
Semilir angin kian menusuk tubuh tak berdaya seorang Noah, yang kini tengah terduduk lesu di kursi taman belakang.
Di tangan pria itu tergenggam secarik foto bergambar dirinya, bersama seorang wanita cantik bersurai keemasan. Tak lupa sepucuk surat yang wanita itu berikan pada hari pernikahan mereka tempo hari, juga ada di sana.
Batin Noah terkoyak tiap kali membaca kata demi kata yang tertulis di dalam surat tersebut.
Tak ada kata perpisahan berarti untuknya, yang ada hanya sepenggal kalimat penegasan akan perasaan wanita itu pada pria lain, sekaligus pemahaman sepihak soal masa depan mereka yang tak akan sejalan.
"Maria," ucap Noah lirih. Tangannya dengan perlahan mencengkeram kuat foto dan surat tersebut hingga tidak berbentuk lagi.
Demi menutup perasaan cinta yang masih tersimpan dalam benaknya, pria itu akan terus memupuk rasa sakit dan kesedihan guna menghilangkan semua kenangan tentang mereka selama tiga tahun ini.
...**********...
Raut kelegaan terpancar di wajah Bella saat mengetahui bahwa kamar Noah ternyata masih kosong. Mungkin saja sang pemilik kamar saat ini sedang berada di ruang baca, atau pun studio musiknya.
Bella berjalan perlahan menuju tempat tidur besar milik Noah. Wajah gadis itu terlihat sedikit bingung dan canggung, tatkala menyadari di mana dia akan tidur.
Bella menatap sekeliling guna mencari tempat. Namun, tak ada sudut mana pun yang dapat dia jadikan tempat untuk tidur. Gadis itu juga tidak dapat menemukan alas tidur lain, selain selembar selimut tebal milik Noah yang masih tertata rapi di atas ranjang.
Bella bisa saja mengambil selimut baru dari dalam lemari Noah untuk alas tidurnya di lantai, tetapi dia takut Noah akan marah karena sudah memakai dan mengotori selimutnya.
Pilihan untuk tidur di lantai juga sempat menimbulkan keraguan pada diri gadis itu. Bagaimana kalau ternyata Noah marah karena tak sudi tidur seranjang dengannya? Padahal jelas-jelas sang ayah meminta mereka bersama. Akan tetapi, bagaimana pula jika ternyata Noah merasa terhina, jika mengetahui Bella tidur di tempat lain?
"Aku tidur di ranjang saja. Kalau Kak Noah keberatan, dia pasti akan memintaku pindah," gumam gadis itu kemudian.
Setelah mantap dengan keputusan terakhirnya, Bella segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajah, sebelum kemudian tidur di sana.
...**********...
Noah yang baru tiba di kamarnya cukup terkejut mendapati sosok Bella tertidur pulas di ranjang. Pria itu hampir saja melupakan statusnya saat ini yang telah menikah dengan Bella.
"Kau sudah menikah Noah, kurangi main-mainmu ke club malam. Lupakan Maria dan fokuskan perhatianmu pada Bella mulai saat ini."
Tiba-tiba Noah mengingat kembali perkataan ayahnya dua hari lalu.
"Saat ini istrimu adalah Bella."
Wajah Noah mengeras. Sorot matanya memandang tajam gadis yang sedang bergelung nyaman di dalam selimut kesayangannya tersebut.
__ADS_1
"Kau bukan istriku!" Sedetik setelah mengatakan hal demikian, suara debuman keras terdengar di lantai marmer kamarnya.
Noah dengan penuh kesadaran men3ndang tubuh Bella hingga terjatuh membentur lantai dengan keras. Kepala gadis itu bahkan sempat terantuk nakas yang berada di sebelah ranjang.
"Siapa yang menyuruhmu tidur di ranjangku?" ujarnya dingin.
Rasa kantuk yang semula membelenggu Bella kini menguap hilang. Gadis itu hanya bisa meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya.
"Dasar lancang!" teriak Noah marah.
Bella beringsut ketakutan. "Maaf, Kak, aku hanya tidak menemukan tempat yang tepat untuk tidur. Tak ada sofa atau alas apa pun di kamar ini," jawab hadis itu dengan suara bergetar.
Noah segera melangkah menuju lemari pakaian untuk mengambil selembar selimut tebal yang masih baru, lalu melemparnya ke wajah Bella.
Dalam posisi tidak siap menerima selimut tebal yang dilempar ke wajahnya, membuat kepala Bella membentur dinding kamar Noah.
"Tidur di mana pun asal jangan di ranjangku, sialan! Bila perlu tidur di lorong toilet agar aku tidak melihat wajahmu!" makinya kasar.
