Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
33. Tak Lagi Sama.


__ADS_3

Sejak pertemuan pertama dengan Maria, hubungan Bella dan Noah yang bisa dikatakan membaik kini kembali menegang. Pria itu selalu saja marah-marah dan menganggap semua pekerjaan rumah yang Bella lakukan salah.


Bella sempat mengira kedatangan Maria saat itu adalah pertama dan terakhir kalinya. Namun, perkiraan tersebut ternyata salah. Wanita itu kembali datang mengunjungi Noah di apartemen sebanyak dua kali.


Meski sikap Noah saat menyambut kedatangan Maria terasa sangat dingin, tetapi Bella dapat melihat dengan jelas kerinduan yang hadir di sorot mata pria itu.


Noah hanya sedang berusaha menahan diri untuk tidak merendahkan harga dirinya di depan Maria.


Benar saja, selama satu bulan berhubungan kembali dengan Maria, jarak antara Noah dan dirinya semakin hari semakin menjauh.


Noah tak pernah lagi mengajak Bella pulang atau berbelanja di supermarket bersama. Dia bahkan hanya tiga kali makan siang di kantin tempatnya bekerja.


Sikapnya di rumah pun terasa lebih dingin.


Bella yang semula mencoba menerima kehadiran Maria, kini mulai melakukan pemberontakan. Dengan tegas wanita itu meminta Noah untuk tidak lagi menemui Maria.


Bukannya menurut, Noah malah menyulut pertengkaran dengannya.


"Bell, kau melamun? Wajahmu sedikit pucat." Peter menyentuh pundak Bella yang terlihat sedang melamun di ambang pintu gudang. Gadis itu baru saja selesai mengepel dan menyapu gudang menggantikan teman mereka yang tidak masuk kerja hari ini.


"Eh, maaf, Pet. Kau mau masuk ke dalam?" ujar Bella terkejut.

__ADS_1


"Tadinya, tapi aku segera ke dapur. Emm, bisakah aku meminta tolong padamu saja, Bell?" kata Peter tak enak hati.


"Tentu saja, aku akan membawakannya ke dapur." Bella tersenyum.


"Tapi, kau benar-benar baik-baik saja?" Peter memastikan kondisi Bella yang tidak sesehat biasanya. Maklum saja, sejak kedatangan Maria, gadis itu jadi kurang tidur. Apa lagi dia jadi sering bertengkar dengan Noah.


Kendati Maria pernah mengatakan, bahwa kehadirannya murni hanya untuk menjalin silaturahmi sebagai teman, tetap saja ada perasaan takut yang membelenggu hatinya.


"Ya, aku baik sekali. Jadi, apa yang bisa kulakukan?"


"Ahh, oke!" Peter menyebutkan beberapa bahan makanan yang diperlukan kepada Bella. Setelah selesai menyebutkan, Peter bergegas pergi meninggalkan Bella.


"Makan siang hari ini, lantai satu membuat—"


"Aku ingin makan di luar!" potong Noah dingin.


Celine mengangguk. Lagi-lagi Noah menolak makan siang di kantin lantai satu.


"Kita tidak makan di kantin lagi, Tuan?" tanya Celine hati-hati.


"Aku tak akan mati jika tidak makan makanan di sana!" sahut Noah ketus.

__ADS_1


Celine diam-diam menghela napas pasrah. Suasana hati Noah beberapa minggu terakhir ini memang terlihat memburuk. Dia yang sempat bersikap lunak kini kembali bertingkah menyebalkan. Celine bahkan harus kuat-kuat menahan diri, agar tidak terbawa perasaan.


Saat keduanya hendak keluar dari ruangan Noah, tiba-tiba sosok Maria muncul di sana.


Noah tentu saja terkejut. Dia lantas menanyakan maksud kedatangan Maria ke kantor. Biar bagaimana pun, Noah tak ingin ada rumor tersebar di dalam perusahaannya.


"Aku kebetulan sedang lewat, jadi kuputuskan untuk mampir sebentar," jawab Maria ramah. "Emm, sepertinya kedatanganku tidak tepat waktu ya?" sambungnya ketika melihat Noah dan Celine bersiap pergi.


Maria pun menatap jam tangan miliknya. "Ahh, kau pasti ingin makan siang. Aku juga belum makan siang. Bagaimana kalau kita berdua pergi makan bersama?" Dengan tidak tahu malu Maria menawarkan diri mengajak Noah keluar.


Tanpa mengajak Celine, wanita itu pun menarik lembut tangan Noah menuju lift.


"Sepertinya wanita itu terlihat tidak asing?" gumam Celine sembari terus menatap kepergian mereka.


Saat keduanya baru saja keluar dari lift lantai satu, tanpa sengaja Noah berpapasan dengan Bella yang sedang kesusahan menarik tiga galon dispenser sendirian.


Gadis itu memang diminta mengantar tiga galon ke lantai sepuluh, karena mereka kehabisan air minum.


Mata Bella sontak terbelalak kala mendapati sosok Maria ada di sana. Buru-buru Bella menutup wajahnya dengan topi agar Maria tidak mengenali dirinya.


Seolah tidak mengenal, dia pun berjalan melewati Noah.

__ADS_1


__ADS_2