
Beberapa hari terakhir ini merupakan hari yang cukup berat bagi Celine, selama menjabat sebagai sekretaris Noah. Sebab ada saja tingkah pria itu yang membuat Celine kerap kali kerepotan. Belum lagi kemarahannya yang selalu memuncak pada tiap-tiap kesalahan kecil yang dia lakukan.
Terlebih lagi, kemarahan yang Noah tunjukan tak hanya pada Celine seorang, melainkan seluruh karyawan yang bertemu dengannya. Bahkan, office boy yang mengantar kopi ke ruangan pria itu juga terkena imbas, hanya karena lupa mengambil sendok dari cangkir Noah.
"Aku tidak mau tahu! Buang kertas-kertas ini buat ulang laporannya dengan benar. Bagaimana bisa kau melakukan kesalahan seperti ini, Celine!" seru Noah marah pada Celine yang kini sibuk memunguti setumpuk kertas laporan, yang baru saja selesai dia buat dengan susah payah.
Sebenarnya, tak ada kesalahan berarti yang ada di laporan tersebut, hanya satu angka saja dan itu tidak berpengaruh kepada hitungan yang lain. Biasanya Noah juga hanya meminta Celine untuk mengganti selembar kertas yang memiliki kesalahan saja. Namun, kini dia harus mengganti semua tumpukan kertas tersebut.
Celine memang tidak harus mengetik semuanya dari awal, sebab dia tinggal mencetaknya lagi sembari memeriksa ulang. Namun, bukan itu yang menjadi masalah utama bagi Celine, melainkan kemarahan Noah yang selama beberapa hari ini tidak masuk akal.
Celine menundukkan badannya seraya meminta maaf pada Noah sekali lagi, sebelum kemudian keluar dari ruangan.
Sepeninggal Celine, Noah menyandarkan kepalanya di kursi, sembari memijit keningnya yang mulai terasa sakit.
Akhir-akhir ini ada saja sesuatu hal yang membuat kemarahannya memuncak. Tak ada satu orang pun yang benar-benar becus mengerjakan tugas mereka, tak terkecuali Celine, sang sekretaris. Bahkan proyek besarnya kini sempat menemui jalan buntu setelah beberapa hari lalu sistem database perusahaan mereka hampir terkena peretasan. Beruntung, perusahaan memiliki tim ahli IT yang cukup mumpuni hingga hal tersebut tak sampai terjadi.
Tak berapa lama, Celine mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangannya lagi.
"Anda ingin makan siang di mana, Tuan? Apa perlu saya pesankan seperti kemarin-kemarin?" tanya Celine sopan. Wanita itu tetap bersikap profesional meski baru saja mendapat perlakuan tidak mengenakan dari atasannya.
Noah berdiri dari tempat duduknya. "Aku akan makan sendiri," jawab pria itu sambil berjalan keluar melewati Celine.
"Baik, Tuan." Celine membungkuk singkat pada Noah sebelum kembali ke tempat duduknya lagi.
...**********...
Suasana kantin lantai satu belum terlalu ramai, saat Noah menginjakkan kakinya di sana.
"Tuan Werner!" pekik beberapa karyawan, tatkala mendapati bos besar mereka datang ke sana seorang diri. Mereka sontak membungkukkan badannya pada pria itu.
"Bersikap biasa saja," pinta Noah. Meski suasana hatinya sedang tidak baik, Noah tetap berusaha membalas sapaan para karyawan. Pria itu juga mempersilakan seorang karyawan wanita yang sedang hamil besar untuk mengambil antriannya lebih dulu.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan Werner," ucap wanita itu.
Noah mengangguk singkat.
Queen yang mengetahui kedatangan Noah, sempat terkejut. Dia keluar menghampiri pria itu guna menanyakan makanan apa yang ingin dimakan olehnya.
"Tidak perlu, yang ada di sini saja." Jawab Noah datar.
"Ahh, begitu rupanya. Baiklah, silakan dinikmati makan siangnya, Tuan," ujar Queen seraya undur diri.
"Terima kasih sudah mau menggantikanku," bisik Bella pada Emma. Gadis itu baru saja kembali dari gudang makanan.
"Sama-sama." Emma tersenyum membalas perkataan Bella. Keduanya pun berganti posisi.
