Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
19. Fakta Tersembunyi.


__ADS_3

"Bella, sejak tadi aku memanggilmu! Apa yang kau lakukan di sini!" Queen menghampiri Bella yang sedang sibuk menggeledah gudang penyimpanan bahan pokok. Tempat itulah yang paling lama Bella singgahi hari ini, jadi mungkin saja bros kesayangannya tersebut terselip di sana.


Bella berhenti merangkak dan menoleh pada Queen. "Maaf, aku rasa, aku kehilangan sesuatu Queen," ucap gadis itu lirih. Sorot matanya terlihat sangat sedih.


Queen menatap Bella ketus. "Aku tak peduli kau kehilangan benda bodoh macam apa, yang jelas saat ini jam kerja masih berlaku dan kau sudah mengabaikan tugasmu selama tiga puluh menit. Sekarang, pergi ke depan dan cuci semua piring dan panci kotor, karena Emma sudah menggantikan tugasmu membereskan display! Jangan bertingkah seperti gadis 1d1ot!" seru gadis itu marah.


Bella tersentak mendengar kalimat tajam penuh penghinaan dari Queen, apa lagi saat menyebut benda kesayangannya adalah benda bodoh. Dia tak peduli Queen mengatainya demikian, tetapi tidak pada bros kesayangannya. Namun, apa yang bisa Bella lakukan selain menerima semua perkataan tersebut? Kendati sakit hati dengan ucapan Queen, Bella tetap berdiri dan meminta maaf.


Tanpa membalas permintaan maaf Bella, Queen pergi meninggalkannya dengan membanting pintu. Gadis itu tampaknya sudah menemukan beberapa celah untuk melampiaskan kekesalannya pada Bella.


Begitu keluar dari ruang penyimpanan, Bella langsung pergi menuju dapur untuk mencuci semua piring dan panci kotor. Dia juga sempat meminta maaf pada teman-teman di sana karena telah menggantikan tugasnya.


"Tidak apa-apa, Bella. Kuharap, kau bisa segera menemukan bros kesayanganmu itu," ucap Emma ramah.


"Terima kasih. Sekarang biar aku yang menggantikan tugas di sini." Bella mengambil alih pekerjaan Emma dan Lily.


"Aku juga akan membantumu, Lily," tukas Emma.


Lily tersenyum. "Kalau begitu, kita bisa mengerjakannya bersama, agar cepat selesai."


"Tidak!" Tiba-tiba, Queen datang menghampiri mereka bertiga. Seraya melipat kedua tangannya, gadis itu berdiri angkuh di depan mereka.


"Bella, kau harus mengerjakan semuanya sendiri, tetapi sebelum itu, ambil bekas makanan di ruangan Tuan Werner!" titah Queen.


"Ini terlalu banyak Queen. Bukankah biasanya dikerjakan dua orang?" Lily menyelak.


"Jangan membantahku, Lily! Dia sudah mengabaikan tugasnya dan kau tahu, aku tidak suka itu." Queen mengalihkan pandangannya pada Bella. "Jangan mentang-mentang Willy baru memberimu pujian, kau bisa seenaknya bertingkah di sini!" serunya ketus.


"Aku tidak bermaksud demikian!" sergah Bella.


"Aku tak peduli apa pun pembelaanmu! Sekarang, kerjakan semuanya sampai bersih!"


"Baiklah, kalau begitu biar aku yang pergi ke lantai lima belas," ujar Emma mengusulkan diri.

__ADS_1


Mendengar itu, Queen menatap Emma dingin.


Tak ingin kedua temannya terkena amarah Queen, Bella pun berkata, "biar aku saja, Emm. It's oke."


Emma mau tidak mau menganggukkan kepalanya. Dia pun membiarkan Bella pergi sendirian.


"Benar juga! Siapa tahu saja bros itu ada di tempat ruangan Kak Noah," gumam gadis itu sembari berjalan cepat menuju lift.


Dalam hati dia benar-benar berharap brosnya dspat ditemukan di sana, karena jika tidak, dia tak tahu lagi harus bagaimana.


...**********...


Celine tidak terlihat di mejanya, saat Bella tiba di lantai lima belas. Gadis itu tak mungkin menunggu Celine terlebih dahulu untuk meminta ijin masuk ke dalam ruangan Noah. Namun, saat Bella berjalan lebih dekat, dia menemukan piring bekas makan Noah berada di atas meja Celine.


