Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
12. Kacau Balau.


__ADS_3

"Putri Papa cantik sekali!"


Noah yang masih mematung memandangi Bella sontak tersentak sadar, tatkala mendengar pujian yang terlontar dari mulut sang ayah, Harold. Pria itu dengan bangga mendekati Bella dan memeluknya penuh kasih sayang.


Bella meringis. "Sepertinya ini terlalu terbuka, Pa," kata gadis itu malu, setelah Harold melepas pelukannya.


Harold menggelengkan kepala. "No, Sayang! Memang beginilah penampilan keluarga Werner seharusnya. Kau adalah putri bungsu keluarga ini, yang sekarang menjadi menantu satu-satunya, jadi kau tak perlu merasa rendah diri, Nak," ujar pria itu menyemangati. "Omong-omong, pilihanmu sangat bagus, Sayang." Sambung Harold.


"Ini bukan pilihanku, Pa, tapi pilihan Kak Noah." Bella melirik Noah yang sedang membuang muka ke arah lain.


"Wonderful!" Harold menatap Noah dan menepuk-nepuk pundak sang putra.


Noah hanya mengangguk tipis. Dia tidak mungkin memberitahu sang ayah, bahwa gaun tersebut dibeli oleh Celine. Jangankan membeli, melihat bentuk gaunnya di dalam kotak saja, Noah tidak sudi.


Namun, ke mana sikap tak sudi yang pria itu tunjukan tadi? Noah kini malah sibuk menetralisir detak jantungnya yang sedikit kacau balau, entah mengapa.


Jessica yang tidak suka dengan keadaan ini pun menginterupsi pembicaraan mereka. "Ayo, kita akan terlambat, kalian bisa memujinya lagi nanti, kan!" seru wanita itu sembari menatap sinis Bella, sebelum kemudian berbalik meninggalkan mereka bertiga duluan.


Diam-diam Martha pun memandangi Bella penuh kebencian. Sayang sekali malam ini adalah malam terakhir Bella berada di sana.


Tiga puluh menit kemudian mereka berempat tiba di salah satu restoran bintang lima, yang menjadi favorit para pejabat dan artis-artis papan atas ibu kota.


Namun, ada yang lain dari raut wajah Noah saat tiba di tempat ini. Sebab pria itu sama sekali tak menyangka bahwa mereka akan makan malam di tempat Noah melamar Maria dulu.


Jessica yang menyadari perubahan raut wajah Noah tentu saja tersenyum senang, karena dia lah yang memang mengatur lokasi makan malam keluarganya, dan Harold sama sekali tidak mengetahui semua itu.


Sementara itu, Bella menatap Noah dengan wajah bingung, karena pria itu tampak jauh lebih dingin dari pada sebelumnya.


"Kak," panggil Bella lembut.

__ADS_1


Noah tidak menjawab. Pria itu malah melangkah pergi meninggalkan Bella di belakang.


Bella mengembuskan napasnya sejenak, sebelum kemudian menyusul sang suami dan kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam restoran.


Setibanya di dalam, lagi-lagi Noah kembali dikejutkan dengan meja yang akan mereka tempati untuk menyantap makan malam bersama, yaitu meja nomor dua puluh tiga. Meja yang sama saat Noah bersimpuh di hadapan Maria dengan sebuah cincin berlian mahal di tangannya, beberapa waktu lalu.


Bella dapat melihat kepalan tangan Noah. Gadis itu dengan penuh kelembutan menyentuh sedikit punggung tangannya. "Kak."


Noah tersentak. "Jangan sentuh aku!" bisiknya sinis.


"Maaf," cicit Bella.


Noah tidak menjawab. Pria itu malah duduk di kursinya terlebih dulu.


Acara makan malam pun dimulai dengan penuh kedamaian. Para pelayan mengeluarkan menu makanan secara bergantian, satu persatu. Tak lupa, alunan musik jazz berpadu harmonis dengan suara merdu penyanyi wanita berpenampilan menawan, menambah kenikmatan makan malam keluarga ini.


