Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
16. Tugas Istri.


__ADS_3

Bella menjalani hari pertamanya di kantor Werner Company dengan sangat baik, meski beberapa kali dia harus menghadapi sikap Queen yang sepertinya kurang menyukai dirinya.


Ada saja poin kesalahan yang diberikan Queen pada Bella hari ini, dari mulai meletakkan sabun cuci tangan di wastafel, hingga lauk pauk pada baki prasmanan yang harus langsung diisi padahal masih cukup banyak.


Kendati demikian, Bella tetap bersemangat menjalani sisa harinya di sana. Terlebih jam kerjanya tidak terlalu lama, hanya dari jam delapan sampai jam tiga sore saja bila tidak ada barang datang, dengan begitu dia bisa sampai di rumah sebelum Noah pulang.


Akan tetapi, bagaimana bila barang atau bahan makanan datang? Bella belum memikirkan hal tersebut, padahal itu merupakan bagian pekerjaannya.


Semula dia pikir, bahan makanan akan datang beberapa hari lagi. Jadi dia masih bisa memiliki waktu untuk mencari alasan pada Noah. Namun, ternyata tidak demikian.


"Bella, sore nanti ada barang datang, bantu yang lainnya. Catat semua stok yang datang dan jangan sampai terlewat!" titah Queen pada Bella yang baru saja selesai merapikan baki-baki prasmanan. Kantin karyawan di tempat Bella bekerja hanya akan buka sampai jam dua siang saja. Jadi, bila ada yang ingin membeli makanan lagi, mereka harus keluar kantor atau ke kantin kedua di lantai sepuluh, yang buka sampai jam kantor selesai, yaitu jam empat sore.


"Baik." Bella mengangguk patuh. Meski gamam dengan jam kepulangan yang tidak sesuai, dia tetap harus melaksanakan kewajibannya.


Embusan napas keluar dari mulut Bella. Sepertinya dia harus bersiap jika Noah akan memukul atau memakinya lagi.


"Bella!"


Teriakan seseorang menyadarkan lamunan gadis itu.


"I—iya, maaf," ucap Bella.


"Bisa tolong antarkan dua galon air ini ke kantin lantai sepuluh? Mereka kekurangan stok dan tidak bisa menunggu sampai galon baru datang," ujar Peter, salah seorang karyawan kantin berusia 25 tahun.


"Baik." Jawab Bella sopan. Kendati lebih muda, Peter merupakan senior Bella di sana.


Gadis itu pun bergegas menuju gudang penyimpanan air dan meletakkan dua buah galon ke dalam keranjang khusus, agar lebih mudah dibawa.


"Jangan lupa untuk menukarnya dengan galon kosong mereka, Bella!" teriak Peter pada Bella yang sudah keluar dari dalam kantin sembari menarik keranjang khusus tersebut.


"Oke!"


...**********...

__ADS_1


"Batalkan pertemuan dengan Tuan Chester. Katakan aku akan menemui mereka besok pagi," titah Noah pada Celine, sambil memijit pelipisnya yang terasa sakit.


"Baik, Tuan." Celine mengangguk patuh. Wanita itu bergegas mengirim email pada sekretaris Tuan Chester, sebelum kemudian mencatat ulang jadwal pertemuan dengan kolega penting mereka tersebut.


Melihat kondisi sang atasan yang tidak dalam keadaan biasanya, Celine pun membuka suara. "Anda tidak apa-apa, Tuan?"


"Hanya pening sedikit." Jawab Noah sembari melangkah masuk ke dalam lift. Tiga hari terakhir pria itu memang nyaris tidak tidur, karena harus mengurus proyek perngkat lunak yang dia pimpin. Oleh sebab itu dia memilih pulang lebih cepat dan membatalkan pertemuan terakhirnya.


Keinginan Noah saat ini hanya satu, yaitu bisa tidur dengan nyaman di ranjanga besarnya.


Sementara Bella dengan susah payah mendorong dua galon tersebut hingga ke depan lift.


Setelah menunggu beberapa saat, lift kemudian terbuka. Namun, alangkah terkejutnya Bella, tatkala mendapati sosok suaminya berdiri di dalam sana bersama seorang wanita.


