Takdir Pengantin Pengganti

Takdir Pengantin Pengganti
46. Masa Lalu (1).


__ADS_3

Tiga puluh dua tahun silam.


Seorang gadis cantik bersurai keemasan berlari kecil menghampiri sahabatnya yang telah menunggu di depan gerbang kampus. Gadis itu membawa sebuket bunga mawar di tangannya.


"Zara, lama sekali kau!" seru sang sahabat pura-pura merajuk.


"Maaf, maaf, aku baru dari ruang dosen untuk memberi tugas. Jadi, mau ke mana kita?" tanya gadis cantik bernama Zara tersebut.


Bukannya menjawab, si sahabat malah memicingkan matanya ke arah buket bunga yang dipegang Zara. "Biar kutebak ... pasti buket itu dari Harold, kan?" terkanya.


Mendengar nama pria itu, wajah Zara memerah. Malu-malu dia menganggukkan kepalanya.


Mata sang sahabat berbinar bahagia. "Wah! Jadi ...? Cepat katakan! Jadi, kalian ...?"


Zara sontak menggelengkan kepalanya. "Belum sejauh itu. Dia hanya ingin mengajakku makan malam besok," jawab Zara sembari meringis.


Mendengar jawaban Zara, gadis itu kontan memeluk dan berseru senang. Zara yang malu memintanya untuk berhenti.


"Jesse, kita masih di kampus! Malu, bila ada orang yang melihatnya!" seru Zara.


"Ups, terlambat!" Jessica melepas pelukannya dan memberi kode pada Zara untuk menoleh ke belakang.


Harold ternyata sedang berdiri tak jauh dari sana, sembari menahan senyumnya. Wajah Zara kini jauh lebih merah. Ingin sekali dia menghilang dari sana secepat kilat.


"Kau menjatuhkan ini tadi." Harold menyodorkan dompet milik Zara ke hadapannya.


Zara terkesiap. "Terima kasih banyak. Maaf atas kecerobohanku," ucap gadis itu malu.


Harold tertawa kecil. "Kau lucu sekali," ujarnya.


Zara menundukkan wajahnya dalam-dalam, sementara Jessica tengah sibuk menggoda sang sahabat. Beberapa gadis yang melewati mereka bertiga, lantas berbisik heboh begitu melihat Harold.


Wajar saja, siapa yang tidak jatuh cinta pada pria tampan nan baik hati sepertinya. Tak hanya itu, Harold juga lahir di keluarga terpandang dan kaya raya. Setiap hari dia selalu datang ke kampus menggunakan mobil limusin dengan supir pribadi. Setelan pakaiannya pun terlihat berbeda dari anak-anak kampus lain.


Harold merupakan kriteria tuan muda idaman para gadis yang tidak mudah tersentuh.


Akan tetapi, mereka harus gigit jari, begitu melihat kedekatan Harold dengan gadis penerima beasiswa, Zara Aguilina Blaxland.

__ADS_1


Walau Zara bukan berasal dari keluarga miliarder, tetapi kebaikan hati dan kecantikannya membuat siapa pun tak enak hati untuk merundung Zara. Apa lagi, mereka dituntut untuk tidak mencoreng nama keluarga.


"Baiklah, sampai jumpa besok," pamit Harold. Pria itu pun mengalihkan pandangannya pada Jessica dan mengangguk sopan.


Jessica membalas anggukan Harold. Gadis itu menahan diri untuk tidak tersipu. Matanya bahkan tak lepas menatap punggung Harold dengan tatapan mendamba.


Tanpa sepengetahuan Zara, gadis itu menatapnya dengan penuh kebencian.


...**********...


"Aku baru saja keluar dari rumah bersama Harold, Jesse. Ada apa memangnya?" tanya Zara panik, begitu mendengar tangisan Jessica di telepon.


"Bisakah kau ke sini, Zara? Ayah dan ibuku pergi tanpa memberitahu terlebih dahulu. Sekarang aku terkunci di luar rumah!" ujar Jessica sembari mengeraskan tangisannya.


Zara melipat bibirnya. Ragu-ragu dia menatap Harold yang tengah fokus menatap jalanan sembari mengemudi.


