SYAHDU DALAM SENDU

SYAHDU DALAM SENDU
H-Lahiran


__ADS_3

...Part 49...


...🍁🍁🍁...


“Berhenti dulu Mas.”


“Iza capek?, yuk cari tempat duduk dulu.”


Zain membantu Zareen duduk di bangku taman. Ia membuka tutup botol air minum dan memberikan kepada sang istri. Zareen minum dan kembali mengatur nafas. Zain menyeka keringat di wajah istrinya, “Kenapa Dek?.”


“Duh pinggang Za sakit banget Mas.” Zareen menyerngit sambil memegangi pinggangnya. Zain menyudahi kegiatannya melap wajah Zareen, dan beralih mengusap pinggang sang istri. Ia memijatnya naik turun dan hangatnya tangan itu membuat Zareen sedikit lebih tenang.


“Gimana Dek, udah? Kita pulang?.”


“Iya Mas”. Zareen mengangguk dan menyudahi jalan santai mereka, Zain mengambil botol minum dan membantu Zareen hingga ke mobil. Sesampainya di rumah Zain langsung ke kamar mandi untuk mandi, sementara Zareen langsung merebahkan diri di sofa, istirahat dan memejamkan mata. Tidak butuh waktu lama Zain menyegarkan diri, ia turun ke bawah dan mendapati istrinya yang tertidur di sofa.


“Sayang...”


“Yang...” Zain menepuk pelan pipi Zareen, yang langsung tertidur pulas sakin capeknya. Ia merasa iba, tapi Ibu hamil ini harus sarapan.


“Iya Mas.” Jawab Zareen dengan suara sengaunya


“Mandi dulu yah, biar badan Iza jadi seger lagi, habis itu kita sarapan.”


Zareen mengangguk dan mengucek matanya menetralkan penglihatan, ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di lantai bawah. Kamar mandi yang lebih sering Zareen gunakan sejak usia kandungannya semakin tua itu. Setelah memastikan Zareen sampai di kamar mandi, Zain bergegas ke kamar mereka dan kembali dengan set gamis rumahan sang istri. Setelah itu ia melangkah ke dapur dan membuat omlet telur dengan tumisan bunga kol sebagai sayurnya. Ia tersenyum bangga setelah menyajikan masakan seadanya itu di atas meja, masakan seadaanya yang ia bumbui dengan kasih sayang dan ketulusan untuk sang istri, Zain terkikik, dan kemudian memanggil kekasih hatinya itu.


“Yang udah...?”


“Hm iya Mas, bentar lagi.” Sahut Zareen yang masih berada di kamar mandi


Tidak lama setelah itu Zareen keluar dengan rambut yang digulung handuk. Ia berjalan menuju meja makan dengan sesekali ringisan.

__ADS_1


“Iza kenapa?” Cemas Zain langsung menghampiri Zareen dan memegang pundaknya.


“Sakit lagi Mas pinggangnya.”


Zain menuntun sang istri duduk. Ia kembali melakukan hal yang sama memijat pinggang istrinya itu dengan kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.


“Udah Mas.” Zareen menghentikan tangan suaminya dan tersenyum. Zain berdiri dan mengecup kening kekasih yang ia cintai itu. Ia menyendokan nasi dan lauk yang ia buat tadi untuk Zareen, “Mas suapin.” Permintaannya yang mendapat gelengan dari sang istri, namun ia tidak mengiyakan penolakan itu dan mulai menyuapi satu suapan ke mulut Zareen.


“Masnya juga makan.” Tutur Zareen setelah menerima suapan demi suapan imamnya.


Zain tersenyum dan menambah nasi dan juga lauknya kemudian ikut makan, satu suapan untuk sang istri dan satu untuknya, hingga nasi itu habis. Zain meminta Zareen untuk ke depan, dan ia merapikan kembali meja makan mereka dan tak lupa membersihkan peralatan yang ia gunakan untuk memasak tadi.


Ia menyusul Zareen kedepan, memastikan kalau istrinya itu benar-benar beristirahat dan tidak mengerjakan apapun. Hal yang akhir-akhir bulan ini selalu Zain lakukan, ia memilih membawa pekerjaannya ke rumah agar ia bisa lebih memperhatikan kekasihnya ini yang memang sedikit susah untuk duduk diam dan tenang.


Dan benar saja, ia tidak menemukan Zareen di depan. Tanpa pikir panjang Zain langsung memutar badan menuju ke belakang, green house mini yang ada di halaman belakang rumah mereka. Zain berlari ketika melihat Zareen mengangkat vas bunga yang cukup besar.


“Sayang...”


