
Matahari sudah mulai meninggi, tatkala seorang wanita cantik terbangun dari tidur lelapnya.
Tepat di sebelah wanita tersebut, terdapat sesosok pria gagah berkulit eksotis yang masih tetap bergelung nyaman dalam balutan selimut, yang menutupi tubuh pol0s mereka.
Maria tersenyum tipis menatap Jason. Wanita itu kemudian mendaratkan kecupan hangatnya pada bibir sang kekasih hati, sebelum kemudian turun dari ranjang mereka.
Setelah memakai kemeja biru Jason yang tercecer di lantai, dekat dengan kakinya, Maria langsung membuka tirai jendela apartemen agar sinar matahari dapat masuk ke dalam ruangan.
Tubuh wanita itu sontak terdiam kaku, tatkala mendapati sesuatu yang terpantul dari kaca jendela apartemen sang kekasih.
Entah mengapa, dari tempat tersebut, Maria dapat melihat pantulan wajah Noah, pria yang pernah dia cintai selama hampir tiga tahun lamanya, berdiri di sebelah wanita itu.
Ini bukan kali pertama 'Noah' muncul dibeberapa kesempatan yang ada. Jauh sebelum itu, tepatnya sejak Maria memutuskan pergi bersama Jason, dan meninggalkan Noah pada hari pernikahan mereka satu minggu yang lalu.
Maria sadar kehadiran 'Noah' yang hampir setiap saat selalu datang mengusik, adalah bentuk dari ketidakmampuan diri melupakan pria itu.
Jason memang selalu menjadi pria pertama di hati Maria, tetapi bukan berarti dia tidak memiliki sedikit saja perasaan cinta pada Noah, terlebih mereka telah bersama selama hampir tiga tahun.
Aku mencintaimu, Maria!
Maria tersentak kala tiba-tiba suara Noah yang tak pernah muncul, terdengar jelas di telinganya.
Kaki wanita itu semakin kehilangan tenaga, saat mendapati bayangan wajah Noah tengah tersenyum sinis padanya.
Tidak! Pilihanku tidak pernah salah! Aku mencintai Jason. Hanya Jason lah satu-satunya pria yang aku inginkan!
Dalam hati, Maria terus merapalkan kalimat tersebut demi menenangkan diri.
Namun, perasaan gelisah tersebut semakin saja mengikat hati Maria.
Wanita itu mundur satu langkah. Baru saja dia hendak melangkah pergi dari sana, sepasang tangan tiba-tiba melingkari perutnya.
Sedetik kemudian bayangan Noah hilang.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" Suara Jason terdengar parau di telinga Maria. Pria itu benar-benar baru saja terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Maria diam-diam bernapas lega. Dia tersenyum sambil memegangi tangan Jason yang melingkari perutnya. "Kau tertidur pulas sekali, aku jadi tidak tega mengganggumu."
Jason membenarkan posisinya dan semakin merapatkan diri pada sang kekasih. "Bagaimana tidak, kita baru saja tidur jam tiga pagi, ingat?" Tawa kecil keluar dari mulut pria itu.
Maria membalas tawa Jason. "Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini, Tuan tukang tidur?" tanya wanita itu kemudian, sembari berbalik badan menghadap Jason.
Jason menatap Maria dari atas ke bawah sambil tersenyum mencurigakan. "Bagaimana kalau menambah lagi bab semalam? Rasa-rasanya masih ada sesuatu yang kurang kukerjakan," ujar Jason seraya menatap bel4h4n d4d4 Maria yang tidak tertutup sempurna.
Kemeja miliknya yang kebesaran dipakai wanita itu, membuat sesuatu yang lain di dalam diri Jason bangkit kembali.
Maria sontak tertawa saat Jason mengangkat dan membawanya ke kamar mandi.
"Hei, kita bisa jatuh!" pekik Maria, tatkala Jason sudah mulai memancing dirinya dalam perjalanan menuju ke kamar mandi.
"Tidak akan, aku pandai melakukan apa pun padamu," jawab Jason di sela-sela kegiatannya menambah tanda kepemilikan pada aset milik Maria.
Maria menggigit bibirnya. Bayangan Noah yang sempat dia takutkan tadi, menguap entah ke mana.
...**********...
