Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
40. Kerinduan.


__ADS_3

Bella sedang sibuk membantu mengurus anak-anak panti yang masih berusia balita, ketika salah satu anak panti yang lebih besar tiba-tiba berlari masuk menghampirinya.


"Kak Bella, Kak Bella!"


"Ada apa Alvin?" tanya Bella keheranan. Gadis itu dengan cekatan memakaikan Lea, anak panti berusia enam tahun, baju terusan berwarna coklat. Tak lupa, sebuah jepitan disematkan Bella pada rambut Lea.


"Terima kasih, Kakak," ucap Lea dengan suara lucunya.


"Sama-sama, Cantik." Bella tersenyum simpul, sembari menjawil pipi gembil Lea.


"Ada seorang paman tampan yang ingin mencari Kakak!" Alvin kembali membuka suaranya.


Mendengar perkataan Alvin, Bella sontak mengerutkan keningnya. "Paman tampan? Siapa Al?" tanya gadis itu tak mengerti.


"Iya, Paman tampan! Namanya kalau tidak salah—"


"Bella." Pembicaraan Alvin terpotong, ketika Michelle, salah seorang pengurus panti di sana, datang dan menghampiri Bella. Wanita berkulit eksotis itu berkata dengan nada pelan, bahwa sang suami kini tengah menunggunya di ruang tamu.

__ADS_1


Bella kontan saja terkejut. Gadis itu sama sekali tidak menyangka, Noah dapat menemukannya di sini.


"Mom, tolong katakan aku tidak ada di sini!" seru Bella meminta tolong.


"Anak-anak tidak bisa berbohong, Nak. Mereka kini tengah mengerubungi suami di sana," jawab Michelle.


Bella tertunduk. Kedua tangannya sibuk memilin dress yang dia pakai, tanda bahwa gadis itu tengah gugup dan kebingungan.


"Bella," panggil Michelle.


Bella mengangkat kepalanya. "Aku ... Mom, bisakah aku tidak menemuinya dulu?" tanya Bella dengan sorot mata nanar.


"Mom," panggil Bella lirih.


Michelle menghela napas sejenak, lalu memegang bahu Bella. "Baiklah. Kau tetap di sini ya?"


Bella menganggukkan kepalanya berkali-kali sambil mengucapkan kata terima kasih.

__ADS_1


Michelle pun keluar dari kamar dan mengajak Alvin keluar. Wanita berusia 47 tahun itu pergi menemui Noah.


"Maafkan aku, Bella ternyata sedang ikut pengurus panti lain ke kota. Biasanya mereka akan lama pulang. Apa Nak Noah mau menunggu di sini saja?" ujar Michelle begitu sampai di ruang tamu.


Mendengar pemberitahuan dari Michelle, Noah berusaha tidak terlihat kecewa. Dia pun bangkit dari sofa. "Kalau begitu, aku akan kembali lagi besok. Sampaikan salamku untuknya, Mrs. Michelle," pesan Noah.


Michelle menganggukkan kepalanya. Wanita itu mengantar kepergian Noah keluar gedung panti.


Bella berlari menuju lorong panti, mengintip sosok sang suami yang sedang berjalan menuju mobil, dari salah satu sisi jendela yang terbuka.


Kendati hatinya masih merasa takut dan kecewa, tetapi Bella tak bisa memungkiri kerinduan yang datang membelenggu hatinya.


Saat Noah sudah masuk ke dalam mobil, tanpa sengaja pria itu menangkap siluet seseorang yang sangat dia kenal, di salah satu jendela panti, yaitu Bella, istrinya.


Mengetahui bahwa dirinya baru saja dibohongi, lagi-lagi Noah harus menelan kekecewaan mendalam. Pria itu bahkan sempat berniat untuk menarik paksa Bella pergi dari sana. Namun, Noah buru-buru menepis niatnya tersebut, karena tidak mau Bella semakin membenci dirinya.


"Aku merindukanm," gumam Noah, sebelum akhirnya pergi meninggalkan panti asuhan.

__ADS_1


Bella masih tetap berada di sana selama beberapa saat, meski sang suami tidak lagi terlihat. Sebutir air mata mengalir membasahi pipinya.


"Aku merindukanmu," gumam Bella lirih.


__ADS_2