“Za bisa kok Mas.” Ucapnya yang hendak berdiri lagi


“Za bilang Mas gak bisa, Mas juga bisa. Dah sekarang Iza duduk, biar Mas yang atur semuanya, nah mulai dari yang mana dulu?.”


Zareen menghela nafas dan kembali mendudukan diri dan mulai mengarahkan suaminya yang ‘serba bisa’ ini. Setelah beberapa lama green house itu siap dengan tataan barunya.


“Siip Mas.” Zareen mengacungkan jari jempolnya setelah mengulang melihat sisi kanan dan kiri rumah kaca mungil itu. Zain menghembuskan nafas dan turun dari jenjang setelah menggantungkan bunga hias terakhir. Ia ikut berdiri di samping Zareen dan ikut memandangi hasil kerjanya itu, “Udah sayang?”


“Udah Mas, sempurna”. Ucap Zareen sembari memberikan isyarat ‘aku mencintaimu’ dengan bahasa Hangul itu dengan menggabungkan dua jarinya. Zain terkekeh dan mengecup kepala sang istri yang terbalut jilbab bergonya.


Hingga sorenya sepasang calon Ayah dan Ibu itu hanya menghabiskan waktu di rumah. Zain yang selalu memastikan sang istri tidak lepas dari pandangannya.


“Hm iya Buk, cuma akhir-akhir ini pinggang Iza sering sakit Buk.”

__ADS_1


“Iza benar-benar harus istirahat aja dulu ya nak, jangan ngerjain apapun.”


“Izanya bandel Buk, gak dengerin omongan Zain.” Sela Zain mendekat pada Zareen yang teleponan dengan Ibuk Fatma mertuanya di Padang.


“Jangan gitu nak, nanti kalau sakit nangisss...” Ejek Bu Fatma diseberang yang membuat Zareen merungut karena ditertawakan.


“Ha ha jangan marah kak, Ibuk becanda kok.” Sambung Bu Fatma yang seolah tau kalau anaknya pasti tengah merungut sekarang, dan yang menjadi pelampiasannya tentu menantunya Zain yang ada didekat putrinya sekarang.


“Ibuk sih ikutan jahilin Iza, bukannya ngedukung anaknya sendiri.”


“ Ha ha sudah-sudah, Ibuk minta maaf ya, Iza yang sehat-sehat ya nak disana. Istirahat, dan makannya jangan sampai telat ya nak ya. Pokoknya kalau ada apa-apa cepat kabari Ibuk sama Ayah ya kak.”


“Iya Buk, bantu dengan do’a Iza ya Buk, sampaikan kepada Ayah, mohon do’anya Ayah untuk Iza dan calon anak Iza Buk, semoga semuanya lancar-lancar saja nanti.”


“Aamiin ya Allah, iya nak nanti Ibuk sampaikan. Dah nak, Ibuk matikan ya. Zain juga jaga kesehatan nak, makannya juga jangan sampai telat ya.”


“Iya Buk, Insyaallah. Ibuk dan Ayah juga ya.”


“Hm iya Buk, Waalaikumsalam...”


Panggilan itu terputus, Zareen menatap gawainya yang mati, ia sangat merindukan keduanya, yang masih jauh disana. Zain yang dapat mengerti mengangkat wajah Zareen, dan mengusap pipinya. “Ayah dan Ibuk tiga hari lagi berangkat kesini, kita akan bertemu Ayah dan Ibuk beberapa hari lagi, Za jangan sedih lagi ya.”


“Iya Mas, Za gak sabar he he.”


“Iya sayang, kita tunggu Ayah dan Ibuk bersama-sama ya.”


Zain sudah mengatur waktu keberangkatan Ayah dan ibuk mertuanya ke sini, untuk menyambut kelahiran cucu pertama mereka, yang berdasarkan hasil perkiraan Dokter Mira setelah pemeriksaan adalah dua minggu lagi.


Zareen memakai mukenah dan menyusul suaminya yang telah siap dengan dua sajadahnya. Zain menoleh dan memastikan kalau makmumnya telah siap dan mulai mengangkat kedua tangannya mengucap takbir. Ia mengimami sang istri dalam Isya mereka dengan khusu’. Setelah mengucap salam Zain menengadahkan tangan memohon kepada Allah untuk orang-orang yang mereka sayangi, dan terakhir memohon untuk kelancaran proses lahiran anak mereka nanti. Zareen meng-aamiinkan doa sang suami, hingga rasa sakit yang teramat terasa menusuk di perutnya yang menjalar hingga ke seluruh pinggangnya. Zain berbalik dan panik mendapati Zareen meringis dengan mata yang mulai mengembun.


TO BE CONTINUE

__ADS_1


🌹


__ADS_2