"Ada apa dengan Jesse?" Seolah tahu sedang terjadi sesuatu, Harold pun membuka suaranya.


"Mm ... Jesse terkunci di luar rumah. Ayah dan ibunya entah kapan akan pulang. Aku ... mengkhawatirkannya." Gadis itu menundukkan kepala.


Zara sontak mengangkat kepalanya. "Bolehkah? Tapi, bagaimana dengan makan malamnya?"


Harold menoleh ke arah Zara, seraya tersenyum lembut. "Tidak masalah jika harus menambah satu orang."


Zara tersenyum lebar. Gadis itu mengucapkan terima kasih pada Harold, dan langsung berbicara pada Jessica lagi.


"Tunggu kami. Oke?" ujar Zara.


"Oke!"


Keduanya pun memutuskan sambungan telepon mereka.


Jessica tersenyum sinis sambil menatap ponselnya yang mati. Gadis itu kemudian melempar kunci rumah ke dalam salah satu pot bunga, agar tidak diketahui Zara dan Harold.


"Tak akan kubiarkan kalian bersama!" serunya sinis.


Tak sampai setengah jam kemudian, Harold dan Zara pun tiba di rumah Jessica. Tanpa menunggu lama, ketiganya pun pergi menuju salah satu restoran mewah yang sudah dipesan Harold.

__ADS_1


Jessica berkali-kali meminta maaf pada keduanya karena telah mengganggu kencan mereka. Namun, mereka berdua dengan malu-malu berkata bahwa ini hanya makan malam biasa.


Makan malam berlangsung dengan menyenangkan bagi Zara dan Harold, tetapi tidak bagi Jessica. Berkali-kali gadis itu harus menahan cemburu, saat Harold dengan baik hati membantu Zara memotong steak dan menuangkannya minuman. Pria itu juga membantu sang sahabat mengganti serbet makan yang sempat terjatuh ke lantai.


"Kau melamun, Jess?" tanya Zara seketika.


Jessica tersentak. "Ahh, maaf, aku hanya masih kesal dengan ayah dan ibuku," jawab gadis itu seraya tertawa kecil.


"Kau sudah menghubungi mereka untuk tidak pulang terlalu larut?" tanya Harold.


Angin segar seolah menerpa wajah Jessica begitu mendengar pertanyaan Harold. Entah mengapa, Jessica merasa seperti tengah diperhatikan oleh pria itu.


"Sudah, sudah. Aku sudah mengirimi mereka pesan teks sebanyak dua puluh kali."


Mendengar jawaban Jessica, Harold tertawa kecil. Tawa yang membuat gemuruh pada dada Jessica semakin bertambah.


Zara ikut tertawa. Tak lama, gadis itu pamit untuk pergi ke toilet sebentar.


Jessica mengangguk seraya tersenyum lebar. Dia tak akan menyia-nyiakan momen ini untuk mendekati Harold.


Berusaha bersikap senormal mungkin, Jessica mengajak Harold berbincang hangat. Harold pun menanggapi setiap pertanyaan jessica dengan ramah.


"Kuharap, hubunganmu dan Zara bisa semakin berkembang, Harold. Sebagai sahabat Zara, aku turut senang bila melihatnya bahagia," ucap Jessica.


"Terima kasih banyak, Jesse. Kau sahabat yang baik," puji Harold.


Jessica tersenyum malu-malu. Gadis itu kemudian memicingkan matanya pada wajah Harold. "Mm, Harold, maaf, jika aku tak sopan," katanya tiba-tiba.


Harold mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Ada apa?"


Jessica menunjuk wajahnya sendiri. "Ada sesuatu di ujung bibirmu."


Harold berusaha mengikuti arah tangan Jessica. Namun, tidak berhasil. Alhasil, Jessica pun membantu mengambilkan sisa makanan di ujung bibir pria itu, setelah meminta maaf padanya.


Harold tersentak kaget. Dia hendak menepis tangan Jessica, tetapi tangan gadis itu terlanjur pergi.


Tanpa mereka ketahui, Zara yang baru saja keluar dari toilet, melihat momen tersebut.

__ADS_1


__ADS_2