
"Halo, menantuku tersayang." Tepat ketika Bella membuka pintu apartemen, Jessica muncul dan berdiri di sana.
Dari penampilannya yang memukau, Jessica sepertinya sudah bersiap untuk menghadiri acara peresmian Noah di kantor. Namun, mengapa dia tiba-tiba muncul di apartemennya?
"Mau ke mana kau?" tanya Jessica sembari memerhatikan penampilan Bella dari atas ke bawah yang cukup rapi.
Bella terdiam memikirkan alasan yang tepat agar bisa keluar dari rumah secepatnya. "Aku ingin menemui teman, Ma," jawab gadis itu.
Jessica tertawa. "Teman? Teman yang mana?" Memangnya kau punya teman?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Mm, aku baru saja berkenalan dengan beberapa penghuni apartemen, dan rencananya kami akan berkumpul untuk meminum teh bersama." Demi apa pun Bella kini melontarkan sebuah alasan konyol yang paling masuk akal menurutnya.
Jessica mengerutkan keningnya. Jelas sekali dari pakaian yang dikenakan Bella, dia tidak berniat pergi hanya untuk sekadar bersantai bersama istri-istri penghuni apartemen lain. Gadis itu pasti hendak pergi menghadiri acara Noah, dan Jessica tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Jangan berbohong!" sentak Jessica sembari mendorong Bella agar menjauh dari pintu. Wanita itu menarik tangan Bella kasar menuju kamar mandi apartemen.
"Ma!" seru Bella.
"Aku tahu kau akan pergi ke kantor untuk menghadiri peresmian putraku, kan? Jangan bermimpi, anak buangan! Sampai kapan pun kau tak akan pernah menjadi istri dari CEO Werner Company!" teriak Jessica marah sambil menghempaskan Bella ke dalam kamar mandi.
Bella terbelalak. Jessica ternyata salah mengira. Dirinya memang akan pergi menuju kantor sang suami, tetapi bukan untuk menghadiri acara tersebut, melainkan untuk wawancara.
"Ma, aku tidak pergi ke sana, aku hanya ingin keluar sebentar bersama teman baruku!" pekik Bella memohon.
Jessica menatap sinis. "Kau pikir aku percaya pada mulut busukmu?" Setelah mengatakan hal demikian, tanpa perasaan Jessica mengambil kunci kamar mandi yang tersemat di pintu dan langsung keluar dari sana.
Wanita itu tersenyum puas saat mendengar Bella berteriak-teriak dari dalam sana, sembari menggedor-gedor pintu. Dengan langkah santai, Jessica pun melenggang pergi menuju gedung Werner Company.
Sementara itu, Bella terus berusaha berteriak agar Jessica mau membukakan pintu. Namun, hasilnya nihil. Sekali berbuat Jessica tidak akan merubah pikirannya, terlebih jika itu menyangkut Bella.
Saat sedang dilanda kebingungan, tiba-tiba ponsel Bella berbunyi. Gadis itu terkejut sekaligus senang karena baru mengingat, bahwa benda tersebut ada di dalam kantong celananya.
"Thanks, God!" pekik Bella begitu melihat nama Viola tertera di layar ponsel. Tanpa pikir panjang gadis itu pun mengangkat telepon dari Viola dan memintanya untuk datang sekarang juga.
Kendati acara peresmian sedang dilaksanakan, manajemen kantor tetap melakukan wawancara kerja dengan waktu yang telah disesuaikan, dan batas waktu yang dia miliki hanya tinggal dua jam lagi.
__ADS_1
...**********...
Harold harus menelan kekecewaannya, ketika Noah memberitahu bahwa Bella tidak dapat menghadiri acara karena sedang sakit. Pria itu sempat menawarkan diri untuk memeriksa langsung keadaan putri angkat sekaligus menantunya tersebut. Namun, Jessica, sang istri, menyela.
Semula Harold pikir apa yang dikatakan putranya tadi adalah kebohongan, tetapi melihat hanya Jessica yang datang ke kantor, membuat pria itu menelan kekecewaannya untuk kedua kali.
"Apa yang terjadi pada Bella?" tanyanya pada sang istri.
"Vertigo-nya kambuh, Sayang, jadi dia tidak bisa datang menghadiri acara penting ini." Jawab Jessica.
Raut kekhawatiran seketika menggelayuti wajah Harold. "Apa? Bagaimana bisa? Biar aku suruh Oliver untuk mengantarnya ke rumah sakit!"
"No, Sayang! Bella sudah buat janji dengan dokternya sore nanti. Kau tak perlu cemas, karena dia berjanji akan menghubungiku setelahnya." Jessica megang lembut lengan sang suami.