Kesempatan untuk masuk ke dalam ruangan Noah gagal sudah. Gadis itu tak mungkin bisa mencari bros miliknya yang hilang.


Bella memutar otaknya. Di tengah berpikir bagaimana caranya bisa masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Aah!" Sedetik kemudian, Bella mengambil sendok makan yang tadi digunakan Noah dan membawanya ke dalam.


Tak ingin membuang waktu, gadis itu segera mencari-cari keberadaan brosnya.


Bella tak dapat menahan jeritan kecilnya, saat benda yang sedari tadi dia cari ternyata teronggok tak berdaya di atas meja tamu.


Bella bergegas mengambilnya dan pergi meninggalkan ruangan. Namun, saat tubuhnya berbalik, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan tubuh kekar Noah yang tidak berpakaian.


Bella terkejut bukan kepalang.


"Kurang ajar sekali kau, masuk ke dalam ruanganku tanpa permisi!" Suara Noah menggema memenuhi ruangan seketika. Pria itu memandangi Bella dengan tatapan luar biasa murka.


"Sayang, ada apa?" Tepat di belakang tubuh Noah, tiba-tiba muncul seorang wanita berpenampilan seksi dalam balutan kemeja sang suami. Tanpa tahu malu, wanita bersurai merah itu menggelayut manja di lengan Noah.


"Sudah kubilang jangan keluar!" desis Noah marah.

__ADS_1


Berusaha mengabaikan rasa sakit yang mendera batinnya, Bella melirik ke belakang tubuh mereka berdua dan mendapati lemari pajangan Noah yang bersebrangan dengan meja kerjanya terbelah dua.


Ternyata di balik lemari tersebut ada satu tempat tersembunyi yang tidak diketahui siapa pun, dan Noah memanfaatkan tempat tersebut untuk melakukan hal-hal tak pantas bersama wanita lain.


Bella mematung menatap tubuh wanita seksi itu. Kemeja Noah yang dikenakannya, membuat wanita tersebut terlihat semakin memesona.


Bella berusaha meyakinkan diri bahwa pemandangan di hadapannya ini adalah mimpi. Namun, semakin dipikirkan dada gadis itu semakin terasa sakit, seolah diremas-remas.


"Hei!" Bentak Noah. Pria itu hendak melepaskan tamparannya, tetapi Celine buru-buru masuk ke dalam.


Wanita itu membungkukkan badannya dalam-dalam gun meminta maaf pada Noah.


"Ke mana saja kau, hah!" seru Noah marah.


"Maaf, Tuan, saya sedang ke toilet sebentar," jawab Celine.


Noah kembali mengalihkan pandangannya pada Bella. "Siapa namamu? Mulai besok kau tak perlu bekerja di tempat ini, karyawan kurang ajar!"


Bella terbelalak. "Jangan pecat saya, Tuan, saya butuh pekerjaan ini! Saya berjanji akan tutup mulut dan menganggap semua hal ini tidak pernah terjadi!" Lelehan air mata keluar tanpa bisa dibendung.


Mereka mungkin melihat Bella menangis karena takut dipecat, padahal nyatanya lebih dari itu.


Celine yang iba memohon pada Noah untuk tidak melakukannya. Dia pun membawa pergi Bella secepatnya dari sana.


Sepeninggal Bella dan Celine, Noah mematung. Kendati wajah gadis itu tertutup, tetapi entah mengapa Noah merasa tangisannya mengingatkan dia akan seseorang.


"Sayang." Renatha mendekap lebih erat tubuh Noah.


Dia adalah teman wanitanya semasa di kampus, dan Noah memang sengaja menjalin hubungan tanpa status dengan Renatha, agar bisa melupakan semua kenangannya bersama Maria yang masih membekas.


Tak ada yang tahu hal itu kecuali Celine, sebab mereka hanya akan bertemu di ruangannya. Bahkan sang ayah pun tidak mengetahui kelakuan b14dabnya di kantor selama beberapa hari terakhir.


Renatha menyentuh titik sensitif di tubuh Noah demi membangkitkan semangatnya lagi. "Jangan pikirkan, dia hanya karyawan rendahan yang sangat membutuhkan uang. Aku jamin, dia tak akan berani buka mulut," ucap Renatha seraya mendorong Noah agar terduduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


Dalam sekali gerakan, wanita itu sudah duduk di pangkuan Noah, dan langsung menciumi bibirnya dengan penuh semangat.


__ADS_2