"Bodoh sekali kau, Bella! Sudah kubilang untuk mencuci gaun putihku secara terpisah!" Suara keras Jessica menggelegar memenuhi lantai tiga rumah ini.
Semalam Jessica meminta Bella untuk mencuci gaun putihnya, sebab akan menghadiri acara makan malam dengan beberapa teman-teman semasa kuliah, dalam acara penggalangan dana, sekaligus reuni kecil-kecilan yang diadakan mereka.
Namun, apa yang terjadi? Bella malah dengan bodohnya mencampurkan gaun tersebut bersama pakaian berwarna, hingga mengakibatkan gaun putih Jessica berubah kusam.
Jessica marah bukan main. Dia menampar Bella berkali-kali hingga lebam, sebelum kemudian mendorongnya dengan sangat keras, sampai-sampai gadis itu terjerembab di lantai. Tak hanya itu saja, Jessica menginjak tangan Bella dan juga merobek satu-satunya gaun termahal yang Bella miliki, pemberian dari Harold.
Bella menangis sesenggukan sembari terus menggumamkan kata maaf pada sang ibu.
Bella tahu ini adalah ulah Martha, sebab dia sama sekali belum menyentuh gaun Jessica sejak semalam. Namun, Bella tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya, karena Jessica tentu saja tidak akan pernah percaya.
"Aku harus menghadiri acara tersebut lima jam lagi, sialaaaan!" teriak Jessica sekali lagi.
Emosinya yang semakin membara, membuat Jessica dengan kejam mengambil detergen cair dari tempatnya, lalu memaksa Bella meminum detergen tersebut.
__ADS_1
Jessica dengan kasar mencengkeram mulut Bella agar terbuka.
Bella yang ketakutan menutup rapat-rapat mulutnya. Akan sangat berbahaya bagi gadis itu bila tertelan sedikit saja, dan dia tidak ingin mati konyol.
"Minum sialan, minum!" Jessica semakin mengamuk. Hal itu membuat Martha ikut ketakutan.
Bagaimana tidak, kemarahan Jessica pada Bella kali ini benar-benar di luar kebiasaannya.
Martha menebak, bila kemarahan yang kini diluapkan Jessica bukan hanya tentang gaun putih yang sengaja dia kotori guna memfitnah Bella, melainkan juga tentang pernikahan anaknya, Noah.
Jessica memang sangat mencintai Noah, tetapi terkadang Martha merasa sikap sayang yang ditunjukkan Jessica terhadap Noah terlalu berlebihan.
Pasalnya, Jessica sebenarnya bukanlah ibu kandung pria itu. Harold menikahi Jessica tepat beberapa bulan setelah kematian Zara, istri pertamanya, yang meninggal karena melahirkan Noah, dan Noah tentu saja mengetahui kenyataan tersebut.
"Buka mulutmu, sialan! Aku tak peduli kau mati saat ini juga!" seru Jessica yang masih berusaha membuka mulut Bella. Cairan detergen bahkan sudah banyak tertumpah di tubuh Bella.
Tak ingin majikannya terkena masalah, Martha segera memisahkan Jessica dari Bella.
"Lepaskan aku, lepaskan!"
Martha berteriak memanggil beberapa asisten rumah tangga yang lain, untuk membantu membawa Jessica pergi.
Sementara Bella ditinggalkan begitu saja di sana. Terbaring tanpa daya dengan lelehan air mata yang sudah mengalir deras membasahi pipinya.
"Mom, Dad." Kerinduan pada mendiang kedua orang tuanya menyeruak menghantam batin Bella.
...**********...
Emosi menguasai diri Noah, tatkala mendapati Bella sedang tertidur nyaman di atas ranjangnya. Dia bahkan dengan berani memakin selimut kesayangannya.
Pria yang baru pulang dari kantor itu segera melangkah menghampiri ranjang.
"Sudah kubilang untuk tidak menyentuh ranjangku, wanita sial!" seru Noah marah sembari melayangkan tendangan agar Bella jatuh dari ranjang.
Suara debaman terdengar. Namun, tidak ada tanda-tanda gerakan dari Bella.
__ADS_1
Noah yang penasaran berjalan menghampiri Bella lebih dekat dan membuka selimutnya.
Pria itu terkejut bukan main, saat mendapati Bella dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan wajah lebam.