Bella dengan ramah menyapa para karyawan sambil menuangkan soup ke dalam mangkok kosong mereka satu persatu, hingga kemudian, tanpa Bella sadari, seorang pria yang baru saja berdiri di hadapannya, menatap gadis itu dengan wajah terkejut.
"Selamat si—" Tangan Bella yang sedang memegang sendok soup mendadak gemetaran hebat, ketika menyadari bahwa Noah kini berada persis di depannya.
Mata pria itu tampak nyalang menatap Bella. Seolah seluruh kemarahannya tertampung di sana saat itu juga.
...**********...
"Apa yang kau lakukan di kantorku!" teriak Noah marah, begitu Bella menginjakkan kakinya di apartemen mereka.
Bella terdiam tidak menjawab. Wanita itu terlihat lebih siap menghadapi pertengkaran kali ini, karena dia tahu, Noah tidak akan tinggal diam melihatnya berkeliaran di kantor.
"Aku hanya ingin bekerja menafkahi diriku sendiri!" jawab Bella tegas.
"Berarti selama ini kau membohongiku soal menjadi relawan di panti?" Noah sama sekali tidak merendahkan suaranya.
"Ya. Aku terpaksa melakukannya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak lebih!"
__ADS_1
"Aku tidak peduli soal itu, yang aku pedulikan adalah, kau bekerja di perusahaanku!" teriak Noah.
"Hanya perusahaanmu lah satu-satunya yang memiliki peluang lebih besar menerimaku," jawab Bella tanpa gentar.
Napas Noah terlihat memburu. "Mulai besok, kau tak perlu pergi ke sana lagi. Aku tidak akan membiarkanmu datang ke kantorku apa pun alasannya!"
Bella menatap Noah. "Memangnya apa yang Kakak takutkan bila aku bekerja di sana? Selama enam minggu ini aku selalu berusaha bekerja dengan baik," katanya membela diri. Namun, senyum tipis tiba-tiba tersungging di wajah gadis itu ketika menyadari sesuatu.
"Ahh, aku tahu ...," sambungnya. "Tenang saja, aku tidak akan membeberkan identitasku pada siapa pun, dan aku juga tidak akan membuka mulut soal Renatha yang kau bawa ke kantor." Perkataan Bella memang terdengar sinis, tetapi bersumpah melihat kerapuhan di sorot mata indah itu.
...**********...
Kediaman megah keluarga Werner terlihat sangat sepi, ketika Viola melangkahkan kakinya menuju dapur. Maklum saja, waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, dan dia tidak sengaja terbangun dari tidurnya karena haus.
"Leganya!" seru gadis itu setelah menenggak habis satu gelas air mineral dingin. Namun, saat dia hendak kembali ke kamar, tiba-tiba telinganya tanpa sengaja menangkap sesuatu.
"Anda harus segera membungkamnya, Nyonya! Kalau tidak, semua yang telah Nyonya lakukan akan berantakan!"
Viola mengerutkan keningnya. Sambil bersembunyi di balik tangga, gadis itu mengintip Martha dan Jessica yang tampaknya sedang serius membicarakan sesuatu.
Membungkam? Membungkam siapa? gumam Viola dalam hati.
"Kau benar Martha, aku harus melakukan sesuatu. Tidak akan kubiarkan wanita tua itu menghancurkan semua yang sudah susah payah kubangun!" ujar Jessica sinis. Agaknya wanita itu baru saja kembali dari suatu tempat.
Sejak kepergian Harold beberapa saat lalu, Jessica memang lebih sering keluar rumah, terutama pada malam hari. Terkadang, wanita itu bahkan akan pergi bersama Martha dalam waktu yang lama.
Selama ini Viola memang enggan ikut campur soal mereka berdua. Justru gadis itu dan sebagian besar asisten rumah tangga di sana merasa senang bila keduanya sedang pergi, sebab tak akan ada yang meneriaki pekerjaan mereka.
Akan tetapi, rasa penasaran tiba-tiba bangkit menyergap diri Viola, saat mendengar percakapan selanjutnya.
"Kau harus membantuku. Kita harus memastikan wanita tua itu tetap membungkam rahasia ini, agar aku bisa tenang menyusul suamiku ke Gargania."
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
Sepertinya, dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan Jessica dan Martha.