
Bella hendak pergi meninggalkan kamar kedua orang tuanya, begitu mereka semua telah pergi. Namun, Noah dengan sigap menahan tangan gadis itu.
Sekilas, Bella bisa melihat sorot penyesalan di sorot mata sang suami. Akan tetapi, gadis itu tak ingin percaya begitu saja. Bagi Bella, seseorang tak akan mungkin berubah hanya dalam sekejap.
"Aku ...." Noah mulai bersuara. Namun, seketika dia menggantung kalimat selanjutnya. Entah mengapa, pria itu merasa takut mengucapkan kalimat yang sejak lalu bersemayam dalam benaknya.
Suasana hening selama beberapa saat, sebelum kemudian Noah kembali mencoba berbicara.
"Aku ... Bella, a—"
"Berhentilah bersikap demikian." Belum sempat Noah menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Bella sudah memotong perkataan pria itu.
Noah sontak mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Maksudmu?" tanyanya.
Bella terdiam sejenak. "Berlakulah seperti Noah yang aku kenal. Noah yang begitu sangat membenci dan gemar menyiksaku. Aku tidak terbiasa melihatmu seperti ini," ungkap Bella dingin, tanpa membalas tatapan sang suami.
Noah tertohok. Seperti itukah Bella selama ini memandangnya, atau memang sikapnya sekejam itu sang istri? Hati Noah berdenyut sakit.
"Tenang saja. Kau tidak akan terlalu lama melihatku. Aku hanya akan ada di sini selama beberapa hari sampai Papa benar-benar sehat. Setelah itu, aku kembali ke panti dan mengurus segalanya," ujar Bella kemudian.
"Mengurus segalanya? Mengurus apa?" tanya Noah khawatir. Entah mengapa perasaan takutnya bertambah sepuluh kali lipat setelah mendengar perkataan sang istri.
Bella tidak menjawab. Dia memilih pergi keluar dari kamar Harold tanpa memberi Noah kesempatan sedikit pun untuk bicara.
Noah hendak mengejar, tetapi kakinya tak mampu beranjak dari sana. Pria itu hanya bisa menatap pintu kamar sang ayah yang kini terbuka. Ungkapan rindu yang semula hendak diucapkan Noah bahkan kembali tertelan.
Noah tertawa sumbang. Sesakit inikah perasaan Bella selama ini?
...**********...
__ADS_1
Kepulangan Bella ke rumah hanya memberi dampak baik bagi Harold saja. Sementara untuk Noah tidak sama sekali. Hubungan mereka semakin hari, semakin dingin. Bella bahkan enggan tidur di kamar sang suami, dan memilih tidur di kamarnya sendiri.
Kendati demikian, Noah tetap berusaha bersikap baik pada Bella. Beberapa kali dia berusaha memberi perhatian pada gadis itu. Namun, Bella menganggap semua perhatian yang diberikan Noah semata-mata hanya karena kehadiran Harold di rumah.
Sejak Bella pulang, Harold memang tidak pernah keluar rumah. Pria itu takut sang putri akan kembali kabur, bila dia pergi. Padahal jelas-jelas Bella telah berjanji untuk tidak akan pergi dari rumah tanpa pamit.
Sementara Jessica, mau tak mau harus menerima Bella di rumah. Dia tak mungkin memberontak dan memantik pertengkaran kembali dengan sang suami. Namun, kekesalan Jessica terus bertambah, karena dia sama sekali tidak bisa menyentuh Bella di rumah, sampai akhirnya kesempatan itu datang.
Meski Harold telah pensiun, dia kerap kali tetap diminta untuk menghadiri acara-acara penting yang diadakan kolega perusahaan mereka. Mau tak mau, dia harus pergi bersama Noah, selaku CEO perusahaan yang baru.
Semula Harold juga hendak mengajak Jessica pergi, tetapi Jessica menolak. Dia berkata akan menjaga Bella di rumah, sekaligus mengawasinya.
Harold awalnya ragu. Dia khawatir keduanya akan bertengkar, meski pria itu tak pernah melihat mereka berlaku demikian. Namun, akhirnya Jessica berhasil meyakinkan pria itu.
"Berjanjilah pada Papa untuk tidak ke mana-mana, Bella!" seru Harold tegas.
