
"Ibu-ibu dan Bapak-bapak, sembari kita mulai mendarat, mohon pastikan punggung kursi dan meja Anda berada dalam posisi tegak. Pastikan juga sabuk pengaman Anda terkait dengan baik dan seluruh barang bawaan tersimpan di bawah kursi di depan Anda, atau di penyimpanan atas. Terima kasih."
Suara announcement flight attendant memecahkan lamunan Bella. Gadis berusia 30 tahun itu segera mengalihkan pandangannya dari jendela pesawat.
"Nona baik-baik saja?" tanya Viola yang turut berada di sana bersama Bella.
Bella memejamkan matanya sejenak, lalu mengembuskan napas agar terlihat lebih tenang. Seulas senyum hadir di wajah cantiknya.
"Ya, aku baik-baik saja," jawab Bella lembut.
Viola tersenyum. Gadis itu menelisik kondisi Bella sekali lagi. Mencari arti sesungguhnya dari apa yang baru saja dia katakan. Namun, Viola tidak menemukan apa pun. Majikannya itu memang terlihat jauh lebih pandai menyembunyikan perasaannya kini.
Sebenarnya, Viola memahami betul seperti apa perasaan Bella saat ini. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari dimana Bella akan kembali ke tanah air, setelah tiga tahun menjalani hidup jauh di luar negeri bersama Viola.
Kondisi fisik Bella yang cukup buruk, membuat Harold mengambil keputusan untuk mengirim gadis itu ke luar negeri demi menjalani pengobatan yang lebih baik. Beruntung, selama tiga tahun menjalani terapi dan beberapa kali operasi, kondisinya kini sudah kembali pulih, walau tidak seratus persen.
Majikan mudanya itu mengalami kehilangan memori jangka pendek, dan akan kambuh bila mengalami tekanan berlebihan.
Kendati demikian, bukan berarti Bella tidak mengetahui apa pun. Harold dengan gamblang berterus terang pada Bella perihal identitas dirinya, yang ternyata merupakan putri kandung pria itu dan mendiang sang istri. Adanya kecocokan DNA di antara mereka berdua membuat Bella tak dapat menepis fakta tersebut.
Lantas, bagaimana dengan Noah?
Setelah Harold memberitahu sang putri, bahwa Noah menyerahkan diri ke polisi dengan suka rela, demi menebus segala kesalahannya, Bella segera meminta tolong pada Harold untuk membantu membebaskan sang suami. Namun, ternyata Noah menolak. Pria itu bahkan enggan menemui Bella, saat sedang berkunjung ke lapas.
Sementara untuk Jessica dan Martha, mereka harus menebus segala kesalahannya dengan mendekam di balik jeruji besi, selama masing-masing dua puluh lima dan tiga belas tahun.
"Atas nama The Airlines dan seluruh kru, saya ingin berterima kasih kepada Anda atas ikut sertanya dalam perjalanan ini. Kami berharap bisa berjumpa dengan anda lagi dalam penerbangan dalam kesempatan yang akan datang. Semoga hari Anda menyenangkan!"
Pengumuman kembali terdengar. Viola kembali menoleh ke arah Bella, yang kini tengah terlihat lebih pendiam.
Pelukan hangat langsung diberikan Bella, begitu melihat sang ayah tercinta sudah menunggu bersama Tristan dan Celine.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Harold dengan sorot mata penuh kerinduan.
"Baik, Pa. Papa bagaimana?" Bella tersenyum. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Tristan dan Celine untuk menyapa mereka ramah.
Tristan sendiri memang sering berkunjung ke rumah keluarga Werner untuk turut membantu menjaga Harold, sesuai dengan janji yang pernah dia utarakan pada Noah.
"Ayah baik-baik saja." Harold menganggukkan kepalanya. Pria paruh baya itu kemudian menawarkan Bella jalan-jalan ke tempat lain terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Namun, Bella menolak halus.
"Kita pulang saja, Pa. Aku sudah rindu rumah," pinta Bella.
Harold pun menyetujui. Mereka pun masuk ke dalam limosin milik Harold dan pergi dari sana.
