SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Suamiku


__ADS_3

...Part 12...


...🍁🍁🍁...


Zareen POV


Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dalam kepala ku, namun entah kepada siapa ku bisa bertanya. Sepintas mengenai insiden sejak aku tertabrak mobil Zain hingga aku dinikahkan dalam keadaan tidak sadar, sedikit ku ketahui dari cerita Ibu mertuaku.


Namun, sesuatu yang sangat mengganjal di pikiran ku, yang terus mengganggu pikiran ku selama beberapa hari sejak kami tinggal di apartemen yang megah ini, dua insan yang tinggal di bawah satu atap, yang di bentengi tembok yang sama, namun, kenapa kami seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Dingin, tidak ada sedikitpun kehangatan yang mencoba merengkuh.


“Mas...


Aku mengulurkan tangan hendak menyalim dan mencium punggung tangan suami ku, namun, kegetiran kembali ku rasakan. Penolakan yang sama selama dua minggu ini ku rasakan. Tak apa, ku abaikan rasa sakit di hati dan berusaha tetap memberikan senyum dengan ikhlas di bibir.


“Sini tasnya aku bawain”


Alhamdulillah ia mau memberikan tas dan jaznya, mungkin benar, bersentuh dengan ku saja ia yang tidak mau. Kenapa Mas? Aku ini mahrommu bukan wanita asing.


“Mas mau mandi dulu atau lansung makan”?


“Saya gerah”


“Ya udah, Mas mandi, aku siapkan pakainnya”


Aku bergegas ke kamar, dan menyiapkan pakain yang akan di pakai suamiku, “kamu suamiku Mas, terimakasih telah mempermudah aku dalam menjalankan kewajibanku”, Dengan senyum ku tarok set pakain tidurnya di atas kasur. Setelah itu aku langsung kembali ke dapur dan menghidangkan menu sederhana yang aku masak sore tadi.


“Gimana rasanya Mas, apa garam nya cukup”?


“Saya tidak suka berbicara saat makan”


Ya Allah, aku hanya ingin tau, apakah masakanku tidak membuat suamiku kecewa.


Tidak ada kata, ia lansung berdiri dan berbalik meninggalkan meja makan dengan keheningan. “Sangat susahkah untuk memberikan seulas senyummu sebagai ucapan terimakasih untuk ku Mas?”. Ku rapikan piring kotor dan langsung mencucinya, setelah ku pastikan semua kembali bersih, ku melangkah menuju kamar kami, dan seperti biasa, suamiku tidak ada lagi di sana, ia lebih memilih tidur di single sofa yang ada di ruang kerjanya.


“Hufhh, rumah tangga seperti apa yang kami jalani ini Ya Allah”


Ku langkahkan kaki ke kamar mandi, setelah terdengar Adzan Isya berkumandang.


“Keluhkan semua hanya kepadaNya”.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


“Hm iya sayang, sampai ketemu nanti”


“Iyaa,,, nanti aku jemput ya, kamu tunggu aja”


“By honey, love you to”


“ Jangan menatapku seperti itu”


“Hah tidak, aku cuma gak ngerti aja sama jalan hidup kalian”. Sarkas Reza sembari tersenyum sinis. Entah cinta macam apa yang telah ditawarkan Ilna kepada sahabatnya ini, kemaren sudah jelas-jelas Ilna mengikrarkan kata “putus” diantara mereka, dan sekarang “Baby-Honey” lagi. Atau kata putus yang terakhir Ilna ucapkan sama saja dengan yang sebelum-belumnya, gadis itu hanya ingin kembali menguji sejauh apa cinta Zain untuknya. Hufhwe33w2


“Kau tidak perlu mencoba untuk mengerti akan jalan hidup saya, yang menjalani saya”


“Hm yahhh,,, terlalu rumit dan memusingkan kepala”


“Yang harus kau lakukan adalah turun kembali ke lapangan dan tinjau secara langsung proyek yang akan kita bangun dalam waktu dekat ini, itu akan lebih bermanfaat kau lakukan”


“Ha ha siap Bapak Direktur Zain Malik Fahad, sesuai perintah” Gegalagat Reza sambil mengangkat satu tangan ke kening selayaknya memberikan penghormatan untuk komandan. Yah memang beliau ini komandannya, yang titahnya adalah perintah mutlak.


