Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
22. Kekacauan.


__ADS_3

Tak ada yang lebih dipikirkan Bella saat ini, kecuali perkataan yang baru saja dia dengar dari ayah angkatnya, Harold. Gadis itu bahkan sampai melupakan sejenak perihal perselingkuhan Noah bersama wanita bersurai merah yang ditemuinya kemarin.


Bagaimana tidak, sang ayah ternyata telah berencana pergi ke Gargania –ibu kota negara Veroxia, minggu depan dan menghabiskan tahun di sana.


Harold sebenarnya tidak pergi sendirian ke sana, sebab sang istri akan ikut bersamanya. Namun, tidak dalam waktu yang bersamaan, karena Jessica masih harus menyelesaikan beberapa urusan terlebih dahulu, dan itulah yang membuat pikiran Bella dihantui kekalutan sekarang.


Yah, ketika Harold masih berada di sini saja, perlakuan Jessica padanya sangat beringas, bagaimana bila tidak ada?


Walau sekarang dia hidup terpisah di apartemen Noah, tetap saja Bella yakin ada celah bagi Jessica dan Martha untuk menyakitinya. Belum lagi hubungan dengan sang suami yang tidak pernah baik-baik saja.


Meski status mereka kini sepasang suami istri, Noah pasti akan tetap menutup mata seperti yang selama ini dia lakukan.


Bella ingin mengungkapkan perasaannya dengan melarang sang ayah tercinta pergi, sebab, kehadiran beliau lah yang selama ini menjadi salah satu dari sedikit kekuatan yang Bella miliki, untuk tetap bertahan. Namun, apa daya, Bella tak ingin menghancurkan kesenangan beliau yang telah lama merencanakan liburan panjangnya pasca pensiun.


"Bella, kau melamun, Nak?" Harold membuka suaranya, tatkala mendapati sang putri tengah terdiam saja di meja pantry, sembari memegang pisau. "Hati-hati, kau sedang memegang pisau!" Sambung pria itu khawatir.


Bella sontak tersadar dari lamunannya. "Ahh, maaf, Pa," ucap gadis itu canggung. Saat ini dia sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berempat sambil menunggu kedatangan ibu tiri sekaligus mertuanya, Jessica.


Seperti yang dikatakan Harold sebelumnya, Jessica akhirnya datang menyusul ke apartemen, ketika Bella hampir selesai menyiapkan makan malam. Wanita itu membawa berbagai macam hidangan mewah serta buah-buahan kesukaan Noah.


Mendung mendera wajah Bella kala melihat wajah penuh terima kasih Noah. Padahal ini adalah kesempatan pertama baginya membuatkan hidangan terbaik untuk sang suami, tetapi sepertinya Bella harus mengubur dalam-dalam kesempatan tersebut.


Mendapati sang menantu ternyata sedang memasak, Jessica berpura-pura tak enak hati. "Bella, Mama tidak tahu kau sedang menyiapkan makan malam untuk kita," ucapnya sedih. "Kalau begitu, lebih baik makanan yang Mama bawa disimpan saja."


"Tidak apa-apa, Ma! Aku dan Kak Noah masih bisa memakan ini nanti." Bella dengan ramah membantu Jessica menyiapkan makanan yang dia bawa.


"Begini saja, hidangan yang sudah siap, biar kita makan sama-sama. Papa juga sudah lama tidak memakan masakanmu, Sayang," ujar Harold memberi solusi.

__ADS_1


Jessica mengangguk pura-pura menyetujui solusi yang diberikan sang suami.


Secercah harapan terbit di wajah cantik Bella. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sebab saat makan malam berlangsung, baik Jessica maupun Noah sama sekali tidak menyentuh makanan yang dia masak. Hanya Harold saja yang sesekali mengambil makanannya, sembari mengingatkan mereka berdua untuk ikut mencicipi.


"Aku bisa memakannya nanti, Pa," ucap Noah. Sementara Jessica terpaksa mengambil sesendok lauk Bella, demi menuruti perintah sang suami.


Akan tetapi, tak seperti yang dia katakan di hadapan sang ayah tadi, sampai keduanya pulang pun, Noah tetap enggan menyentuh makanan Bella. Pria itu malah dengan kejam membuang semua makanan yang Bella masak ke tempat sampah tanpa sisa.


