Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
24. Pengkhianatan.


__ADS_3

Bella keluar dari tempat anjungan tunai mandiri dengan mata basah. Gadis itu rupanya sedang senang sekaligus terharu, karena hari ini adalah kali pertama dirinya memegang uang hasil jerih payah sendiri selama satu bulan penuh.


Gaji pertama yang diterima Bella memang tidak penuh, sebab gadis itu harus mengganti belasan gelas yang tempo hari tidak sengaja dia pecahkan. Belum lagi semakin hari pekerjaannya semakin terasa berat karena sikap Queen. Namun, mau bagaimanapun keadaannya Bella tetap harus bertahan. Di mana lagi dia bisa mendapatkan pekerjaan, kalau bukan di Werner Company?


Lagi pula, Noah masih belum mengetahui kebohongannya hingga saat ini. Pria itu masih percaya dia membantu panti asuhan tempat tinggalnya dulu. Noah juga tidak pernah datang lagi ke kantin. Sang suami tampaknya sibuk mengerjakan proyek perangkat lunak yang tengah dipimpinnya.


Bella memutuskan untuk berbelanja bahan makanan terlebih dahulu di supermarket setelah mengambil uangnya.


Tak banyak yang Bella beli demi menghemat pengeluaran. Dia hanya membeli bahan makanan untuk dirinya sendiri selama dua minggu ke depan. Tak lupa, gadis itu juga membeli kebutuhan lainnya, seperti sabun mandi, dan lain-lain.


Perlahan gadis itu mendorong trolley-nya menuju meja kasir. Namun, tanpa sengaja tiba-tiba bahunya menabrak bahu seorang wanita yang sedang fokus memilah milih barang di rak.


"Maafkan saya, Nona," ucap Bella sopan. Wajahnya yang semula ramah seketika berubah, saat mendapati bahwa orang yang baru saja ditabraknya adalah wanita bersurai panjang, teman tidur Noah.


"Don't worry, Lady," jawab si wanita sembari mengangkat bahunya sedikit.


"Renatha, ada apa?"


Keterkejutan Bella rupanya tak sampai disitu saja, sebab sosok pria yang menjadi suaminya ternyata sedang berada di tempat yang sama, menemani si wanita.


Hal yang sama juga terlihat pada diri Noah. Pria itu tidak menyangka bisa bertemu dengan Bella di sana.


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Kami hanya tidak sengaja saling bersenggolan," jawab Renatha seraya menggandeng lengan Noah mesra.


Bella mencengkeram erat troli belanjaannya, sembari menatap tautan tangan mereka dengan wajah mendung. Sementara Noah menekan kuat-kuat raut wajahnya agar tetap terlihat biasa.


"Terima kasih. Kalian pasangan yang sangat ideal," puji Bella.


Renatha tersenyum bahagia. Wanita itu menatap Noah penuh perasaan sambil berkata, "banyak yang bilang begitu, tetapi aku masih harus menaklukan hatinya. Iya, kan, Sayang?" tanya Renatha pada Noah.


Noah bergeming. Kepalanya kini dipenuhi banyak pemikiran-pemikiran.


Melihat Noah tidak bereaksi, Renatha memajukan tubuhnya kepada Bella, sembari berbisik jenaka, "begitulah dia."


Bella tertawa kecil. Tawa yang terlihat begitu menyakitkan di mata Noah.


"Semoga hubungan kalian berdua berhasil," ucap Bella menyemangati.

__ADS_1


"Kau juga. Kau wanita yang baik, pasti pasanganmu juga pria baik-baik." Renatha membalas perkataan Bella.


Mendengar perkataan tersebut, sontak saja membuat raut wajah Bella berubah sendu selama sekian detik. Noah bahkan dapat melihat jelas lirikan gadis itu padanya, meski hanya sekilas.


"Aku ... seorang janda." Jawaban Bella kontan membuat Renatha mau pun Noah terkejut (dalam artian berbeda).


"I'm sorry, Lady," ucap wanita cantik itu.


Bella mengangguk. Senyumnya mengembang sesaat, sebelum kemudian pamit meninggalkan mereka.


"Gadis yang malang," gumam Renatha.


Noah terdiam. Tangan pria itu terkepal kuat. Dia terus menatap kepergian Bella, hingga menghilang dari pandangannya.


Sementara Bella berusaha sekuat tenaga untuk tidak menitikkan air mata. Mengingat bagaimana reaksi Noah yang terbilang biasa-biasa saja tadi, membuat luka di hati Bella semakin menganga lebar.


