SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Cinta Abadi


__ADS_3

...Part 47...


...🍁🍁🍁...


“Assalamualaikum sayang”.


Zain membawa tubuh kekasihnya ke pelukan, memeluk sangat erat dan menghujami kepala yang tertutup jilbab itu dengan kecupan. “Mas rindu banget.”


“Iza juga rindu Mas, teramat”.


Zain menatap wajah kekasih hatinya yang terus membayang mengikuti tiga hari ia ke luar kota ini, wajah yang membuatnya ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya. Zareen membawakan tas suami dan mereka berjalan masuk beriringan.


“Tambah Mas?”


“Udah sayang, makasih ya”. Zareen mengangguk membalas


“Hmm Ya Allah, Zain rindu banget masakan Ibu”.


Ningsih tertawa melihat putranya yang makan lahap sekali, seperti tidak makan tiga hari saja. “Racikan tangan Ibu memang tidak ada duanya bagi anak, dan begitu jualah dengan istri, yang tidak ada duanya bagi suami”.


Zain mengangkat kepalanya dan menatap sang istri, menimpali, “benar Bu, masakan Ibu dan Zareen yang tidak ada duanya bagi Zain”.


Zareen hanya tersenyum menatap sang suami, menatap wajah yang membuatnya khawatir beberapa hari ini.


Hidangan sederhana yang dibuat Zareen dan mertuanya itu habis. Setelah makan mereka berkumpul di ruang keluarga menonton serial yang dipilih Gema. Zareen terus menatap Zain yang bercerita banyak hal pada Ningsih, hanya sesekali ia menimpali. Karena Ibu dan anak ini banyak membahas masalah sanak keluarga besar ini.

__ADS_1


“Kenapa Mas masih belum membahas masalah itu ya”.


Zareen beranjak pindah duduk di bawah disamping Gema.


“Kakak”


Gema moneleh pada kakak yang merangkul bahunya. Ia mengusap kepala sang adik yang kembali fokus pada layar di depannya.


Lama bercengkrama, “Gak usah dibangunin dek, biar Mas gendong aja”. Zain mengangkat pelan tubuh Gema yang tertidur di paha istrinya.


Zareen mencubit-cubit ujung jari kakinya yang terasa kesemutan karena menahan Gema lama, “Duh.’ Ia berpegang pada pinggiran lemari mencoba untuk berdiri, “Ya Allah ngilu banget.” Hingga hitungan detik setelah itu tubuhnya terasa melayang, Zareen spontan melingkarkan lengannya pada leher pada Zain.


“Pegang yang erat Bunda”. Zain tertawa melihat wajah kaget istrinya. Ia membawa Zareen ke amar mereka. Setelah sampai ia menurunkan Zareen pelan, mereka berbaring bersama. Zain menjadikan lengannya bantal sang istri, mendekatkan Zareen ke dadanya. Zain tersenyum melihat wajah istrinya yang hanya diam, ia mengerti akan sesuatu.


“Sayang, maafkan Mas ya”. Wajah itu masih menunduk, “Kemaren, Mas sampainya sudah sangat malam, jadi Mas gak nelepon Iza, karena Mas berpikir Za pasti udah tidur. Mas ngabarin ke Ibu aja, besok paginya Mas baru mau telepon Iza. Namun sayang, paginya Mas kena musibah, Mas terjatuh dari balkon saat Mas mau menghubungi kamu”.


Tubuh itu luruh, Zain kembali membawa istrinya ke pelukan.


Zain mengusap punggung istrinya yang bergetar karena menangis. “Sayang Mas gak kenapa-kenapa kok. Alhamdulillah, ini berkat doa Iza sayang, dan calon anak kita”.


“Maafkan Iza Mas”. Zareen mengeratkan pelukannya, ia teramat menyesali kebodohannya yang terbawa rayuan setan sehingga ia sempat berburuk sangka pada suaminya. Yang ternyata saat itu suaminya mengalami kemalangan, untung saja sang suami masih Allah selamatkan dan masih bisa bersamanya saat ini. Zareen merasa bersalah dan hanya terus mengulang kata maaf, ya dialah yang harusnya minta maaf.


“Mas Iza minta maaf”.


“Maaf kenapa sayang, kok kamu yang minta maaf?.”

