SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
Luka Terdalam


__ADS_3

...Part 27...


...🍁🍁🍁...


Remasan pada tangan Zain semakin kuat, ia membuang nafas pelan, dan kemudian mengangkat wajahnya mencari Zareen, mata mereka bertemu pandang, tatapan Zain sangat terluka saat menatap mata nan sendu itu.


Berarti sudah jelas dilihat dari kata-kata yang kamu ucapkan pada Zareen, maka talak yang kamu jatuhkan adalah jenis talak kinayah”. Tutur Buya


“Nah sekarang, kita ingin memastikan nak, dan itu hanya kamu yang tau, pada saat kamu mengucapkan kalimat itu pada istrimy apakah kamu benar-benar berniat untuk menceraikan Zareen, atau kamu hanya ingin menyuruh dia pulang untuk memberi waktu perenungan untuk kalian saja”?


“Jauh sebelum itu Buya, saya sudah memiliki niat untuk menceraikan Zareen, bahkan sejak iqrar ijab kabul saya ucapkan”.


Jawab Zain merunduk, memalingkan wajah dari Zareen, ia tak sanggup lagi memandang mata sang istri yang telah basah karena air mata, sama seperti dirinya.


Semua orang tercengang mendengar penuturan Zain, tidak terkecuali Buya dan Umi yang menatap tidak percaya.


“Apa!!?”


Ayah terperanjat, nafasnya tidak teratur kemudian Ayah berdiri berjalan mondar mandir dengan satu tangan menekan-nekan keningnya.


“Yah, duduk dulu Yah, tenangkan diri Ayah, biar nafasnya stabil”. Ibuk ikut beridiri dan mengusap lengan sang suami, meredakan amarah Ayah.


Sementara itu tangis yang coba Zareen tahan tidak lagi terbendung, air matanya kian berderai dengan isak yang membuncah. Ia sudah tau perkara ini dari awal, sejak ia tersadar dari komanya. Namun saat kata-kata itu terucap langsung dari mulut suaminya, hatinya teramat pilu, seakan luka yang baru saja hendak sembuh itu kembali ditikam ujung pedang yang teramat tajam, terkoyak, bersimbah darah dan sangat perih.


Umi Halimah mendekat dan mengusap punggung Zareen, mencoba menenangkan. Seketika Zareen langsung berbalik dan memeluk Umi, air matanya membasahi pundak Umi.


“Ngku, duduk ngku, duduk”.


Ayah menengadah, menutup mata agar air yang menggenang di ujung matanya tidak jatuh, berkacak pinggang dan menghelas nafas. Kemudian duduk kembali.


“Istighfar dulu”. Seru Buya begitu melihat Ayah telah kembali duduk


“Iza, istighfar nak”. Umi Halimah terus mengusap punggun Zareen yang masih memeluknya. Zareen menggumamkan kalimat “Astaghfirullahaladzim” berulang kali dengan suara yang lirih di balik punggung Umi.

__ADS_1


Zain melihat Zareen, hatinya sangat sakit saat melihat Zareen terisak sambil beristighfar dalam pelukan Umi. Dengan suara yang serak diiringi air mata yang terus mengalir, hingga sekarang matanya telah membengkak, hati Zain sangat perih melihat ini. Air mata itu jatuh karena dirinya.


“Astaghfirullahaladzim...”. Zain mengucap istighfar dengan sangat pelan, mencoba membunuh segala rasa sakit ini, berharap hatinya sedikit lebih tenang. Meskipun sangat sukar, karena penyesalan teramat dalam yang menyesakan hatinya.


Setelah Ayah, Zareen dan Zain terlihat sudah kembali tenang, Buya kembali melanjutkan, mendudukan perkara ini.


“Zain, coba kamu jelaskan, apa maksud perkataan kamu tadi nak?. Buya harus mengetahui segalanya, karena jenis talak akan mempengaruhi proses rujuknya”.


“Iya Buya, saya sedari awal pernikahan telah berniat untuk menceraikan Zareen begitu ia sadar dari komanya”.


Buya tertegun “Maaf, apa itu artinya kamu tidak pernah menyentuh istrimu selama ini”?. Tanya Buya ragu


Zain mengangguk, “Benar Buya”.


“Allah...”. Buya menghela nafas memalingkan muka dari Zain


Semua orang selain Zareen dan Zain terkejut, menatap tidak percaya kepada mereka.


