
...Part 45...
...🍁🍁🍁...
“Pak, Bapak Ustadznya sudah datang”.
“Sudah? Baik saya akan kesana”. Zain menghentikan obrolannya dengan salah satu partner bisnisnya setelah asisten rumah tangga yang ia dapuk beberapa minggu yang lalu ini membisikan bahwa Bapak Ustadz yang akan mempin acara syukuran mereka telah datang. Yah, malam ini di kediaman mereka sebentar lagi akan berlangsung acara do’a dan sholawatan bersama, syukuran atas kehamilan sang istri.
“Sebentar ya, saya ke depan dulu”. Zain bergegas menuju pintu utama, menyambut Ustadz yang di temani oleh Reza.
“Assalamualaikum Ustadz...”. Zain menyalim tangan Ustadz Adam, sang buya membawa Zain ke pelukannya.
“Silahkan masuk Ustadz”.
Zain mengiring Ustadz Adam ke ruang tengah tempat syukuran akan di langsungkan, disana telah dipenuhi oleh keluarga, kerabat dekat maupun jauh, dan juga rekan bisnisnya. Zain pastikan bahwa seluruh orang yang dikenalnya hadir malam ini, karena ia ingin memperkenalkan istrinya pada semua orang, memberitahu mereka bahwa ia telah menikah, dimana perihal ini tidak ada satupun orang yang tau kecuali keluarganya dan sahabat terdekatnya Reza.
Rini, art mereka mengangguk paham setelah Zain memintanya untuk membawa Zareen, calon Ibu dari anak-anaknya untuk turun. Zareen berjalan perlahan didampingi Rini menuruni tangga, mengenakan gamis putih dengan jilbab senada, dan disana disematkan tiga buah mutiara membuat wanita yang berwajah sendu itu terlihat begitu cantik, calon ibu itu begitu bersinar dengan senyum manis tipis menghiasi bibirnya. Ia gugup, menghitung setaip anak tangga yang dipijak, semakin dekat semakin gugup, takut, dan juga cemas, di hadapan orang banyak, apa ia pantas bersanding di samping sang suami, yang begitu sempurna.
Ia mengangkat mata, semua orang menatapnya, dan juga mata itu, tatapan kekasih hati yang menatapnya kagum, pandangan mereka bertemu, saat sang suami yang jauh disana tersenyum begitu manis padanya, hatinya menghangat, ia menghela nafas dan terus melangkah, hingga ia sampai. Zain mngambil tangan Zareen dan membantunya duduk di sebelahnya. “Masyaallah, anak aku akan secantik apa jika Ibunya saja begini”. Bisik Zain di telinga istrinya yang berhasil membuat sang istri kembali menunduk malu. Zain hanya menyaksikan semua itu dengan senyum yang mengembang, ia mengenggam erat tangan Zareen kemudian mulai berbicara.
“Assalamualaikum wr wb...”
“Waalaikumsalam wr wb...”
“Terimakasih saya ucapkan kepada seluruh tamu undangan yang sudah berkenan menyisikan waktu untuk menghadiri syukuran ini, terutama Bapak Ustadz, terimakasih sekali ya Pak, atas waktunya”. Ustadz Adam tersenyum dan mengangguk membalas ungkapan terimakasih Zain.
“Seperti yang tertera di undangan, bahwa ini adalah acara syukuran atas kehamilan istri saya”. Zain menolehkan pandang pada kekasih hatinya, dengan genggaman yang kian mengerat. “Asheqo Zareen, wanita yang telah saya nikahi satu tahun yang lalu”. Zain menjeda ucapannya, kini tatapannya berubah sendu, menatap mata sang istri. “Tidak banyak yang tahu perihal pernikahan kami ini, disebabkan oleh keadaan istri saya saat itu, ia sakit, dan membutuhkan perawatan yang intensif, sehingga saya harus membawanya ke Jerman sehari setelah akad kami terlaksana”. Zain merasakan jantungnya yang sesak, saat kembali mengingat semua kejadian itu. Ia mengangguk dan menghela nafas saat wanitanya mengusap telapak tangannya dan tersenyum, menyalurkan ketenangan. Ia tenang, dan kembali melanjutkan, “Alhamdulillah setelah menjalani berbagai rangkaian pengobatan, istri saya dapat melalui semua itu, dan saat ini sudah kembali ke keadaan yang lebih baik. Oleh karena itu saya mohon doanya dari kita semua untuk kesehatan istri saya, dan juga calon anak kami. Semoga selalu dalam penjagaan Allah, dan Allah berkahi keluarga kecil kami ini”.
