
Suasana kantin lantai satu semakin tidak kondusif karena kemarahan Queen. Gadis itu benar-benar tidak peduli pada orang-orang yang mulai berkumpul mengerubungi mereka, sebab tujuannya saat ini hanyalah satu, yaitu memanfaatkan keadaan untuk mempermalukan Bella.
"Ini bukan salah Bella, Quenn. Dia justru korban di sini!" Peter mencoba membela Bella dengan mengatakan hal yang sebenarnya. Pria itu kemudian menunjuk tiga orang karyawan yang menabrak Bella tadi.
Ketiga karyawan tersebut tampak tersinggung. "Enak saja salah kami! Dia lah yang datang tiba-tiba tanpa memberi peringatan!" dusta salah seorang karyawan.
Bella terbelalak. Jelas-jelas dia meneriaki orang-orang yang ada di sana tadi, termasuk ketiga orang karyawan tersebut. "Itu tidak benar!"
"Hei, jangan berdusta kau! Coba tanyakan saja semua orang yang ada di sini, mereka melihat siapa yang bersalah!" Salah seorang di antara mereka melipat kedua tangannya sembari menatap sekeliling kantin.
Orang-orang yang berkumpul di sana sontak terdiam. Tak ada satu pun yang sudi menjawab, sebab pria itu ternyata merupakan kepala divisi bagian produksi, Simons.
Simons menatap Bella sinis. "Jadi, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu atas pakaian kami yang basah dan kotor!"
Bella refleks menggelengkan kepala kuat-kuat. Dalam hati dia sibuk merutuki nasib si4l yang selalu saja hadir menghantui dirinya. Namun, Bella tak ingin menunjukkan kelemahannya saat ini. Dia harus membela diri. Kalau bukan dia, siapa lagi?
Air mata yang semula mengalir membasahi pipinya sontak terhapus. Gadis itu terlihat jauh lebih tegar. Dengan penuh keyakinan Bella menunjuk salah satu CCTV yang terpasang di sudut kantin, tepat di mana mereka berada. "Kalau tidak percaya, lebih baik kita lihat CCTV saja!" ucapnya tegas.
Simons dan kedua bawahannya panik sekaligus marah. Simons bahkan dengan keterlaluan menghina posisi Bella, yang hanya bekerja sebagai penjaga kantin.
Queen terdiam. Dirinya tentu saja tak ingin membela Bella. Dia tidak akan membiarkan gadis itu menang. Nama Bella harus tercoreng, dengan begitu Willy tak akan lagi memuji kinerjanya.
"Kau pikir CCTV bisa seenaknya saja diperlihatkan ke publik! Itu hanya untuk orang penting!" bentak Queen. "Sekarang, lebih baik kau meminta maaf pada mereka, Bella!"
Hati Bella berdenyut sakit. Tak ada satu orang pun yang berani berdiri di sisinya. Para saksi mata yang tahu cerita sebenarnya, kini lebih memilih berpura-pura tidak melihat. Sebagian lagi bahkan pergi meninggalkan kantin.
Bella menghela napas pasrah. Dia tidak memiliki pilihan lain. Gadis itu pun berjalan tertatih menghampiri ketiga karyawan tersebut sembari membungkukkan badannya dalam-dalam.
"Maafkan saya, Tuan-tuan," ucap Bella dengan nada bergetar. Namun, sorot mata gadis itu berubah sedikit tajam. "Sekarang, kalian juga harus melakukan hal yang sama kepada saya!" sambungnya tegas.
"Apa!" pekik Simons. Kesal dengan tingkah Bella, Simons tiba-tiba menarik kerah seragamnya dengan kasar.
Para penghuni kantin heboh. Simons memang memiliki sifat yang sangat tempramen. Divisinya lebih dikenal dengan sebutan lubang neraka. Tak pernah ada satu orang pun yang kerasan bekerja di bawah kepemimpinannya lebih dari satu tahun.
__ADS_1
Beberapa karyawan pria maju saat Simons mulai menunjukkan tanda-tanda akan melakukan kekerasan pada Bella. Ini sudah keterlaluan.
Bella memejamkan matanya, seiring penghinaan yang kembali terlontar dari mulut Simons. "Dasar karyawan mvr4han!"
