SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Takut Kehilangan


__ADS_3

...Part 43...


...🍁🍁🍁...


“Gimana, enak gak yang?”


“Enak Mas”


Zain tersenyum dan terus menyuapi istrinya hingga bubur itu habis. Ia memutuskan untuk memasak bubur ayam sesuai permintaan Zareen, yang katanya ia sangat menginginkan untuk memakan makanan tradisional khas Indonesia itu. Awalnya Zain menolak, karena perutnya yang belum terisi dari pagi apa cukup jika hanya makan bubur ayam saja pikirnya, namun melihat sang istri yang begitu menginginkan bubur ayam hingga membuatnya memohon itu membuat Zain mengiyakan, dari pada perutnya tidak terisi sama sekali.


“Alhamdulillah...” Zain meletakan mangkok kosong dan mengambilkan air putih.


“Udah habis ya Mas?”. Zareen melirik mangkok yang barus saja di letakan suaminya.


“Udah yang”.


Zain mengangkat alis tatkala melihat ekspresi istrinya.


“Za belum kenyang”? Tanyanya memastikan


“Sebenarnya udah kenyang sih Mas, cuma buburnya enak”. Jawabnya nyengir


“Segitunya enaknya?”


“Iya Mas, enaaakkk banget, Za suka”


“Ha ha ya udah, nanti Mas bikinin lagi ya”. Zain mengusap kepala Zareen


“Yang banyak ya Mas”.


“Ha ha iya sayang, banyak”.


Zain terkekeh, dan menatap dalam wajah itu, hatinya tak menentu. Seharian ini ia habiskan waktu di rumah, menemani istrinya yang membuat ia bertanya-tanya akan perilakunya saat ini. Ada rasa yang tidak bisa di jabarkan, sesuatu yang membuat ia takut untuk membayangkan.


“Mas”


“Hmmm, ada apa dek”. Jawab Zain memutar tubuh menghadap Zareen.


Hening, Zareen hanya menatap wajah sang suami, menatapnya lama, yang membuat Zain ikut terdiam. Namun seperdetik setelah itu ia memejamkan kedua matanya tatkala jari-jari yang ramping istrinya menyusuri wajahnya, meraba alisnya, kedua matanya, menyusuri hidungnya, bibirnya, dan telunjuk itu berhenti di dagunya.


“Masyaallah”. Hingga kalimat itu keluar dari mulut sang istri yang membuat Zain membuka kembali matanya.


Senyum indah menyambutnya, yang membuat ia terpesona. Ia terdiam, hanya diam.


“Sungguh maha kuasa Allah yang menciptakan semua keindahan ini”. Zareen mengusap pipi suaminya dengan senyum yang mengiringi.


Zain terperangah, ia mengkat tangan dan mengenggam tangan Zareen yang berada di pipinya.

__ADS_1


“Semua ini milikmu sayang”.


“Ya, milik Iza”. Zareen kembali tersenyum, begitupun dengan Zain, yang seolah ia kehilangan kecakapannya berbicara, pikirannya seolah berhenti sejenak karena debaran jantungnya yang tak menentu saat ini, seolah di dalam sana tumbuhlah sebatang pohon bunga sakura yang kemudian pohon itu memekarkan beribu-ribu bunganya. Yah ia bahagia, sangat bahagia, namun juga takut.


Zareen terlelap dengan posisi yang sama, Zain mengangkat pelan tangannya yang kemudian ia ganti dengan bantal, Zain menyelimuti istrinya dan setelah itu ia menutup pelan pintu. Ia bergegas turun ke lantai bawah menjauhi kamar mereka, ia akan memastikan kalau suaranya tidak akan menganggu tidur sang istri. Zain mendial nomor yang ia hafal, tak lama panggilanpun terhubung.


“Assalamualaikum Nak...”


“Waalaikumsalam Bu... Apa Ibu sudah tidur”


“Baru akan nak, emang ada apa?”


“Maaf ya Bu, Zain butuh Ibu”


“Iya ada apa nak? Kamu kenapa?”


“Hmmm Bu, Zain takut”


“Takut kenapa sayang?”


“Iza Bu, selama beberapa hari ini sikapnya beda, sangat beda Bu, ia sangat manja dengan Zain, gak mau jauh-jauh dari Zain, dia sekarang bukan seperti dirinya saja Bu. Zain takut Bu, kalau...”


“Kalau apa?” Tanya Ningsih melanjutkan, ia ingin memastikan


“Kalau Zareen ninggalin Zain Bu”.


Sanggah Ningsih cepat, apa yang di pikirkan putranya ini?, kenapa ia bisa berpikiran ngaco seperti itu.


