Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
10. Viola Margaretha.


__ADS_3

Selepas sarapan pagi, seperti biasanya juga Bella akan selalu menemani Noah sampai ke depan rumah. Kali ini Bella bahkan tak ragu membantu Noah membukakan pintu mobilnya.


"Sudah kukatakan padamu untuk tidak mencari perhatian. Tingkahmu benar-benar membuatku risih!" seru Noah dengan kalimat pedasnya.


Bella tidak menjawab. Gadis itu hanya berdiri di depan mobil Noah dengan wajah tertunduk.


Noah menatap dingin istrinya sekilas, sebelum masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkannya.


Kendati hampir setiap hari Bella mendapat perlakuan tak mengenakkan dari Noah, gadis itu tetap tidak menyerah. Bella tidak bosan menyiapkan setelan kemeja kerja untuk Noah, walau sang suami tidak pernah memakainya, dan malah mengancam gadis itu agar tidak menyentuh barang-barang pria tersebut.


Mau bagaimana lagi, semua hal yang Bella lakukan walau sepele merupakan bentuk dari pengabdiannya sebagai seorang istri.


Setelah memastikan mobil sang suami sudah benar-benar pergi, Bella pun masuk ke dalam rumah.


"Hei, anak tak tahu diri!" Jessica yang ternyata sedang menunggu kedatangan Bella, kini berdiri menghadap gadis itu sembari melipat kedua tangannya angkuh.


"Iya, Ma." Kendati Jessica baru saja menyakitinya, Bella tetap berusaha bersikap hormat pada wanita itu.


"Tolak tawaran Harold soal kepindahan rumah!" pinta wanita itu dingin. "Aku tak sudi membiarkan putraku tinggal berdua saja denganmu!" sambungnya sembari menatap Bella penuh kebencian.


Mendengar hal tersebut, Bella mengembuskan napasnya. Lagi-lagi akan selalu saja ada bahan dimana Jessica bisa menyiksa dirinya.


"Aku tidak bisa, Ma. Papa memang benar, kami harus tinggal terpisah karena telah menikah." Bella dengan bernyali memberikan sebuah jawaban yang sangat tidak disukai Jessica.


Wanita itu tentu saja marah besar. Dia menjambak Bella dan mendekati wajahnya.


"Tolak, atau aku akan memberimu pelajaran lebih dari kemarin!" ancam Jessica.


Bella meringis. Tangannya berusaha melepas cengkeraman Jessica pada rambutnya.


"Le—lepaskan aku, Ma!" Bella meninggikan suaranya.


"Kau sudah berani membantah rupanya!" seru Jessica sambil menghempaskan Bella.


Bella menahan pijakannya agar tidak terjerembab ke lantai.


Melihat pertahanan diri yang dilakukan anak tiri sekaligus menantunya tersebut, Jessica semakin marah. Dia bisa saja mencek1k Bella saat itu juga, bila Viola tidak datang menolongnya.

__ADS_1


"Kapan kau kembali? Seharusnya cutimu masih lama, Viola!" tukas Jessica yang terkejut mendapati asisten rumah tangga termudanya, yang juga sahabat baik Bella tiba-tiba muncul.


Jessica sejak awal tidak menyukai Viola yang selalu menjadi garda terdepan Bella. Namun, mau bagaimana lagi, gadis itu dibawa sendiri oleh Harold, jadi Jessica tidak bisa sembarangan memecatnya.


"Saya sudah terlalu lama cuti, Nyonya, jadi saya memutuskan untuk kembali bekerja. Tak perlu khawatir, saya sudah menghubungi Tuan Harold." Viola buru-buru menambahkan kalimat terakhirnya, tatkala Jessica hendak berbicara.


Jessica terlihat kesal. Sebelum memutuskan pergi meninggalkan mereka berdua, wanita itu meminta Bella sekali lagi untuk pindah.


Selepas kepergian Jessica, Viola dan Bella berpelukan erat.


"Anda baik-baik saja, Nona Bella?" tanya Viola khawatir.


Bella memandang Viola penuh keharuan. "Tak pernah sebaik ini, Viola."


Keduanya pun pergi menuju ruang laundry untuk berbincang sejenak.


"Saya sudah mendengar kabar pernikahan Anda dengan Tuan Noah, Nona. Jujur saja saya sangat terkejut. Apa Anda mendapat tekanan untuk menerima pernikahan ini?" tanya Viola khawatir. Matanya seketika mengernyit memandangi wajah Bella.


"Aku tidak mendapatkan tekanan dari mana-mana, Viola. Pernikahan ini terjadi atas persetujuanku juga. Kau tenang saja." Bella tersenyum lembut. "Aku sangat merindukanmu, Viola. Senang kau bisa kembali," ujar gadis itu kemudian sembari memegang tangan Viola.