“Pernikahan apa yang kalian jalani ini?”. Ayah geram dan mengusap wajah gusar


“Maaf yah maaf”. Zain bergumam dengan air mata yang terus menetes, hanya kata itu yang dapat ia pintakan sekarang. Tak ada pembelaan atas dirrinya atau mencari pembenaran atas apa yang ia lakukan selama ini. Hanya kata maaf


“Hati saya benar-benar hancur melihat keadaan putri saya seperti ini. Dengan titik peluh keringat saya membesarkannya, dengan segenap kemampuan saya, saya mencoba untuk memberikan segala yang terbaik untuk dia. Karena dia adalah amanah yang Allah titipkan untuk saya yang di akhirat nanti pasti Allah mintai pertanggung jawaban saya atas dirinya.


Hingga saat amanah itu beralih padamu, dengan hati yang harap-harap cemas saya menyerahkannya. Taukah kamu apa yang saya rasakan saat itu, saya sangat takut apakah saya menyerahkan Zareen ke orang yang tepat, namun segera saya menenangkan hati saya, karena bertemu denganmu bukanlah kesengajaan bagi putri saya, dan dengan cara yang tidak terduga Allah membuat ikatan suci ini terjadi, dengan kerendahan hati saya bertawakal kepada Allah, dan meyakini bahwa kamu adalah orang yang sudah Allah pilih untuk putri saya, ketetapan-nya, takdrinya. Namun apa yang kamu lakukan, kau mematahkan keyakinan saya itu”


“Meskipun pernikahan kalian terjadi karena paksaan keadaan, namun ikrar yang kau ucapkan tetaplah menjadi janji yang telah malaikat catat, perjanjian antara kamu dan Allah. Bagaimana bisa kau mempermaikan semua ini a!!?”. Ayah benar-benar telah terbawa emosi, amarah di dadanya meluap saat melihat air mata Zareen yang terus mengalir, dan kata-kata yang Zain ucapkan tadi masih jelas menggema di telinganya.


“Maafkan Zain Ayah, Zain benar-benar menyesal, maafkan Zain yah”. Zain terisak menunduk di tangan Ayah


“Tidak perlu rujuk, sebaiknya akhiri saja pernikahan ini”.


Zain mengangkat wajahnya“Tidak Ayah”

__ADS_1


“Ayah”. Zareen terpaku, menatap wajah Ayah


“Tidak Ayah, jangan katakan itu, jangan menarik restu yang pernah kau berikan Ayah, berikan Zain kesempatan, Zain akan memperbaiki semuanya, Zain berjanji akan menjadi suami yang lebih baik untuk Zareen kedepannya, jangan pisahkan kami Ayah”. Zain berucap dengan suara yang serak, matanya memerah.


Zain beralih ke Ibuk, “Buk, maafkan Zain Buk”.


Ibuk memalingkan wajahnya dengan air mata yang tak bendung lagi, kepiluan ini meremukan hatinya.


“Maaf Da, kami benar-benar minta maaf Da”. Ucap Ayah lirih sambil menyatukan kedua tangan.


“Buk, Iza, mari pulang”. Ayah berjalan ke arah Zareen duduk, kemudian menarik satu tangan anaknya.


Fatma berdiri sambil menunduk mengucap maaf kepada Buya dan Umi.


“Ayah,,,”. Langkah Ayah terhenti, menoleh kebelakang, menatap mata putrinya yang telah sembab dan bulir bening itu masih menetes.


“Tidak Yah”. Zareen menggeleng


Ayah terperangah, tidak percaya


“Kamu mau mempertahankan pernikahan ini Za!??”. Tanya Ayah dengan suara mulai meninggi


Zareen mengangguk, “Iya Yah, Za ingin mempertahankan rumah tangga Za, Za ingin meneruskan pernikahan ini”.


“Lelaki seperti itu Za, lelaki yang tidak tau cara menghargaimui, yang tidak tau cara menghormati istri, tidak tau cara memuliakan perempuan, yang tidak takut pada tuhan-Nya!”


Fatma mengusap lengan Ayah, ia malu jika pertengkaran ini harus terjadi dirumah Buya dan Umi Halimah. Ayah yang biasanya sangat pandai dalam menjaga emosinya, yang sangat berwibawa dan bijaksana, sekarang telah kehilangan kendali diri di depan orang lain. Ibuk terus mencoba menenangkan Ayah


“Za mencintai Mas Zain Ayah”.


TO BE CONTINUE


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Ayah sudah benar-benar murka, apa yang akan terjadi pada pernikahan Zain dan Zareen?


__ADS_2