
"Apa lagi sekarang?" Hanya itu yang bisa diucapkan Harold begitu mendengar kabar dari perawat, bahwa golongan darah sang putra tunggal tidak sama dengannya. Beruntung di sisi lain, Bella bisa mendapatkan donor dari bank darah tepat waktu.
Noah sendiri kini sedang terduduk lemas di lantai rumah sakit. Wajahnya masih terlihat syok.
Harold berjalan menghampiri Noah dan memegang kedua pipinya. "Pasti ada kesalahan, Noah!" seru pria itu, berusaha menenangkan hati sang putra tercinta.
Noah bergeming, tampak enggan membalas tatapan ayahnya.
Melihat kerapuhan pada diri Noah, yang selama ini tak pernah dilihat olehnya, Harold lantas memeluk tubuh sang putra erat. Entah mengapa, tiba-tiba pria itu memikirkan Jessica. Dalam hati, dia memiliki keyakinan bahwa Jessica mengetahui sesuatu soal ini. Namun, Harold mencoba menahan diri, setidaknya sampai Bella keluar dari ruang operasi.
Sekitar satu jam kemudian, dokter bedah yang menangani Bella keluar dari ruang operasi. Viola dan Emma refleks bangun dari kursi mewakili kedua majikannya yang masih terduduk di lantai. Kendati begitu, mereka turut memerhatikan sang dokter.
"Operasi berjalan dengan baik. Gumpalan di kepala Nyonya Arabella sudah dapat teratasi. Beruntung otaknya tidak mengalami cedera berat. Untuk selanjutnya, kita tunggu Nyonya Arabella sadar. Sekarang, kami akan memindahkannya ke ruang ICU," kata sang dokter.
Sekitar lima belas menit kemudian, brankar yang membawa Bella keluar dari ruang operasi bersama beberapa orang perawat.
Noah, Harold, Viola, dan Emma tak bisa menahan kesedihan begitu melihat keadaan Bella yang cukup memprihatinkan dengan selang infus dan kabel yang menempel di tubuhnya. Belum lagi kepala gadis itu terlilit perban.
Noah berjalan menghampiri brankar dan meminta izin kepada perawat untuk menyentuh Bella.
"Silakan." Begitu perawat mengizinkan, Noah segera menggenggam tangan Bella dan menciumnya dengan sangat hati-hati, sebelum kemudian membiarkan para perawat membawa sang istri pergi.
__ADS_1
...**********...
Jessica yang tengah duduk termenung di atas ranjang bersama Martha, tiba-tiba bangkit ketika mendengar suara pintu dibuka. Wanita itu berlari sambil menangis, begitu melihat sosok sang suami masuk ke dalam kamar dengan sang anak.
"Harold, Honey, mereka mengurung diriku di dalam kamar berjam-jam, sebab mengira aku akan kabur, padahal aku hanya ingin menyusulmu ke rumah sakit!" seru Jessica sambul menangis sesenggukkan.
"Aku ... aku ingin meluruskan fitnah yang mereka katakan pada kalian, Sayang. Semua yang kau dengar adalah kebohongan!" Jessica mencoba membela diri. Dia bahkan memegang tangan sang suami, demi meyakinkan pria itu. Namun, Harold malah melepaskan tangan Jessica, dan mengalihkan pandangannya ke pojok ruangan.
"Lalu, untuk apa koper itu kau keluarkan?" tanya Harold dingin.
Jessica tersentak kaget. Wajahnya seketika panik dan segera menyuruh Martha untuk memasukkan koper tersebut ke dalam lemari lagi.
"Apa yang kau lakukan, Harold? Hanya demi membela gadis yang jatuh karena kecerobohannya sendiri kau sampai hati menamparku!" sentak Jessica.
Harold mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Katakan, siapa Noah sebenarnya."
Mendengar perkataan sang suami, Jessica refleks membelalakkan matanya dan menoleh kepada Noah. Sang putra kini sedang memandangi dirinya dengan tatapan bengis.
"A—apa mak—maksudmu?" tanya Jessica dengan memasang wajah bingung. "Aku tidak mengerti!" sambungnya.
Noah hendak bicara, tetapi Harold segera menahannya. Pria paruh baya itu melempar selembar kertas ke wajah Jessica.
__ADS_1
Jessica refleks menangkapnya dan membaca isi kertas tersebut. Wajah wanita itu seketika pucat pasi.
"Golongan darahku A, sementara Zara O. Tak mungkin Noah memiliki golongan darah B," ucap pria itu kemudian.
"Lalu, apa hubungannya denganku? Aku tidak mengerti!" kata Jessica gemetaran.
Melihat sorot ketakutan di wajah sang istri, membuat kecurigaan Harold padanya semakin bertambah. Kini, dia yakin sekali Jessica mengetahui sesuatu.
"Katakan yang sebenarnya, atau aku akan menghancurkan hidupmu, Jessica!" teriak Harold. Pria itu kembali menampaar pipinya lagi. Tampaaraannya kini bahkan sampai membuat bibir Jessica terluka.
Jessica tertawa keras. "Hancurkan saja! Aku tak takut, sebab hidupku memang sudah hancur, Harold!" balasnya.
Harold terpancing emosi. Dia menyeret tubuh Jessica keluar dari kamar dan menghempaskannya ke lantai. "Kalau begitu, kau pasti tidak akan keberatan merasakan apa yang baru saja Bella rasakan tadi!" serunya marah.
Para penghuni rumah yang menyaksikan kemarahan Harold, tidak berani campur tangannya. Noah yang hendak menghentikan perbuatan sang ayah saja terlihat diam di tempat masing-masing. Entah mengapa seluruh tubuh pria itu mendadak kaku.
Detik itu lah, Martha yang berdiri di belakang Harold dan Noah menangis hebat. Mereka tak bisa lagi berkilah. Jalan buntu tepat di berada di hadapan mereka.
"Tuan Harold, Tuan Noah, maafkan Nyonya," ucap gadis itu memulai perkataannya.
Jessica kontan saja melotot. Sekuat tenaga dia memberi Martha isyarat, dengan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Namun, Martha sepertinya berpura-pura tidak melihat.
__ADS_1