Secepat mungkin Bella ingin pergi dari sana.


...**********...


Bella yang sedang beristirahat di gudang, tiba-tiba dikejutkan dengan suara bantingan pintu. Buru-buru gadis itu keluar dari gudang untuk melihat keadaan.


Begitu melihat kedatangan Bella, Noah yang tampak berantakan tiba-tiba langsung menarik tangan gadis itu, dan menyeretnya menuju balkon.


"Kak, sakit! Lepaskan!" Mendapati perlakuan demikian dari sang suami, Bella sontak meronta-ronta minta dilepaskan.


"DIAM!" teriak Noah. Bukannya mengendurkan cengkeramannya, Noah malah memelintir tangan Bella. Dia juga dengan kejam langsung menyandarkan Bella ke pinggir balkon, dan menekan leher gadis itu kuat-kuat sesampainya di sana.


"K—kak!" pekik Bella dengan napas terengah-engah.


"Jangan sekali-kali membuka mulut soal wanita itu kepada siapa pun! Aku berhak memilih wanita manapun yang pantas bersanding denganku, mengerti!" seru Noah penuh emosi.


Rasa sakit membanjiri sekujur tubuh Bella. Dia sama sekali tidak pernah menyangka, Noah akan tega berbuat demikian hanya demi menutupi tingkah busuknya dengan seorang wanita penggoda.


"B—baik, tapi lepaskan aku d—dulu!" Bella memohon pilu.


Noah melepas cengkeramannya kasar pada leher Bella.

__ADS_1


Bella segera mengambil oksigen banyak-banyak seraya terbatuk-batuk hebat.


"Kau hidup di bawah kakiku, jadi turuti aturanku dan jangan banyak bertingkah, kalau tak ingin menerima akibatnya!" ancam Noah sebelum berbalik pergi meninggalkan Bella.


"Aku tidak hidup di bawah kakimu."


Noah terbelalak mendengar perkataan Bella yang cukup bernyali. Langkah kaki pria itu bahkan terhenti di ambang pintu balkon.


Noah berbalik kembali menghadap Bella. Di sana dia mendapati sang istri tengah menatapnya dengan kepala tegak.


Tak ada air mata yang biasanya turun membasahi pipi gadis itu. Bella tampak jauh lebih tegar dari biasanya, dan hal itu membuat kekesalah di hati Noah bertambah besar.


"Aku berdiri tepat di sebelahmu sejak sumpah setia pernikahan diikrarkan!" Bella kembali membuka suaranya. Tak peduli pada sorot mata Noah yang kini terlihat menakutkan.


"Mungkin bagimu, pernikahan ini adalah pernikahan palsu, tetapi tidak bagiku. Aku tak peduli pada sikap kasarmu. Aku bahkan tak peduli bila suatu saat nanti harus mati di tanganmu. Namun, bisakah selagi aku belum mati, kau tidak mengotori ikatan pernikahan ini dengan membawa masuk seorang wanita ke dalamnya?"


Noah bergeming sesaat, sebelum seulas senyum mengejek terlihat di wajahnya. "Tak usah banyak bermimpi, gadis sialan!"


"Kau lah yang bermimpi, Kak!" sahut Bella. "Kau lah yang terus menganggap pernikahan sungguhan ini hanya sandiwara belaka. Jadi, di sini kau lah yang bermimpi!" Sambung gadis itu.


Wajah Noah berubah merah padam. Pria itu tersinggung dengan keberanian dan kata-kata Bella.


Ke mana permohonan maaf yang biasa dia lontarkan kepadanya? Ke mana linangan air mata yang biasa dia perlihatkan kepadanya? Noah tak bisa menemukannya malam ini.


"Lalu, apa bedanya denganmu yang mengaku-aku janda pada orang lain, padahal jelas-jelas kau sudah menikah?"


Kini Bella yang bergeming.


Senyum sinis terpatri di wajah Noah. "Jadi, jangan bicara soal siapa yang brengsek di sini, karena kau pun sama sa—"


"Karena aku memang merasa seperti itu!" pekik Bella memotong perkataan Noah.


Suasana di antara mereka berdua mendadak hening.


"Lagi pula aku hanya mengatakannya pada wanita tercintamu itu saja!"


Setelah mengatakan hal demikian, Bella berjalan pergi meninggalkan Noah.

__ADS_1


Pria itu sama sekali tidak menyadari, jika linangan air mata Bella jatuh, sedetik setelah gadis itu berhasil melewati dirinya.


__ADS_2