__ADS_1


“Oooo atau Iza mikir yang macam-macam ya sama Mas?”. Tanya Zain mencubit hidung istrinya


“Iya maaf Mas, Iza jadi was-was saja, karena kata Mbak itu komunikasi yang terputus awal mula rusaknya rumah tangga mereka, gitu.”


“Mbak siapa?.” Tanya Zain mengerutkan alisnya.


“Mbak yang di twit.”


“Hah mana sini coba Mas liat.”


Zareen mengambil ponselnya dari bawah bantal, menggeser dan menemukan aplikasi biru itu. Ia membuka kembali tulisan yang beberapa hari ini ia baca dan menunjukannya pada Zain, “ini Mas.”


Zain menghela nafas, “Jadi karena ini Iza mikir macem-macem sama Mas, berburuk sangka?.”


Yang ditanya hanya menundukan wajah, menatap ujung selimut yang ia mainkan. Zain tersenyum kemudian mengangkat dagu sang istri, “Sayang, maafkan Mas ya yang udah buat kamu khawatir, kebingungan, bertanya-tanya sendiri, maafkan Mas sayang. Tapi satu hal yang Mas ingin kamu tau, bahwa Maspun sama khawatirnya dengan kamu. Sama takutnya, karena disini”, Zain menunjuk hulu hatinya, “hanya ada Iza seorang, tak ada yang lain. Percaya ya sayang.” Zareen terdiam menatap dalam mata itu, namun ia segera sadar saat suami mengecup keningnya. “Wanita Mas hanya satu, dan itu Iza, calon Ibu anak-anak Mas. Mas sayang Iza, Mas cinta Iza.”


“Iza juga sayang Mas, juga cinta Mas.”


“Kita harus saling percaya ya sayang.”


Zain mencubit kedua pipi Zareen, ia gemas dengan tingkah kekasih hatinya. Namun ia senang, karena itu artinya wanita yang akan menjadi Ibu anak-anaknya ini benar-benar telah menjadikan dirinya istimewa, beharga di hatinya. Seperti lagu lama yang mengatakan ‘cemburu tanda cinta’, atau ungkapan lain ‘marah karena sayang’. Dan ia sungguh tersentuh dengan segala kekhawatiran dan kecemasan sang istri akan ketetapan hatinya. Karena itu membuatnya semakin yakin bahwa Zareen benar-benar telah mencintainya.


Dan iapun begitu, rasa ini benar telah ada, dan telah mendalam. Wanita yang dipelukannya ini pemiliki segala rasanya. Rasa takutnya, rasa khwatirnya, cemasnya, sedihnya, galaunya, rindunya, sayangnya, dan cintanya. Yah wanita ini adalah nafasnya, alasan ia hidup sekarang, alasan ia berjuang dan alasan untuk menjadi terus lebih baik. Zareen telah bersemayam di hatinya, mengisi kembali hatinya. Penyembuh lukanya, luka yang dulu mematahkan hatinya hingga berkeping-keping. Namun kini cinta yang terukir karena hadirnya adalah cinta yang sempurna, karena ia mengikat dengan ikatan suci, cinta yang dipilihkan Allah, dan cinta yang diridhoi Allah tuhannya.


Ia akan menjaga cinta ini dengan cinta-Nya, cinta yang menerima segala kekurangan, dan menemani dalam ketaatan. Karena motivasinya adalah cinta-Nya. Mendapatkan cinta tuhan merupakan cita-cita tertinggi seorang hamba, dan begitupun dengan Zain. Sekarang ini jugalah yang menjadi cita-citanya. Dan ia kembali mengucap syukur karena Allah menghadirkan Zareen dalam hidupnya, wanita yang mampu menemaninya dalam perjalan ini, yang mampu mengenggam erat tangannya agar berjalan berdampingan, yang mampu memapahnya ketika ia mulai lelah. Dan itu adalah takdir yang dulu ia benci. Sekarang semua syukur terucap, menyirami sisa-sisa keberingasan amarah dan sesal yang dulu ia umpat. Ia akan membawa sang istri ke surga-Nya, agar cinta ini abadi, tidak terpisahkan.

__ADS_1


TO BE CONTINUE


🌹


__ADS_2