Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
6. Janji Harold.


__ADS_3

Sebenarnya ada alasan lain mengapa Noah mau menerima tawaran pernikahan sang ayah. Selagi menunggu kedatangan Bella ke gereja waktu itu, Harold mengajak Noah berbincang berdua. Beliau menawarkan jabatannya pada sang putra dan berjanji akan mengangkatnya sebagai pemimpin Werner Company jika mau menikahi Bella.


Saat ini Noah menjabat sebagai COO (Chief Operating Office), yang posisinya berada persis di bawah sang ayah, CEO. Pria itu sudah lama mengidamkan posisi tertinggi di sana setelah bertahun-tahun bertahan di tempat yang sama.


Noah sebenarnya bisa meraih jabatan tersebut meski tidak menikah, karena usia sang ayah sebentar lagi akan memasuki usia pensiun. Namun, hal itu terjadi tidak dalam waktu dekat, dan Noah yang sudah mulai muak dengan pekerjaannya tentu tak ingin menunggu lebih lama lagi.


Alhasil, dia pun menerima tawaran sang ayah meski dengan setengah hati.


Semula Noah pikir, pernikahannya dengan Bella hanyalah sebagai penyelamat harga diri keluarga karena ulah Maria, wanita yang hingga detik ini sulit dilupakan olehnya. Namun, siapa sangka bila sang ayah malah benar-benar menyuruh mereka untuk saling membina rumah tangga dengan benar.


Harold bahkan menyuruh Bella tinggal dan tidur di kamar yang sama dengannya.


Kendati marah, Noah tak bisa menolak. Apa lagi posisinya saat ini masih belum aman. Jadi, mau tidak mau dia harus menuruti perintah sang ayah.


"Sial!" umpat Noah seraya memukul setir mobilnya. "Aku akan membuatnya tidak kerasan tidur di sana!" sambung pria itu penuh emosi.


...**********...


"Eh, eh, mau apa kau masuk-masuk ke kamar Tuan Noah?" teriak Martha yang memergoki Bella masuk ke dalam kamar majikan mudanya, sambil membawa beberapa barang, seperti pakaian dan make-up.


Bella menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar Noah. "Papa menyuruhku untuk pindah ke kamar ini." Jawab gadis itu.


Martha sontak bertolak pinggang dan mencibir Bella. "Cih, kau pikir Tuan Noah akan menerima kehadiranmu begitu saja? Seharusnya kau menolak perintah itu, dasar anak pungut tak tahu diri!" hina Martha.


Bella terdiam sejenak. "Aku tak mungkin menolak, karena biar bagaimanapun juga statusku saat ini adalah istri dari Kak Noah."


Mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Bella dengan percaya diri, Martha kontan tertawa terbahak-bahak. "Percaya diri sekali kau, Pungut! Kita lihat saja, apakah Tuan Noah akan menganggapmu demikian. Silakan usir aku dari sini, kalau tebakanku salah!"


Wanita itu pun berjalan mendekati Bella dan mencengkeram erat lengan kecilnya. "Masa bodoh dengan statusmu sekarang, kau harus tetap bekerja di rumah ini. Setelah selesai memindahkan barang-barang sampahmu, bersihkan halaman belakang! Mengerti?"


Bella merintih kesakitan kala cengkeraman Martha semakin erat. "I—iya." Jawabnya terbata.


"Ada apa ini?" Jessica tiba-tiba muncul dari lantai satu, karena mendengar tawa Martha sebelumnya.


"Gadis ini terlalu percaya diri, Nyonya. Dia mengatakan padaku barusan, kalau tugas di rumah ini sebaiknya diserahkan pada yang lain, sebab kini dia adalah istri dari Tuan Noah." Sebaris kalimat dusta keluar dari lisan Martha.


Bella terbelalak mendengar perkataan Martha yang jelas tengah memfitnah dirinya.


"Apa!" teriak Jessica. Wanita itu berjalan cepat menuju Bella dan langsung menjambak rambutnya, hingga membuat kepala Bella mendongak ke atas.

__ADS_1


"Ouch, sakit, Ma! M—martha te—telah berbohong! Aku sama sekali tidak berkata demikian!" kata Bella lirih, sembari berusaha melepaskan diri.


"Enak saja menyebutku pembohong. Kau tidak ingat bagaimana congkaknya dirimu saat mengatakan hal demikian tadi?" Martha melotot, seakan tidak terima dengan omongan Bella yang sedang menuduhnya.


"Ingat, pernikahan antara dirimu dan putraku hanyalah status belaka. Jadi jangan berani-berani bertingkah, Anak pungut! Kau harus tetap merangkak di bawah kakiku, mengerti?" Perlakuan Jessica pada rambut Bella semakin kasar. Tatapan mata penuh kebencian pun diberikan Jessica untuk gadis itu.


Melihat kemarahan sang majikan, Martha malah tersenyum puas.


"I—iya Ma, aku mengerti." Mata Bella mulai basah. Sesekali rintihan masih terdengar dari mulutnya.


"Good!" Jessica dengan kasar menghempaskan kepala Bella hingga membentur daun pintu. Keduanya pun segera pergi meninggalkannya di sana.


