
Selama lebih dari 15 tahun mengenal Bella, Noah sekali pun tak pernah berlaku baik padanya. Jangankan berbuat baik, menganggap dirinya ada pun tidak pernah.
Setelah menikah, sikap Noah malah semakin memburuk. Semula dia pikir, kebenciannya pada Bella tak akan pudar. Namun, entah sejak kapan, pria itu tidak lagi merasa demikian. Terbiasa melihat ketegaran Bella membuat hatinya tersentil.
Bahkan saat Bella pergi dari rumah, Noah merasa dirinya baru saja kehilangan arah.
Pria itu berusaha mempertahankan kebenciannya pada Bella. Namun, semakin keras dia berusaha, hati dan pikirannya malah semakin tertaut pada Bella.
Noah mencintai gadis itu.
Perasaan itu lah yang membuat Noah nyaris gila, saat salah seorang asisten rumah tangga mereka memberitahukan apa yang telah terjadi pada sang istri melalui sambungan telepon.
Secepat kilat dia segera meminta Oliver untuk memutar mobilnya menuju salah satu rumah sakit terbesar di sana.
"Ada apa Noah? Siapa yang sakit?" tanya Harold kebingungan. Dia sama sekali tidak tahu mengapa tiba-tiba sang putra meminta sypir pribadi mereka untuk mengalihkan tujuan ke tempat lain. Apa lagi tempat itu adalah rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi Noah?" tanya Harold sekali lagi. Wajahnya berubah panik. Mereka baru saja pergi kurang dari dua puluh menit yang lalu.
Noah sama sekali tidak menjawab pertanyaan sang ayah. Pria itu hanya sibuk meneriaki Oliver untuk melajukan mobilnya secepat mungkin. Namun, Harold bersumpah melihat setitik air mata mengalir membasahi pipi sang putra.
Sementara itu, Viola ditemani asisten rumah tangga lain bernama Emma, pergi bersama ambulance yang membawa Bella, sedangkan Jessica malah memilih lari menuju kamarnya untuk membereskan beberapa barang, sebab wanita itu berencana akan kabur bersama Martha.
Akan tetapi, para asisten rumah tangga yang tersisa segera menutup kamar pribadi Jessica dan menahannya dari luar, demi mencegah wanita itu kabur.
"Nyonya, kita terkunci!" seru Martha panik.
Jessica melempar tasnya ke atas ranjang dan berlari menuju pintu. "Siaalaaan! Hei, buka pintunya, Bedeebbah!" teriaknya dari dalam, sembari menggesor-gedor pintu. Namun, usahanya sia-sia. Pintu tetap terkunci.
__ADS_1
Jessica frustrasi. Sesaat kemudian dia berbalik menuju balkon kamarnya untuk melihat keadaan di luar. Akan tetapi, setelah mengetahui ketinggian kamarnya, nyali Jessica sontak menciut.
Tak ada jalan keluar lain. Mereka terjebak di sana.
"Aaarrgghhh!" Jessica kembali berteriak. Kali ini dia mencoba memukul-mukul gagang pintu menggunakan bangku meja rias yang ada di sana.
"Buka sialaaan! Buka pintunya!" Teriak Jessica marah. "Tak akan aku biarkan kalian hidup, jika aku bisa melepaskan diri dari sini!" ancam wanita itu setelahnya.
Mendengar ancaman dari sang majikan, tidak membuat hati para asisten rumah tangga tersebut gentar. Mereka memang udah muak dengan sikap Jessica dan Martha selama ini pada Bella.
Sejak dulu mereka tidak berani menolong Bella. Kini, meski terlambat, setidaknya ada satu hal yang dapat mereka lakukan untuk majikan mudanya tersebut.
...**********...
Viola dan Emma yang sedang menangis di kursi tunggu ruang operasi segera bangkit, begitu melihat Noah dan Harold datang.
Harold syok. Perasaan menyesal telah meninggalkan Bella di rumah bergulung-gulung menekan dada pria itu. Semestinya dia sadar, bahwa bukan Noah lah yang harus khawatirkan akan melukai Bella, melainkan istrinya sendiri.
Beruntung, Noah langsung sigap menahan tubuh sang ayah dan membantu menenangkannya.
"Kau tahu semua itu, Noah? Kau lah yang sering berada di rumah?"
Mendapat pertanyaan tersebut, Noah bergeming sambil menundukkan kepalanya.
"Ya, Tuhan!" seru Harold sembari memegangi dadanya yang mulai terasa sakit.
Noah panik. Dia meminta Emma untuk memanggil bantuan, agar bisa membawa sang ayah ke ruang perawatan. Namun, Harold menolak keras.
__ADS_1
"Papa ingin melihat Bella. Biarkan Papa melihatnya," pinta Harold.
Noah mengalah. Dia pun membiarkan sang ayah tetap di sana, dengan catatan, beliau tak boleh menolak melakukan perawatan, jika kondisinya semakin lemah.
Emma dan Viola menemani Harold di kursi tunggu, sementara Noah berdiri sembari menyandarkan tubuhnya di pintu ruang operasi. Dalam hati, dia memohon pada Tuhan untuk memberinya kesempatan membahagiakan Bella.
Beberapa saat kemudian, dua orang perawat terlihat berlari keluar dari ruang operasi, sementara satu orang dokter pendamping menemui Noah dan yang lainnya.
"Nyonya Arabella mengalami pendarahan pada kepala. Terdapat gumpalan darah juga di otak kirinya. Sekarang, kami membutuhkan pendonor darah golongan A untuknya. Namun, stok darah di rumah sakit kami menipis."
"Ambil darah saya, Dok! Golongan darah saya adalah A!" seru Harold dari kursi tunggu.
"Tidak! Saya suaminya, Dok. Jadi, biar saya saja. Golongan darah saya antara A dan O," ujar Noah kemudian.
Dokter tersebut setuju. Dia segera meminta Noah untuk pergi ke Unit Transfusi Darah untuk melakukan prosedur pemeriksaan golongan darah terlebih dahulu.
...**********...
"Maaf, Tuan, Anda tidak bisa mendonorkan darah untuk pasien Nyonya Arabella," ucap seorang petugas pada Noah.
Noah sontak mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa? Golongan darah saya sama dengannya."
Petugas tersebut menggelengkan kepalanya. "Golongan darah Anda adalah B, Tuan."
Noah bergeming sesaat, demi mencerna informasi yang baru saja dia dapatkan.
Sedetik kemudian, wajahnya terlihat sangat syok. Kata-kata tersebut bagai sambaran petir baginya. Sebab, Zara, sang ibu kandung, memiliki golongan darah O, sedangkan golongan darah A dan O tidak mungkin menghasilkan anak dengan golongan darah B atau AB.
__ADS_1