
Noah adalah pria keras kepala. Hatinya tak akan luluh begitu saja hanya dengan mendengar satu nasihat dari seseorang. Terlebih, bila nasihat itu keluar dari mulut orang-orang yang menyebalkan baginya, yaitu Sahabat dan sepupunya.
Akan tetapi, tampaknya ketika nasihat tersebut disangkutpautkan dengan Bella, hati Noah sedikit tersentil.
Tiba-tiba pria itu kembali mengingat saat-saat pertama kali Bella datang ke rumah. Waktu itu, hanya dengan dress terusan sederhana dan sandal tidur bergambar kelinci, Bella datang bersama Harold dan Jessica.
Mereka memperkenalkan Bella pada dirinya yang kebetulan baru saja pulang sekolah.
Kesan pertama yang Noah dapatkan saat melihat Bella adalah, cantik. Meski wajahnya terlihat murung dan pakaiannya kusut, tetapi Noah bisa melihat aura kecantikan terpancar di wajah gadis kecil itu. Namun, saat mengetahui bahwa Bella akan tinggal bersama dengannya, Noah bergegas pergi. Dia bahkan menepis uluran tangan Bella terlebih dahulu.
"Kau tak perlu berbaik-baik padanya, Sayang. Mama sudah tahu seperti apa sifat gadis itu. Dia mungkin bisa mengelabui papa, tapi tidak dengan kita!"
Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Jessica saat pertama kali mencoba membicarakan Bella padanya. Sejak saat itu, Jessica selalu saja melaporkan hal-hal menyebalkan tentang Bella, hingga membuat dirinya begitu membenci sang gadis angkat.
Menurutnya, Jessica tidak seratus persen salah, sebab dia beberapa kali memang mendapati tingkah manja Bella pada sang ayah. Gadis itu seolah berhasil menggeser posisinya di hati Harold.
Kebencian demi kebencian terus Noah pupuk selama bertahun-tahun, hingga dia tak ingat lagi apa saja penyebabnya.
Bella tak pernah mendapatkan kasih sayang darinya mau pun sang ibu. Hanya pada Harold lah, dia merasa memiliki keluarga, dan Noah sama sekali tidak memerdulikan hal itu.
Sampai akhirnya mereka berdua menikah pun, Noah tidak pernah benar-benar berlaku seperti seorang suami. Padahal, Bella butuh sandaran dalam menghadapi segala macam kemelut dalam hidupnya.
"Shiiit!" Noah mengusap kasar wajahnya sekali lagi. "Ke mana kau, gadis bodoh!"
Noah terdiam sejenak. Pria itu tengah berusaha mengingat-ingat sesuatu.
Di panti sedang butuh relawan, dan aku mengajukan diri untuk membantu di sana selama beberapa waktu.
Noah tersentak. Dia baru ingat, Bella pernah membicarakan panti beberapa kali.
"Siaal, siiial! Mengapa baru terpikirkan!" umpat Noah pada dirinya sendiri.
Tak ingin membuang-buang waktu, Noah pun segera bangkit dari sofa dan pergi keluar. Namun, saat pintu apartemen terbuka, dia malah mendapati Maria berdiri di sana, sembari membawa sekantong penuh makanan. Tanpa diminta, Maria pun masuk ke dalam apartemen pria itu.
__ADS_1
Noah memasang tampang dingin. Sejak kepergian Bella, dia selalu menolak kehadiran Maria. Pria itu bahkan tidak pernah membukakan pintu apartemennya untuk Maria.
"Kau mau ke mana? Sepertinya buru-buru," ujar Maria.
"Mau apa ke sini?" Bukannya menjawab, Noah malah mengajukan pertanyaan juga. Nada bicaranya terdengar kurang ramah.
Maria membalas tatapan dingin Noah gugup. "Aku hanya khawatir dengan keadaanmu. Jadi, aku memutuskan membawa beberapa lauk untukmu," jawab wanita itu selembut mungkin.
"Tidak perlu. Pulanglah!" titah Noah.
