
Saat ini Noah benar-benar sedang menyesali jawaban 'terserah', yang terlontar dari mulutnya tadi. Sebab ternyata, pria itu harus terjebak bersama Bella di sebuah taman bermain yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Apa yang istimewa dari taman bermain ini? Sepanjang mata memandang, Noah hanya menemukan setumpuk permainan anak-anak yang terlihat sangat membosankan. Namun, anehnya banyak sekali pasangan muda-mudi atau suami istri beserta keluarga kecil mereka, turut ikut meramaikan taman tersebut.
Kekesalan muncul di wajah Noah. Pasalnya, selama hampir setengah jam di sana, dia hanya disuruh menemani Bella yang sibuk memakan bola-bola kapas jajanan khas anak-anak.
"Aku pulang!" seru Noah pada sang istri.
Mendengar perkataan sang suami, Bella membelalakkan matanya. "Tolong, tunggu sebentar lagi saja," ujarnya memelas.
"Apa sebenarnya yang sedang kau tunggu, selain hanya melihatmu memakan bola-bola kapas bodoh itu!" sahut Noah sinis.
Bella terdiam. Dia hanya bisa meratap, ketika Noah tiba-tiba berbalik pergi hendak meninggalkan taman. Namun, detik kemudian suara ledakan kembang api terdengar bersamaan dengan alunan lagu sekelompok penyanyi jalanan yang baru saja tiba.
Inilah momen yang sejak tadi ditunggu-tunggu Bella. Dia pernah mencuri dengar dari tetangga apartemennya, soal berbagai pertunjukan kecil yang ada di sana tiap sebulan sekali.
Bella tahu, hubungan mereka mungkin tidak akan pernah baik-baik saja, terlepas kejadian tadi siang di kantor. Namun, setidaknya gadis itu ingin memiliki satu momen indah yang dapat dia kenang bersama sang suami, meski itu hanya terjadi sekali seumur hidup.
Alunan musik dan suara merdu dari penyanyi jalanan tersebut, membuat suasana malam semakin terasa syahdu.
Noah mematung. Tanpa sadar pria itu terhanyut ke dalam momen tersebut.
Disaat itu jugalah semua kilas balik akan perbuatannya pada Bella selama ini, tiba-tiba terputar otomatis dalam ingatannya.
Noah sontak menoleh menatap Bella, yang kini terlihat sangat bahagia. Tak ada air mata yang biasa mengalir menghiasi pipi gadis itu. Tak ada suara memilukan yang keluar dari mulutnya.
Noah tersentak sadar. Selama ini dia tak pernah tahu, bahwa Bella terlihat sangat cantik saat sedang merasa bahagia.
Kapan Noah terakhir kali melihat raut itu? Sepertinya tidak pernah.
"Sambutlah malam yang indah ini dengan memegang tangan pasangan, atau orang-orang yang Anda cintai," ucap sang penyanyi di tengah-tengah lagu.
Senyum Bella luntur sejenak. Matanya memandangi orang-orang yang mulai saling bergandengan tangan. Ada cinta yang terlihat dari sorot mata pasangan-pasangan tersebut.
__ADS_1
Sorot yang tidak akan pernah Bella dapatkan dari Noah.
Seulas senyum sendu terpatri di wajah cantiknya. Bella sadar, dia tak mungkin melakukan hal yang sama dengan Noah. Bisa-bisa pria itu akan menghaajarnya habis-habisan di rumah nanti.
Alhasil, gadis itu memilih menautkan kedua tangannya sendiri, sembari menikmati sisa lagu. Namun, hal yang tak pernah Bella duga tiba-tiba terjadi.
Noah tanpa permisi mengambil tangan kiri Bella dan menggenggamnya erat.
Hati Bella menghangat. Gadis itu berusaha menahan dirinya untuk tidak menangis terharu. Dalam hati dia hanya berharap momen manis ini tidak cepat-cepat berakhir.
...**********...
Jessica lagi-lagi datang berkunjung ke sebuah rumah yang tampak kosong dan tidak terawat.
Itu adalah rumah masa kecilnya. Rumah kelam yang sebenarnya tak ingin Jessica datangi lagi sejak kematian sang ayah puluhan tahun silam.