Zain merebahka tubuh ke sandaran kursi, menatap jauh ke jendela. “Yah benar, memang rumit, dan sangat memuakkan. Tapi tidak, saya tetap bisa mengendalikannya, hari ini saya akan bawa Ilna ke apartemen, dan biarkan dia tau siapa wanita yang semestinya berada di posisinya sekarang, istri Zain Malik Fahad”


“Akhirnya siap juga, Alhamdulillah...


Tinggal preparing di atas meja, dan semoga Mas Zain mau lagi memakan semua ini, tapi rasanya mau deh, sebab kayaknya masakan aku sesuai sama lidah Mas Zain”


Zareen menata segala menu yang telah ia masak untuk makan malan nanti bersama sang suami. Setelah dirasa beres, Zareen balik ke kamar membersihkan diri memakai pakaian yang diberi pewangi dan memakai sedikit pewarna pada bibirnya.


Dengan senyum yang tidak lupa menghiasi bibirnya, Zareen memakai kerudung bewarna baby blue, yah ia masih belum berani melepaskan hijabnya di depan Zain, karena menurut Zareen Zainpun tidak menginginkan hal itu.


“Bismilllah” Ia berucap


Terdengar klik bunyi pintu, Zareen langsung berlari, hendak menyambut kepulangan suami, namun seketika senyum di bibirnya luntuh, tatkala melihat tangan lembut wanita yang merengkuh tangan sang suami. Tidak ada pertanyaan yang keluar dari mulut Zareen, melihat tatapan suami ia paham, paham bahwa kaupun tak memiliki hak untuk mempertanyakan apa yang kulakukan Zareen.


“Silahkan masuk Mas”. Zareen mengambil alih tas Zain, tanpa mengulurkan tangan untuk menyalim, karena ia tahu, bahwa tak akan ada tangan yang akan menerimanya, jadi jangan semakin mempermalukan diri sendiri dihadapan wanita lain, ia masih memiliki mauru’ah (harga diri) dan ia akan menjaga itu sebagai seorang istri.


Zain melangkah masuh tanpa menoleh sedikitpun kepada Zareen, Zareen tersadar dari keterkejutannya dan segera menutup pintu.


Zain yang langsung duduk di meja makan, bersama Ilna di sebelahnya. Sudah selayaknya rumah sendiri saja ya nona.

__ADS_1


“Mas mauu langsung makan”? Tidak ada jawaban dari Zain, Zareen yang mengerti akan situasi hanya bergegas menghangatkan makanan yang mulai dingin.


“Sayang”


Tubuh Zareen seketika membeku mendengar suara itu, suara yang lembut nan mendayu itu berucap “sayang”.


“Yah..” Zain menoleh kepada Ilna


“Apa gak apa-apa nih aku kesini?”


“Ya gak apa-apa lah sayang, kenapa kamu bertanya seperti itu, bukankah dulunya kita memang sering makan bareng disini”


“Hmm iya, cuma...”


“It’s ok baby, apa yang kamu cemaskan, in your home, hm”


“Allah, kenyataan apa lagi ini?” Ilna meremas ujung khimarnya, mencoba menahan air yang hendak turun dari pelupuk mata, segalanya terdengar jelas karena jarak mereka tidaklah jauh, hanya dibatasi meja bar.


Mengusap air yang menggenang disudut mata, Zareen berbalik membawa wajan yang berisi sup yang telah ia panaskan.


“Silahkan dimakan Mas”


Zareen mengambil piring dan hendak mengambilkan nasi untuk Zain, namun tangannya ditahas oleh Ilna.


“Biar aku saja”


“Baiklah”. Zareen mundur, bukan karena ia lemah, ia hanya tidak ingin membuat suasana bertambah runyam, biarkan sajalah dulu.


“Sayang, kamu makannya masih porsi biasa kan”?


“Biasa sayang, tidak ada yang berubah” Sengaja Zain menekankan pengejaan pada kata “tidak ada yang berubah”


Ia berucap sambil melirik wanita yang menunduk di sebelahnya, seulas senyum muncul di bibir Zain, yah dia mencapai tujuannya. “Kau harus lihat ini, inilah kenyataannya”


Tak ada yang berbicara, yang terdengar hanya suara dentangan sendok dan piring, makan malam yang sangat tenang, namun gersang.


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2