
Tristan mengerutkan keningnya dalam-dalam, tatkala mendapati sebuah hunian besar di hadapannya. Pria itu menatap sekali lagi kertas berisi alamat yang baru saja dia dapatkan dari seseorang.
"Sepertinya benar," gumam pria itu sebelum memantapkan diri menekan bel rumah besar tersebut.
Sebenarnya, tak butuh waktu lama bagi Tristan untuk menemukan tempat tinggal mantan perawat yang telah membawa pergi bayi Harold dan Zara. Sebab, dia mendapat bantuan dari seorang kenalannya yang merupakan detektif swasta terkemuka.
Dari sana lah Tristan tahu, bahwa setelah menukar bayi Harold dan Zara, perawat tersebut pindah ke sebuah desa kecil, tepat di ujung perbatasan negara.
Akan tetapi, alih-alih merawatnya, bayi yang ternyata memiliki kelamin perempuan itu malah diserahkan sang perawat ke sebuah panti asuhan lama yang sudah tutup. Beruntung, salah seorang mantan pengurus panti rupanya tinggal tak jauh dari sana, dan masih menyimpan data-data para penghuni panti yang diadopsi keluarga baru mereka atau diserahkan ke panti lain. Hingga sampailah Tristan di rumah besar ini.
Setelah menunggu beberapa saat, pagar setinggi dua setengah meter itu pun terbuka. Seorang wanita tua menyambut kedatangan Tristan dengan wajah kebingungan.
"Maaf, Anda siapa dan ada urusan apa?" tanya si wanita.
"Apa benar ini rumah milik keluarga Gladwin?" tanya Tristan ramah.
"Ya, benar." Jawab si wanita sekenanya.
"Apa Tuan dan Nyonya ada di rumah?" tanya Tristan lagi. Pria itu sempat menelisik raut wajah si wanita yang tampak waspada.
"Pemilik aslinya telah meninggal. Rumah ini sekarang dihuni oleh adiknya, tetapi beliau sedang tidak ada di rumah."
Mendengar nada bicara si wanita yang datar dan kurang bersahabat, Tristan terdiam sejenak. Pria itu tak mungkin pergi dari sana tanpa hasil. Apa lagi, dia sudah sampai sejauh ini.
"Emm, kalau begitu, bolehkah saya berbicara dengan Anda? Hanya lima menit saja. Saya datang jauh-jauh untuk memastikan sesuatu," pinta Tristan.
Wanita tersebut mengerutkan keningnya, tampak tak suka mendengar perkataan Tristan barusan. "Memastikan apa?"
Tanpa banyak bicara, Tristan segera mengeluarkan selembar foto usang sesosok bayi mungil dan menunjukkannya pada si wanita.
Sedetik setelah melihat, tanpa disangka-sangka si wanita malah menangis terisak. Ia pun lantas menanyakan identitas sebenarnya dari Tristan.
"Hmm, bagaimana kalau kita bicara di dalam saja, Bu? Itu kalau Anda berkenan mempersilakan saya masuk," ucap Tristan.
__ADS_1
Tidak seperti sebelumnya, wanita itu kini terlihat lebih ramah. Dia bahkan mempersilakan Tristan masuk ke dalam rumah tanpa bertanya apa-apa lagi.
...**********...
Viola dan Emma tidak dapat menahan air matanya, begitu seorang perawat memberitahu, bahwa Bella sudah sadarkan diri. Emma bahkan bergegas pergi ke ruang perawatan Harold untuk memberitahu kedua majikannya tersebut.
Kondisi Harold sendiri sudah berangsur-angsur membaik. Dokter sudah memperbolehkan Harold untuk pulang besok atau lusa.
Mendengar kabar baik dari Emma, Harold bergegas mengajak Noah untuk pergi ke sana. Namun, Noah malah terdiam. Ada ketakutan mendalam yang hadir di benak pria itu.
"Ada apa, Nak?" tanya Harold pada sang putra.
Noah bergeming sesaat. "Bella belum tahu apa pun soal ini, Pa," jawabnya.
Seolah mengerti arah dan maksud pembicaraan Noah, Harold menepuk pundak sang putra sesaat. "Bukan kah kita sudah membicarakannya semalam. Tak ada yang berubah, Nak. Kau tetap anak Papa, putra keluarga ini. Papa yakin, Bella bahkan tak peduli siapa dirimu."
Entah mengapa, mendengar penjelasan sang ayah, Noah malah semakin tidak percaya diri.
"Noah," panggil Harold. Pria itu mengulas senyum untuk sang putra, demi menenangkan hatinya.
Noah mengalihkan pandangannya pada sang ayah. Tak lama, dia pun menganggukkan kepalanya.
Menggunakan kursi roda, Harold pun pergi menuju ruang ICU bersama Noah dan Emma.
Sesampainya di depan ruang ICU, mereka bertiga mendapati dokter sedang sibuk memeriksa keadaan Bella, seperti mengetuk lututnya menggunakan reflex hammer. Beliau juga terlihat meminta Bella untuk menggerakkan ujung-ujung jari kaki dan tangannya.
Tak lama kemudian, dokter itu pun keluar dari ruang ICU menemui Harold dan Noah. Bersamaan dengan itu, ponsel Noah berbunyi.
Melihat nama Tristan tertera di layar ponsel, Noah segera mundur beberapa langkah dari sana.
"Ada perkemb—"
"Aku menemukannya!" potong Tristan melalui sambungan telepon.
__ADS_1
Noah terdiam, menunggu perkataan selanjutnya dari sang sahabat.
"Bella!" seru Tristan.
Noah mengerutkan keningnya, tampak tak mengerti.
"Putri Uncle Harold adalah Bella, putri angkatnya sendiri. Istrimu!"
Noah terdiam demi mencerna kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut Tristan. Detik selanjutnya, pria itu tampak syok. Refleks, Noah menoleh ke arah sang ayah yang sedang berbicara dengan sang dokter bedah.
"Kesadaran Nyonya Arabella berangsur-angsur meningkat. Dia bisa merespon perkataan saya dengan baik. Namun, fungsi tangan dan kaki kiri beliau mengalami penurunan. Dia tidak dapat merespon perintah saya untuk menggerakan anggota tubuh bagian kirinya."
Dalam keadaan terkejut, Noah masih dapat mendengar penjelasan sang dokter soal kondisi sang istri.
Tubuh Noah mendadak limbung. Telinganya kini berdengung hebat. Pandangan mata pria itu bahkan tak lagi sejelas sebelumnya.
Harold, Viola, Emma, dan sang dokter, refleks menoleh ke arah Noah, setelah mendengar ponsel milik pria itu jatuh ke lantai.
.
.
.
.
.
.
.
(Sempat ada kekeliruan nama karakter dan sudah diperbaiki. Kalau masih ditemukan kekeliruan, tolong jangan lupa untuk memberitahu ya, kakak-kakak dan adik-adik. Terima kasih.🤗)
__ADS_1