Mata wanita itu menajam, kala mendapati keadaan rumah tidak jauh berbeda seperti saat terakhir dia kunjungi. Padahal Jelas-jelas dia sudah memberikan banyak uang, agar si wanita tua penghuni rumah bisa menyewa orang untuk sekadar membersihkan halaman rumah.
Keduanya berjalan perlahan menuju satu-satunya pintu rumah berwarna merah kusam.
"Wow, ternyata kau ikut datang kemari, Martha!" pekik seorang wanita tua lusuh, ketika Jessica dan Martha tiba di dalam rumahnya.
Wanita tua itu hendak memeluk tubuh Martha, tetapi Martha buru-buru menghindar sambil memasang wajah jijik.
Bukannya tersinggung dengan sikap Martha, wanita tua itu justru tertawa keras.
"Aku tidak akan berlama-lama di sini!" Jessica membuka suaranya sambil melempar sebuah amplop ke lantai. Kali ini amplop coklat tersebut terlihat jauh lebih tebal dari biasanya.
"Kuberikan lebih, dengan catatan, pergi dari rumah ini dan tinggallah di panti jompo. Orang-orangku akan segera menjemputmu!" titahnya kemudian.
Mendengar perkataan Jessica, wanita tua itu berteriak. Dia menolak keras ajakan Jessica.
"Aku tidak akan meminta dua kali, Nora!" sentak Jessica.
__ADS_1
"Kau tidak akan pernah bisa mengusirku dari rumah ini!" pekik Nora.
"Bisa, dan aku akan melakukan segala cara agar kau pergi dari hidupku!" Jessica menatap dingin wanita yang telah melahirkannya ke dunia. "Setelah kau pergi, rumah ini akan aku jual setelah dibangun ulang," sambungnya.
Nora terkejut. "Kau akan merobohkan rumah ini?"
Jessica tidak menjawab.
"Rumah ini memiliki banyak kenangan bersama Jay, Jess!" seru Nora marah.
"Justru itu aku ingin merobohkannya! Kenangan tentang ayah membuatku semakin membencimu, Nora!"
Nora murka. Kendati fisiknya tak seprima dulu, tetapi wanita itu tetap nekat menyerang Jessica. Namun, Jessica dengan sigap melawan. Dia mendorong Nora hingga teesungkur di lantai.
"Kau wanita jahanam Jessica!" umpat Nora. "Sekeras apa pun kau berusaha menyingkirkan aku, rahasia itu tetap akan terbongkar!"
Jessica tidak mengindahkan perkataan Nora. Bersama Martha, keduanya melangkah pergi menuju pintu rumah.
"Ingat Jessica! Kau mungkin pandai menyembunyikan bangkai, tetapi tidak dengan baunya!"
Jessica berhenti melangkah dan menoleh sinis ke arah sang ibu. "Baunya akan ikut tersembunyi, seiring dengan kepergianmu!"
Nora terdiam. Wajahnya diliputi kemarahan luar biasa. Diam-diam dia mengambil tongkat baseball yang tergeletak begitu saja di pojok ruangan.
Nora gelap mata, dia berniat memberi pelajaran pada anak satu-satunya yang ternyata tumbuh menjadi sesosok wanita iblis sejati. Jika saja dia tidak melahirkan Jessica, hidupnya tidak akan hancur seperti ini, dan yang pasti keluarga Harold tidak akan kehilangan segalanya.
"M4tii saja kau, anak pembawa si4l!" teriak Nora sembari mengayunkan tongkat tersebut. Wanita itu lupa, bahwa fisiknya tak lagi sekuat dulu. Sebab hanya dalam sekejap, Jessica berhasil menghindar dan mengambil alih tongkat baseball-nya.
Dalam sekejap, Jessica mengayunkan kembali tongkat tersebut ke kepala Nora hingga tersungkur.
Martha menutup mulutnya. Matanya terbelalak menatap genangan darah yang membasahi lantai. Sementara Jessica sendiri sontak menjatuhkan tongkat tersebut setelah menyadari perbuatannya.
Semula, wanita itu terlihat sangat syok, tetapi sedetik kemudian dia menoleh pada Martha sembari berkata dingin, "semua akan baik-baik saja. Kita hanya perlu melakukannya sekali lagi!"
__ADS_1