Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
35. Air mata Arabella.


__ADS_3

Seolah terhipnotis Bella membiarkan dirinya terkurung dalam dekapan hangat Noah. Gadis itu bahkan membiarkan Noah mengubah posisi mereka dan memperdalam ciuuman mesranya.


Degup jantung Bella sontak bergemuruh, seiring dengan langkah tangan Noah yang semakin berani. Tak hanya bibiir Bella saja kini yang menjadi target Noah, tetapi juga leher jenjangnya yang halus tanpa cela.


Bella terbuai kala bibiir tipis sang suami mulai menjelajahi lehernya dan memberikan tanda kepemilikan di sana.


Seolah tak ingin lepas, gadis itu mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Noah dan membalas perbuatannya.


Lidah mereka kembali saling membeliit, seolah tak mau kalah mendominasi.


Noah semakin menggila, tatkala suara merdu Bella tanpa sadar terdengar di telinganya. Tangan pria itu kini semakin bersemangat menjelajahi pinggang ramping Bella guna memberikan rema4s an lembut. Sementara tangan yang satunya berhasil menggapai kancing blouse Bella dan membukanya sampai sebatas daada.


Bella menginginkan lebih, begitu pula dengan Noah. Namun, ketika tangan Noah yang berada di pinggang Bella mulai merambat ke atas untuk menyentuh dua bagian sensiitifnya, tubuh gadis itu tiba-tiba memberontak.


Kesadaran Bella yang sempat hilang terbuang, kini kembali seketika.


Noah yang sudah gelap mata tentu saja berusaha menahan tubuh gadis itu dengan kedua kakinya, agar tidak semakin memberontak. Noah bahkan dengan kasar merobek pakaian Bella dan berhasil menggapai dua aset berharga miliknya.

__ADS_1


Pria itu mem1liin dan menggigitnya keras. Dia juga menggigit leher Bella guna memberikan tanda kepemilikan di sana


Bella mulai menangis ketakutan. Dia memang mencintai Noah, tetapi bukan berarti gadis itu rela memberikan segalanya. Tidak dengan cara seperti ini.


Noah jelas-jelas tidak mencintainya. Sebagai pria, dia hanya terbawa suasana, dan Bella tidak akan membiarkan hal ini terjadi.


Sekuat tenaga dia menendang keras perut Noah hingga terjungkal ke lantai. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, gadis itu segera pergi dari kamar Noah.


Noah tersentak. Matanya terbelalak lebar kala menyadari perbuatannya pada Bella barusan.


"Shiiit!" makinya pada diri sendiri.


"Aku tidak mencintainya! Aku tidak menginginkan dirinya!" Bagai sebuah mantra, Noah terus merapalkan kata-kata yang sama seraya menjambak rambutnya.


Bella menyembunyikan diri di kamar mandi lantai satu. Gadis itu menatap pakaiannya yang sudah terkoyak compang-camping. Belum lagi tanda kepemilikan dan luka yang diberikan Noah di lehernya.


Air mata tidak berhenti mengalir membasahi pipi Bella. Gadis itu merasa malu saat sadar, bahwa dia juga sempat menginginkan hal itu terjadi.

__ADS_1


Sambil menangis sesenggukkan Bella mengguyur lehernya dengan air dan mulai menggosok-gosokkan sabun di sana. Berharap tanda yang diberikan Noah bisa hilang. Namun, semakin keras Bella berusaha, memaar di lehernya malah semakin nyata dan melebar.


Bella yang marah melempar sabun tersebut ke sembarang arah. Gadis itu terduduk lesu di lantai sembari menyembunyikan wajahnya.


...**********...


Semakin hari Viola semakin uring-uringan, karena tidak mendapatkan petunjuk lebih.


Sementara tanpa sepengetahuan Viola, Martha sebenarnya sudah tahu bahwa gadis itu tengah menyelidiki mereka berdua.


Siapa lagi kalau bukan dari orang-orang suruhan Jessica yang lain. Kendati wanita itu sedang berada jauh di luar negeri, dia tetap memantau keadaan rumah melalui orang-orang suruhannya tersebut, salah satunya adalah Martha.


Jessica tidak akan membiarkan satu orang pun tahu rahasia yang telah dia sembunyikan.


"Apa yang harus kita lakukan pada gadis itu, Nyonya?" tanya Martha melalui sambungan telepon.


"Tetap awasi. Kita tak bisa sembarangan menghabisinya, sebab suamiku lah yang membawa Viola ke sana!" jawab Jessica.

__ADS_1


"Baik, Nyonya!" Meski kesal dengan jawaban Jessica, Martha tetap menuruti perintah wanita itu.


__ADS_2