
Noah tak perlu mencari tahu siapa yang menyebabkan Bella seperti ini. Siapa lagi kalau bukan ulah sang ibu?
Pria itu kemudian bersimpuh untuk melihat keadaan Bella lebih dekat. Dia hendak memberikan pertolongan, tetapi saat tangannya terulur guna menggapai Bella, setitik keraguan tiba-tiba muncul di benak Noah.
Noah sadar dirinya harus melakukan sesuatu, tetapi entah mengapa, dia merasa seperti ada sesuatu yang lain menahan dirinya untuk tetap ditempat.
Noah bergegas menarik kembali tangannya. Bersamaan dengan itu, Netra biru Bella mulai terbuka.
Butuh waktu beberapa detik bagi Bella untuk menyesuaikan penglihatannya, sebelum kemudian menyadari, bahwa di hadapannya saat ini ada sosok sang suami yang baru saja pulang dari kantor.
"Ya, Tuhan!" Dengan wajah panik gadis itu buru-buru melipat rapi selimut tebal milik Noah yang tadi dia pakai, dan mengembalikannya ke atas ranjang.
"Ma—maaf, Kak, ak—aku hanya menumpang tidur sebentar. Aku tidak sadar kalau ... anu ...." Tak tahu harus berkata apa lagi, Bella memilih menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Sekali lagi aku minta maaf, Kak," ucap gadis itu penuh penyesalan.
"Aku ke toilet dulu, permisi." Setelah berkata demikian, Bella dengan langkah tertatih segera pergi meninggalkan Noah.
Noah sama sekali tidak menjawab. Dia hanya menatap Bella dengan raut wajah tidak terbaca.
Sesampainya di toilet, Bella memandangi pantulan wajahnya di cermin. Ringisan kecil sesekali keluar dari mulut gadis itu, setiap kali mencoba menyentuh pipi dan pelipisnya yang lebam. Tak hanya itu saja, di sudut bibir Bella bahkan terdapat setetes dar4h yang sudah mengering.
Seorang diri gadis itu membersihkan lukanya menggunakan obat dari kotak P3K yang berada di dalam toilet Noah.
"Kau harus kuat Bella!" Kendati fokus mengobati lukanya, Bella sama sekali tidak berhenti menggumamkan sepenggal kalimat demi menguatkan hatinya sendiri.
Biar bagaimana pun Bella tetap sebatang kara. Siapa lagi di rumah ini yang mampu memberinya kekuatan selain diri sendiri?
Harold? Justru beliau lah satu-satunya orang yang tak ingin Bella beritahu tentang apa yang dia alami selama belasan tahun di rumah ini.
__ADS_1
Bella hanya tak ingin keutuhan keluarga angkatnya berantakan karena hal ini. Jadi, sebisa mungkin gadis itu akan terus menjaga keharmonisan keluarga ini, meski harus menghancurkan diri sendiri.
Keluarga harmonis? Batin Bella. Sebaris senyum pilu terpatri di wajah cantiknya.
Sedetik kemudian, botol alkoh0l yang semula tergenggam erat di tangan Bella tiba-tiba terhempas ke lantai. Tangis yang sejak tadi berusaha dia pendam dalam-dalam di ruang tergelap jiwanya, seketika meledak keluar tanpa bisa tertahan.
Bella tidak peduli bila tangisannya terdengar oleh Noah. Bella juga tak peduli bila Noah akan memakinya nanti, yang terpenting dia bisa mengeluarkan segala beban di hatinya saat ini.
Mata Noah sontak terpejam begitu mendengar suara tangisan Bella yang sangat memilukan di kamar mandi.
Pria yang ternyata sedang berdiri di depan pintu kamar mandinya tersebut, kemudian menarik kembali tangannya yang terulur ke depan, dan pergi meninggalkan tempat.
...**********...
Suasana di meja makan pagi ini berlangsung seperti biasa. Tak ada yang berubah dari sikap Jessica, kendati kemarin dia hampir membuat Bella masuk rumah sakit. Wanita itu tetap dengan perangai palsunya di hadapan sang suami, seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun.
"Iya, Pa," jawab Bella ramah.
