Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
31. Kehadiran Masa Lalu.


__ADS_3

Viola mengambil kesempatan cuti tepat sehari setelah Jessica pergi meninggalkan Zernedien. Gadis kepercayaan Bella itu hendak melakukan penyelidikan lebih lanjut perihal apa yang telah dilakukan Jessica bersama Martha.


Sejak kepergian Harold, keduanya terlihat sedang merencanakan sekaligus menyembunyikan sesuatu. Apa lagi, Viola masih mengingat jelas percakapan yang terjadi di antara mereka berdua.


Alhasil dari kegiatan penelusurannya selama dua hari ini, Viola mendapati sebuah petunjuk yang mengarah pada salah satu rumah tua kosong di kawasan kota lama. Namun sayang, rumah kosong tersebut kini rata dengan tanah.


Tak ingin pergi tanpa bekal, Viola menghampiri salah satu rumah tetangga guna menanyakan identitas sang pemilik rumah.


"Ahh, rumah itu dulunya milik keluarga Thompson. Setelah kematian kepala Tuan Thompson, putri satu-satunya di keluarga tersebut memboyong sang ibu untuk pindah keluar kota. Sejak saat itu rumah mereka jadi kosong dan tidak berpenghuni."


Viola mengangguk kala mendengar penjelasan salah seorang tetangga yang berhasil ditemuinya.


"Apa Anda tahu mereka pergi ke mana, atau apakah Anda pernah melihat mereka mengunjungi rumah ini?" tanya Viola.


Si wanita menggeleng. "Sejujurnya, warga di kawasan ini memang kurang dalam menerapkan sosialisasi. Kami lebih banyak menghabiskan waktu produksif dengan bekerja di luar, dan baru pulang ke rumah pada malam harinya. Hal yang langka bagi kami bisa saling berpapasan seperti seperti tetangga pada umumnya."


Viola terdiam sejenak. "Begitu rupanya. Ahh, bolehkah saya tahu siapa nama anak satu-satunya di keluarga itu?"


"Jessica. Jessica Thompson."


Seulas senyum simpul terpatri di wajah cantik Viola. Mungkinkah pembicaraan tempo lalu berhubungan dengan ibu dari wanita itu?


...**********...


Bella tak dapat menutupi rona bahagianya hari ini, sebab Noah tiba-tiba mengajukan diri untuk menemani gadis itu berbelanja sepulang kerja.


Kendati gosip yang berkembang di antara mereka begitu merugikan nama baik Bella, tetapi tetap saja tak mampu menggantikan kebahagiaan gadis itu.

__ADS_1


Noah memang belum berubah, dia hanya sedikit lebih manusiawi dibandingkan sebelumnya.


"Terima kasih, Kak," ucap Bella setelah Noah selesai memasukkan semua barang belanjaan ke dalam mobil.


Noah hanya mengangguk sekilas. Pria itu pun masuk ke dalam mobil disusul Bella.


"Kita makan dulu malam dulu," ujar Noah, tatkala mobil mereka sudah berada di jalan utama.


"Tidak perlu, Kak, kita pulang saja ke rumah, aku akan masak saj—" Perkataan yang meluncur dari mulut Bella sontak terhenti, saat menyadari kenyataan bahwa Noah masih enggan memakan masakan buatannya. Alhasil, gadis itu pun mengangguk mengiyakan ajakan sang suami.


...**********...


Sekitar pukul setengah sembilan malam, keduanya baru tiba di apartemen.


Begitu pintu lift terbuka, sepasang suami istri tersebut kompak mengerutkan keningnya, saat mendapati sosok seorang wanita berdiri tepat di depan pintu apartemen mereka.


Bella perlahan berjalan mendekat ke arahnya. "Maaf, Nona, Anda sedang menunggu siapa?" tegur gadis itu ramah.


Mendapat teguran demikian, si wanita kemudian berbalik menatap Bella. "Noah." Jawabnya datar.


Bella tersentak kaget, begitu pula dengan Noah yang berdiri di belakangnya.


Ingatan akan rasa sakit yang diberikan wanita itu beberapa bulan yang lalu kembali menghantam jiwa Noah. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya saat ini.


Sementara Bella hanya bisa mematung menatap sosok Maria yang berdiri persis di hadapannya.


Dia sama sekali tidak mengenali Maria, karena wanita itu memotong pendek rambutnya. Bella mundur selangkah. Kebahagiaan yang baru saja dia rasakan kini menguap entah ke mana.

__ADS_1


"Maaf, sepertinya aku mengganggu kebersamaan kalian. Aku mengetahui apartemen kalian dari Martha," kata Maria canggung.


Bella terdiam enggan menanggapi perkataan Maria.


"Ada urusan apa kau kemari?" tanya Noah dingin. Matanya sesekali melirik raut wajah Bella yang kini terlihat mendung.


"Anu, aku ingin berbicara denganmu, Noah. Bolehkah?" tanya wanita itu.


Bella yang merasa tahu diri, segera memberi keduanya tempat. "Aku masuk dulu," pamit gadis itu.


"Di sini saja!" titah Noah pada Bella. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Maria. "Bicara saja, aku dan istriku akan mendengarnya."


Mendengar perkataan Noah, Maria diam-diam mengepalkan tangannya. "Aku hanya ingin bicara berdua denganmu, please!" pintanya tak tahu malu.


Dada Bella terasa panas. Gadis itu cemburu.


"Silakan saja!" seru Bella dingin, sembari membuka pintu apartemen. Setelah pintu terbuka, dia meminta tiga kantong belanjaan yang dibawa sang suami, tanpa menatap wajahnya. Gadis itu sedang menghindari tatapan Noah.


Akan tetapi, bukannya menyerahkan ketiga kantong tersebut pada Bella, Noah malah ikut masuk ke dalam apartemen dan meletakkannya dengan benar di meja pantry. Baru lah pria itu keluar lagi.


Entah apa yang merasuki kepala Noah, di hadapan Maria, pria itu tiba-tiba merangkul pinggang Bella dan memaagut bibirnya mesra.


"Tunggu aku," ucapnya lembut.


Bella sebenarnya tak kalah terkejut, tetapi dia tidak memperlihatkannya di depan Maria. Gadis itu hanya mengangguk.


Begitu masuk ke dalam, Bella segera menutup pintu dan bersandar di sana.

__ADS_1


Gadis itu tidak boleh merasa senang, sebab dia tahu, Noah sengaja melakukan hal tersebut guna memberi penegasan pada Maria soal hubungan mereka yang telah kandas, dan hal itu membuat hati Bella sedikit teriris.


__ADS_2