Bella mengulas senyum tipis, lalu mengangguk patuh. "Aku akan tetap di sini, saat Papa kembali," ucap gadis itu.
"Aku juga mencintai, Papa," balasnya sembari meresapi pelukan hangat yang diberikan sang ayah. Setelah keduanya berpamitan, Bella beralih pada Noah.
Tak ingin melihat sang ayah sedih dengan hubungan mereka berdua, Bella membiarkan Noah mencium keningnya lama.
Bella tak bisa memungkiri degupan jantungnya, kala Noah mencium lembut keningnya. Dia bahkan memejamkan mata sejenak, sebelum akhirnya melepaskan diri.
Bella dan Jessica tetap berada di sana sampai mobil sedan mewah itu menghilang dari pandangan.
"Hei, anak siaal!" teriak Jessica, begitu Bella menginjakkan kakinya pada anak tangga pertama.
Bella mengembuskan napasnya. Dia tahu, Jessica akan menggunakan kesempatan emas ini untuk berbuat ulah. Gadis itu sudah bersiap.
__ADS_1
"Ya, Ma," jawab Bella.
Jessica berjalan menghampiri Bella dan menginjak kakinya dengan sengaja. "Jangan besar kepala hanya karena suamiku memintamu untuk kembali. Uruslah perceraian dengan putraku, maka kau bebas pergi meninggalkan tempat ini!" seru wanita itu sinis.
Bella mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jessica tak hanya menginjak, tetapi juga menekan kuat-kuat kakinya. "Rumah tanggaku, biar aku yang urus, Ma," jawab gadis itu singkat.
Mendengar jawaban tersebut, Jessica kontan melotot. "Berani sekali kau!" pekiknya sembari melayangkan sebuah tampaaraann untuk Bella.
Akan tetapi, Bella dengan penuh keberanian menahan pergelangan tangan Jessica erat.
Jessica yang terkejut sontak menghempaskan tangan Bella. "Jaa laang siaa lan, baru beberapa hari di panti kelakuanmu sudah kurang ajar begini. Sampah-sampah itu pasti mengajarkannya padamu, kan!"
Bella termangu begitu mendengar hinaan yang terlontar dari mulut Jessica. Dia boleh saja menghina dirinya sedemikian rupa, tetapi tidak pada keluarganya di panti.
"Bisakah untuk tidak menghina orang lain, Ma. Aku menerima dan rela menampung semua hinaanmu terhadapku, tetapi tidak dengan mereka." Bella berusaha menjaga intonasi yang keluar dari mulutnya, agar tetap terkendali. Namun, Jessica malah tertawa. Dia melepas kaki Bella dan malah menarik kerah pakaiannya tinggi-tinggi.
"Sampah selamanya akan tetap jadi sampah. Jangan pernah berharap berubah jadi berlian. Begitu pun denganmu. Akan kubuat, kau pergi merangkak dari sini." Setelah berucap demikian, Jessica mendorong Bella hingga terjatuh, lalu berbalik pergi.
Bella terdiam. Hatinya terbelenggu rasa sakit yang sangat menusuk. Meski air mata mulai menetes membasahi pipinya, dengan tegar Bella bangkit sembari berkata, "sampah memang akan tetap menjadi sampah, meski kini dia hidup dengan penuh rasa hormat."
Jessica sontak terbelalak. Wanita itu berbalik menghadap Bella, yang kini sedang menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Amarah menguasai diri Jessica seketika. Tanpa pikir panjang, dia segera berjalan menghampiri Bella dan menarik keras rambut sang anak angkat, sekaligus menantunya tersebut.
Bella yang tak siap dengan serangan dadakan Jessica, tidak bisa menahan keseimbangannya. Dalam sekejap, dia terguling jatuh hingga ke lantai dasar.
Suara benturan yang terdengar keras membuat para asisten rumah tangga keluar dari kamar mereka masing-masing, termasuk Martha dan Viola.
Viola berteriak histeris, tatkala mendapati Bella tergeletak tidak bergerak dengan bersimbah daaraahh. Sementara Jessica yang juga terkejut, berkali-kali menggumamkan kalimat 'bukan salahku!'.
__ADS_1
"Nyonya! Nyonya!" Martha berusaha menyadarkan Jessica.
Salah seorang asisten lain berinisiatif menelepon ambulance saat itu juga. Tak lupa, mereka juga menghubungi Noah.