Bella refleks menunduk demi menyembunyikan wajahnya. Kendati masih memakai masker, tetap saja Bella takut kalau sang suami menyadari keberadaannya.


Bella terus menunduk tanpa menggerakan badannya sama sekali, hingga tiba-tiba dia melihat sepatu seorang pria berhenti persis di hadapannya.


"Nona, bisakah Anda memberikan jalan untuk Tuan Werner?" Celine yang berdiri di belakang Noah membuka suaranya.


Noah mengerutkan keningnya. "Apa dia bisu?"


"Sepertinya tidak, Tuan."


Bella masih dapat mendengar percakapan yang terdengar dari mereka berdua setelah berhasil melewati dirinya.


Tanpa pikir panjang, Bella bergegas masuk ke dalam lift. Gadis itu sontak menyandarkan tubuhnya pada dinding, begitu lift tertutup, sembari melepas helaan napasnya. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi dirinya menahan napas.


...**********...


Bella baru tiba di rumah pukul setengah tujuh malam, karena bahan makanan yang dipesan ternyata terlambat datang hampir dua jam lamanya.


Kendati hari pertama Bella cukup canggung dan sedikit berat, gadis itu tetap merasa senang. Sebab karena dengan bekerjalah dia bisa pergi menghirup udara luar.

__ADS_1


Lemparan kotak tisu menyambut kedatangan Bella di apartemen. Beruntung kotak tisu tersebut tidak mendarat di wajahnya.


Bella membelalakkan matanya tatkala mendapati Noah berdiri tak jauh dari sana dengan wajah marah..


"Ke mana saja kau?" tanya pria itu dingin.


"A—aku baru saja kembali dari panti. Aku sudah lama tidak mengunjungi panti," jawab Bella dengan suara sedikit bergetar. Dia berusaha terlihat setenang mungkin di hadapan sang suami, meski degup jantungnya meronta-ronta.


"Siapa yang mengijinkanmu keluar?" Noah berjalan perlahan mendekati Bella.


Bella mundur dua langkah.


"Lancang se—" Noah tak sempat menyelesaikan perkataannya karena tiba-tiba tubuhnya tumbang menabrak Bella.


Bella dengan segap menangkap tubuh Noah. Gadis itu sontak jatuh terduduk karena tak mampu menahan bobot tubuh sang suami.


"Kak!" panggil Bella seraya menepuk-nepuk pipi Noah.


Dari jarak dekat gadis itu bisa melihat dengan jelas wajah pucat sang suami. Belum lagi suhu tubuhnya yang panas. Pria itu sedang sakit.


Tak kuat mengangkat tubuh Noah, membuat Bella terpaksa meminta bantuan security apartemen mereka melalui telepon darurat yang tertera tak jauh dari pintu masuk apartemen.


"Terima kasih, Pak," ucap Bella pada kedua security yang membantunya memindahkan Noah ke kamar.


"Sama-sama, Nyonya. Jangan sungkan untuk menghubungi kami lagi bila butuh bantuan," ujar salah seorang security.


Bella mengangguk.


Sepeninggal kedua security tersebut, Bella dengan telaten mengompres kening Noah secara manual menggunakan kain basah. Tak lupa dia juga mengganti kemeja tidur Noah dengan kaos tipis agar panas tubuhnya bisa keluar.


Bella sebisa mungkin bersikap biasa. Biar bagaimana pun, hal seperti ini memang salah satu tugasnya sebagai seorang istri, dan dia harus bisa mengatasinya.


Senyum simpul Bella seketika mengembang, ketika mendapati wajah Noah tak lagi menimbulkan raut kegelisahan seperti sebelumnya. Gadis itu bahkan bisa mendengar dengkuran halus yang keluar dari mulut sang suami.

__ADS_1


"Kau memang sangat berbeda bila sedang tidur, Kak," gumam Bella dengan suara nyaris tak terdengar. Setelah memastikan kondisi Noah sekali lagi, dia pun bergegas pergi keluar untuk membeli bubur dan obat.


__ADS_2