"Kenapa makanannya dibuang? Aku bisa menghabiskannya sendiri!" seru Bella dengan mata terbelalak.


Noah bergeming. Pria itu tidak menjawab pertanyaan Bella, dan memilih pergi meninggalkan gadis itu menuju kamar pribadinya.


"Aku membeli semua bahan makanan itu menggunakan uang pribadiku sendiri. Kalau memang tidak suka, cukup jangan dimakan, bukan dibuang!" seru Bella kesal sambil menatap punggung Noah.


Maklum saja, dia bukan seorang Noah yang memiliki banyak uang. Setiap dana yang keluar dari kotak penyimpanannya harus Bella rinci dan hitung dengan sangat hati-hati. Apa lagi dia masih harus menunggu gaji pertamanya datang.


Mendengar perkataan Bella yang cukup bernyali, Noah tiba-tiba berbalik sambil merogoh dompetnya.


"Ini sebagai pengganti makanan busukmu! Jangan harap kau mendapatkannya lagi dariku, wanita si4l!" umpat Noah seraya melempar lembaran-lembaran uang tersebut ke wajah Bella keras. Dia bahkan sempat menginjak-injak beberapa lembar uang yang terjatuh ke lantai lebih dulu, sebelum kemudian pergi meninggalkannya.


Bella mengusap air matanya yang mulai menggenang.


...**********...


"Bella! Kapan pekerjaanmu akan selesai kalau kau terus saja melamun!" bentak Queen yang tengah berdiri tepat di hadapannya.


Bella yang sedang sibuk menurunkan kursi dan mengelap meja-meja di kantin, sontak terkejut. Dia langsung membungkuk seraya meminta maaf pada seniornya tersebut.

__ADS_1


Ini adalah kali ketiga Bella mendapat bentakan Queen. Bella sadar sejak pagi ada saja pekerjaan yang tak kunjung tuntas ditunaikan.


Gadis itu benar-benar tak bisa mengesampingkan pikirannya soal Harold, Noah, dan pekerjaan.


"Sudah, sudah, biar Nora saja yang membereskannya. Lebih baik kau rapikan gudang belakang!" titah Queen sambil memelototi Bella.


"Queen, bukankah aku harus menyiapkan makan siang?" tanya Bella.


"Bagaimana kau bisa berdiri di sana, kalau kerjamu sejak tadi hanya melamun saja! Hari ini lebih baik kau bersihkan gudang, dan jangan membantah!" sentak Queen, tatkala Bella nyaris memotong pembicaraannya.


Bella mengangguk lesu. Dia tidak menyalahkan Queen yang hari ini bersikap keras padanya.


Dengan langkah gontai dan tertunduk, Bella berjalan masuk ke dalam kantin. Gadis itu sama sekali tidak menyadari teman seprofesinya, Peter, sedang kerepotan membawa setumpuk gelas bersih.


PRAANK!


Dalam hitungan detik, tumpukan gelas-gelas yang dibawa Peter jatuh berhamburan ke lantai setelah Bella tanpa sengaja menabraknya. Pecahan beling sontak terpental di mana-mana.


Para karyawan sigap berlari keluar guna membantu Peter dan Bella, yang kini tengah meminta maaf dengan mata basah.


Queen murka. Dia mendorong Bella dan membentaknya kasar. Gadis itu bahkan melempar wajah Bella dengan lap kotor yang ada di dekatnya.


"Ada apa ribut-ribut?" tanya Willy yang baru saja datang. Pria itu terkejut mendapati kekacauan yang terjadi di sana, padahal jam makan siang akan berlangsung satu jam lagi.


"Sejak pagi karyawan kebanggaanmu ini membuat masalah! Tanyakan pada mereka!" seru Queen marah.


Willy mengalihkan pandangannya pada Bella yang kini berdiam diri sambil menangis. Embusan napas keluar dari mulut pria itu.

__ADS_1


"Bella, ikut aku ke ruangan. Kalian semua, tolong bantu Peter membersihkan semua ini, dan kau Queen, kita akan bicara setelah ini," ujar Willy seraya melangkah perlahan melewati para karyawannya.


Tanpa berkata apa-apa Bella mengikuti Willy.


__ADS_2