"Kau memakai riasan hari ini?" tanya pria itu penasaran. Maklum saja, Bella merupakan gadis berpenampilan sederhana yang nyaris tidak pernah berdandan.
Mendengar pertanyaan mendadak yang diajukan Harold, tak hanya membuat Bella terkejut, melainkan juga pada Jessica dan Noah.
Gadis itu memang sengaja menutupi luka lebamnya menggunakan bedak padat yang cukup tebal, agar tidak terlihat Harold. Namun, alih-alih tidak terlihat sang ayah, riasan Bella justru malah menarik perhatian beliau.
"Sesekali saja, Pa," jawab Bella seraya menyentuh pipinya malu.
Harold mengangguk-anggukan kepalanya. "Belilah pakaian yang bagus, Sayang, kau sekarang sudah menjadi istri Noah, cepat atau lambat kau harus ikut bersamanya menghadiri acara-acara penting," pinta pria itu kemudian.
__ADS_1
Sejak dulu Harold memang selalu meminta Bella untuk melakukan segala sesuatu tanpa harus merasa canggung, seperti pergi ke salon atau membeli pakaian-pakaian mewah. Namun, gadis itu malah menolak dan berkata, bahwa uang-uang tersebut sebaiknya digunakan untuk hal yang lebih berguna.
Tak hanya itu saja penolakan yang dilakukan Bella. Dulu saat masih remaja, Bella juga pernah mengembalikan dua credit card yang diberikan sang ayah beberapa hari kemudian.
Semua penolakan tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya berasal dari Bella. Jessica lah yang telah mengancamnya.
Wanita itu bahkan sempat menahan kartu kredit sang suami yang ada di tangan Bella, sebelum akhirnya menyuruh gadis itu untuk mengembalikannya.
Bella mengangguk kecil. "Iya, Pa," jawabnya lirih.
"Pelan-pelan saja, Pa. Bella belum perlu muncul ke publik, dia lebih senang menghabiskan waktunya di rumah. Benar, kan, Bella?" Jessica tiba-tiba membuka suaranya.
Bella mengalihkan pandangannya pada Jessica, yang kini sedang menatapnya penuh dendam.
"Tidak apa-apa. Bella sudah terlalu lama terkurung dalam istana mewah ini. Sudah saatnya dia keluar dan berbaur bersama orang lain." Jawab Harold tegas.
Jessica langsung terdiam tanpa berani melawan perkataan sang suami.
"Tak sampai dua bulan lagi, suamimu akan menggantikan posisi Papa. Kau harus mempersiapkan diri mendampingi Noah di acara peresmiannya, Bella," ucap Harold pada sang putri angkat, sekaligus menantu satu-satunya itu.
Bella menggigit bibirnya sembari mengangguk samar. Sementara itu, senyum penuh kebahagiaan seketika ter pancar jelas di wajah cantik Jessica setelah mendengar kabar soal pengangkatan Noah. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyum manis wanita itu.
"Satu lagi untuk kalian berdua." Harold kembali membuka suaranya. "Setelah kau diangkat nanti, kalian harus mulai tinggal terpisah dengan kami," sambung pria itu kemudian.
Noah yang sedang sibuk mengunyah sarapannya, tiba-tiba terbatuk kala mendengar perkataan sang ayah. Pria itu buru-buru meminum segelas air, sebelum kemudian melakukan protes pada beliau. "Pa, ini tidak ada dalam kesepakatan!"
"Memang. Hal seperti ini tidak membutuhkan kesepakatan, Noah. Hubungan kalian saat ini adalah sepasang suami istri baru, jadi sudah sewajarnya membina rumah tangga sendiri. Papa sedang mencari rumah atau apartemen yang nyaman untuk tempat tinggal kalian nanti. Anggap ini hadiah pernikahan dari Papa dan Mama."
__ADS_1
Bella sudah tak tahu lagi harus memberikan reaksi seperti apa untuk menanggapi perkataan Harold yang ini. Gadis itu benar-benar tak mampu mengeluarkan suaranya. Jangankan bersuara, menelan sarapan pagi yang masih tersisa penuh di piringnya saja, dia tak sanggup melakukannya.