Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
29. Ibl1s Sejati.


__ADS_3

Senyum mengembang di wajah Jessica setelahnya. Senyum yang pernah Martha lihat puluhan tahun silam. Senyum ketika dia berhasil menyingkirkan musuh terbesarnya kala itu.


Bulu kuduk Martha meremang. Dia sadar betul, kali ini dia tak akan bisa lari seperti saat itu.


Selagi Jessica melakukan sesuatu pada jasaad sang ibu, suara deru mobil tiba-tiba terdengar. Itu pasti orang-orang suruhan Jessica yang semula berniat menjemput Nora ke panti jompo.


"Temui mereka dan batalkan rencana!" titah Jessica.


Martha yang masih dalam keadaan syok, segera berlari keluar rumah, sedangkan Jessica dengan menyeret tubuh sang ibu ke dalam rumah, dan meletakkannya ke atas tempat tidur.


"Tidurlah yang nyenyak, Mom! Sudah kubilang, kau tak akan pernah bisa menghancurkan rencanaku!" seru Jessica sembari menatap Nora dengan wajah dingin. Tak ada raut kesedihan mau pun air mata yang mengalir membasahi pipi Jessica. Hatinya telah lama mati.


Tak berapa lama, Martha kembali ke dalam rumah. "Mereka sudah pergi," katanya pada sang majikan.


"Good!" sahut Jessica.


Martha menatap jasaad Nora dengan mata nanar, sebelum kemudian beralih pada sang nyonya. "Lalu, bagaimana dengan tubuhnya, Nyonya?" tanya wanita itu.


"Aku sudah punya rencana. Sekarang kita pergi dulu dari sini, sisanya biar aku yang bereskan!" jawab Jessica datar. "Setelah ini, aku bisa menyusul suamiku ke Gargania dengan tenang," sambungnya sembari masih memandangi tubuh kaku Nora.


...**********...


Bella berdiri gugup di depan pintu apartemen begitu melihat sang ibu angkat datang. Wanita itu tak hanya datang sendirian, melainkan bersama pelayan setianya, Martha.

__ADS_1


"Mana putraku?" tanya wanita itu sembari menerobos masuk ke dalam.


"Kak Noah masih belum pulang dari kantor, Ma," jawab Bella. Hari ini dia memang pulang lebih cepat karena barang sudah datang saat pagi hari.


"Mama mau minum apa, biar aku buatkan?" Bella menawarkan diri.


Jessica tidak menjawab. Dia sibuk menatap sekeliling apartemen dengan wajah sinis.


"Jangan pernah menganggap hidupmu akan lepas dariku begitu saja," ujar wanita itu sambil berbalik menatap Bella. "Kau pikir, hidup jauh dariku bisa membuatmu bahagia? Tidak, gadis bodoh!" sambungnya.


"Sepertinya dia menganggap demikian, Nyonya! Lihat saja, semenjak menikah mana pernah dia datang ke rumah. Dia pasti enggan menemui Anda!" Martha berusaha memprovokasi majikannya.


"Ti—tidak, Ma. Aku bukannya tak ingin datang ke rumah, aku hanya sedang sibuk bekerja membantu panti." Jawab Bella.


"Pembohong!" Martha menatap sinis Bella.


Bella terdiam. Gadis itu berusaha menahan diri agar tidak terpancing.


Jessica kemudian mendekatkan diri pada telinga Bella sambil berkata, "ingat, kau hanya istri pengganti yang tidak memiliki arti!"


Selesai mengatakan demikian, wanita itu segera menjauhkan diri dari Bella. "Oke, sampaikan salamku untuknya. Aku tak bisa menunggu lama di sini dengan sampaah macam dirimu. Ayo, Martha, kita pergi!"


"Baik, Nyonya." Martha tersenyum sinis seraya memandang hina Bella.

__ADS_1


...**********...


Pagi-pagi sekali suara alat berat terdengar dari salah satu rumah tua tak terawat. Hal tersebut tentu saja membuat beberapa tetangga keluar dari rumah masing-masing, guna mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Alat-alat berat tersebut rupanya sedang sibuk merobohkan rumah tua yang sudah lama tidak diketahui keberadaan pemiliknya hingga rata. Tak hanya itu saja, mereka juga memotong dan membakar sisa-sia bangunan yang tidak terangkut.


Entah bagaimana ceritanya, para pekerja tidak menemukan keanehan apa pun di dalam sana, seperti jasaad Nora yang kemarin sempat diletakkan Jessica di dalam rumah tersebut.


Semua bersih. Hanya ada bangunan tua tidak berpenghuni, seperti yang selama ini diketahui warga.


Dari jarak yang cukup jauh, Jessica yang berpenampilan tertutup, menatap rumah tersebut dengan wajah datar.


...**********...


"Kau terlalu banyak bertanya, Maria! Aku tak tahan dengan sikapmu itu!" bentak Jason sambil berlalu meninggalkan apartemen.


"Jason, No!" sergah Maria. Air mata lagi-lagi membasahi pipi wanita itu.


Ini adalah kali keempat dia bertengkar dengan kekasih tercintanya, Jason, dalam satu minggu. Padahal jelas-jelas pria itu baru saja pulang dari luar kota.


Entah mengapa, akhir-akhir ini Jason tak lagi begitu memerdulikan dirinya. Pria itu bahkan jarang menghabiskan waktu di apartemen mereka, karena berdalih sedang sibuk menyiapkan film layar lebar yang akan dia bintangi.


Karir Jason memang mulai menanjak lebih jauh, tetapi tidak dengan kisah percintaannya dengan Maria. Hubungan mereka terasa semakin dingin bagi Maria. Tak ada perkembangan berarti. Semakin tinggi pencapaian Jason, pria itu malah semakin sulit digapai.

__ADS_1


Maria tentu tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Dia butuh Jason. Dia butuh kekasih hatinya, cinta pertamanya. Alhasil, Maria bertekad akan menyelidiki pria itu dan mencari jawaban yang sebenarnya.


"Kau tak boleh seperti ini, Jason! Tidak boleh! Aku rela meninggalkan hidup dan masa depanku di Zernedien demi dirimu!" gumam wanita itu.


__ADS_2