Maria merapatkan giginya kuat-kuat. Dia pikir, dengan kepergian Bella, Noah akan lebih mudah jatuh ke dalam pelukannya lagi. Namun, ternyata tidak demikian. Noah malah terlihat sangat frustrasi dan kehilangan arah.
Pria itu sepertinya tidak sadar, bahwa dia sangat mencintai Bella, dan Maria tidak akan membiarkan Noah menyadari perasaannya.
"Kau pasti mau mencari Bella, kan?" tanya Maria tiba-tiba.
Noah terdiam enggan menjawab. Pria itu malah mendorong Maria agar keluar dari apartemennya. Namun, wanita itu malah menghindar.
"Untuk apa mencarinya, Noah? Bukankah lebih baik jika dia tidak ada?" tanya wanita itu dengan raut wajah kesal. Dia sudah tak peduli lagi soal bermanis-manis pada Noah.
Mendengar kemarahan Noah, Maria tertawa sinis. "Lancang? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Noah!" seru Maria.
Wanita itu maju dua langkah ke arah Noah. "Aku tahu benar, selama ini kau tak pernah menganggap Bella sebagai istrimu. Dia hanyalah pengantin pengganti diriku, dan takdirnya sebagai pengantin pengganti yang tidak dicintai, tak akan pernah berubah!"
Noah mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Kau j—"
"Jadi, tinggalkan dia dan kembalilah padaku!" sentak Maria dengan mata yang mulai basah.
Noah sontak menatap tajam Maria. "Kau menipuku!" serunya.
Maria terdiam. Dia tak peduli niat sebenarnya diketahui Noah. "Aku tahu, kau masih mencintaiku, Noah." Bukannya membalas tudingan Noah, Maria malah berkata demikian.
Suasana hening sejenak. Noah terdiam selama beberapa saat, sebelum mengeluarkan suaranya kembali. "Dalam mimpimu!"
__ADS_1
Mata Maria membola, denyut kesakitan hadir mengisi relung hatinya. Dia sudah kehilangan Jason, tentu saja dia tak boleh kehilangan Noah juga.
Wanita itu tidak bisa membayangkan menjalani hidup hanya berdua dengan anak dalam perutnya ini.
Maria dengan sigap bergegas menahan tangan Noah yang hendak pergi. "Jangan tinggalkan aku, Noah! Mari kita mulai semua dari awal lagi. Aku minta maaf. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya!"
Noah menyentak kasar tangan Maria hingga terlepas.
Tak ingin menyerah, Maria pun akhirnya membuka fakta yang selama ini dia sembunyikan pada Noah.
"Aku hamil, Noah!" seru wanita itu keras. Dia pikir, Noah mungkin akan luluh dan merasa kasihan padanya. Tidak apa-apa jika hubungan mereka hanya dilandaskan perasaan iba, asal Maria bisa kembali bersama Noah.
Akan tetapi, perkiraannya ternyata salah. Pria itu malah semakin marah dan menariknya keluar apartemen dengan kasar.
"Bangsaaatt, jadi kau sengaja mendekatiku hanya demi bayi tidak berayah itu!" hardik Noah.
Maria terdiam ketakutan. "Noah, aku—"
"Berhenti bicara!" Noah yang merasa tertipu dan nyaris terjebak perasaan dulu, melampiaskan kemarahannya dengan meneriaki Maria menggunakan kata-kata kotor.
"Mintalah pria itu untuk bertanggung jawab, dan jangan limpahkan padaku, sialaan!"
Setelah puas meluapkan seluruh emosinya, Noah pun bergegas pergi meninggalkan Maria, yang kini hanya bisa meratapi kesedihannya.
"Aaarrgghhh!" teriak wanita itu sambil menjambak-jambak rambutnya.
.
.
.
.
__ADS_1
(Maaf, jika typo atau tanda baca banyak bertebaran, karena saya tidak punya cukup waktu untuk memeriksanya kembali. Lain waktu akan saya benahi dari bab awal.
Terima kasih sudah membaca sampai sini.❤️)