“Aamiin ya robbal alamiin...”. Semua orang yang hadir mengamiinkan, kemudian setelah Zain menutup dengan salam, Ustadz Adam mulai memimpin untuk bersholawat dan membaca do’a bersama.
__ADS_1
“Selamat ya Pak Direktur, semoga Ibu dan Bayinya sehat-sehat semua”
“Selamat ya Pak, semoga selalu dalam penjagaan Allah”
“Selamat Pak, semoga semua lanacar saja hingga persalinan nati”
“Terimakasih bapak-bapak, semoga segala doa baik yang bapak pintakan Allah ijabah, dan Allah saja yang membalas semuanya”.
“Selamat ya bro, dah mau jadi bapak orang ni, jangan kayak bocil lagi”. Ujar Reza menepuk punggung Zain seolah seperti seorang kakak memberikan nasehat pada adiknya.
“Apa kamu bilang, yang bocil itu kamu, seenaknya mengatakan orang”
“Marah,,, Marah, kan kan siapa yang bocil ha ha”
“Awas...”
“Mas...”
Ia beralih pada istri, “Iya sayang?”
“Beneran seperti bocah deh”
“Kamu dengar perkataan Reza barusan?”
“Iya kayak bocah, dikit-dikit marah, dikit-dikit marah, gampang sekali panasnya”
“Is mana dek, gak bener itu, Mas marah cuma ke Reza saja, ke yang lain enggak, apalagi sama kamu”.
“Ish Mas ini ha ha”. Zareen tertawa dan mencubit pinggang suaminya yang menurutnya terkadang memang seperti bocah ini.
__ADS_1
Semua tamu undangan telah kembali ke rumahnya masing-masing, sekarang tinggallah mereka saja. Ningsih telah tertidur di kamar tamu bersama Gema, Zain dan Zareenpun naik ke kamar mereka.
Zain mengajak sang istri sholat sunnah witir dulu, dan seperti biasa setelahnya mereka akan berdoa bersama dengan khusu’.
“Aamiin ya arobbal aalamiin”.
Zain memutar duduknya menghadap makmumnya, Zareen menglur tangan dan mencium punggung tangan sang suami, Zain mengusap kepala sang istri dan mengecup keningnya, hal yang biasa terus ia lakukan sehabis mereka sholat bersama.
“Dek, sehat-sehat ya, harus strong, pokoknya adek harus banyak istirahat, jangan capek-capek lagi ngerjain kerjaan rumah, serahkan saja semuanya sama Rini, gak boleh stress, jangan banyak mikir oke”.
“Iya Mas, Iza lakukan semua titah calon Ayah ini, kecuali satu”
“Loh katanya semuanya, kok ada satu?”
“Iya Mas, yang satu ini ada pengecualiannya”
“Apaan tu?”
“Za gak bakal sibuk-sibuk untuk urusan rumah, tapi untuk Mas tetap, yang mencucikan pakaian Mas itu tetap Iza, gak boleh Rini”
“Kenapa sayang,,,? Kan semuanya bisa Rini”
“Kecuali Mas, segala tentang Mas itu tanggung jawab Iza, tetap Iza, yang lain boleh Rini, yang ini gak boleh. Za ingin hanya wangi tangan Za yang ada di bajunya Mas he he”
Zain terkekeh, sekarang ia paham maksud istrinya, dan juga memang sejatinya lelaki itu pasti akan lebih suka jika segala tentangnya itu diurusi oleh sang istri, perhatian-perhatian yang timbul karena rasa tanggung jawab istri itu, akan menguatkan rasa yang ada, kasih sayang dan cinta.
Zain tertawa mengiyakan, kemudian mengulang mencium kening sang istri, “I Love You Sayang”
“Love You To Masnya Iza”.
__ADS_1
TO BE CONTINUE
🌹