Air mata sontak mengalir membasahi pipi Bella, begitu keduanya tak lagi terlihat. Sebisa mungkin gadis itu mengatur napasnya dengan baik, agar tangisannya berhenti.


"Kau pasti bisa melewati ini semua Bella!" serunya menyemangati diri.


...**********...


Tidak banyak barang-barang yang dipindahkan Bella ke kamar Noah, sebab gadis itu memang tidak memiliki banyak pakaian dan make-up. Sepatu pun Bella hanya memiliki dua pasang saja, dan sembilan puluh persen pakaian yang dimilikinya adalah pakaian rumah biasa.


Bella menutup lemari bagiannya dan membuka lemari bagian Noah. Deretan pakaian santai dengan merk terkenal yang memanjakan mata berjajar rapi di sana. Belum lagi bagian-bagian di sebelahnya. Noah dengan telaten memisahkan pakaian-pakaian tersebut sesuai dengan jenis dan kebutuhannya.


Televisi tersebut terpasang berhadapan dengan ranjang pria itu.


Di dalam lemari kaca tersebut, Bella dapat melihat belasan jam tangan mewah dan beberapa aksesoris pria lainnya.


Berjalan sedikit ke ujung ruangan, terdapat lemari sepatu yang letaknya persis di lorong toilet.


Bella tersenyum simpul. Meski sang pemilik kamar sedang tidak berada di sana, gadis itu tetap dapat mencium aroma tubuhnya yang tersebar ke setiap sudut kamar. Aroma yang begitu menenangkan dan teduh.


Namun, senyum simpul Bella berubah sendu, tatkala menyadari sikap pria itu padanya. Bella bahkan tidak berani membayangkan perlakuan apa yang akan Noah berikan saat tahu dia sudah pindah ke sana, yang jelas, Bella sudah mempersiapkan hatinya sekuat mungkin agar tidak terlalu hancur.


...**********...


Tepat pukul tujuh malam, Noah akhirnya tiba di rumah. Pria itu pulang sedikit terlambat karena baru saja menghadiri undangan makan malam dari salah satu kolega sang ayah.


Melihat kedatangan sang suami, Bella buru-buru menyambutnya ke depan. Sebisa mungkin gadis itu ingin berlaku layaknya seorang istri yang baik.


"Biar aku bawakan, Kak." Dengan ramah Bella menawarkan diri untuk membawakan tas laptop yang ada di tangan Noah.

__ADS_1


Noah mengernyit. "Untuk apa?" tanya pria itu sinis.


"Aku hanya ingin membantumu membawakannya," jawab Bella takut-takut.


Noah terdiam sejenak, sembari memerhatikan penampilan Bella yang hanya memakai koas rumahan dan celana panjang.


Perasaan marah tiba-tiba menyeruak dari dalam dada pria itu, tatkala menyadari bahwa penampilan Bella sangat jauh berbeda dengan Maria, sang mantan kekasih yang sangat cantik dan seksi.


"Berlakulah seperti biasa, tak perlu repot-repot cari perhatian." Setelah mengatakan hal demikian, Noah pergi melewatinya.


Bella memejamkan mata sejenak. Dia tahu benar arti tatapan mata Noah barusan.


Pria itu sedang menghinanya.


...*********...


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ketika rasa kantuk lagi-lagi hadir menyerang Bella. Gadis itu sebenarnya tengah bimbang untuk masuk ke kamar Noah dan tidur di sana. Oleh sebab itu, hingga saat ini Bella masih bertahan di ruang televisi.


"Bela, kau belum tidur, Nak?"


Harold yang memergoki putrinya masih berada di ruang televisi, segera menghampiri.


Buru-buru gadis itu duduk tegak dan mengusap wajahnya demi mengurangi kantuk. "Iya, Pa, aku baru selesai menonton televisi kesukaanku," jawab Bella.


"Kenapa tidak menonton di kamar Noah?" tanya sang ayah.


Bella tersenyum canggung. Dia hendak menjawab, tetapi lidahnya mendadak kelu.


Melihat reaksi sang putri, Harold pun merangkul pundaknya. "Apa kau marah pada keputusan Papa, Bella?" tanya pria itu tiba-tiba.


Bella menoleh ke arah Harold. "Tidak, Pa."


"Papa tahu ada alasan egois yang tersemat dalam pernikahan kalian, tetapi percayalah, bahwa Papa juga menginginkan yang terbaik dalam hidup kalian, Bella."


Bella termangu. Dalam hati dia sangat yakin bahwa keputusan sang ayah bukanlah keputusan terbaik. Namun, mau bagaimana lagi, pernikahan ini terjadi juga atas persetujuannya demi membalas kebaikan keluarga Werner, terutama Harold, yang sangat menyayanginya.


"Aku mengerti, Pa. Ini juga keputusanku. Aku lah yang dengan sadar menerima tawaran Papa," jawab Bella sembari memulas senyum.


"Terima kasih, Nak. Katakan pada Papa bila Noah menyakitimu, oke?" Harold menarik Bella ke dalam pelukan hangatnya.

__ADS_1


Bella mengangguk tanpa menjawab. Dia hanya membalas pelukan sang ayah sama eratnya.


__ADS_2