kau sadar, kenapa kau berlama-lama ha!? Akhh...”. Sekali lagi lelaki jangkung itu memukul keras besi pembatas bangkar.
Zain berbalik keluar dan kembali meninggalkan Zareen dalam ketidaksadarannya.
“Allah...”,
Setelahnya hanya air mata yang dapat tubuhnya tunjukan sebagai reaksi untuk segala ungkapan laki-laki dingin itu. Dan tubuh Zareen tidak menunjukan apa-apa lagi.
*
“Saya benar-benar muak dengan smua ini, kenapa dia lama sekali sadarnya, saya tidak akan menghabiskan umur saya hanya untuk mengurusinya. ****!!!”
__ADS_1
Zain terus memaki di dalam mobil yang melaju cepat, pedal gas yang terus ditekan, bahkan jarum speed dial yang hampir mencapai batas. Selalu seperti ini, cara melampiaskan emosinya sejak dulu, dengan memacu kecepatan mobil membelah jalan, tanpa tujuan.
Zain tombol panggil pada layar canggih di mobil Buggati Veyron hitam yang ia kendarai, tidak lama panggilan tersambung.
“Reza, tolong temui Ilna, dan sampaikan bahwa saya menunggunya di Jerman”
Reza termenggu mendengar perintah Zain, ia tahu, jika sahabatnya sudah dalam mode formal, berarti ini adalah hal yang serius dan tidak dapat dibantah.
“A-apa”? Tanya Reza mencoba memastikan
“Oh Tuhan, cobaan apalagi ini, bagaimana saya akan membujuk singa betina itu”?
“Reza, saya tidak akan mengulangi, kamu harus memastikan Ilna berangkat besok”. Tukasnya final
“Zain, kamu tau ini tidak akan mudah, bagaimana saya bisa menjamin Ilna bisa mengiyakan permintaanmu di tengah masalah kalian seperti ini”!.
“Itu urusanmu”.
Tidak ada suara yang tersambung lagi dari seberang, Zain mematikan setelah penegasan yang ia tuturkan kepada Reza. Ia tidak punya waktu untuk mendengar keluhan sekretaris yang merangkap menjadi sahabatnya sejak kecil dulu.
...🍁🍁🍁...
“Maaf lama, tadi sempat kena macet”.
Ilna duduk anggun, menyilang kedua kaki jenjangnya. Pakaian yang senada dengan tas maroonnya, rambut yang dibiarkan terurai bergelombang dengan sedikit sentuhan cat blonde, dan segala perhiasan bertaburkan permata yang melengkapi ootd Ilna hari ini. Memang penampilan yang sangat berkelas, sangat cantik dan memukau. Tak heran kenapa Zain bisa sangat terpesona dengan gadis ini. Hmm apa benar karena ini Zain cinta mati pada Ilna, entahlah kenapa saya harus memikirkan ini, saya pusing. Gerutu Reza dalam hati.
“Yah tidak apa-apa, saya belum lama juga. Mau mesan dulu”?. Tawar Reza
Ilna hanya mengangguk.
“Jadi ada apa”? Tanya Ilna to the point
“Zain meminta agar kamu menyusulnya ke Jerman”
Tampak guratan kebingungan di wajah Ilna. Apa maksud Zain?,
Kemudian ia tersenyum miris.
__ADS_1
“Untuk apa?, Untuk memperlihatkan kepada ku keromatisan pasangan baru itu, iya? Hah”. Ilna membuang muka dengan kedua tangan yang ia lipat di dada.
“Saya tau, ini tidak akan mudah untuk kamu, dan sayapun juga sudah menyampaikan padanya, tapi yaa kamu tau bagaimana watak Zain, dia sangat keras kepala”.
“Ilna, saya tidak akan mencampuri urusan kalian, karena ini bukanlah ranah pekerjaan saya. Tapi saya hanya menyampaiakn sedikit saja, mungkin ini akan membuat kamu sedikit berbaik hati, Zain sangat terpukul, sama halnya dengan dirimu. Jadi bantulah dia melalui semua ini, kamu berada di sampingnya saya yakin itu akan menjadi kekuatannya, bukankah dari dulu selalu seperi itu?”. Reza mengakhiri ucapannya, kemudian beranjak pergi dan meinggalkan Ilna dengan keheningan.
...🍁🍁🍁...
Zain duduk, dengan jari-jari yang bertaut yang ia jadikan sebagai sanggahan rahang tegasnya. Tidak melakukan apa-apa, bahkan mengabaikan segala email dan pesan masuk tentang rapat hari ini. Menatap bangkar Zareen dengan tatapan kosong, lebih seperti seseorang yang tengah melamun. Sedetik kemudian benda pipih di sakunya bergetar, memecah lamunan Zain, ia segera mengambil Handphone silver tersebut. Seketika raut kebahagian mencuat di wajahnya, dengan segera ia menggeser tombol hijau dan berucap,
“Hallo sayang”
“Hmm yah”, Ilna menjawab sekedarnya.
“How are you dare?, Finally, kamu menguhubi ku. I miss you soo much, really miss you”. Ungkap Zain dengan sungguh-sungguh
“Reza yang menyuruhku menghubungimu”. Tukas Ilna pendek, tidak menjawab dan mengabaikan segala ungkapan Zain barusan. “Kataya kamu menyuruhku untuk menyusulmu ke Jerman, apakah menurutmu aku harus kesana”?. Sungguh Ilna tidak habis pikir dengan permintaan Zain.
“Ya sayang, aku menunggumu disini”
“Aku rasa hubungan kita sudah berakhir Zain, sejak kau menikahi gadis itu”
Zain terdiam, tidak menyangka bahwa Ilna akan mengatakan kalimat ini, namun segera ia sadar dan merespon.
“Tidak sayang, jangan katakan itu, please... Semuanya akan baik-baik saja Ilna, aku janji aku akan lansung menceraikannya setelah ia sembuh. Tolong percaya sayang. Please come here, i need you, please,,,”
“Ilna tersenyum, tentu Zain tidak dapat melihat senyum manis itu. Ia senang, ternyata kali ini juga sama, Zain tidak sanggup melepasnya. Dan kata itu kembali terucap “I need you”, Ilna suka kalimat itu.
“Besok, jemput aku di bandara”
“Really, kau sudah memaafkan ku, thanks baby, aku akan menunggumu”.
“Yah Baby, you are welcome”
“Aku tau, kau sudah jatuh terlalu dalam kepadaku Zain, and i love you too, tapi kau belum membuktikan bahwa akulah segala-galanya untukmu Zain. Benar cinta itu harus dibuktikan bukan, dan cinta juga meminta pengorbanan. Mari kita lihat sayang, sejauh mana kekuatan cinta kita ini”. Ilna tersenyum menatap .
TO BE CONTINUE
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