
"Jangan katakan apapun, siaaalaan!" teriak Jessica, tatkala melihat sorot kesungguhan Martha.
Martha menggelengkan kepalanya. "Wanita itu hanya tak ingin Jessica semakin dalam terjerumus dalam lubang hitam. Kejadian Bella malam ini sudah cukup membuka mata Martha lebar-lebar.
"Tuan Noah memang bukan putra Anda, Tuan. Dia adalah putra Nyonya Jessica dan—"
"MARTHA!" Jessica naik pitam. Wanita itu berdiri dari posisinya dan berlari menghampiri orang kepercayaannya tersebut. Entah disadari atau tidak, Jessica mulai menarik Martha untuk pergi dari sana. Namun, Martha menolak keras.
"Nyonya, berhentilah sekarang. Aku sudah tidak sanggup menahan segalanya lagi!" seru Martha dengan berurai air mata.
"Jangan!" sergah Jessica. Martha menghentak cengkeraman Jessica dan langsung bersujud di hadapan Noah.
"Saya lah yang telah menukar Anda, Tuan Noah!" aku Martha.
Noah, Harold, dan seluruh penghuni rumah terdiam. Suasana mendadak hening selama beberapa saat.
"Apa maksudmu?" tanya Noah dengan suara lirih. Pria itu merasa tak sanggup mengeluarkan suaranya lebih keras.
Sambil menangis terisak, Martha pun menceritakan semua yang dia ketahui dan sembunyikan selama puluhan tahun ini.
...****************...
__ADS_1
28 tahun lalu.
"Baa jingaan!" Jessica menangis meraung-raung di kamarnya, setelah melakukan pertemuan dengan Zara di kafe. Wanita itu baru saja mengabari, bahwa dirinya telah hamil anak Harold, padahal pernikahan mereka baru saja berjalan seumur jagung.
Selama hampir satu jam, Jessica harus menahan segala amarah demi mendengar kehidupan rumah tangga Zara dan Harold yang penuh dengan kebahagiaan. Tak lupa, dia juga memberitahu Jessica bagaimana Harold terharu saat mengetahui dirinya hamil.
Mengingat hal tersebut Jessica kembali mengamuk. Rasa sakit yang menggerogoti batinnya benar-benar membutakan mata wanita itu.
Jessica menaruh dendam. Dia berniat ingin melenyapkan Zara untuk merebut Harold. Namun, niatan itu tak pernah terlaksana karena beberapa waktu kemudian Jessica malah mendapati dirinya hamil dengan seorang pria yang belum lama dikenalnya. Harapan memiliki Harold pun semakin jauh.
Wanita itu dengan beringas meneriaki sembari memukuul-mvkul perutnya sendiri. "Pergi dari perutku, siaaaalan! Pergi!"
Nora yang mendengar teriakan Jessica, berusaha menghentikan perbuatan sang putri yang hendak menyelakai anaknya sendiri.
"Aku tidak menginginkan anak ini! Aku ingin Harold, Bu! Aku ingin Harold!" teriak Jessica.
"Jesse, stop!" Nora terisak. Martha remaja yang baru saja bekerja di sana dan menyaksikan hal tersebut, hanya bisa terdiam di pojok ruangan sambil menangis.
Terlalu lelah menangis, Jessica akhirnya terduduk diam di lantai. "Aku memiliki cara lain," ucapnya parau. "Ini akan berhasil, Bu," sambungnya tersenyum. Mata wanita itu melirik sang ibu lalu tertawa seperti orang gila.
"Jesse, apa maksudmu?" tanya Nora. Dia sama sekali tidak mengerti apa maksud sang putri. Namun, bukannya menjawab, Jessica malah semakin tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
...****************...
"Demi memuluskan rencananya, Nyonya Jessica selalu meminta saya untuk mengawasi keluarga Anda, Tuan Harold. Sementara beliau sendiri menarik diri dari khalayak umum, agar tidak ada siapa pun yang mengetahui kehamilannya. Bahkan, Nyonya Nora sendiri lah yang membantu proses kelahiran," ujar Martha panjang lebar.
"Sampai akhirnya, kabar mengenai kelahiran anak pertama kalian pun terdengar di telinga kami, beberapa hari kemudian. Saat itu lah, Nyonya Jessica meminta saya untuk menukar Tuan Noah dengan anak kalian. Berkat bantuan salah seorang perawat kenalan saya, kami berhasil menukarnya. Perawat itu lah yang membawanya pergi." Martha tertunduk usia menjelaskan semua, sedangkan Jessica hanya bisa mematung ketakutan.
Harold limbung. Beberapa asisten rumah tangga mereka dengan sigap membantu Harold duduk, agar beliau tidak terjerembab di lantai.
Noah sendiri sama sekali tidak bergerak mau pun merespon. Namun, mimik wajahnya terlihat sangat syok dan pucat pasi. Noah hendak mengeluarkan suaranya, tetapi tiba-tiba dia merasa sekelilingnya tampak buram, telinga pria itu pun mulai berdengung menyakitkan.
Tak lama kemudian, beberapa orang polisi masuk ke dalam rumah keluarga Werner dengan didampingi Oliver. Tanpa basa-basi mereka menangkap Jessica dan Martha.
"Jessica Verro Werner, Anda berdua ditangkap atas tuduhan percobaan pembvnvhan pada Arabell Catriona Werner. Anda memiliki hak untuk tetap diam. Apa pun yang Anda katakan dapat dan akan digunakan untuk melawan Anda di pengadilan. Anda memiliki hak untuk berbicara dan memiliki seorang pengacara yang hadir selama interogasi apa pun. Jika Anda tidak mampu membayar pengacara, akan disediakan untuk Anda dengan biaya pemerintah."
Setelah mengatakan hak miranda pada Jessica, seorang polisi langsung memborgolnya. Namun, ketika mereka hendak membawa wanita itu, tiba-tiba Martha menghadang sembari mengulurkan kedua tanggannya.
"Saya ingin menyerahkan diri, atas pembvnvhan yang saya dan Nyonya Jessica lakukan pada tanggal 27 juli terhadap Nora Bennedict, Pak!" katanya tanpa rasa takut.
Mendengar perkataan Martha barusan, seluruh penghuni rumah terkejut, terutama Harold. Sebab nama itu merupakan nama dari ibu kandung Jessica, yang telah meninggal jauh sebelum mereka menikah.
Jessica membelalakkan matanya. Detik itu lah dia tahu, bahwa Martha yang telah menghubungi polisi, entah kapan.
__ADS_1
Dalam kondisi terborgol, Jessica berusaha menyerang Martha. Namun, kedua polisi dengan sigap melindunginya. Mereka pun segera pergi dari sana bersama Oliver.
"BAA JJINGAN KALIAN SEMUA!" Teriakan Jessica menggema memenuhi seisi rumah.