Bella mendekap selimut pemberian Noah ke dalam pelukannya. Dengan segenap kekuatan yang ada dalam diri, gadis itu bangkit dan mulai berjalan pergi menuju tempat yang dimaksud sang suami.
Bella menatap lorong toilet dengan lelehan air mata. Lorong tersebut hanya memiliki lebar sekitar dua meter saja, dan seperti yang sudah dia lihat tadi siang, terdapat lemari sepatu Noah di sebelah kanannya (yang menghabiskan setengah meter lebar lorong tersebut), sedangkan di sebelah kirinya terdapat pintu toilet.
Sementara di ujung lorong ada wastafel dan cermin dengan berbagai macam barang-barang kebersihan milik pria itu.
Ini baru permulaan, kedepannya, dia yakin Noah akan lebih banyak memberikan luka.
...**********...
Butuh waktu lama bagi Bella untuk dapat tertidur pulas kembali, dan hanya butuh sepersekian detik untuknya bangun, akibat tend4ng4n Noah.
Entah sengaja atau tidak, sembari berjalan melewatinya dirinya, kaki pria itu menend4ng keras tulang kering Bella.
Bella sontak terduduk. Tangannya refleks mengelus tulang keringnya yang terasa nyeri.
"Pemalas yang menjijikan!" hina Noah.
Bella tidak menjawab. Dia lebih memilih bangkit dan melipat kembali selimutnya untuk dikembalikan ke tempat semula.
Selesai mengembalikan selimut tersebut ke dalam lemari, Bella sempat mematung memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Tanpa memerdulikan sikap Noah, semenjak menikah Bella sebenarnya suka mencari tahu bagaimana kiat-kiat menjadi istri yang baik.
Bertekad untuk menerapkannya mulai detik ini, dia pun membuka lemari pakaian Noah guna membantu menyiapkan setelan kerja pria itu.
Setelah selesai dengan tugas barunya tersebut, Bella langsung turun ke lantai bawah untuk membantu menyiapkan sarapan pagi.
"Biar saya saja, Nona Bella!" sergah salah seorang koki keluarga Werner, tatkala mendapati Bella turut membantu di dapur.
"Tidak apa-apa, mulai saat ini aku akan menyempatkan waktu membuat sarapan untuk suamiku," ujar Bella dengan raut malu-malu.
Mendengar hal itu sang koki menatap Bella perihatin. Tak ada satu pun penghuni di rumah ini, yang tidak mengetahui bagaimana Bella diperlakukan, kecuali Harold, sang tuan besar.
"Tapi Anda sudah terlalu sibuk dengan urusan rumah lainnya, Nona," kata sang koki.
"Aku senang memiliki kegiatan baru, Mrs. Lenny." Senyum ramah terbit di wajah cantik Bella.
Mrs. Lenny terdiam sejenak, sebelum kemudian menyetujui permintaan Bella. Diam-diam wanita paruh baya itu menatap iba majikan mudanya.
Tak sampai satu jam kemudian, Harold, Jessica, dan Noah turun dari lantai atas.
Kekecewaan hadir di wajah Bella saat mendapati Noah enggan memakai setelan kerja yang dia siapkan.
Bella mencoba berpikir positif. Mungkin saja setelan tersebut memang tidak cocok dipakai Noah ke kantor hari ini.
"Kak." Bella memberanikan diri mengantar Noah ke depan rumah, setelah menghabiskan sarapannya. Harold sudah berangkat terlebih dahulu bersama Jessica.
Setiap dua sampai tiga minggu sekali, Jessica memang akan berkumpul bersama teman-teman sosialitanya untuk jalan pagi, atau sekadar berbincang ringan.
Noah tidak menghiraukan panggilan Bella. Pria itu malah membuka pintu mobilnya hendak masuk ke dalam.
Buru-buru Bella menahan pintu mobil Noah.
"Minggir kau!" sentak Noah.
"Kak, dengarkan dulu. Mengapa kau tidak memakai setelan yang sudah aku siapkan? Apa mungkin kurang cocok dipakai hari ini? Kalau begitu beritahu aku seperti apa setelan yang Kakak inginkan? Sebab mulai besok aku akan membantu menyiapkannya." Seulas senyum teduh terbit dari wajah cantik Bella.
Bukannya menjawab pertanyaan yang Bella ajukan, Noah malah memandangnya tajam. "Jangan pernah menyentuh pakaian atau barang-barangku!"
Setelah berkata demikian, Noah mendorong mundur Bella dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Aku tak bisa melakukan itu, karena aku istrimu," ucap Bella sesaat sebelum Noah menutup pintu.
"Coba saja kau lakukan, maka kau akan menerima konsekuensinya!" Tanpa menoleh Noah bergegas membawa mobilnya pergi dari hadapan Bella.