Harold memejamkan matanya sejenak lalu mengangguk.
...**********...
"Terima kasih, Viola!" seru Bella setelah Viola datang dan menyelamatkan dirinya.
"Sama-sama, Nyonya. Sekarang pergilah, saya akan berjaga di rumah sampai Anda datang!" titah Viola sembari membantu membawakan tas Bella.
Viola mengangguk. " Semoga berhasil, Nyonya!"
Bella sama sekali tidak menyangka bahwa gedung besar nan mewah yang kini dipijaknya, merupakan gedung milik keluarga suaminya sendiri.
Ada banyak hal yang memanjakan mata para penghuni kantor mau pun tamu tempat tersebut. Dari luar saja Bella dapat melihat lobi mewah dengan berbagai beberapa fitur canggih seperti hologram menyerupai sang ayah, Harold, dan sebuah robot canggih yang akan memandu tamu naik ke dalam lift.
Sayangnya Bella tidak dapat masuk ke sana karena sedang dibatasi hanya untuk tamu-tamu undangan saja. Gadis itu terpaksa masuk ke dalam gedung melalui pintu belakang. Kebetulan pintu belakang yang ditunjuk langsung menuju ke dapur kantin.
Tidak banyak pelamar yang masih bertahan di sana ketika Bella tiba. Hanya sekitar lima sampai enam orang saja.
Bella dengan sabar menunggu gilirannya untuk masuk ke dalam ruangan sang kepala koki. Gadis itu memang mendapat panggilan wawancara pada bagian kantin kantor.
"Arabella Catriona Gladwin!"
__ADS_1
Bella bergegas bangkit dari kursi begitu namanya dipanggil. Gadis itu dengan sopan masuk ke dalam ruangan sang kepala koki.
"Halo, Arabella, saya Willy, dan ini asisten saya Queen." Seorang pria tampan berusia tiga puluh tahunan menyambut Bella ramah.
"Saya Arabella, Anda bisa memanggil saya Bella," ujar gadis itu.
"Baiklah kalau begitu. Silakan duduk Bella," titah Willy.
Bella menatap ramah Queen yang berdiri tepat di sebelah Willy. Kendati baru sedetik bertemu, entah mengapa Bella sudah dapat menebak bahwa Queen tak jauh berbeda dengan Martha.
Helaan napas keluar dari mulut Bella, tatkala mendapati tatapan dingin yang dilontarkan Queen.
Tak banyak pertanyaan yang diajukan Willy pada Bella, sebab setelahnya, pria itu menguji keahlian Bella dalam mengenal beberapa alat-alat masak dan bumbu-bumbu masakan yang ada.
Beruntung Bella hampir menjawab setiap benda yang ditunjuk Willy dengan benar.
"Kau pasti suka memasak di rumah?" tanya Willy kemudian.
Bella tersenyum simpul. "Sedikit, Mr. Willy. Saya memang senang berkutat di dapur," jawabnya.
Willy mengangguk-anggukan kepalanya. "Kalau begitu, silakan tunggu di depan terlebih dahulu."
Bella membungkukkan badannya sebelum kemudian undur diri dari tempat tersebut. Gadis itu sangat berharap dapat diterima bekerja di sana.
Sepuluh menit kemudian Willy keluar bersama Queen. Pria itu memanggil Bella dan satu pelamar lainnya bernama Emma.
"Mulai besok, kalian bisa bekerja di sini," ucap Willy seraya mengulurkan tangannya.
Bella dan Emma menyambut jabatan tangan Willy dengan suka cita. Keduanya berterima kasih pada sang kepala koki yang sudah menerima mereka.
Emma yang merupakan lulusan sekolah memasak dipercaya menjadi salah satu koki pemula di dapur, sementara Bella akan bertugas di luar.
"Bella bagianmu adalah mengatur lay out penataan menu hidangan, menyiapkan segala kebutuhan di kantin seperti sabun cuci tangan di wastafel, dan menyiapkan menu tambahan berupa snack mau pun susu. Tak lupa pastikan makanan selalu terisi hingga jam makan siang habis," kata Willy menjelaskan sedikit tugas Bella.
Bella mengangguk dan mencatat semua penjelasan Willy di ponselnya.
__ADS_1
"Untuk hal lainnya, Queen akan menjelaskannya pada kalian besok."
Bella dan Emma mengangguk. Seulas senyum bahagia terpatri di wajah cantik gadis itu. Meski harus bekerja demi memenuhi kebutuhannya sendiri, Bella tidak keberatan. Setidaknya dia bisa melakukan hal yang selama ini tidak pernah bisa dilakukannya, yaitu bersosialisasi dengan orang lain.