Sebenarnya, Harold tak menginginkan Bella pulang kembali ke tanah air. Dia lebih suka jika Bella memilih membuka lembaran baru dan menghabiskan hidupnya di luar negeri.
Pria itu tak peduli soal perusahaan. Selagi masih kuat dia mampu mengemban kembali tugasnya sebagai CEO. Namun, Bella lah yang lebih dulu menawarkan diri untuk pulang.
Harold tahu benar ada satu hal yang memang ingin Bella lakukan.
...**********...
Belasan asisten rumah tangga berbondong-bondong menyambut kedatangan Bella di sana. Mereka menangis terharu melihat kondisi Bella dalam kini dalam keadaan baik-baik saja, dari pada yang terakhir kali bisa diingat.
"Selamat datang, Nona Arabella," ucap seorang wanita berpakaian perawat yang kini tengah membungkuk hormat di hadapan Bella.
Dia adalah Felizha, perawat pribadi Harold, yang sering melakukan komunikasi padanya melalui sambungan telepon atau pun video call.
"Terima kasih sudah menjaga ayahku selama ini," ucap Bella sopan.
Felizha mengangguk. "Ini sudah kewajiban saya, Nona" kata wanita anggun itu.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Suasana yang sangat berbeda langsung bisa Bella rasakan begitu masuk ke dalam rumah.
"Papa mengganti hampir seluruh isi rumah yang pernah disentuh oleh wanita itu. Papa tak ingin ada peninggalan lama." Harold membuka suaranya saat menyadari raut wajah Bella.
Benar saja, tak ada satu pun jejak Jessica di sana. Wanita yang sempat menjadi ratu di rumah ini, mendekor sisi rumah hampir 90 persen, dan Harold menghilangkan semuanya.
Akan tetapi, tidak demikian dengan Noah. Foto pria itu masih terpampang jelas di dinding-dinding rumah mereka. Berdampingan dengan foto dirinya yang selalu dia kirimkan kepada Harold.
"Rasanya aneh melihat foto diriku ada di mana-mana, Pa," ujar Bella sembari tersenyum.
"Tak ada yang aneh, Sayang. Kau dan Noah anak Papa tercinta." Harold kembali memeluk putrinya erat. Keduanya pun naik ke lantai atas untuk melihat-lihat.
Walk in closet yang dulu merupakan milik Jessica, kini berubah total. Fungsinya tetap sama, tetapi tak ada lagi barang-barang milik wanita itu di sana. semua Harold ganti dengan barang milik Bella.
Harold berkata, bahwa dia melelang seluruh barang milik Jessica dan menyerahkan uang hasil lelangnya ke beberapa panti asuhan, termasuk panti asuhan Bella.
Pria itu menganggap hal tersebut adalah bantuan terakhir yang bisa dia lakukan sebagai wujud penebusan dosa Jessica. terhadap orang-orang yang telah disakitinya.
"Pa, ini sangat berlebihan," ucap Bella sembari menatap barang-barang mewah yang terpatri di sana. Beberapa di antaranya bahkan terukir nama gadis itu.
"Tak ada yang berlebihan. Kau anak Papa," ujar Harold.
Bella terdiam. Matanya menatap dalam-dalam salah satu sudut ruangan. Sudut yang hampir setiap saat tak pernah Bella injak menggunakan kakinya, melainkan lutut, hanya untuk melayani Jessica.
Bella menenangkan dirinya sesaat. Dia tak ingin lagi mengingat-ingat kejadian pahit tersebut.
Gadis itu kemudian pergi menuju satu-satunya kamar yang memang dia rindukan. Apa lagi kalau bukan kamar Noah.
Kendati tak ada kenangan manis di kamar tersebut, tetap saja di tempat itu lah kenangan pria yang pernah dicintainya berada.
Begitu Bella membuka pintu kamar Noah. Harum parfum khas pria itu merebak. Walau sudah ditinggalkan sang pemilik selama bertahun-tahun, tetapi Bella sama sekali tidak merasa demikian.
__ADS_1
"Pa, aku ingin di sini sebentar," pinta Bella.
Harold mengangguk. Dia memberikan kesempatan pada Bella untuk sekaligus merenungi keputusannya.