"Saya juga, Nona ... tapi, tunggu sebentar ...." Viola menghentikan perkataannya tiba-tiba. Gadis manis berusia 25 tahun itu menyentuh pipi Bella, dan sedikit menyongkel permukaan pipinya menggunakan kuku.


Bella tersenyum simpul. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin berdandan sesekali," jawabnya singkat.


"No! No! Anda pasti menyembunyikan sesuatu!" terka Viola. Tanpa memerdulikan protes Bella, gadis itu mengambil handuk bersih dan membasahinya dengan air.


Mata Viola kontan membola, tatkala mendapati lebam yang cukup kentara pada pipi gadis itu. Sudut bibir Bella bahkan lecet.


"Apa yang sudah Nyonya Jessica lakukan, Nona?" tanya Viola. "Katakan!" desaknya saat melihat Bella tak kunjung menjawab.


"Aku tidak apa-apa, Viola. Aku hanya melakukan sedikit kesalahan ... ya, sebenarnya bukan kesalahanku juga," jawab Bella canggung.


"Kesalahan apa?" Viola tampak tak puas mendengar jawaban Bella.


...**********...


Owen tukang kebun baru di keluarga Werner pagi ini telah membuat kesalahan kecil. Pria tua berusia 61 tahun itu secara tidak sengaja memecahkan pot bunga milik Jessica.

__ADS_1


Martha yang mengetahui perbuatan si tukang kebun, lantas membentaknya habis-habisan. Wanita itu bahkan tak segan menghina Owen.


"Dasar bodoh, kau pikir bisa semudah itu .engganti rugi pot bunga mahal milik Nyonya Jessica? Harga diri keluargamu saja belum tentu bisa menggantinya, Pak Tua!" seru Martha.


Owen tertunduk diam. Tangannya yang sedang memegang sekop kecil tampak bergetar.


"Ma—maafkan saya, Nona Martha. Saya akan menghadap Nyonya Jessica sekarang juga," cicit Owen.


"Cih! Kau itu t— argh!" Perkataan Martha tiba-tiba terhenti, tatkala Viola dengan penuh emosi menjambak rambut wanita itu keras-keras.


Selama ini keduanya memang selalu bertengkar demi membela majikan mereka masing-masing. Viola bahkan bisa saja mengadukan semua perbuatan Jessica dan Martha pada Harold, tetapi dia masih menghormati Bella yang dengan tegas melarangnya.


Lagi pula mereka kalah jumlah, sebab sebagian besar asisten rumah tangga di sini lebih memihak pada Martha yang notabene orang kepercayaan ratu kastil ini, dari pada dirinya.


"Berani sekali kau memfitnah Nona Bella!" seru Viola penuh emosi.


"Fitnah apa, sialan?" sahut Martha.


"Aku tahu, kau lah yang telah merusak gaun Nyonya Jessica untuk memfitnah Nona Bella!" katanya.


"Jangan sok tahu, sialan!" Martha meringis sambil terus berusaha melepaskan diri.


"Sok tahu katamu? Siapa lagi di rumah ini yang bisa bertingkah demikian kalau bukan kau!" Viola terus menjambak Martha hingga mereka berdua tersungkur.


Owen dan beberapa asisten rumah tangga lainnya yang melihat kejadian tersebut segera memisahkan keduanya, tak terkecuali dengan Bella.


"Stop, Viola, please!" Melihat air mata yang menggenang di pelupuk Bella, membuat kemarahan Viola mereda.


"Awas saja kau, jangan mentang-mentang bawaan Tuan Harold, kau jadi seenaknya berbuat kurang ajar padaku! Aku akan membuat perhitungan!" seru Martha yang sudah menangis sesenggukan, sambil memegangi helaian-helaian rambutnya yang sudah rontok.


"Seharusnya aku lah yang berbicara seperti itu, Nenek tua!" teriak Viola tak mau kalah.


"Kau benar tidak apa-apa, Viola?" tanya Bella khawatir.


"Ya, setidaknya saya sudah puas membantu Nenek tua itu mengurus rambutnya yang sudah mulai beruban." Viola mengangkat bahunya sembari tertawa kecil, begitu pun dengan Bella. Keduanya pun kembali berpelukan.


"Terima kasih, Viola. Kau selalu saja membantuku," ucap gadis itu lirih.

__ADS_1


"Apa pun untuk Anda, Nona. Anda tidak boleh merasa sendirian. Meski Tuan tidak mengetahui semua hal ini, tetapi Anda masih memiliki saya ... ya, walau pun terkadang, saya harus menghilang sejenak seperti kemarin," kelakarnya demi mencairkan suasana.


Bella kembali tertawa.


__ADS_2