Pekikan terdengar lantang memenuhi kantin lantai satu. Namun, pekikan tersebut ternyata bukan keluar dari mulut Bella, melainkan Simons.
"Lepa—" Simons mendadak bungkam setelah melihat siapa yang sedang mencengkeram tangannya dengan kekuatan penuh.
"Tu—tuan Werner!"
Suasana mendadak sunyi dan mencekam.
Noah sama sekali tidak mau repot-repot menyembunyikan kemarahan di wajah tampannya.
"Siapa yang berani bertingkah sok jagoan di kantorku akan menerima akibatnya!"
Sekujur tubuh Simons dan orang-orang yang berada di sana merinding seketika. Begitu pula dengan Bella.
Noah melirik penampilan Bella. Seragamnya basah kuyup. Rambutnya juga sudah tidak tergelung dengan rapi. Gadis itu benar-benar terlihat sangat kacau.
Padahal Noah berjanji untuk tidak memerdulikan Bella di kantor. Dia bahkan pernah mengancam Bella kalau sampai hubungan mereka yang sebenarnya terungkap. Namun, apa yang terjadi sekarang? Pria itu malah pasang badan melihat Bella tersakiti.
Dadanya panas mendapati orang lain berusaha menyakiti Bella.
Mengapa? Padahal dia juga sering menyakiti gadis itu lebih buruk.
"Aakkhh, Tu—tuan, ampun ...." Simons kembali berteriak ketika menyadari cengkeraman tangan Noah. Pria itu bisa-bisa akan memataahkan tangannya.
Noah melepaskan tangan Simons kasar. Dia kemudian menanyakan nama dan posisi Simons.
Setelah mendengar jawaban Simons, Noah menoleh ke arah Celine sambil berkata, "urus orang ini, jangan biarkan dia datang ke kantorku lagi!"
Mendengar itu, Simons tentu saja terkejut. Dia memohon pada Noah untuk tidak memecatnya.
__ADS_1
"Ini hanya masalah sepele Tuan, tolong maafkan saya. Anda terlalu berlebihan memecat saya hanya demi membela gadis penjaga itu!"
Noah mengerutkan keningnya. "Gadis penjaga yang kau maksud itu adalah i—"
"Tuan Werner!" teriak Bella tiba-tiba. "Tidak apa-apa, Tuan. Ini hanya kesalahpahaman biasa. Tolong, jangan lakukan apa pun," sambungnya dengan sorot mata penuh arti.
Noah menahan diri untuk tidak terkejut, tatkala menyadari bahwa mulutnya sendiri hampir kelepasan bicara.
Noah mengembuskan napasnya lalu meminta Simons dan dua orang karyawan bawahannya pergi dari sana. Pria itu berencana akan memberikan sanksi lain untuknya nanti.
Setelah ketiga, Noah pun menatap tajam sekeliling kantin, terutama pada Queen yang kini tertunduk takut.
"Sekali lagi kutekankan untuk tidak menutup mulut, jika ketidakadilan terjadi di hadapan kalian. Mengerti!"
Semua orang yang ada di sana serempak berdiri dan meminta maaf. Mereka membungkuk menghadap Noah.
Bella tersenyum sendu. Noah tampak sangat bijaksana di kantor. Andai saja dia bisa membawa sikapnya tersebut di rumah.
...**********...
Bella sedang sibuk menata barang belanjaan di dapur, ketika Noah pulang ke rumah.
Bella bergegas menghampiri pria itu untuk menyambutnya.
"Terima kasih karena sudah menolongku, seharusnya kau tak perlu melakukannya," ucap Bella pada sang suami.
Noah terdiam sejenak. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya tak suka melihat seseorang berusaha menyalahgunakan jabatannya, dan kau seharusnya bisa jaga diri!" Pria itu berjalan melewati Bella.
"Kak," panggil Bella seketika.
Noah berhenti melangkah.
"Izinkan aku untuk melakukan sesuatu ... Tenang saja, aku tidak akan memintamu untuk memakan masakanku!" Bella buru-buru menambahkan kalimat lain saat mendapati tatapan tak nyaman yang Noah berikan.
__ADS_1
"Terserah!"
Senyum kebahagiaan mengembang di wajah cantik Bella. Sebab baru kali ini, sang suami tidak menolak mentah-mentah permintaannya.