“....bukankah hal yang sangat wajar jika seorang istri bersikap demikian pada suaminya”,


yah itu hal yang sangat wajar, namun...


Tiba-tiba Ningsih terdiam, ia tersadar akan sesuatu, “Sayang,,,


“Iya Bu”


“Coba kamu ajak Iza periksa deh”.


“Periksa apa Bu, Iza emang sempat sakit kemaren, tapi sekarang alhamdulillah sudah baikan, sudah mau makan Bu, kemaren ia minta dibuatin bubur ayam sama Zain”.


Yah mungkin saja dugaannya benar.


“Udah kamu anterin aja ya, biar lebih jelas Iza kemaren sakitnya kenapa”.


“Baik Bu, besok Zain antarkan”.


“Ok nak, langsung kabarin Ibu ya gimana hasilnya besok, dah sayang, Assalamualaikum”.

__ADS_1


Ningsih menatap layar gawainya yang telah mati, ia merapalkan doa dalam hati semoga saja menantunya baik-baik saja, dan ketika mengingat kembali kekhawatiran putranya barusan membuat hatinya menghangat, “Ibu mendoakan yang terbaik sayang untuk kebahagian kalian”.


Keesokan hari, paginya Zain langsung membawa Zareen ke rumah sakit.


“Mas, Za udah gak apa-apa”. Tutur Zareen untuk yang ke sekian kalinya ketika mobil mereka sudah mulai bejalan.


“Kita periksa lagi aja ya dek”.


Zareen menghela nafas, mengangguk kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Zain mengulur tangan dan mengusap kepala sang istri, ia berharap dalam hati semoga hasil pemeriksaan nanti menunjukan istrinya baik-baik saja, ketakutannya bukan tidak berdasar, bukan ia yang terlalu paranoid, hanya saja mengingat bahwa Zareen yang pernah menjalankan serangkaian pengobatan saat itu, dan oleh sebab itu ia sangat tau kalau tubuh sang istri sudah tidak sekuat semula.


Menempuh perjalanan beberapa menit, mobil mereka sampai di rumah sakit yang di rekomendasikan sahabatnya Bima. Setelah memarkirkan mobil di bacement Zain turun kemudian membukakan pintu untuk Zareen seperti biasa, kemudian ia mengenggam tangan sang istri hingga ke dalam. Setelah mengurus beberapa administrasi pendaftaran Zain dan Zareen di suruh menunggu sebentar hingga tak lama nama Zareenpun di panggil, Zain ikut masuk menemani sang istri.


“Assalamualaikum, selamat pagi Bapak, Ibuk”. Sapa dokter yang menggunakakan hijab pink dan kacamata yang membuatnya terlihat manis itu.


“Waalaikumsalam Bu”. Jawab Zain dan Zareen serentak


“Jadi apa keluhannya Bu?”


“Sebenarnya saat ini saya baik-baik saja buk, benar kemaren saya sempat sakit, tapi demam biasa saja kok buk, dan sekarang juga udah sehat buk, alhamdulillah...”


“...dulu istri saya pernah koma buk, sangat lama, saya hanya ingin memastikan apakah ia benar sudah baik-baik saja”. Potong Zain


Wanita yang melihat kedua insan ini tersenyum, ia mengerti maksud dari sang suami, kekhawatiran, yang sangat tampak di matanya.


“Baiklah, Ibu gak papa kita periksa saja dulu ya bu, Ibu silahkan berbaring”.


Zareen mengangguk kemudian ia merebahkan tubuhnya.


“Relax saja ya Bu”.


Zareen kembali mengangguk, dan sebelum tirai pembatas di tutup ia dapati sang suami yang tersenyum memberikan semangat untuknya.


Zain menunggu di luar dengan tenang, ia mencoba untuk tenang, berkali-kali menarik dan menghembuskan nafas, dengan hati yang terus berdzikir, ia sungguh memohon agar istinya baik-baik saja, ia memohon kepada rabbinya.


Kreekkk...


Tirai dibuka, Zain bergegas menghampiri Zareen dan membantunya untuk turun.


“Hati-hati sayang”.


“Iyaaa Masss..”. Jawab Zareen tersenyum simpul


“Gimana hasilnya dok?”. Zain menoleh pada suami yang mengenggam kuat tangannya.


TO BE CONTINUE


🌹

__ADS_1


Maaf bgt ya readers aku lama bgt up nya u ke bab ini, dikarenakan beberapa bulan ini aku sibuk mempersiapkan diri untuk mimpi ku yg lain he he, ku harap temen2 yg udh mantengin Mas Zain dan Mbak Zareen dari awal masih setia nungguin kelanjutan kisah mereka🤭, salam sayang dari gadis Minang guys 😙


__ADS_2