Harold dan Jessica tampak saling menikmati kebersamaan mereka. Namun, tidak dengan sepasang pengantin baru di depannya.


Sementara keadaan Bella pun tak jauh berbeda dengan sang suami. Entah mengapa, melihat tingkah Noah membuat perasaan tak nyaman hinggap di hati gadis itu.


Menyadari sikap kedua anaknya tampak dingin, Harold pun membuka suara. "Noah, Bella, ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kalian?"


"Tidak ada, Pa. Aku hanya belum terbiasa." Bella lah yang pertama kali menjawab pertanyaan Harold.


Harold tersenyum lembut. "Mulai saat ini biasakanlah. Dulu Papa masih membiarkan penolakanmu soal berbaur di luar rumah, tetapi sekarang kau tak boleh melakukan itu lagi. Oke?"


Bella mengulas senyum simpul seraya mengangguk pelan.


Harold mengalihkan pandangannya pada sang putra yang saat ini sedang termenung, seolah memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Noah!" panggil Harold sedikit keras.


"Ada apa, Pa?" ujar Noah begitu sadar dari lamunannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Nak?" tanya Harold kemudian.


Noah terdiam sejenak. "Banyak Pa. Maaf," jawab pria itu jujur.


Harold meletakkan alat makan yang tadi dia pegang, lalu menyatukan kedua tangannya sembari menatap Noah dan Bella.


"Noah, Bella, mulai saat ini cobalah untuk membuka hati dan menerima satu sama lain, karena dengan begitu rumah tangga yang kalian bangun atas dasar perjodohan, akan berubah menjadi cinta yang sebenarnya. Bisa?" Harold menatap kedua anaknya secara bergantian.


Jessica yang sangat tidak menyukai kehangatan yang diberikan Harold pada Bella, sontak mencibir. "Jangan terlalu menekan, Sayang, Noah pasti butuh waktu. Cintanya pada Maria sangat dalam, dan Bella harus memahami hal itu."


Mendengar perkataan tajam yang dilontarkan Jessica tanpa beban, membuat suasana makan malam di antara mereka semakin terasa dingin.


"Sayang, seharusnya kau tak perlu mengatakan hal demikian. Ini makan malam spesial untuk mereka berdua. Sudah seharusnya kita mendorong mereka untuk menjalani biduk rumah tangga dengan benar, bukan?" Harold dengan lembut menegur sang istri.


Jessica mengangkat bahunya sambil melirik Noah dan Bella. "Memang apa yang salah dari ucapan Mama? Mama benar, kan?" Wanita itu kemudian mengalihkan pandangannya pada sang suami. "Noah masih mencintai Maria, wanita yang aku harapkan bisa menjadi menantu keluarga kita. Aku saja membutuhkan waktu untuk melupakan Maria, apa lagi Noah, Harold. Noah butuh penyesuaian dan pindah rumah bukanlah solusi terbaik untuk diambil."


Bella tampak tertunduk kala mendengar perkataan panjang Jessica. Makanan mewah yang semula terlihat begitu menggoda selera, kini tidak lagi demikian. Rasa lapar yang mendera gadis itu mendadak hilang tak bersisa.


Perlahan Bella memundurkan kursinya dan berdiri. "Aku ingin toilet sebentar," ucapnya pelan.


Sepeninggal Bella, Harold menegur sang istri sedikit keras. "Apa yang baru saja kau katakan itu sangat menyakiti Bella, Jesse! Kau harus sadar bahwa istri Noah saat ini adalah Bella, anak angkat kita!"


Jessica tertawa sinis. "Aku selalu keberatan dengan sebutan itu, Sayang. Anakku sejak dulu hanya satu, yaitu Noah."


Harold memejamkan matanya sejenak. "Jesse, ini sudah bertahun-tahun dan kau benar-benar keterlaluan."

__ADS_1


Saat keduanya masih terlibat perdebatan sengit, Noah tiba-tiba membanting gelas yang baru saja dia gunakan untuk minum.


"Makan malam ini kacau sekali!" seru pria itu seraya berdiri dari tempat duduknya.


__ADS_2